Kopi Klotok Jogja
Kopi Klotok Jogja, Makan Masakan Rumahan di Tengah Sawah Kaliurang.
Kalau ngomongin tempat makan terkenal di Jogja, Kopi Klotok Jogja termasuk salah satu yang namanya nggak pernah benar-benar hilang.
Saya pertama kali makan di sini akhir tahun 2018. Sudah lama banget memang, bahkan waktu itu belum ada pandemi dan rasanya media sosial juga belum seheboh sekarang.
Tapi Kopi Klotok sudah ramai.
Dan ramainya bukan main.
Saya tahu tempat ini awalnya juga dari media sosial. Karena sering melihat orang makan nasi lodeh, telur dadar, pisang goreng sambil duduk di rumah Jawa dengan pemandangan sawah, akhirnya Kopi Klotok masuk bucket list saya kalau suatu hari main ke daerah Kaliurang.
Akhirnya kesampaian juga.
Kesan pertama saya setelah makan di sini sebenarnya sederhana:
Kok makanan sesederhana ini bisa enak banget, ya?
Menunya bukan makanan yang aneh-aneh. Malah seperti masakan yang mungkin dulu sering dibuat nenek kita di rumah: sayur lodeh, tempe garit, telur dadar, sambal, nasi putih.
Tapi mungkin memang justru itu rahasianya.
Kopi Klotok Jogja Ada di Mana?
Warung Kopi Klotok berada di kawasan Pakem, Sleman, tepatnya di:
Jalan Kaliurang KM 16, Area Sawah, Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Jadi lokasinya memang bukan di pusat Kota Jogja.
Kalau berangkat dari pusat kota, arahnya naik ke utara menuju kawasan Kaliurang. Perjalanan kira-kira membutuhkan waktu 45 menit sampai satu jam, tergantung kondisi lalu lintas dan dari mana kita berangkat.
Tapi menurut saya justru lokasi ini yang membuat Kopi Klotok terasa berbeda.
Begitu masuk ke area warung, suasananya berubah. Ada rumah Jawa, pepohonan, sawah dan udara Pakem yang terasa lebih adem dibanding pusat kota.
Kalau cuaca sedang bagus, makan di area luarnya enak banget.
Kenapa Kopi Klotok Jogja Terkenal?
Ini yang menarik.
Namanya Kopi Klotok, tetapi banyak orang justru datang untuk makan nasi dan sayur lodehnya.
Saya juga begitu.
Kopinya memang terkenal, tetapi kalau disuruh mengingat pengalaman pertama datang ke sini, yang langsung terbayang di kepala saya malah antrean makanan, telur dadar dan pisang gorengnya.
Konsepnya sebenarnya sederhana sekali: makanan rumahan Jawa disajikan dalam suasana pedesaan.
Bangunan utamanya berupa rumah tradisional Jawa dengan interior yang juga dibuat seperti rumah zaman dulu. Di sekelilingnya ada area terbuka dan persawahan.
Bukan restoran mewah.
Malah kalau dipikir-pikir, mungkin karena tidak berusaha terlihat mewah itulah tempat ini jadi menarik.
Rasanya seperti pulang ke rumah Eyang, hanya saja yang datang bareng kita bisa ratusan orang. Hahaha.
Apa Sebenarnya Kopi Klotok Itu?
Dulu saya juga sempat bertanya-tanya.
Klotok itu nama jenis kopi? Nama biji kopi? Atau memang nama warungnya saja?
Ternyata istilah kopi klotok berkaitan dengan cara tradisional memasak kopi.
Kopi dimasak menggunakan panci di atas api atau tungku. Bubuk kopi dan air direbus bersama sampai mendidih. Dari proses memasak itulah muncul bunyi yang kemudian dikenal sebagai bunyi klotok-klotok.
Hasilnya kopi hitam dengan rasa dan aroma yang cukup kuat.
Saya sendiri termasuk tim kopi pakai gula.
Banyak pula gulanya.
Jadi jangan tanya saya soal aftertaste, acidity atau aroma buah-buahan di dalam kopi. Saya bukan orang yang tepat. Hahaha.
Yang saya suka justru pengalaman minum kopi panas seperti ini sambil makan pisang goreng.
Itu baru pasangan yang benar.
Sejarah Warung Kopi Klotok
Warung Kopi Klotok di Pakem mulai beroperasi pada 2015.
Konsepnya sejak awal memang dibuat menyerupai rumah di pedesaan Jawa dengan makanan rumahan yang sederhana. Bangunan Jawa, perabot lama, suasana sawah sampai cara penyajian makanannya menjadi bagian dari pengalaman makan di sini.
Dan konsep yang kelihatannya sederhana itu ternyata berhasil.
Dari warung makan di kawasan Pakem, namanya kemudian menyebar dari mulut ke mulut dan media sosial sampai menjadi salah satu tempat kuliner yang identik dengan perjalanan ke kawasan Kaliurang.
Menariknya, bertahun-tahun setelah kunjungan pertama saya pun Kopi Klotok masih ramai.
Berarti bukan sekadar viral sesaat.
Pengalaman Pertama Saya Makan di Kopi Klotok
Nah, ini bagian yang paling saya ingat.
Antreannya.
Waktu datang, antrean sudah mengular sampai bagian depan.
Karena sudah lapar dan memang datang jauh-jauh untuk mencoba Kopi Klotok, ya sudah… mau bagaimana lagi.
Antre.
Model makannya prasmanan. Jadi kita masuk dan mengambil sendiri nasi serta sayur yang kita mau.
Di meja panjang tersedia berbagai masakan rumahan dalam wadah-wadah sederhana. Ada lodeh, sayur asem, nasi, sambal dan macam-macam lauk.
Tapi ternyata perjuangannya belum selesai.
Mau telur dadar?
Antre lagi.
Mau pisang goreng?
Ada antreannya sendiri lagi.
Makanya waktu itu saya sampai berpikir, kalau makan ke Kopi Klotok memang paling enak datang ramai-ramai.
Bisa bagi tugas.
Satu orang antre nasi dan sayur, satu cari tempat duduk, satu mengamankan telur dadar, satu lagi mengejar pisang goreng.
Kerja sama tim sangat dibutuhkan demi sepiring makan siang. Hahaha.
Menu Kopi Klotok Jogja
Kalau baru pertama kali datang, menurut saya jangan terlalu sibuk mencari menu yang aneh-aneh.
Justru coba makanan yang menjadi ciri khas tempat ini.
Nasi dan Sayur Lodeh
Ini favorit saya.
Pilihan sayur rumahan di Kopi Klotok biasanya berupa beberapa jenis lodeh seperti:
- lodeh tempe lombok ijo
- lodeh terong
- lodeh kluwih
- sayur asem
- sayur rumahan lainnya yang tersedia hari itu
Dalam bahasa Jawa nasi disebut sego dan sayur disebut jangan, jadi konsep makan nasi dengan aneka sayur seperti ini memang sangat dekat dengan makanan sehari-hari masyarakat Jawa.
Penampilannya biasa saja.
Tapi rasanya?
Nah, ini yang bahaya.
Bikin pengen nambah nasi.
Telur Dadar Krispi
Kalau melihat foto lama saya makan di Kopi Klotok, telur dadarnya termasuk yang paling menggoda.
Telurnya tipis dengan bagian pinggir garing dan agak keriting.
Dimakan bersama nasi panas, lodeh dan sambal.
Sederhana sekali sebenarnya.
Tapi kalau sudah jadi satu piring, susah berhenti.
Waktu kunjungan saya dulu bahkan untuk mendapatkan telur dadar ini harus masuk antrean tersendiri.
Dan iya, saya rela antre.
Tempe Garit dan Lauk Rumahan
Ada juga tempe garit, tahu bacem, pindang goreng dan beberapa lauk sederhana lainnya.
Tempe garit termasuk lauk yang menurut saya cocok banget dengan konsep Kopi Klotok.
Tidak perlu lauk mahal.
Nasi hangat + lodeh + tempe + sambal saja sebenarnya sudah cukup.
Malah itu yang bikin terasa seperti makan di rumah.
Pisang Goreng Kopi Klotok
Nah.
Yang ini jangan dilewatkan.
Pisang goreng menjadi salah satu menu yang paling terkenal di Kopi Klotok.
Saya dulu sampai menyesal karena lupa melihat langsung area dapur tempat pisangnya digoreng.
Pisangnya manis, bagian luarnya renyah dan paling enak dimakan ketika masih panas.
Kalau datang hanya untuk ngopi pun saya tetap akan pesan pisang goreng.
Kopi pahit, pisang goreng manis.
Sudah. Nggak usah dibuat rumit.
Jangan Lupa Coba Kopi Klotok
Masa sudah datang ke Kopi Klotok tetapi tidak mencoba kopinya?
Walaupun sebenarnya saya lebih sibuk makan daripada minum kopi waktu itu. Hahaha.
Selain kopi klotok, biasanya tersedia pula minuman tradisional dan minuman sederhana seperti teh, jeruk, wedang jahe dan teh tubruk gula batu.
Kalau datang pagi atau ketika udara Pakem sedang dingin, minuman hangat rasanya jauh lebih nikmat.
Harga Menu Kopi Klotok Jogja
Salah satu daya tarik Kopi Klotok sejak dulu adalah harganya yang relatif terjangkau.
Ketika saya datang pada 2018, banyak lauk bahkan masih berharga beberapa ribu rupiah. Tentu harga tersebut sudah tidak relevan kalau dipakai sebagai patokan sekarang.
Harga dapat berubah dari waktu ke waktu, jadi saya lebih menyarankan mengecek daftar harga yang tersedia saat datang.
Sebagai gambaran, konsepnya tetap sama: kita bisa memilih nasi dan sayur, kemudian menambahkan lauk seperti telur, tempe, tahu atau pindang sesuai selera.
Dengan model seperti ini, biaya makan akan tergantung seberapa banyak lauk yang kita ambil.
Dan kalau sedang lapar mata seperti saya, ya jangan menyalahkan kasir nanti. Hahaha.
Jam Buka Kopi Klotok Jogja
Saat tulisan ini diperbarui, Warung Kopi Klotok tercatat buka setiap hari sekitar:
07.00–22.00 WIB
Karena jam operasional bisa berubah, terutama pada hari libur tertentu, ada baiknya mengecek kembali sebelum berangkat.
Menurut saya, waktu datang justru lebih penting daripada sekadar tahu jam bukanya.
Kapan Waktu Terbaik Datang ke Kopi Klotok?
Kalau memungkinkan, datang pagi dan pilih weekday.
Kopi Klotok terkenal ramai, terutama pada akhir pekan, musim liburan dan jam makan.
Pengalaman saya datang saat ramai membuat proses makan lumayan panjang karena harus mengantre makanan, mencari tempat duduk dan menunggu beberapa menu.
Kalau memang hanya punya waktu akhir pekan, datang lebih awal menurut saya jauh lebih masuk akal daripada datang tepat jam makan siang.
Selain antreannya kemungkinan lebih manusiawi, udara Pakem pagi hari juga enak.
Tips Makan di Kopi Klotok
Setelah pernah mengalami sendiri keramaiannya, ada beberapa hal kecil yang menurut saya cukup membantu:
Datang lebih pagi.
Terutama kalau pergi saat weekend atau musim liburan.
Kalau datang ramai-ramai, bagi tugas.
Ini serius. Ada yang mengambil makanan, mencari meja dan mengambil menu tambahan.
Jangan buru-buru.
Kopi Klotok memang bukan tipe tempat makan yang menurut saya cocok untuk datang, makan 20 menit, lalu kabur.
Coba menu sederhana dulu.
Lodeh, telur dadar, tempe garit dan sambal justru kombinasi yang paling saya ingat.
Sisakan tempat untuk pisang goreng.
Percayalah.
Kalau bisa, duduk di area yang menghadap sawah.
Karena menurut saya separuh daya tarik Kopi Klotok justru suasananya.
Fasilitas di Warung Kopi Klotok
Sebagai tempat makan yang sudah sangat ramai, fasilitasnya cukup memadai.
Ada area parkir, toilet, tempat ibadah dan beberapa pilihan area duduk.
Tempat makannya pun tidak hanya berada di dalam bangunan utama. Ada area terbuka yang membuat kita bisa menikmati suasana pedesaan di sekitar warung.
Buat saya, justru duduk santai menghadap area hijau setelah selesai makan itu salah satu bagian yang menyenangkan.
Apakah Kopi Klotok Jogja Worth It?
Kalau pertanyaannya apakah saya mau kembali ke sini, jawabannya:
Mau.
Bahkan setelah bertahun-tahun, yang saya ingat dari Kopi Klotok bukan cuma makanannya.
Saya ingat antreannya.
Ingat suasana rumah Jawanya.
Ingat meja penuh makanan sederhana.
Ingat telur dadarnya.
Dan terutama ingat pisang gorengnya.
Kopi Klotok membuktikan bahwa tempat makan tidak selalu harus punya menu yang rumit untuk membuat orang datang jauh-jauh.
Kadang kita justru mencari sesuatu yang familiar.
Sepiring nasi panas, sayur lodeh, tempe, telur dadar, sambal, lalu ditutup pisang goreng dan kopi.
Makanan yang mungkin terdengar biasa saja.
Tapi ketika dimakan di sebuah rumah Jawa di tengah sawah, udara Pakem sedang adem dan perut memang sedang lapar…
ya rasanya jadi beda.
Kalau sedang jalan-jalan ke kawasan Kaliurang atau Sleman bagian utara, menurut saya Kopi Klotok Jogja masih layak dimasukkan ke itinerary.
Cuma satu pesan saya.
Jangan datang dalam keadaan sudah kelaparan banget.
Takutnya begitu melihat antrean, emosinya ikut lapar. Hahaha.
Informasi Warung Kopi Klotok Jogja
Alamat:
Jl. Kaliurang KM 16, Area Sawah, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Jam buka:
Sekitar 07.00–22.00 WIB setiap hari
Menu populer:
Sayur lodeh, telur dadar krispi, tempe garit, pisang goreng dan kopi klotok
Waktu yang saya sarankan:
Pagi hari dan sebisa mungkin weekday
Catatan: Pengalaman makan dalam tulisan ini berdasarkan kunjungan pribadi saya pada Desember 2018. Informasi praktis seperti alamat dan jam operasional telah diperbarui. Harga, menu dan jam buka dapat berubah, jadi sebaiknya cek kembali sebelum berkunjung.
