Categories
Serba-Serbi Jawa

Sandangan Aksara Jawa

Sandangan Aksara Jawa

Aksara Jawa (dan sandangan aksara Jawa) sering digunakan untuk menulis berbagai teks Sanskerta, Jawa hingga bahasa Indonesia. Walau demikian, aksara ini juga diadopsi dan digunakan oleh berbagai daerah di nusantara lainnya seperti Bali, Sasak atau Lombok, Makassar, Sunda, hingga Melayu.

Aksara Jawa (dan sandangan aksara Jawa) sudah mulai digunakan sejak abad ke-17, pada masa Kerajaan Mataram Islam. Saat itu, aksara ini sudah dikenal dengan sebutan aksara Hanacaraka atau Carakan.

Aksara Jawa (dan sandangan aksara Jawa) merupakan gabungan antara aksara Abugida dengan aksara Kawi. Cacah huruf masing-masing mewakili dua abjad Latin berupa huruf konsonan yang digabungkan dengan huruf vokal, contohnya: ha, na, ca, dan seterusnya.

Mengenal Aksara Dasar

Asal Usul Aksara Jawa

Hana Caraka = Terdapat Pengawal
Data Sawala = Berbeda Pendapat
Padha Jayanya = Sama kuat (hebatnya)
Maga Bathanga = Keduanya mati

Makna Huruf Aksara Jawa

Ha Hana hurip wening suci (adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci)

Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara (pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Ilahi)

Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi (arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal)

Ra Rasaingsun handulusih (rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani)

Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana (hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam)

Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan (menerima hidup apa adanya)

Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa (mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup)

Sa Suram ingsun handulu sifatullah (membentuk kasih sayang seperti kasih Ilahi)

Wa Wujud hana tan kena kinira (ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya tak terbatas)

La Lir handaya paseban jati (mengalirkan hidup semata pada tuntunan Tuhan)

Pa Papan kang tanpa kiblat (hakekat Tuhan yang ada tanpa arah)

Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane (Untuk bisa di atas maka dimulai dari dasar)

Ja Jumbuhing kawula lan Gusti (Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya)

Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi (yakin atas titah (kodrat) Ilahi)

Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki (memahami kodrat kehidupan)

Ma Madep mantep manembah mring Ilahi (yakin dan mantap dalam menyembah Ilahi)

Ga Guru sejati sing muruki (belajar pada guru nurani)

Ba Bayu sejati kang andalani (menyelaraskan diri pada gerak alam)

Tha Tukul saka niat (sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niat)

Nga Ngracut busananing manungso (melepaskan egoisme pribadi manusia)

Bentuk Dasar Aksara Jawa

Ha Na Ca Ra Ka
Da Ta Sa Wa La
Pa Dha Ja Ya Nya
 ꦡ
Ma Ga Ba Tha Nga

 

Melihat Jumlah suku kata di atas, tentu kata-kata yang bisa ditulis dengan menggunakan aksara dasar tersebut akan sangat terbatas. Nah, agar bisa digunakan untuk menulis kata-kata yang lebih komplek layaknya menulis dengan seperti huruf Latin maka ditambahkanlah pasangan, sandhangan, aksara Murda dan pasangan-nya, serta aksara Swara.

Aksara Murda

Fungsi aksara Murda kurang lebih sama dengan huruf kapital yang kita kenal pada huruf Latin. Aksara ini umumnya digunakan secara khusus untuk menuliskan huruf pertama dari nama seseorang, gelar, nama tempat, atau berbagai kata yang diawali dengan huruf kapital. Termasuk, digunakan untuk menulis huruf awal pada setiap paragraf atau kalimat setelah tanda baca ”.” (titik).

Aksara Murda
Aksara Murda

Gambar aksara Murda via hidupsimpel[dot]com

Untuk mengetahui fungsi sandhangan, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui dan mempelajari fungsi pasangan.

Pasangan/Pangkon Aksara Jawa

Pasangan Pangkon Aksara Jawa
Pasangan Pangkon Aksara Jawa

Gambar pasangan aksara Jawa Via hidupsimpel[dot]com

Pasangan digunakan untuk menghilangkan atau mematikan vokal dari aksara sebelumnya. Contohnya, agar tulisan “mangan sega” yang berarti “makan nasi” tidak dibaca “manganasega” maka ditambahkan lah pasangan pada huruf “se” sehingga akan dibaca “mangan sega.”

Contoh penggunaan pasangan aksara Jawa Via hidupsimpel[dot]com

Sandhangan Pada Aksara Jawa

Macam-macam sandhangan pada aksara Jawa Via hidupsimpel[dot]com

Fungsi sandhangan adalah untuk merubah bunyi vokal dan mematikan beberapa huruf seperti “r”-“h” dan “ng.” Sederhananya, aksara dasar yang awalnya dibaca ha-na-ca-ra-ka apabila diberikan sandhangan, maka bisa dibaca hi-ni-ci-ri-ki atau hu-nu-cu-ru-ku, dan seterusnya.

Contoh Pemakaian Sandhangan Aksara Jawa

Contoh pemakaian sandhangan aksara Jawa
Contoh pemakaian sandhangan aksara Jawa
Contoh pemakaian sandhangan aksara Jawa
Contoh pemakaian sandhangan aksara Jawa
Contoh pemakaian sandhangan aksara Jawa
Contoh pemakaian sandhangan aksara Jawa

Contoh penggunaan sandhangan aksara Jawa Via vajarsenja.blogspot[dot]co[dot]id

Categories
Serba-Serbi Jawa

Aksara Jawa Dan Pasangannya

Aksara Jawa Dan Pasangannya

Menurut sejarah, aksara Jawa adalah aksara yang diturunkan dari aksara Brahmi. Aksara ini merupakan gabungan antara aksara Abugida dan aksara Kawi. Masing-masing huruf terdiri atas dua abjad (huruf Latin) yang terstruktur. Aksara Jawa dan pasangannya itu semua dikenal juga dengan sebutan aksara Hanacaraka atau Carakan.

Aksara Jawa telah dipakai sejak lama di nusantara seperti di daerah Melayu, Jawa, Makassar, Sunda, Bali, hingga Sasak (Lombok). Penggunaan aksara Jawa semakin jamak ditemukan pada abad ke-17 Masehi ketika kerajaan Mataram yang bercorak Islam berdiri. Namun, barulah pada abad ke-19 cetakan aksara Jawa mulai dibuat.

Penulisan aksara Jawa sama dengan penulisan aksara Hindi, yaitu dengan cara menggantung, atau terdapat garis di bagian bawahnya. Penulisan aksara Jawa terus berkembang dan mendapatkan berbagai penambahan atau modifikasi dari waktu ke waktu.

Perkembangan penulisan aksara ini berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga kadang-kadang terdapat sedikit perbedaan pada penulisan antara aksara Jawa di Pulau Jawa dengan aksara Jawa di Pulau Bali atau jika dibandingkan dengan aksara Jawa di Lombok yang hanya berjumlah 18 buah.

Aksara Jawa dan pasangannya

Untuk bisa membaca dan menulis aksara Jawa, terlebih dahulu kita harus mengenal satu persatu aksara Jawa (dasar) dan berbagai pasangannya agar kita lebih mudah dalam mempelajari, membaca, dan menulisnya.

Aksara Jawa (Hanacaraka/Carakan)

  1. Ha ꦲ
  2. Na ꦤ
  3. Ca ꦕ
  4. Ra ꦫ
  5. Ka ꦏ
  6. Da ꦢ
  7. Ta ꦠ
  8. Sa ꦱ
  9. Wa ꦮ
  10. La ꦭ
  11. Pa ꦥ
  12. Dha ꦣ
  13. Ja ꦙ
  14. Ya ꦪ
  15. Nya ꦚ
  16. Ma ꦩ
  17. Ga ꦒ
  18. Ba ꦧ
  19. Tha ꦡ
  20. Nga ꦔ

Aksara di atas merupakan aksara dasar. Aksara dasar tersebut memiliki pasangan yang fungsinya adalah untuk menghilangkan huruf vokal di bagian belakang. Contoh: Pada aksara “Ha” untuk mendapatkan huruf “H” saja, maka huruf “A” harus dihilangkan. Caranya adalah dengan menambah pasangan di belakangnya.

Sandhangan

Di samping aksara dasar (ha na ca ra ka dan seterusnya…) terdapat sandhangan (ꦱꦤ꧀ꦝꦁꦔꦤ꧀) yang digunakan bersamaan dengan aksara dasar. Sandangan tidak bisa berdiri sendiri. Ada tiga jenis sandhangan yang memiliki fungsi berbeda-beda yaitu:

  1. Sandhangan Swara. Adalah sandhangan yang digunakan untuk mengubah vokal pada aksara dasar. Fungsinya kurang lebih sama seperti harokat pada abjad Arab. Sandangan ini adalah yang paling umum kita temukan digunakan dalam Aksara Jawa.

Jumlahnya ada 9 buah (sandhangan swara). Pengecualian, ada beberapa vokal tertentu yang biasanya ditulis dengan menggunakan lebih dari satu sandhangan.

Sandhangan Swara (Pendek)

  1. I ◌ꦶ (wulu)
  2. U ◌ꦸ (suku)
  3. E ◌ꦼ (pepet)
  4. é ◌ꦺ (taling)
  5. O ◌ꦺꦴ (taling tarung) /◌ꦵ(tolong)

Sandhangan Swara (Panjang)

  1. A ◌ꦴ (tarung)
  2. I ◌ꦷ (wulu melik)
  3. U◌ꦹ (suku mendhut)
  4. E ◌ꦼꦴ (pepet tarung)
  5. é ◌ꦻ (dirga mure)
  6. O ◌ꦻꦴ (dirga mure tarung)
  7. Sandhangan Sandhangan ini digunakan di tengah suku kata. Sandhangan Wyanjana bisa digunakan bersama-sama dengan sandhangan swara.
    1. -ra-ꦿ (Cakra)
    2. -re-ꦽ (Keret)
    3. -ya-ꦾ (Pengkal)
  8. Sandhangan sesigeg. Adalah sandhangan yang ditempatkan pada akhir suku kata. Sandangan ini terdiri atas: penyangga, layar, cecak, dan wingyan. Sandangan ini boleh digunakan bersamaan dengan sandhangan swara.
    1. -mꦀ (penyangga)
    2. -ngꦁ (cecak)
    3. -hꦃ(wingyan)
    4. -rꦂ (layar)

Pangkon (Pasangan) aksara Jawa

Pasangan sering juga disebut pangkon (ꦥꦁꦏꦺꦴꦤ꧀). Fungsinya sama seperti virama di dalam Aksara Brahmi. Yaitu untuk membentuk konsonan akhir dengan menghilangkan vokal inheren dari huruf dasar. Penggunaan pasangan (pangkon) memiliki aturan tersendiri. Berikut adalah aturan penggunaan pangkon atau pasangan dalam Aksara Jawa.

  • Pangkon tidak boleh digunakan untuk akhir konsonan -r-, -h-, dan -ng. Karena ketiganya bisa ditulis dengan menggunakan tanda baca tersendiri. Contohnya, konsonan akhir “-r” harus ditulis dengan menggunakan layar, dan tidak boleh dengan menggunakan ra-(pangkon).
  • Pangkon hanya boleh digunakan di akhir kalimat. Apabila ada aksara ‘mati’ yang terdapat di tengah kalimat, maka aksara tersebut akan diberikan pasangan. Contohnya, aksara “na” yang dipasangkan dengan pasangan “da” (nada), akan dibaca “nda” (ꦤ꧀ꦢ) jika diberi pangkon.
  • Pasangan bisa terbentuk apabila aksara didahului oleh pangkon. Contoh, “pasangan-da” ditulis “pangkon+da” (꧀ꦢ).
  • Pasangan bisa diberi sandhangan seperti pada aksara dasar. Hanya saja, penempatannya khusus dan tidak sembarangan. Aturannya, pasangan yang berada di atas harus diletakkan di atas aksara dasar. Sedangkan sandhangan yang berada di bawah, akan diletakkan di bawah pasangan.

Apabila sandhangan berada sebelum dan/atau sesudah aksara, maka sandhangan tersebut akan ditempatkan sejajar (segaris) dengan aksara dasar.

  • Satu aksara hanya boleh diberikan satu pasangan, atau satu pasangan hanya boleh ditempel dengan satu panjingan.

 

Categories
Serba-Serbi Jawa

Kamus Bahasa Jawa Dan Artinya

Kamus Bahasa Jawa Dan Artinya

Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat Jawa (Suku Jawa) yang tinggal atau berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Walau demikian, bahasa Jawa juga dituturkan oleh sebagian orang Banten. Terutama yang tinggal di daerah: Serang, Cilegon, Tangerang, Karawang, Subang, Indramayu, dan Cirebon.

Bahasa Jawa sendiri dibedakan menjadi lima tingkatan, dan apabila diperinci akan menjadi 13 tingkatan. Tingkat pertama adalah yang paling kasar, yang biasanya digunakan oleh kawula alit (masyarakat pada umumnya) untuk berkomunikasi dengan sesama mereka. Atau antara orang yang sepantaran (seusia).

Sedangkan bahasa Jawa halus (basa Madya) atau basa krama dan yang lebih tinggi dari itu umumnya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, orang yang dihormati, atau dengan orang yang memiliki jabatan lebih tinggi.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah penggunaan bahasa Jawa berdasarkan lawan bicara.

Bahasa Jawa kasar atau basa ngoko biasanya digunakan oleh:

  1. Anak-anak dengan anak-anak
  2. Sesama teman dekat atau teman akrab
  3. Orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda

Bahasa Jawa krama Madya atau bahasa halus biasanya digunakan oleh:

  1. Anak kepada orang tua
  2. Murid kepada guru
  3. Orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua
  4. Pegawai atau Abdi kepada majikan atau pimpinan

Sedangkan krama inggil umumnya digunakan untuk merendahkan diri sendiri serta untuk meningkatkan derajat lawan bicara

Bentuk tingkatan bahasa Jawa

  1. Basa Kasar (Ngoko)
  2. Basa Kedaton (Bagongan)
  3. Basa Krama (Kromo Inggil)
  4. Basa Madya
  5. Basa Ngoko Andhap

Jika dirincikan kembali kelima tingkatan bahasa Jawa di atas bisa menjadi 12 macam tingkatan yaitu:

  1. Bahasa Kasar
  2. Basa Kedhaton (Bagongan)
  3. Basa Krama Deso
  4. Basa Krama Inggil
  5. Basa Wredakrama
  6. Basa Kramantara
  7. Basa Mudokrama
  8. Basa Madyatara
  9. Basa Madyo Ngoko
  10. Basa Ngoko Andhap Basa Antya
  11. Ngoko Andhap Antya Basa
  12. Ngoko Lugu

Namun pada prakteknya, bahasa Jawa sering dibedakan menjadi tiga tingkatan saja, yaitu ngoko, krama, dan krama inggil. Berikut adalah contoh kamus bahasa Jawa dan artinya yang dibedakan berdasarkan tiga tingkatan tersebut.

Kamus bahasa Jawa dan artinya

Ngoko Krama Krama Inggil Bhs. Indonesia
(di) kubur dipetak disarekake dikubur
(ng) iring (aken) ngiringaken ndherekaken mengantarkan
abang abrit abrit merah
abot awrat awrat berat
adang bethak bethak menanak nasi
adeg ngadeg jumeneng berdiri
adhem asrep asrep dingin
adhi adhi rayi adik
adoh tebih tebih jauh
adol sade sade jual
adu aben aben mengadu
adus adus siram mandi
agama agami agami agama
age-age enggal-enggal enggal-enggal lekas
aja ampun ampun jangan
ajang ajang ambeng tempat, piring
aji aos aos nilai, harga
aksama aksami aksami ampun, maaf
aku kula kawula, dalem saya
ala awon awon buruk
alangan pambengan pambengan halangan, aral
alas wana wana hutan
ali-ali sesupe sesupe cincin
alis alis imba alis
amarga amargi amargi sebab, karena
amba wiyar wiyar luas, lebar
ambu ambet ambet bau
ambung ambung aras cium
amit amit nuwun sewu permisi
ampir ampir pinarak singgah
ana wonten wonten ada
anak yoga putra anak
anak-anak anak-anak peputra anak-anak
angger uger uger asalkan
anggo angge agem pakai
angon angen angen menggembala
ani-ani pugut pugut ani-ani
antara antawis antawis antara
anti antos antos tunggu
anut tumut nderek ikut
anyang awis awis menawar
anyar enggal enggal baru
apa punapa punapa apa
apik sae sae bagus, baik
apura apunten apunten maaf
aran nama asma nama, sebutan
arang awis awis jarang
arep ajeng, purun badhe, kersa mau, akan
ari-ari ari-ari tuntunan plasenta, ari-ari
arum arum arum harum
asu segawon segawon anjing
ati manah (peng) galih hati, kalbu
ati-ati ngatos-atos atos-atos hati-hati
awak badan salira badan
awan siyang siyang siang
aweh nyukani maringi member
ayo mangga sumangga ayo, mari
bacut lajeng lajeng lantas, kemudian
bako sata sata tembakau
baku baken baken pokok, baku
bali mantuk kundur pulang
balung balung tosan tulang
banda banda besta belenggu
banget sanget sanget amat, sangat
bangkekan bangkekan pamekan pinggang
banjir bena bena banjir
banjur lajeng lajeng lantas, kemudian
bantal bantal kajang sirah bantal
banyu toya toya air
bapak bapak rama bapak
bareng sareng sareng bersama
barep pembajeng pembajeng sulung
bata banon banon batu-bata
bathik serat serat batik, corak kain
bathuk bathuk palarapan dahi, kening
batin batos batos isi hati, batin
batur rencang abdi melahirkan
bayen babaran babaran teman, pembantu
bebarengan sesarengan sesarengan bersama-sama
bebed bebed nyamping memakai kain
bebek kambangan kambangan itik
becik sae sae bagus
beda benten benten berbeda
bekti bektos bektos bakti, hormat
ben kajengipun kersanipun biar
bener leres kasinggihan benar
bengi dalu dalu malam
beras uwos uwos beras
bisa saged saged bisa
biyen riyin rumiyin dahulu
bocah lare lare anak
bojo semah garwa suami-istri
bokong bokong bocong pantat
bolah benang benang benang
boreh boreh konyoh bedak
brengos brengos gumbala, rawis kumis
bubar bibar bibar selesai
bubrah bibrah bibrah rusak
budhal bidhal bidhal berangkat
budi jawah jawah hujan
bungah manah penggalih pikir, watak
buri wingking pengkeran belakang
buru bujeng bujeng kejar
butuh betah betah butuh, perlu
buwang bucal kendhang membuang
buyar rampung rampung bubar
cangkem cangkem tutuk mulut
carita cariyos cariyos cerita
caturan wicanten ngendika pembicaraan
cawis cawis caos sedia
cedhak celak caket dekat
cekel cepeng asta pegang
celeng andhapan andhapan babi hutan
cendhak andhap andhap pendek/ rendah
cengel cengel griwa tengkuk
cepet enggal enggal segera
cilik alit alit kecil
clathu wicanten ngendika berkata
coba cobi cobi coba
cucul cucul lukar melepaskan
cukup cekap cekap cukup
cukur cukur paras, pangkas cukur, pangkas
cundhuk cundhuk sangsangan tusuk konde
dadah dadah ginda pijat
dadi dados dados menjadi
dagang gramen gramen berdagang, niaga
dalan radin margi jalan
dandan dandos busana berhias
dawa panjang panjang panjang
deleng ningali mriksani mengamati
desa dhusun dhusun desa, kampong
dhadha dhadha jaja dada
dhayoh tamu tamu tamu
dhek kala kala ketika, saat
dhemen remen remen suka
dhengkul dhengkul jengku lutut
dhewe piyambak piyambak sendiri
dhisik riyen rumiyin dahulu
dhuwit yatra arta uang
dhuwur inggil inggil tinggi
di… dipun… dipun… di…
dina dinten dinten hari
dlamakan dlamakan samparan telapak kaki
dluwang dlacang dlacang kertas
dodol sade sade jual
dolan dolan ameng-ameng bermain-main
doyan purun kersa mau, suka akan
driji driji racikan jari-jari
dudu sanes sanes bukan
dulang ndulang ndhahari menyuapi
dulur dherek dherek ikut
dumadi dumados dumados menjadi
durung dereng dereng belum
duwe gadhah kagungan punya
edan ewah ewah gila, hilang akal
eling eling emut, enget ingat
elmu elmi elmi ilmu
elu, melu tumut nderek ikut
eluh eluh waspa air mata
embah embah eyang nenek-kakek
embok ibu ibu ibu
embuh kirangan ngapunten entah
enak eca eca enak
endhas sirah mustaka kepala
endheg kendel kendel henti
endhek andhap andhap rendah
endhem mendhem wuru mabuk, lupa diri
endhog tigan tigan telur
endi pundi pundi mana
eneng, meneng mendel mendel diam
enggo engge agem pakai
enggon enggen pidalem tempat
enom enem timur muda
entek telas telas habis
enteni entosi rantosi tunggu
entuk angsal pikantuk mendapat
enya mangga sumangga silahkan ambil
enyang awis awis tawar, menawar
epek pendhet pundhut ambil
epek-epek epek-epek tapak asta telapak tangan
esuk enjing enjing pagi
gajah liman liman gajah
gaman dedamel dedamel senjata, alat
gamelan gangsa gangsa gamelan
gampang gampil gampil mudah
ganti gantos gantos ganti, bertukar
garing aking aking kering
gawa bekta asta bawa
gawan bektan ampilan bawaan
gawe damel damel buat, membuat
gedhang pisang pisang pisang
gedhe ageng ageng besar
geger geger pengkeran punggung
gelang binggel binggel gelang
gelem purun kersa mau
gelis engggal enggal cepat
gelung gelung ukel sanggul
genep jangkep jangkep genap, lengkap
geneya kenging punapa kenging punapa mengapa
geni latu grama api
gentenan gentosan gentosan bergantian
genti gentos gentos ganti, gilir
gering kera susut kurus
getih rah rah darah
githok githok julukan tengkuk
godhong ron ron daun
golek pados pados mencari
goroh dora dora bohong
gugah gigah wungu bangun
gula gigat gigat menggugat
guna gina gina manfaat
gunem ginem ngandika bicara
guneman gineman ngandikan berbicara
guyon gegujengan gegujengan berkelakar
guyu gujeng gujeng tawa
idep idep ibing bulu mata
idu idu kecoh ludah
iga iga unusan tulang iga
ijo ijem ijem hijau
ijoan ijeman ijeman undangan lisan
ijol lintu lintu tukar
ika, kae punika punika itu
iket iket destar ikat kepala
iki, iku punika punika ini
ilang ical ical hilang
ilat ilat lidhah lidah
ilo, ngilo ilo paningalan cermin
imbu imbet imbet peram
imbuh imbet tanduk tambah lagi
inep nyipeng nyare bermalam
ingon-ingon ingah-ingah ingah-ingah ternak
ingu ingah ingah piara
ireng cemeng cemeng hitam
irung irung grana hidung
isa saged saged bisa
isih taksih taksih masih
isin isin lingsem malu
ising, ngising bebucal bobotan buang air besar
isor, ngisor ngandhap ngandhap di bawah
iwak ulam ulam ikan
iya inggih uwun inggih iya
jaba jawi jawi luar
jaga jagi reksa jaga
jago sawung sawung ayam jago
jalu jalu, panja jalu, panja taji
jaluk nedi nyuwun minta
jamu jampi loloh, usada jamu, obat
janggut janggut kethekan dagu
jaran jaran turangga kuda
jare cariyosipun cariyosipun katanya
jarit sinjang nyamping kain
jarwa jarwi jarwi arti, maksud
jenat jenat swargi almarhum
jeneng nama asma nama
jenggot jenggot gumbala jenggot
jero lebet lebet dalam
jeruk jeram jeram jeruk
jisim jisim layon mayat, jenazah
joged joged beksa tari
jogedan jogedan beksan tarian
jungkat serat pethat sisir
jupuk pendhet pundhut ambil, pungut
kabeh sedaya sedanten semua
kacamata kacamripat kacatingal kacamata
kacek keot kaot selisih
kaget kaget kejot kaget
kajaba kejawi kejawi kecuali
kakang kakang raka kakak (laki-laki)
kalah kawon kasoran kalah
kali lepen lepen sungai
kalung kalung sangsangan kalung
kambil klapa klapa kelapa
kanca rencang rencang teman
kandha sanjang ngendika bicara
kanggo kangge kagem untuk, buat
kapal baito baito kapal
karep kajeng kersa kehendak, mau
karo kalih kaliyan dengan
kathok kathok lancingan celana
katon ketingal ketingal kelihatan
katur katur konjuk buat, untuk
kaya kados kados seperti
kayu kajeng kajeng kayu
kebo maesa maesa kerbau
kelakon kelampahan kelampahan terlaksana
kelalen kesupen kalimengan terlupa
kelangan kecalan kecalan kehilangan
kelud kelud samparan sapu
kembang sekar sekar bunga
kemben kemben kesemekan stagen
kemenyan sela sela kemenyan, dupa
kempol kempol wengkelan paha
kemu kemu kembeng kumur
kemul kemul singep selimut
kena kenging kenging boleh
kene mriki mriki sini
kepenak sekeca dhangan enak, sembuh
kepriye kados pundi kados pundi bagaimana
kepung kepang kepang dikelilingi
kepungan kepangan kepangan kenduri
kerep asring asring sering
keri kentun kentun ketinggalan
keris dhuwung wangkingan keris
kesusu kesesa kesesa tergesa-gesa
kesuwen kedangon kedangon terlalu lama
ketara ketingal ketingal kentara
ketemu kepanggih kepanggih berjumpa
ketok ketingal ketingal kelihatan
kijing kijing sekaran batu nisan
kira kinten kinten taksir
kira-kira kinten-kinten kinten-kinten kira-kira
kirim kentun kentun kirim
klambi rasukan ageman baju
klasa gelaran gelaran tikar
kleru klintu klintu keliru
klumpuk klempak klempak kumpul
kodanan kejawahan kejawahan kehujanan
kongkon kengken utus suruh
kono mriku mriku situ
kowe sampeyan panjenengan kamu
kramas karmas jamas keramas
krasa kraos kraos terasa
krasan kraos kraos betah
kringet kringet riwe keringat
krungu miring midhanget dengar
kuburan kuburan pasareyan kuburan
kudu kedah kedah harus
kuku kuku kenaka kuku
kuning jene jene kuning
kuping kuping talingan telinga
kurang kirang kirang kurang
kuwat kiyat kiyat kuat
kuwi niku punika itu
labuh labet labet membela
lagi saweg nembe sedang
lair lair miyos lahir
laki, bojo semah garwa suami
laki, kawin laki cumbana bersetubuh
lakon lampahan lampahan jalan cerita
laku lampah tindak jalan
lalen kesupen kesupen lupa, lalai
lali supe kalimengan lupa, tidak ingat
lambe lambe lathi bibir
lanang jaler kakung laki-laki
lara sakit gerah, gering sakit
larang awis awis mahal
lawang konten konten pintu, jalan
lawas lami, dangu lami, dangu lama, kuno
layang serat nawala surat
lebu lebet lebet dalam
lelara sesakit sesakit penyakit
lelembut lelembat lelembat roh halus
lelungan kekesahan peparan bepergian
lemah siti siti tanah
lemari lemantun lemantun almari
lembut lembat lembat lembut
lemu lema lema gemuk
leren kendel kendel istirahat, berhenti
lima gangsal gangsal lima
linuwih linangkung linangkung luar biasa, hebat
liru lintu lintu ganti, tukar
liwat langkung langkung lewat
lor ler ler utara
loro kalih kalih dua
luh luh waspa air mata
luku lujeng lujeng bajak
lulang cucal cucal kulit
lumrah limrah limrah lazim
lunga kesah tindak pergi
lungan kesahan tindakan bepergian
lungguh lenggah pinarak duduk
luput lepat lepat salah
luwih langkung langkung lebih
maca maca maos membaca
macan macan simo harimau
madhang nedha dhahar makan
madhani nyameni nyameni menyamai
madhep majeng majeng menghadap
majeki maosi maosi membayar pajak
maju maling majeng maju
maling maling pandung pencuri
mambu mambet ngganda berbau
manah njemparing njemparing memanah
manak nglairaken mbabar melahirkan
mandheg kendel kendel berhenti
maneh malih malih tambah, lagi
mangan nedha dhahar makan
manggon manggen manggen tinggal
mangkat bidhal tindak, jengkar berangkat
manuk peksi peksi burung
marang dhateng dhateng ke, kepada
marani murugi murugi mendatangi
mari mantun dhangan sembuh, pulih
maro malih malih membagi dua
marung mande mande membuka kedai
mata mripat paningal, soca mata
mateni mejahi nyedani membunuh
mati pejah seda, surud mati, meninggal
mau wau wau tadi
mawa mawi mawi serta, dengan
mayit mayit layon mayat
mbathik nyerat nyerat membatik
mburu mbujeng mbujeng berburu
medel celep celep mewarnai kain
melek melek wungu bangun, nampak
melu tumut ndherek ikut
memedi memedos memdos hantu
menang mimpang mimpang menang
menawa menawi menawi jika
menehi nyukani maringi, nyaosi member
mengko mangke mangke nanti
menjangan sangsam sangsam rusa
menyang dhateng dhateng menuju, ke
merga margi margi karena
meteng ngandheng mbobot hamil
metu medal miyos keluar
mikir manah nggalih berpikir
mikul ngrembat ngrembat memikul
milang mical mical menghitung
minggat minggat lolos pergi tanpa pamit
mira minten minten berapa
miranti mirantos mirantos melengkapi alat
mitaya mitados mitados mempercayakan
mlaku mlampah tindak berjalan
mlebu mlebet mlebet masuk
mluku mlujeng mlujeng membajak
momot ngewrat ngewrat memuat
mori monten monten kain kafan
mot kawrat kawrat muat
mudhun mandhap mandhap turun
muga-muga mugi-mugi mugi-mugi mudah-mudahan
mula mila mila maka
mulang mucal mucal mengajar
mulih mantuk kundur pulang
mundhak mindhak mindhak naik
mung naming namung hanya
munggah minggah minggah naik
mungguh menggah menggah mengenai
mungkur mengker mengker membelakangi
mungsuh mengsah mengsah musuh
muni mungel mungel bersuara
muni-muni mugel-mugel mugel-mugel mencaci
murah mirah mirah murah
muwuni mewahi mewahi menambahkan
nandur nanem nanem menanam
nangis nangis, mular muwun menangis
ndadah ndadah ngginda memijat
ndandani ndandosi mbusanani merias
ndeleng ningali mirsani mengamati
negara nagari nagari negara
nembang nyekar nyekar menyanyi
nepsu nepsu duka marah
nesoni nyrengeni ndukani memarahi
ngabekti ngabektos ngabektos berbakti
ngadeg ngadeg jumeneng berdiri
ngadhep sowan marak menghadap
ngajeni ngaosi ngaosi menghargai
ngalah ngawon ngawon mengalah
ngalor ngaler ngaler ke utara
ngambung ngambung ngaras mencium
nganggo ngangge ngagem memakai
nganti ngantos ngantos sampai
nganyang ngawis ngawis menawar
ngapura ngapunten ngapunten maaf
ngarani mastani mastani menyebut
ngarep ngajeng ngarsa depan
ngaso kendel kendel beristirahat
ngelak ngelak salit haus
ngeling-eling ngemut-emut ngemut-emut meningat-ingat
ngelu ngelu puyeng pusing
ngeneake ngawontenaken ngawontenaken mengadakan
ngeneni mugut mugut menuai
ngenger ngenger ngabdi mengabdi
ngenggoni ngenggeni nglenggahi menempati
ngenteni ngentosi ngrantos menunggu
ngerti ngertos pirsa mengerti
nggampangake nggampilaken nggampilaken meremehkan
ngganti nggantos nggantos mengganti
nggawa mbekta mbekta membawa
nggenepi njangkepi njangkepi melengkapi
nggoleki madosi madosi mencari
nggunaake ngginaaken ngginaaken menggunakan
ngilangi ngicali ngicali menghilangkan
ngimpi ngimpi nyupena bermimpi
nginang ngganten ngganten makan sirih
nginep nyipeng nyare bermalam
ngingu ngingah ngingah memelihara
ngirim ngintun ngintun mengirim
ngising bebanyu bobotan buang air besar
ngisor ngandhap ngandhap di bawah
nglakoni nglampahi nindakaken menjalankan
ngoko krama madya krama inggil berbahasa (sopan)
ngombe nginum ngunjuk minum
ngongkon ngengken ngutus, ngaturi menyuruh
ngopahi ngepahi ngeoahi member upah
ngrasani ngraosi ngraosi membicarakan
ngrewangi ngrencangi ngrencangi menenmani
ngrungoake mirengaken midhangetaken mendengarkan
ngrusuhi ngresahi ngresahi mengganggu
ngubur methak nyarekaken mengubur
ngulemi ngulemi ngaturi mengundang
ngundang nimbali ngaturi memanggil
ngutang nyambut ngampil meminjam
nguyuh toyan turas kencing
njaba njawi njawi di luar
njaluk nedha nyuwun minta
njoged njoged mbeksa menari
njupuk mendhet mundhut mengambil
nom nem timur muda
nuli lajeng lajeng lalu
nunggang numpak nitih mengendarai
nutu nggentang nggentang menumbuk padi
nyalini nggantosi nggantosi mengganti
nyambut gawe nyambut damel ngasta damel bekerja
nyebut nyebat nyebat menyebut
nyekel nyepeng ngasta memegang
nyilih nyambut ngampil meminjam
nyrengeni nyrengeni ndukani memarahi
nyritani nyriosi nyriosi bercerita
obat jampi usada obat
okeh kathah kathah banyak memperoleh
oleh angsal pikantuk dapat
omah griya griya rumah
ombe ombe unjuk minum
ombo wiyar wiyar luas
omong ginem ginem bicara
ompong ompong dhaut ompong
ora boten boten tidak
padha sami sami sama
padhang pajar pajar terang
padusan padusan pasiraman tempat mandi
paidon paidon kecohan tempat meludah
pajek paos paos pajak
panah jemparing jemparing panah
panas benter benter panas
panasan benteran benteran tempat panas
pangan tedhan dhaharan makanan
panggon panggen panggen tempat
pangilon pangilon paningalan kaca rias
papat sekawan sekawan empat
papringan padelingan padelingan kebun bamboo
paran purug panggen rantau
pari pantun sekawan padi
pasa siyam siyam puasa
pasar peken peken pasar
pasaran pekenan pekenan hari pasaran
paseduluran pasedherekan pasedherekan persaudaraan
paturon patileman pasareyan tempat tidur
payu pajeng pajeng laku
payung paying songsong paying
pedhang pedhang sabet pedang
pekarangan pekawisan pekawisan kebun
pendhapa pendhapi pendhapi pendapa
pengajian pengaosan pengaosan pengajian
petan petan ulik cari kutu kepala
pikir manah penggalih pikiran
pikulan rembatan rembatan alat pikul
pilis pilis blonyoh berbedak
ping kaping kaping kali
pipi pipi pangarasan pipi
pira pinten pinten berapa
piranti pirantos pirantos perkakas
pitaya pitados pitados percaya
pitik ayam ayam ayam
prakara prakawis prakawis perkara
prau kapal baita perahu
prayoga prayogi prayogi layak
prihatin prihatos prihatos prihatin
priyayi priyantun priyantun bangsawan
pundhak pundhak pamidhangan bahu
pupak pupak dhaut gigi lepas
pupu pupu wentis paha
pupur pupur tasik bedak
puser puser tuntunan pusar, pusat
putih pethak pethak putih
putu putu wayah cucu
rabi emah-emah karma menikah
rada radi radi agak
rai rai pasuryan wajah
rambut rambut rema, rikma rambut
rana mrika mrika ke sana
rasa raos raos rasa
rata radin radin rata
ratan margi margi jalan
raup raup suryan cuci muka
rebut rebat rebat rebut
rega regi regi harga
rekasa rekaos rekaos sengsara
rembug rembag rembag runding
rembulan rembulan candra bulan
rene mriki mriki kemari
rewang rencang abdi pembantu
riyak riyak jagra dahak
riyaya riyadi riyadi hari raya
rokok ses ses rokok
rubuh rebah rebah rebah
rumangsa rumaos rumaos merasa
rumat rimat rimat pelihara
rupa rupi rupi rupa
rusak risak risak rusak
sabuk sabuk peningset rusak
sadulur sadherek sadherek saudara
salin gantos gantos berganti pakaian
sandhangan pangangge pangagem pakaian
sapi lembu lembu sapi
sapu sapu samparan sapu
sapuh sapih pegeng dipisah
sega sekul sekul nasi
segara seganten seganten laut
selir selir ampil, ampeyan selir
sendhok sendhok lantaran sendok
sesuk benjing benjing besok
sikil suku ampeyan kaki
silih sambut ampil pinjam
slamet wilujeng sugeng selamat
sunat supit supit khitan
susu susu prembayun payudara
suwara swanten swanten suara
suwe dangu dangu lama
takon taken ndangu suara
tali tangsul tangsul tali
tamba jampi usada obat
tamu dhayoh dhayoh tamu
tandang gawe nyambut damel ngasta damel bekerja
tandha tangan tandha tangan tapak asta tanda tangan
tandur tanem tanem tanam
tangan tangan asta tangan
tangi tangi wungu bangun tidur
tapihan tapihan nyampingan memakai kain
teka dugi, dhateng rawuh dating, tiba
teken teken lantaran tongkat
temu panggih panggih jumpa, temu
tepung tepang tepang kenal
terus lajeng lajeng bertemu
tetak, sunat tetak, sunat supit sunat
tiba dhawah dhawah jatuh
tilik tuwi tuwi berkunjung
tinggal tilar tilar tertinggal, tinggal
tombak waos watangan tombak
tonton tingal pirsa lihat
tuku tumbas mundhut membeli
tulis serat serat tulis
tulisan seratan seratan tulisan
tuma tuma itik kutu rambut
tuna tuni tuni rugi
tunggal tunggil tunggil satu, tunggal
tunggang tumpak titih naik
tunggu tengga tengga tunggang
turah tirah tirah sisa
turu tilem sare, nendra tidur
turun turun tedhak keturunan
tutu gentang gentang tumbuk padi
tuwa sepuh yuswa genteng
udan jawah jawah tua
udhar udhar lukar lepas, terurai
udheng iket dhestar ikat kepala
udud ses ses merokok
uga ugi ugi juga
ujar ujar punagi janji, ikrar
ukiran jejeran jejeran ukiran
ula sawer sawer ular
ulat ulat pasuryan raut muka
ulem-ulem ulem-ulem atur-atur undangan
umbel umbel gadhing ingus
umpama umpami umpami umpama
umur umur yuswa umur
undang timbale ngaturi mengundang
ungkur pengker pengker belakang
uni ungel ungel bunyi, suara
untu untu waja gigi
upakara upakawis upakawis pelihara
upama upami upami umpama, misal
urip gesang sugeng hidup
utama utami utami utama
utang nyambut ngampil hutang
utawa utawi utawi atau
uyah sarem sarem garam
uyuh toyan turas kencing
waca waos waos baca
wacanan waosan waosan bacaan
wadi wados wados rahasia
wadon estri estri perempuan
wae kemawon kemawon hanya
wahing wahing sigra bersin
wani wanton wanton berani
waras saras waluya sehat
watu sela sela batu
watuk watuk cekoh batuk
wayah wanci wanci waktu
wayang ringgit ringgit boneka
wedang benteran unjukan minuman
wedhus menda menda kambing
wedi ajrih ajrih takut
wektu wekdal wekdal takut
wengi dalu dalu malam
weruh sumerep priksa, uninga tahu
weteng weteng padharan perut
weweh nyukani peparing member
wicara wicanten ngendika berkata
wiring isin lingsem malu
wis sampun sampun sudah
wisuh wisuh wijik cuci tangan
wong tiyang tiyang orang
wuda wuda lukar telanjang
wudel wudel tuntunan pusar
wudun wudun untar bisul
wulang wucal wucal ajar
wutuh wetah wetah utuh
yekti yektos yektos keseluruhan
yen menawi menawi kalau/jika

 

Categories
Cerita Budaya

Contoh Konflik Antar Suku

Macam-macam Konflik dan Contoh Konflik Antar Suku di Indonesia

Menurut data dari Biro Pusat Statistik (BPS) jumlah suku di Indonesia pada tahun 2010 kurang lebih 1.340 suku (bangsa) yang terdiri atas 300 kelompok etnik (suku). Berikut adalah beberapa contoh suku di Indonesia, berturut-turut dari yang terbesar adalah: suku Jawa 41%, suku Sunda, suku Batak, suku Madura, dan seterusnya. Pada masa orde lama, pencatatan mengenai suku-suku sempat dilarang karena dianggap dapat memecah belah NKRI. Namun pada era reformasi pencatatan nama-nama suku kembali dilakukan untuk mengklasifikasi dan mengetahui secara pasti jumlah suku yang ada di nusantara.

Interaksi antar suku bangsa dalam kehidupan sehari-hari seringkali melahirkan konflik. Hal tersebut disebabkan karena hingga saat ini masih banyak masyarakat yang intolerant dan atau tidak menghormati suku lain. Ada juga yang dipicu oleh masalah-masalah sederhana, namun tidak sedikit masalah yang ada dipicu oleh masalah yang bersifat mainstream seperti penguasaan sumber daya di dalam lingkup teritorial tertentu.

Macam-macam jenis konflik

  • Konflik antar suku
  • Konflik antar agama
  • Konflik antar ras
  • Konflik antar golongan

Contoh Konflik Antar Suku

1. Konflik antar suku Dayak dengan suku Madura di Sampit

Konflik antar suku yang terjadi antara suku Madura dengan suku Dayak di Kalimantan Tengah awalnya dipicu oleh keributan kecil yang melibatkan antara kedua suku pada tahun 2001. Awal mula terjadinya keributan ini adalah karena adanya penyerangan yang dilakukan oleh suku Dayak (sebagai suku asli Kalimantan Tengah) terhadap 2 orang suku Madura, yang kemudian memicu kerusuhan besar yang menyebar ke seluruh provinsi Kalimantan Tengah.

Selain menyebabkan banyak kerugian harta benda, tempat tinggal, hingga kendaraan, konflik ini juga menyebabkan banyak jiwa terenggut. Konflik antar suku Madura dan suku Dayak tercatat menyebabkan kematian 500 orang. Yang sebagian besar berasal dari suku Madura.

Sejak konflik tersebut berlangsung, setidaknya ada 100.000 warga Madura yang kehilangan tempat tinggal dan hartanya karena terpaksa harus kembali ke kampung halaman mereka di Pulau Madura.

2. Konflik antara suku Aceh dengan suku Jawa di Aceh

Konflik di Aceh antara suku asli (Aceh) dengan suku pendatang (suku Jawa) berlangsung sejak lama. Konflik dilatarbelakangi oleh sejarah panjang pada masa lalu, dimana Kerajaan Majapahit pada zaman dahulu sempat menginvansi kerajaan Aceh, yang kemudian hingga era modern masih menyisakan luka.

Selain karena sejarah panjang tersebut, diskriminatif yang dirasakan oleh masyarakat Aceh pada masa orde baru, yang juga dianggap sebagai pemerintahan Jawa karena dipimpin oleh orang Jawa dan tinggal di Jawa, kembali membuka luka lama yang kemudian memicu meningkatnya rasisme dan kecurigaan antara kedua suku.

Warga Aceh yang tidak suka dengan pendatang (terutama yang berasal dari suku Jawa), berusaha mengusir mereka dari ‘Tanah Rencong’ sebutan untuk Aceh. Masyarakat Aceh yang berusaha mengusir suku-suku pendatang melakukan gerakan separatis di bawah bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Tidak hanya ingin mengusir masyarakat pendatang dari tanah Aceh, GAM juga ingin memisahkan diri dari negara Indonesia karena menganggap perhatian yang diberikan pemerintah tidak sepadan dengan jasa-jasa perjuangan masyarakat Aceh pada zaman dahulu.

Konflik ini menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa. Setidaknya 15.000 orang menjadi korban akibat perbedaan keinginan antara GAM dan RI tersebut.

3. Konflik antar suku Lampung dan suku Bali di Lampung

Contoh konflik antar suku di Indonesia selanjutnya melibatkan antar suku Lampung dengan suku Bali sebagai suku pendatang di Lampung. Konflik ini terjadi pada tahun 2009 lalu. Pada awalnya dipicu oleh perselisihan yang terjadi antar warga (kedua suku).

Ini adalah salah satu contoh konflik berdarah lainnya yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Tercatat 12 orangnya meninggal dunia dalam tragedi ini.

Pemerintah Indonesia melalui TNI dan Kepolisian akhirnya berhasil meredam emosi kedua belah pihak dan mendamaikan mereka melalui perundingan yang membuat suasana menjadi kondusif hingga saat ini.

4. Konflik antar suku asli Bangka dan suku pendatang di Pulau Bangka

Konflik yang terjadi antara Suku asli dengan suku pendatang di Bangka merupakan contoh konflik yang diakibatkan oleh persaingan sumber daya. Konflik ini pada awalnya dipicu oleh masalah yang melibatkan suku asli Bangka dengan pendatang, dimana suku pendatang mencoba melakukan pemerasan terhadap seseorang yang dari suku asli.

Walaupun hanya sebuah masalah sepele, namun karena masing-masing pihak mengatasnamakan ‘suku,’ maka tidak butuh waktu lama hingga konflik kecil ini menjadi konflik yang besar dan menyebabkan korban jiwa.

5. Konflik antar suku di Papua

Papua adalah salah satu daerah di Indonesia yang memiliki jumlah suku dan Sub suku terbanyak. Hingga saat ini, masih sering terjadi konflik antar suku di Papua. Contoh konflik antara suku di Papua yang terbaru terjadi pada tahun 2013 lalu, dimana peperangan terjadi antara kelompok pegunungan dengan kelompok pantai yang menyebabkan 2 orang tewas dan melukai puluhan lainnya.