Batik Dwi Hadi Solo
Batik Dwi Hadi Solo, Salah Satu Batik yang Sering Saya Beli dari Dulu
Kalau ditanya batik Solo yang saya suka, nama Batik Dwi Hadi termasuk yang cukup cepat muncul di kepala.
Saya sudah mengenalnya cukup lama.
Dulu pernah datang langsung ke tempatnya di Solo. Sudah lama banget sampai saya sendiri sekarang agak susah mengingat persis tahun berapa. Tapi sampai sekarang saya masih cukup sering membeli koleksinya, terutama secara online.
Kadang untuk dipakai sendiri.
Kadang untuk kebutuhan cenderamata atau souvenir.
Kadang juga belinya justru ketika Batik Dwi Hadi sedang ikut pameran di Jakarta.
Mereka memang lumayan rajin ikut pameran.
Jadi walaupun basisnya di Solo, buat saya Batik Dwi Hadi bukan jenis brand yang harus selalu ditunggu sampai saya pulang ke Solo dulu baru bisa belanja.
Dan ada satu hal lagi yang membuat pengalaman belanjanya menyenangkan.
Mbak Dina.
Pemilik Batik Dwi Hadi sekarang, Dina Martiana, ramah banget.
Dan cantik.
Ayu banget kalau istilah Jawa.
Hahaha.
Entah kenapa kalau pemiliknya sendiri enak diajak ngobrol dan kelihatan benar-benar suka dengan produk yang dijual, pengalaman memilih batik jadi terasa beda.
Nggak seperti cuma datang ke toko, pilih kain, bayar, lalu pulang.
Biasanya jadi ikut ngobrol soal motif, warna, atau koleksi baru.
Buat saya justru hal-hal kecil seperti itu yang bikin sebuah brand akhirnya diingat.
Batik Dwi Hadi Sudah Ada Sejak 1980
Batik Dwi Hadi bukan brand baru.
Usaha ini didirikan oleh Hj. Idah Santoso Hadi Atmaja pada 1980, kemudian diteruskan generasi kedua oleh Dina Martiana. Di bawah generasi kedua, pasarnya berkembang semakin luas secara nasional dan koleksinya juga semakin beragam.
Jadi kalau dihitung sekarang sudah lebih dari empat dekade.
Menurut saya itu cukup menarik.
Bisnis batik bukan bisnis yang gampang bertahan hanya dengan mengikuti tren sebentar.
Motif berubah.
Selera pembeli berubah.
Cara orang belanja juga berubah total.
Dulu orang datang langsung ke toko.
Sekarang saya sendiri malah lebih sering melihat koleksi lewat online, kemudian pesan dari Jakarta.
Tapi karakter Dwi Hadi masih cukup gampang dikenali.
Warnanya hidup. Motifnya tetap terasa Jawa.
Itu yang dari dulu saya suka.
Saya Suka Karena Warnanya Nggak Selalu “Batik Banget”
Maksud saya bukan batiknya nggak terasa seperti batik ya.
Malah tetap batik sekali.
Tapi kalau membayangkan batik Solo, biasanya yang langsung muncul di kepala kan warna sogan.
Cokelat.
Krem.
Hitam.
Warna-warna yang klasik banget.
Saya suka sogan.
Tapi kadang saya juga pengen batik dengan warna yang lebih terang.
Nah, Batik Dwi Hadi punya karakter seperti itu.
Profil resminya sendiri menyebut salah satu kekuatannya adalah perpaduan motif pakem dengan pengembangan modern, termasuk penggunaan warna-warna cerah.
Jadi bisa ketemu motif yang sangat Jawa, tetapi warnanya biru, hijau, merah, atau kombinasi yang terasa lebih segar.
Menurut saya batik seperti ini jadi lebih gampang dipakai.
Nggak harus menunggu kondangan.
Bisa dibuat blus.
Outer.
Dress.
Atau dipadukan dengan celana polos.
Walaupun jujur saja, saya juga sering beli kain karena cantik lalu belum tahu mau dijahit jadi apa.
Simpan dulu.
Nanti dipikirin.
Masalahnya “nanti” itu kadang bisa setahun.
Hahaha.
Motif Klasiknya Tetap Ada
Walaupun warna dan desainnya berkembang, Batik Dwi Hadi nggak meninggalkan motif-motif klasik.
Kalau melihat koleksinya, kita masih akan menemukan nama seperti:
Sido Drajat.
Sido Mulyo.
Wahyu Temurun.
Gringsing.
Semen Romo.
Peksi Boketan.
Peksi Semebar.
Ini yang menurut saya menarik.
Motifnya bukan dibuat modern dengan cara menghapus identitas Jawanya.
Yang dilakukan lebih seperti mengambil pola atau filosofi lama, lalu dimainkan lagi lewat warna dan komposisi.
Misalnya Sido Drajat, yang membawa harapan agar pemakainya mendapatkan peningkatan derajat.
Ada juga Wahyu Temurun, yang secara tradisional membawa doa agar berkah, rezeki atau kebaikan terus turun kepada generasi berikutnya.
Lalu Semen Romo, yang membawa simbol kehidupan yang terus tumbuh dan berkembang.
Kalau sudah tahu artinya, kain yang tadinya cuma “wah, cantik” jadi terasa punya cerita.
Saya memang suka bagian seperti ini dari batik.
Orang Jawa dari dulu ternyata kreatif sekali menyelipkan doa.
Bukan cuma lewat ucapan.
Sampai motif kain pun bisa jadi doa.
Saya Juga Suka Motif Peksinya
Salah satu elemen yang cukup sering muncul di koleksi Dwi Hadi adalah peksi, atau burung.
Ada Peksi Boketan.
Ada Peksi Semebar.
Ada juga motif-motif burung yang dikembangkan dengan bunga atau ornamen lain.
Bahkan Peksi Semebar pernah disebut Dina sebagai salah satu motif yang cukup diminati.
Saya pribadi memang suka motif seperti ini.
Karena kalau motif geometris kadang terasa lebih formal, burung dan bunga membuat kain terlihat lebih hidup.
Apalagi kalau warnanya bagus.
Kadang saya bisa lama hanya membentangkan kain satu-satu.
Lihat keseluruhan motifnya.
Lipat lagi.
Ambil kain lain.
Balik lagi ke kain pertama.
Kalau sudah belanja batik memang begitu.
Yang capek biasanya orang yang menemani.
Batik Tulisnya Cantik, Tapi Harganya Memang Beda
Batik Dwi Hadi punya beberapa teknik produksi, mulai dari batik tulis, batik cap, sampai kombinasi tulis dan cap. Bahannya juga beragam, termasuk katun dan sutra, dengan pewarna alam maupun sintetis.
Kalau sudah mulai sering beli batik, lama-lama mata biasanya sedikit terbiasa membedakan.
Batik tulis punya rasa yang berbeda.
Garisnya nggak selalu sempurna.
Detailnya bisa berbeda sedikit antara satu bagian dan bagian lain.
Dan justru itu bagusnya.
Ada tangan manusia di situ.
Batik tulis
Motif dibuat menggunakan canting satu per satu.
Jadi memang perlu waktu.
Kalau motifnya rumit dan kainnya besar, nggak heran pengerjaannya panjang.
Batik cap
Menggunakan cap tembaga untuk mengaplikasikan malam.
Pengerjaannya lebih cepat dan motifnya lebih konsisten.
Kombinasi
Sebagian motif menggunakan cap, lalu detail tertentu dikerjakan lagi dengan canting.
Buat orang yang nggak terlalu memikirkan teknik mungkin hasil akhirnya sama-sama cantik.
Tapi begitu tahu prosesnya, kita jadi sedikit lebih mengerti kenapa harga satu kain bisa jauh berbeda dari kain lainnya.
Pewarna Alamnya Juga Menarik
Batik dengan pewarna alam termasuk koleksi yang sering ditonjolkan Batik Dwi Hadi.
Dina pernah menyebut batik pewarna alam, termasuk warna dari kayu dan nila, sebagai salah satu produk yang diminati saat mengikuti Karya Kreatif Indonesia.
Saya sendiri suka pewarna alam karena biasanya warnanya terasa lebih lembut.
Bukan pucat.
Tapi ada ketenangan warnanya.
Cokelatnya nggak terlalu keras.
Biru nilanya cantik.
Kalau motifnya sudah padat, warna seperti ini justru membuat kain lebih enak dilihat.
Tentu saja ini selera.
Ada hari saya pengen sogan kalem.
Ada hari lain pengennya merah sekalian.
Namanya juga perempuan.
Pilihan warnanya tergantung mood.
Hahaha.
Dari Kain sampai Baju Jadi
Kalau dulu bayangan membeli batik adalah beli kain lalu pergi ke penjahit, sekarang pilihannya jauh lebih gampang.
Batik Dwi Hadi juga membuat produk jadi seperti kemeja, tunik, blus, dress, kebaya, syal, tas, sepatu, sandal, sampai aksesori.
Buat saya ini praktis.
Terutama kalau lagi butuh hadiah atau souvenir.
Nggak semua orang mau dikasih kain lalu harus mikir lagi menjahitnya jadi apa.
Kadang kasih barang yang tinggal dipakai memang jauh lebih gampang.
Tapi kalau buat diri sendiri…
saya tetap suka kain.
Walaupun masalah “kapan dijahit” tadi belum selesai.
Saya Cukup Sering Beli untuk Cenderamata
Ini salah satu alasan kenapa Batik Dwi Hadi masih sering saya lihat sampai sekarang.
Bukan hanya karena saya suka batik.
Kadang saya memang butuh cenderamata atau souvenir yang terasa Indonesia, tetapi tetap pantas diberikan.
Batik hampir selalu masuk pilihan.
Apalagi kalau penerimanya orang yang saya rasa akan menghargai kain atau produk handmade.
Dan karena saya sudah familiar dengan kualitas Dwi Hadi, kadang lebih gampang kembali ke brand yang memang sudah pernah dibeli daripada mulai mencari dari nol.
Kalau nggak sedang di Solo, ya pesan online.
Praktis.
Lihat foto.
Tanya.
Pilih.
Kirim.
Mungkin itu juga salah satu alasan brand seperti Dwi Hadi bisa terus bertahan dari generasi ke generasi.
Cara belanjanya mengikuti zaman.
Kalau Ada Pameran di Jakarta, Saya Suka Ketemu Lagi
Ini bagian yang buat saya lumayan menyenangkan.
Batik Dwi Hadi cukup aktif mengikuti pameran.
Jadi kadang saya ketemu koleksinya bukan di Solo, tetapi di Jakarta.
Dan ternyata ini bukan cuma perasaan saya karena “kok sering lihat”.
Dina sendiri mengatakan pada 2023 bahwa Batik Dwi Hadi sudah enam kali mengikuti Karya Kreatif Indonesia (KKI). Pada KKI 2022 mereka bahkan mendapat posisi kedua untuk omzet terbesar, dan pada hari pertama pameran berikutnya penjualan mereka disebut mencapai lebih dari 200 pieces.
Mereka juga punya riwayat mengikuti Inacraft di Jakarta, bahkan pameran luar negeri seperti Guangzhou dan Singapura.
Jadi memang pameran sudah lama menjadi bagian dari cara Batik Dwi Hadi memperkenalkan koleksinya.
Buat pembeli seperti saya, justru enak.
Kalau kebetulan sedang ada pameran di Jakarta, bisa lihat kain langsung tanpa menunggu ke Solo.
Dan beda memang melihat batik dari foto dengan membentangkannya langsung.
Warna di layar HP suka bohong sedikit.
Kadang di foto terlihat biasa.
Pas dibuka:
“Lho, bagus.”
Nah.
Mulai bahaya.
Belanja Sama Mbak Dina Itu Menyenangkan
Saya rasa perlu cerita sedikit soal ini karena ini pengalaman saya sendiri.
Mbak Dina orangnya ramah.
Dan ayu sekali.
Beneran.
Kalau lagi ketemu di toko atau pameran, rasanya seperti ngobrol sambil belanja, bukan menghadapi orang yang cuma sibuk mendorong barang supaya cepat laku.
Buat saya ini berpengaruh.
Saya bisa tanya motif.
Lihat warna.
Kadang berpikir lama.
Balik lagi.
Lihat kain lain.
Pembeli batik memang kadang menyebalkan.
Hahaha.
Tapi kalau penjualnya paham bahwa memilih batik itu memang perlu waktu, jadinya nyaman.
Dina Martiana sendiri sekarang tercatat sebagai generasi kedua yang mengelola Batik Dwi Hadi. Di bawah kepemimpinannya, brand ini memperluas pasar nasional sambil tetap mempertahankan motif pakem yang dikembangkan dengan warna dan desain yang lebih modern.
Kalau melihat karakternya sekarang, menurut saya memang terasa ada tangan generasi berikutnya di sana.
Tradisinya masih kelihatan.
Tapi bisnisnya nggak berhenti di cara lama.
Ada Banyak Perempuan di Balik Batik Dwi Hadi
Satu hal yang baru saya tahu setelah membaca lebih jauh adalah komposisi pekerjanya.
Profil Karya Kreatif Indonesia menyebut sekitar 80 persen tenaga kerja Batik Dwi Hadi merupakan perempuan dari masyarakat sekitar.
Saya suka fakta ini.
Karena waktu melihat selembar kain batik, kadang kita terlalu fokus pada siapa desainernya atau siapa pemilik brand-nya.
Padahal sebagian besar pekerjaan berlangsung jauh dari depan toko.
Ada perempuan-perempuan yang menggambar.
Mencanting.
Mewarnai.
Melorod.
Mengulang proses.
Dan pekerjaan itu membuat keterampilan membatik tetap hidup.
Kalau generasi pembatik berhenti, kita mungkin masih punya motif batik.
Tapi nggak punya orang yang benar-benar tahu cara membuatnya.
Berapa Harga Batik Dwi Hadi?
Kalau berbicara tentang batik tulisnya, Batik Dwi Hadi memang masuk kategori premium.
Koleksi terkini yang ditampilkan Karya Kreatif Indonesia berada pada rentang yang cukup lebar. Ada produk sekitar Rp1 jutaan, kain tulis sekitar Rp2–3 jutaan, dan beberapa produk yang lebih tinggi tergantung bahan serta kerumitan pengerjaan. Contohnya, kemeja tulis Granit saat ini tercantum Rp1,75 juta.
Tapi saya nggak mau membuat daftar harga panjang di sini.
Cepat basi.
Batik juga bukan barang yang mudah dibandingkan hanya berdasarkan ukuran.
Dua kain sama-sama 2,5 meter belum tentu harganya sama.
Bisa beda bahan.
Beda teknik.
Beda kerumitan.
Beda proses warna.
Jadi kalau memang tertarik, menurut saya lebih enak langsung tanya koleksi yang tersedia.
Apalagi mereka cukup aktif online.
Kalau Mau Datang Langsung ke Batik Dwi Hadi Solo
Kalau sedang berada di Solo dan ingin melihat langsung, showroom yang tercantum di website resmi berada di:
Joyodiningratan, Jl. Pringgodani No. 11, Kratonan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57153.
Alamat itu sama dengan lokasi yang saya kenal sebagai showroom Batik Dwi Hadi.
Jam operasional yang beredar di beberapa direktori sedikit berbeda, jadi kalau sengaja datang dari jauh saya lebih menyarankan kontak dulu sebelum berangkat daripada berpegang pada jam dari satu listing.
Dan kalau sedang ada pameran di Jakarta…
cek juga.
Siapa tahu malah nggak perlu pergi ke Solo dulu.
Walaupun kalau sudah di Solo, menurut saya tetap lebih seru mampir langsung.
Pilihan kainnya biasanya jauh lebih banyak.
Dan suasana belanja batik di Solo memang beda.
Batik Dwi Hadi Buat Saya
Kalau harus menjelaskan kenapa saya masih kembali membeli Batik Dwi Hadi setelah sekian lama, sebenarnya jawabannya nggak rumit.
Saya suka motifnya.
Saya suka warnanya.
Kualitasnya sudah saya kenal.
Dan saya nyaman belanja di sana.
Kadang kita memang begitu sebagai pembeli.
Awalnya datang karena produk.
Lalu kembali karena pengalaman.
Saya sudah pernah datang langsung ke showroom-nya.
Sudah beberapa kali beli online.
Pernah beli untuk kebutuhan souvenir.
Dan kadang ketemu lagi ketika mereka datang pameran ke Jakarta.
Jadi hubungan saya dengan Dwi Hadi bukan sekadar:
“Oh, ini salah satu batik Solo.”
Sudah lebih familiar dari itu.
Dan menurut saya brand batik seperti ini menarik justru karena bisa bertahan lama tanpa harus menjadi terlalu massal.
Motif Jawa masih ada.
Pengerjaan tradisional masih ada.
Tapi warna, cara pemasaran, produk, dan cara pembelinya berinteraksi sudah mengikuti zaman.
Mungkin itu juga yang membuat saya masih suka melihat koleksi barunya sampai sekarang.
Cuma masalahnya satu.
Kalau sudah mulai buka-buka pilihan kain…
biasanya niat awal “cuma lihat” cepat sekali berubah.
Hahaha.
