Musikal Petualangan Sherina
Musikal Petualangan Sherina: Pengalaman Nonton yang Ternyata Seru Banget.
Saya sebenarnya sudah tahu jalan cerita Petualangan Sherina luar kepala.
Sherina pindah dari Jakarta ke Bandung, bertemu Sadam yang menyebalkan, mereka berantem, lalu malah terjebak dalam petualangan bersama.
Jadi ketika pertama kali tahu ada Musikal Petualangan Sherina, saya sempat berpikir: memangnya akan seseru apa kalau ceritanya sama dengan film yang sudah pernah saya tonton berkali-kali?
Ternyata jawabannya: seru banget.
Saya menonton Musikal Petualangan Sherina pada 3 Juli 2022 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dan sampai sekarang saya masih ingat beberapa bagian pertunjukannya dengan jelas, terutama set panggungnya, lagu-lagunya, Isyana Sarasvati sebagai Zus Natasya, dan tentu saja drama kecil sebelum pertunjukan dimulai.
Karena hari itu acaranya sempat terlambat cukup lama.
Tapi nanti saya ceritakan.
Yang jelas, setelah melihat sendiri bagaimana cerita Petualangan Sherina dibawa ke atas panggung, saya jadi paham kenapa musikal ini bisa terus kembali dipentaskan.
Musikal Petualangan Sherina Itu Seperti Apa?
Musikal Petualangan Sherina adalah adaptasi panggung dari film Petualangan Sherina produksi Miles Films yang dibuat oleh Jakarta Movin. Cerita Sherina dan Sadam dibawakan dalam bentuk teater musikal dengan akting, lagu, tari, koreografi, dan permainan set panggung.
Durasi pertunjukannya sekitar 120 menit.
Musikal ini pertama kali dipentaskan pada 2017, kemudian kembali pada 2018, 2022, dan terakhir pada 2025.
Saya sendiri menonton produksi 2022.
Pada dasarnya ceritanya masih mengikuti film Petualangan Sherina yang kita kenal, tetapi sensasi menontonnya berbeda sekali.
Film bisa diedit.
Teater tidak.
Semua berlangsung langsung di depan mata kita.
Dan buat saya, justru di situlah serunya.
Kenapa Saya Penasaran Nonton Musikal Petualangan Sherina?
Alasannya sederhana.
Nostalgia.
Petualangan Sherina termasuk film Indonesia yang sangat membekas buat generasi saya. Filmnya keluar tahun 2000, ketika pilihan film anak Indonesia belum sebanyak sekarang.
Dan lagu-lagunya…
duh.
Coba dengar beberapa nada awal Jagoan, Persahabatan, atau Lihatlah Lebih Dekat.
Kemungkinan besar langsung tahu lanjutannya.
Makanya ketika tahu ada versi musikalnya, rasanya seperti diajak kembali ke masa yang sudah lama lewat.
Bedanya sekarang nontonnya bersama keluarga.
Dan ternyata saya bukan satu-satunya.
Waktu datang ke TIM, banyak sekali keluarga membawa anak-anak. Tapi saya curiga sebagian ibu-ibunya malah lebih semangat daripada anaknya.
Hahaha.
Tiket Musikal Petualangan Sherina Waktu Saya Nonton
Untuk pertunjukan 2022, saya membeli tiket secara online melalui Movintix.
Waktu itu kategori kursinya dibagi berdasarkan posisi duduk.
Harga tiket yang tercantum ketika saya membeli adalah sekitar Rp1.300.000 untuk kategori Alpha di bagian depan dan Rp750.000 untuk kategori Bravo di belakang.
Tapi angka itu harga produksi 2022, jadi tentu tidak bisa lagi dijadikan patokan untuk pertunjukan berikutnya.
Setiap musim bisa punya harga, venue, kategori kursi, dan sistem penjualan yang berbeda.
Kalau nanti Musikal Petualangan Sherina dipentaskan lagi, menurut saya paling aman langsung cek kanal resmi Jakarta Movin.
Satu hal yang masih berlaku dari pengalaman saya:
kalau memang ingin nonton, jangan terlalu lama maju-mundur membeli tiket.
Kami waktu itu sempat begitu.
Akibatnya pilihan tempat duduknya ikut makin sedikit.
Untungnya kursi yang akhirnya kami dapat masih cukup dekat dengan panggung.
Hari H Nonton di Taman Ismail Marzuki
Minggu sore, 3 Juli 2022, kami berlima berangkat ke Taman Ismail Marzuki.
Sejak dari jalan raya, suasananya sudah ramai.
Kendaraan padat sampai akhirnya suami memutuskan kami turun di depan saja dan melanjutkan berjalan kaki ke dalam kompleks TIM.
Awalnya saya sempat berpikir,
“Wah, lumayan juga jalannya.”
Tapi karena banyak orang berjalan ke arah yang sama, suasananya malah seru.
Seperti semua punya tujuan yang sama.
Dan benar saja.
Begitu sampai ke area gedung pertunjukan, antreannya panjang sekali.
Mari kita antre.
Antre Masuk, Antre Foto, Antre Lagi
Sebelum pintu gedung dibuka, kami sempat foto-foto dulu.
Begitu antrean mulai bergerak, barang bawaan diperiksa dan tiket dicek sebelum kami masuk.
Waktu itu makanan dan minuman dari luar juga tidak diperbolehkan dibawa masuk.
Setelah lolos pemeriksaan, ternyata ada antrean lain lagi.
Untuk apa?
Foto dengan backdrop Musikal Petualangan Sherina.
Tentu saja kami ikut.
Sudah jauh-jauh datang, masa backdrop dilewatkan.
Karena orangnya banyak, kami bahkan sudah berdiskusi dari awal mau pose apa saja.
Jadi pas giliran:
cepret.
Cepret.
Cepret.
Selesai.
Nggak pakai rapat keluarga dulu di depan backdrop. Hahaha.
Suasana Sebelum Pertunjukan
Di dalam gedung ternyata ramai sekali.
Banyak keluarga dan anak-anak. Ada area makanan dan minuman, juga merchandise Musikal Petualangan Sherina.
Saya sempat mengincar tumbler dan topi.
Ternyata habis.
Yang tersisa kebanyakan kaos dan waktu itu tidak ada yang cukup membuat kami ingin membawanya pulang.
Ya sudah.
Dompet aman.
Setelah itu kami tinggal menunggu pintu auditorium dibuka.
Dan menunggu.
Dan menunggu.
Kok lama?
Pertunjukannya Sempat Terlambat
Ini salah satu pengalaman yang justru masih saya ingat sampai sekarang.
Pertunjukannya mundur cukup lama dari jadwal.
Penonton mulai gelisah karena sejak awal kami juga sudah mengantre cukup panjang.
Awalnya ada informasi simpang siur bahwa salah satu pemain sakit.
Ternyata bukan itu penyebabnya.
Setelah kami masuk ke auditorium, pihak produksi menjelaskan bahwa pada pertunjukan sebelumnya terjadi masalah teknis pada flybar.
Flybar adalah sistem yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan elemen set panggung.
Ada set pepohonan yang seharusnya terangkat tetapi sempat macet di tengah panggung.
Karena menyangkut keselamatan pemain, masalah teknisnya harus benar-benar diperbaiki sebelum pertunjukan berikutnya dimulai.
Setelah mendengar penjelasannya, saya malah jadi maklum.
Lebih baik terlambat daripada memaksakan pertunjukan dengan risiko keselamatan.
Pihak penyelenggara waktu itu bahkan menawarkan pengembalian tiket penuh kepada penonton yang tidak ingin melanjutkan menonton.
Tapi seingat saya tidak ada yang beranjak.
Saya juga tentu tidak.
Sudah sampai sini?
Sudah antre panjang?
Masa pulang.
Untungnya masalah akhirnya selesai.
Begitu Tirai Dibuka, Penantiannya Langsung Lupa
Ketika layar akhirnya dibuka, semua rasa bosan menunggu tadi rasanya langsung hilang.
Selama pertunjukan kami tidak diperbolehkan mengambil foto atau merekam video.
Foto baru boleh diambil pada bagian tertentu seperti opening speech dan setelah acara selesai.
Dan ternyata saya malah menikmati aturan seperti itu.
Karena akhirnya benar-benar menonton.
Bukan sibuk melihat panggung dari layar handphone.
Saya bisa memperhatikan detail yang biasanya malah terlewat kalau tangan sibuk merekam.
Gerakan pemain.
Lighting.
Pergantian set.
Kostum.
Musik.
Dan ekspresi orang-orang di panggung.
Cerita Petualangan Sherina yang Sudah Kita Kenal
Secara garis besar, ceritanya masih mengikuti film aslinya.
Sherina tinggal bersama orang tuanya di Jakarta sampai ayahnya mendapatkan pekerjaan di bidang perkebunan dan keluarganya harus pindah ke Bandung.
Sherina tentu saja tidak senang.
Ia harus meninggalkan sekolah dan teman-temannya.
Di sekolah baru, ia bertemu Sadam.
Dan keduanya langsung tidak akur.
Sadam senang mengganggu anak lain, sedangkan Sherina bukan tipe anak yang mau diam saja.
Sampai akhirnya Sherina mengetahui kalau Sadam adalah anak Pak Ardiwilaga, bos ayahnya.
Dan di rumah, anak sok jago itu ternyata dipanggil…
Yayang.
Saya tetap ketawa pada bagian itu meskipun sudah tahu ceritanya.
Kemudian perjalanan mereka masuk ke bagian penculikan, usaha melarikan diri, sampai akhirnya membawa Sherina dan Sadam ke Observatorium Bosscha.
Sebenarnya kalau cuma membaca sinopsisnya, tidak ada yang baru.
Tapi kalau melihat bagaimana semua itu diwujudkan di atas panggung, beda cerita.
Set Panggungnya Salah Satu Bagian Favorit Saya
Ini yang membuat saya paling kagum.
Bagaimana caranya membawa sekolah, rumah, perkebunan, hutan, sampai Observatorium Bosscha ke satu panggung?
Ternyata bisa.
Dan bukan sekadar mengganti backdrop.
Set bergerak dan berubah mengikuti cerita.
Ada perpindahan suasana yang dibuat cepat sehingga kita seperti dibawa dari satu tempat ke tempat lain tanpa benar-benar merasa sedang menunggu panggung dirapikan.
Bagian Bosscha terutama masih saya ingat.
Saya sempat berpikir:
Wah, niat banget.
Setnya bukan sekadar penanda lokasi.
Ia benar-benar ikut menjadi bagian dari cerita.
Begitu pula pada bagian hutan dan adegan pencarian Sherina serta Sadam.
Lighting, musik, koreografi, dan pemain ensemble membuat panggung terasa jauh lebih besar daripada ukuran sebenarnya.
Ini salah satu alasan kenapa menurut saya pengalaman menonton teater tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh film.
Sherina dan Sadam di Atas Panggung
Pada produksi 2022, karakter Sherina dan Sadam dimainkan bergantian oleh beberapa pemain.
Saya kebetulan duduk di area yang cukup menarik.
Di depan kami ada keluarga salah satu pemeran Sherina, sedangkan di belakang ada keluarga pemeran Sherina yang lain.
Jadi suasananya sedikit seperti duduk di tengah keluarga besar pemain.
Yang membuat saya kagum adalah para pemain anak-anak ini harus melakukan semuanya sekaligus.
Akting.
Menyanyi.
Menari.
Menghafal dialog.
Menghafal blocking.
Dan mempertahankan energi sepanjang pertunjukan.
Kalau salah, tidak bisa bilang:
“Cut, ulang ya.”
Itulah bedanya teater.
Isyana Sarasvati sebagai Zus Natasya
Nah, ini salah satu bagian favorit saya.
Pada pertunjukan yang saya tonton, Isyana Sarasvati berperan sebagai Zus Natasya.
Dan ternyata dia total sekali.
Karakter Zus Natasya di film memang sudah unik, tapi ketika dibawa ke panggung musikal rasanya semakin heboh.
Gesture, suara, ekspresi, semuanya dibuat besar tetapi masih pas dengan dunia teater.
Kalau Isyana muncul bersama Kertarajasa, suasana langsung berubah.
Lucu.
Sedikit absurd.
Dan penonton ikut hidup.
Padahal secara cerita mereka kan penculik.
Harusnya serem.
Ini malah bikin ketawa.
Lagu-Lagu yang Langsung Bikin Nostalgia
Selain ceritanya, menurut saya kekuatan terbesar Petualangan Sherina memang ada pada musiknya.
Beberapa lagu yang sampai sekarang masih sangat mudah diingat antara lain:
- Jagoan
- Lihatlah Lebih Dekat
- Persahabatan
- Anak Mami
- Bintang-Bintang
- Kertarajasa
- Menikmati Hari
- Lagu Tema Petualangan Sherina
Musik dan lagu ciptaan Elfa Secioria dan Mira Lesmana juga menjadi bagian utama dalam versi panggungnya.
Ada beberapa lagu yang baru terdengar beberapa nada saja sudah membuat otak otomatis menyambung sendiri.
Dan karena dimainkan langsung di depan kita, rasanya berbeda dibanding mendengarkan soundtrack di rumah.
Nostalgianya lebih terasa.
Bagian Akhir yang Mendadak Bikin Haru
Menjelang akhir pertunjukan, ada satu momen yang mengubah suasana.
Produksi 2022 memberikan persembahan kepada beberapa anggota keluarga produksi Musikal Petualangan Sherina yang telah berpulang.
Ruangan yang sebelumnya penuh tawa mendadak jauh lebih tenang.
Saya juga ikut sedih.
Apalagi setelah melihat para pemain sejak awal tampil dengan energi yang begitu besar.
Momen ini seperti mengingatkan bahwa sebuah pertunjukan bukan hanya orang-orang yang terlihat di atas panggung.
Ada banyak sekali orang di belakangnya.
Setelah Pertunjukan Masih Ada Jumpa Fans
Ternyata setelah pertunjukan selesai, acaranya belum benar-benar berakhir.
Para pemain keluar lagi dan ada semacam sesi bertemu dengan penonton.
Suasananya seperti mini gala premiere.
Ada pemain berjalan keluar, menerima bunga, berfoto, dan menyapa penggemar.
Yang membuat saya salut, beberapa pemainnya masih anak-anak.
Setelah dua jam lebih menyanyi, menari, dan berakting, mereka masih harus tersenyum ketika diajak foto.
Saya habis duduk nonton saja rasanya sudah ingin selonjoran.
Mereka masih berdiri melayani penggemar.
Respect.
Musikal Petualangan Sherina Ternyata Terus Kembali
Ketika saya menonton pada 2022, Musikal Petualangan Sherina sudah pernah hadir pada 2017 dan 2018.
Saya kira waktu itu mungkin ini akan menjadi salah satu pertunjukan nostalgia yang sesekali muncul lalu selesai.
Ternyata tidak.
Pada 2025, Musikal Petualangan Sherina kembali dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.
Jakarta Movin mencatat produksi ini telah hadir pada 2017, 2018, 2022, dan 2025, dengan durasi sekitar 120 menit.
Produksi 2025 bahkan memiliki 15 pertunjukan dan tiketnya kembali terjual habis.
Berarti saya bukan satu-satunya yang masih senang melihat Sherina dan Sadam berantem.
Hahaha.
Menurut saya justru di sini menariknya.
Film aslinya berasal dari tahun 2000.
Tapi ceritanya bisa terus hidup dan ditonton generasi baru.
Orang yang dulu menonton Petualangan Sherina ketika masih kecil sekarang mungkin datang membawa anak mereka sendiri.
Agak lucu kalau dipikir-pikir.
Dan sedikit membuat sadar umur juga.
Jadi, Apakah Musikal Petualangan Sherina Bagus?
Kalau berdasarkan produksi 2022 yang saya tonton, jawabannya:
jauh di atas ekspektasi saya.
Awalnya saya datang terutama karena nostalgia.
Saya pikir paling tidak akan senang mendengar lagu-lagu lama lagi.
Ternyata saya justru lebih terkesan pada keseluruhan produksinya.
Set panggung.
Pergantian scene.
Kostum.
Koreografi.
Pemain ensemble.
Pemeran anak-anak.
Dan energi ketika semua itu terjadi langsung di depan mata.
Ada sesuatu dari teater yang memang sulit dipindahkan ke layar.
Ketika satu ruangan tertawa bersama.
Ketika pemain menyanyi langsung.
Ketika tepuk tangan datang dari seluruh auditorium.
Bahkan ketika ada masalah teknis dan pertunjukan harus terlambat.
Semuanya menjadi bagian dari pengalaman malam itu.
Apakah Saya Mau Nonton Lagi?
Mau.
Ini gampang jawabnya.
Kalau suatu hari Musikal Petualangan Sherina dibuat lagi dengan pemain atau interpretasi baru, saya tetap penasaran.
Karena setelah menonton langsung saya akhirnya mengerti kenapa cerita yang sama bisa dipentaskan berkali-kali.
Kita memang sudah tahu Sherina akan bertemu Sadam.
Kita tahu siapa Yayang.
Kita tahu Kertarajasa dan Zus Natasya.
Bahkan sebagian dari kita masih hafal lagunya.
Tapi begitu lampu teater dimatikan dan musik mulai dimainkan…
rasanya seperti bertemu teman lama.
Dan malam itu saya pulang dari Taman Ismail Marzuki dengan satu pikiran:
Untung tadi nggak menyerah gara-gara pertunjukannya terlambat.
Worth it.
Banget.
Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya menonton Musikal Petualangan Sherina pada 3 Juli 2022 di Taman Ismail Marzuki. Informasi mengenai sejarah dan produksi Musikal Petualangan Sherina telah diperbarui berdasarkan informasi resmi Jakarta Movin. Detail pemain, venue, tiket, dan aturan pertunjukan dapat berbeda pada setiap musim.
