Nalendro Cafe Borobudur
Nalendro Cafe Borobudur.
Nalendro Cafe Borobudur, Garden Cafe dengan View Bukit Menoreh yang Bikin Betah
Kalau ada satu cafe dekat Borobudur yang waktu pertama datang bikin saya sedikit bingung mau menyebut konsepnya apa, jawabannya Nalendro Cafe Borobudur.
Cafe?
Garden?
Kebun kaktus?
Semi outdoor restaurant?
Tempat foto?
Dulu bahkan ada spa juga.
Hahaha.
Pokoknya campur-campur.
Waktu pertama ke sini, salah satu hal yang langsung bikin saya tertarik justru karena ada area seperti padang gurun mini, lengkap dengan pasir dan kebun kaktus.
Tentu saja bukan gurun beneran ya.
Gurun-gurunan.
Tapi lucu juga.
Apalagi beberapa meter dari kaktus dan pasir itu kita masih bisa melihat sawah serta hijaunya Bukit Menoreh.
Kontras banget.
Saya sampai dulu menulis:
“Nuansa alam hijau-hijau ada semua di sini, cuma laut saja yang nggak ada.”
Dan sampai sekarang menurut saya kalimat itu masih cukup menggambarkan Nalendro.
Sekarang Namanya Nalendro Cafe atau Nalendro Garden?
Ini mungkin perlu dibereskan dulu karena kalau browsing sekarang namanya agak bermacam-macam.
Dulu saya cukup sering menyebutnya Nalendro Garden.
Masuk akal karena konsep tamannya memang kuat. Ada kebun kaktus, area anggrek, padang pasir buatan, taman, rumah-rumahan kebun, sampai berbagai spot outdoor.
Sekarang listing bisnisnya memakai nama Nalendro Cafe Borobudur, sedangkan liputan terbaru Juli 2026 menyebutnya Nalendro Café & Space Borobudur. Radar Magelang
Kalau mau cari di Maps, saya akan pakai:
Nalendro Cafe Borobudur.
Tapi kalau ada yang masih menyebut Nalendro Garden, ya nggak salah juga.
Memang dulu identitas gardennya kuat banget.
Ternyata Awalnya Bukan Cafe
Ini yang dulu saya tulis berdasarkan cerita yang saya dapat waktu berkunjung.
Awalnya Nalendro lebih fokus ke spa dan garden.
Ada Nalendro Spa.
Ada Nalendro Garden.
Lalu konsepnya berkembang menjadi cafe seperti yang saya datangi. Pasted text
Dan ternyata setelah saya cek ulang sekarang, ceritanya masih nyambung.
Pemilik Nalendro, Usep Syarifudin, mengatakan dalam liputan 2026 bahwa tempat ini memang berangkat dari ruang pijat, kemudian berkembang menjadi cafe dan ruang santai yang tetap mempertahankan konsep menyatu dengan alam. Radar Magelang
Jadi perubahan dari spa ke cafe itu bukan cerita yang salah.
Tempatnya memang berkembang.
Sekarang malah terasa seperti satu kompleks kecil.
Ada cafe, garden, spa, bahkan villa.
Nalendro Itu Tipe Cafe yang Lebih Enak Outdoor
Menurut saya Nalendro termasuk cafe semi-outdoor.
Ada area indoor.
Ada semi-outdoor.
Ada area luar yang langsung menghadap taman dan bukit.
Kalau cuacanya bagus, saya sih jelas pilih luar.
Sayang kalau datang sejauh ini lalu duduk di ruangan tertutup.
Bangunannya banyak memakai kayu dan beberapa bagian terasa seperti rumah tradisional Jawa, sehingga tetap cocok dengan suasana pedesaan Borobudur.
Liputan terbaru juga masih menonjolkan elemen kayu tua, kolam ikan, air terjun kecil, tanaman, kaktus dan anggrek sebagai bagian dari karakter Nalendro sekarang. Radar Magelang
Jadi meskipun tempatnya sudah berkembang, rasa “garden cafe”-nya ternyata masih ada.
View Bukit Menoreh yang Bikin Betah
Salah satu alasan saya betah waktu itu tentu Bukit Menoreh.
Dari beberapa area Nalendro, terutama yang outdoor dan dek kayu, kita bisa melihat pemandangan hijau ke arah bukit.
Sawah juga kelihatan.
Dan kalau cuaca sedang bagus, cahaya menjelang sore cantik banget.
Dulu kami sampai menunggu matahari turun sambil foto-foto.
Warnanya memang bagus.
Bukan sunset ala pantai yang mataharinya jatuh langsung ke laut.
Lebih lembut.
Hijau bukit, sawah, langit yang berubah warna.
Saya justru suka.
Kalau datang lagi, saya tetap akan memilih sore.
Sekitar jam 3.30 atau 4 mungkin pas.
Nggak terlalu panas.
Masih bisa lihat garden.
Lalu kalau mau lanjut dinner juga bisa.
Kalau Habis dari Borobudur, Lokasinya Enak Banget
Nalendro berada cukup dekat dengan kawasan Candi Borobudur.
Waktu saya datang dulu rasanya nggak sampai sepuluh menit dari sekitar kawasan candi, dan memang lokasinya masih berada di jalur Borobudur–Ngadiharjo. Pasted text
Alamat terbarunya tercatat di:
Jl. Borobudur–Ngadiharjo, Dusun XX, Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 56553.
Jadi gampang kalau mau dimasukkan setelah agenda ke Borobudur.
Misalnya pagi ke candi.
Lanjut makan siang.
Sore ke Nalendro.
Atau kalau habis mengejar sunrise di Punthuk Setumbu atau Bukit Rhema, sebenarnya bisa juga mampir kemudian.
Cuma sekarang jangan kepagian.
Jam bukanya sudah berubah.
Jam Buka Nalendro Cafe Sekarang
Dulu waktu saya menulis artikel ini, saya masih mencatat buka sejak pukul 07.00 dan weekend bisa sampai malam banget karena ada live acoustic. Pasted text
Sekarang informasi terbaru yang diperbarui Agustus 2026 mencantumkan:
10.00–21.00 WIB setiap hari. MenuKuliner
Ada direktori lain yang sedikit berbeda untuk hari tertentu, jadi kalau tujuan kalian memang datang malam atau ingin cari live music, saya tetap menyarankan cek Maps atau akun mereka pada hari yang sama. Restaurant Guru
Jam operasional cafe memang tipe informasi yang cepat sekali berubah.
Jangan sampai artikel saya dibaca tiga tahun lagi lalu datang jam 9 pagi sambil protes:
“Katanya buka.”
Hahaha.
Menunya Campur-Campur, dan Sampai Sekarang Masih Begitu
Salah satu hal yang saya suka waktu makan di Nalendro adalah pilihannya cukup luas.
Yang mau makanan Indonesia ada.
Western ada.
Chinese-style juga ada.
Anak-anak nggak susah pilih makanan.
Orang dewasa juga nggak cuma dikasih menu kopi dan pastry.
Dulu kami pesan lumayan banyak sampai saya malah lupa memotret sebagian makanan. Pasted text
Classic blogger problem.
Makan dulu.
Baru:
“Eh belum foto.”
Hahaha.
Dan ternyata daftar menu 2026 masih cukup mirip. Ada pizza, pasta, nasi goreng, kwetiau, rice bowl, gado-gado, soto, iga bakar, snack, sampai dessert. MenuKuliner
Jadi Nalendro masih cocok kalau datang rame-rame dengan selera makan beda-beda.
Iga Bakar, Ini yang Paling Saya Ingat
Salah satu yang saya suka waktu itu adalah iga bakar.
Dagingnya empuk.
Bumbunya meresap.
Dan yang paling penting, waktu dibakar aromanya keluar tapi nggak sampai gosong pahit. Pasted text
Saya dulu sampai bilang chef-nya jago.
Hahaha.
Dan ternyata iga bakar masih muncul di daftar menu terbaru.
Harga delivery yang tercatat Agustus 2026 sekitar Rp55.000, walaupun harga dine-in tentu bisa berbeda. MenuKuliner
Kalau saya balik sekarang, kemungkinan besar saya pesan lagi.
Biar tahu apakah rasanya masih sama dengan yang saya ingat.
Tahu Mercon yang Benar-benar Mercon
Kalau satu ini sesuai nama.
Tahu mercon.
Begitu digigit:
pedas.
Bukan tahu yang cuma diberi nama “mercon” supaya terdengar menarik.
Waktu itu saya sampai:
“Buset, pedes.”
Hahaha.
Tahu mercon juga masih ada di menu 2026, dengan harga delivery sekitar Rp15.000 untuk empat potong. MenuKuliner
Enak buat ngemil sambil menunggu makanan utama.
Asal memang tahan pedas.
Kalau nggak, jangan sok kuat.
Nanti foto di kebun kaktus sambil hidung meler.
Spaghetti Carbonara Buat Anak-anak
Kalau pergi bersama anak-anak, biasanya gampang ditebak.
Di restoran dengan menu macam-macam, yang dicari:
pasta.
Pizza.
Chicken something.
Dan waktu itu anak-anak memang pesan spaghetti carbonara.
Porsinya menurut saya lumayan besar.
Tapi habis.
Berarti ya cocok.
Pasted text
Carbonara sampai sekarang juga masih tercantum di menu, sekitar Rp26.000 dalam daftar delivery terbaru. MenuKuliner
Pisang Pasirnya Bukan Tipe Pisang Goreng Favorit Saya
Nah kalau ini saya tetap jujur.
Pisang pasirnya bukan tipe pisang goreng favorit saya.
Saya lebih suka pisang goreng yang matang banget, agak benyek, manis, lembut.
Yang ini lebih ke crispy.
Ditambah susu cokelat dan keju pula.
Padat.
Hahaha.
Bukan jelek.
Cuma beda tipe dari pisang goreng yang saya suka.
Dan justru detail seperti ini menurut saya penting kalau review makanan.
Nggak harus semuanya:
“ENAK BANGET WAJIB COBA.”
Selera orang beda-beda.
Menu Lain yang Waktu Itu Kami Pesan
Selain itu waktu kunjungan kami juga ada beberapa menu lain seperti:
- sate ayam
- mendoan
- sirloin steak
- chicken cordon bleu
- dessert
- kopi. Pasted text
Saya nggak mau sekarang menulis review rasa semuanya satu per satu kalau memang waktu itu nggak ada catatan detailnya.
Lebih baik jujur.
Yang paling nempel di kepala saya ya iga bakar, tahu mercon, carbonara, dan suasana tempatnya.
Dan menurut saya itu sudah cukup.
Berapa Harga Makan di Nalendro Sekarang?
Harga tentu sudah berubah dari kunjungan saya dulu.
Daftar delivery yang diperbarui Agustus 2026 mencantumkan gambaran seperti:
- snack sekitar Rp12.000–Rp27.000
- pizza sekitar Rp42.000–Rp55.000
- main course sekitar Rp18.000–Rp55.000
- dessert sekitar Rp15.000–Rp18.000. MenuKuliner
Beberapa contoh:
Iga Bakar: sekitar Rp55.000
Spaghetti Carbonara: sekitar Rp26.000
Tahu Mercon: sekitar Rp15.000
Mendoan: sekitar Rp12.000.
Tapi ini harga delivery yang tercantum saat artikel diperbarui.
Harga makan di tempat bisa berbeda.
Jadi jangan screenshot angka ini lalu dibawa ke kasir tiga tahun lagi.
Hahaha.
Spot Foto Nalendro Memang Banyak Banget
Nah, inilah alasan kenapa makan di sini dulu bisa lama.
Bukan karena makanannya lama habis.
Karena keliling foto.
Artikel lama saya bahkan punya heading sendiri untuk berbagai spot.
Dan kalau saya baca lagi sekarang…
banyak banget memang.
Pasted text
Dek Kayu dengan View Menoreh
Ini mungkin salah satu yang paling cantik.
Dari area atas bisa melihat bukit dan bagian garden.
Kalau datang menjelang sore, cahaya jauh lebih enak daripada siang bolong.
Jembatan Kayu
Lucunya saya malah baru menemukan area ini pas malam mau pulang.
Padahal lokasinya di luar area restoran sebelum masuk.
Entah tadi ke mana saja.
Hahaha.
Kebun Anggrek
Dulu area anggreknya lumayan banyak.
Tinggal pilih mau foto dari sisi mana.
Liputan 2026 masih menyebut jejak taman anggrek sebagai bagian area Nalendro sekarang. Radar Magelang
Rumah Kebun
Ini juga lucu.
Bentuknya seperti rumah-rumahan kecil yang bisa dipakai foto dari depan atau dari dalam.
Waktu malam pun masih kelihatan bagus.
Kebun Kaktus
Nah, ini paling khas Nalendro versi saya.
Bisa turun ke area kaktus dan foto-foto di antara tanamannya.
Dulu bahkan bisa lanjut ke area sawah di belakang.
Kalau malam memang jadi lebih gelap.
Dan foto kamera saya waktu itu…
ya begitulah.
Hahaha.
Tidak semua dokumentasi perjalanan harus layak masuk majalah.
Ilalang
Ada juga spot dengan ilalang.
Kalau kena cahaya sore memang bagus.
Apalagi kalau rambut sedang kooperatif.
Kalau anginnya berlebihan?
Ya sudah.
Foto dari belakang saja.
Dulu Ada Live Acoustic, Sekarang Sebaiknya Cek Jadwal
Waktu kunjungan saya, weekend biasanya ada live acoustic di area terbuka.
Kami bahkan sempat menikmati suasana dinner dengan musik, dan Nalendro juga menerima request untuk acara seperti romantic dinner atau ulang tahun. Pasted text
Listing bisnis terbaru masih menyebut live music sebagai salah satu fitur tempat. Restaurant Guru
Tapi saya nggak akan lagi menulis:
“Setiap weekend pasti ada.”
Jadwal begini mudah berubah.
Kalau memang tujuan kalian datang karena live music, tanya dulu.
Lebih aman.
Nalendro Sekarang Lebih dari Sekadar Cafe
Ini juga salah satu perubahan yang menarik.
Nalendro sekarang tercatat sebagai art cafe, garden, spa, hotel dan villa dalam listing bisnisnya.
Jadi konsep yang dulunya spa + garden lalu berkembang menjadi cafe sekarang malah seperti kembali melebar ke beberapa fungsi.
Menurut saya ini masuk akal.
Kawasan Borobudur memang cocok untuk konsep tempat yang nggak cuma makan lalu pulang.
Orang datang buat bersantai.
Spa.
Ngopi.
Foto.
Makan.
Kalau mau, sekalian menginap.
Cocok Buat Rombongan
Salah satu kesan saya waktu itu:
tempatnya luas.
Makanya kalau bawa rombongan menurut saya cocok.
Kami sendiri merasa Nalendro enak untuk kumpul ramai karena area duduknya banyak dan orang bisa bergerak ke taman tanpa semuanya menumpuk di satu ruangan. Pasted text
Cuma ada satu catatan dari pengalaman saya.
Waktu itu makanan terasa agak lama keluar.
Jadi kalau datang rombongan besar, lebih baik tanyakan apakah menu bisa pre-order.
Daripada 20 orang sudah datang, lalu semuanya baru mulai memilih menu satu-satu.
Nanti yang pertama selesai makan, yang terakhir belum dapat makanan.
Ribet.
Kalau Bawa Ibu-ibu atau Anak Gadis, Siapkan Mental
Ini masih berlaku.
Hahaha.
Karena spot foto banyak.
Kalau bapak-bapak ikut, kemungkinan besar job desc-nya bertambah:
fotografer.
Ambil dari sini.
Ulang.
Kurang tinggi.
Kurang rendah.
“Coba satu lagi.”
Lalu setelah 100 foto:
“Yang bagus cuma lima.”
Kisah lama manusia.
Waktu saya datang bersama keluarga juga begitu.
Banyak foto.
Sebagian besar tentu tidak akan pernah dilihat lagi.
Tapi saat dilakukan seru.
Dan itu yang penting.
Jadi, Nalendro Cafe Masih Worth It?
Menurut saya iya kalau yang dicari bukan sekadar makanan.
Kalau tujuan kalian hanya:
“Saya mau cari iga bakar paling enak di Magelang.”
Saya nggak akan bilang harus datang ke Nalendro.
Ada banyak tempat makan lain.
Tapi kalau ingin:
makan,
ngopi,
duduk santai,
anak-anak nggak terlalu bosan,
lihat Bukit Menoreh,
foto-foto,
dan menikmati suasana Borobudur yang lebih hijau,
Nalendro masih punya alasan untuk didatangi.
Saya pribadi justru paling ingat tempatnya.
Kebun kaktus.
Menoreh.
Dek kayu.
Foto sampai malam.
Live music.
Kemudian tentu iga bakarnya.
Kalau datang lagi, saya akan pilih sore.
Pesan makanan dulu.
Baru foto-foto.
Saya tulis tebal-tebal karena dulu saya sendiri hampir melakukan kebalikannya.
Hahaha.
Jangan sampai keliling satu jam, balik ke meja lalu baru sadar:
“Lho, kita belum pesan.”
