Makanan Khas Vietnam
Makanan Khas Vietnam: Dari Pho sampai Egg Coffee, Plus Catatan Halal untuk Traveler Muslim
Kalau sebelum ke Vietnam saya ditanya makanan khas negara ini apa, jawaban saya mungkin cuma tiga:
pho, banh mi, dan Vietnamese coffee.
Setelah datang sendiri, ternyata kulinernya jauh lebih luas.
Bukan cuma mie kuah.
Bukan cuma sandwich.
Dan jelas bukan cuma kopi susu.
Setiap wilayah punya karakter sendiri.
Hanoi punya bun cha, pho, egg coffee, dan Cốm Vòng.
Vietnam Tengah punya bun bo Hue, cao lau, dan mi Quang.
Vietnam Selatan punya com tam, hu tieu, dan rasa yang cenderung sedikit lebih manis.
Vietnam Tourism sendiri menunjukkan bahwa makanan berubah cukup jelas dari utara ke selatan: Hanoi identik dengan bun cha berbahan pork, Hue dengan bun bo Hue, Hoi An dengan cao lau, dan Vietnam Selatan dengan berbagai street food yang punya karakter berbeda.
Tapi karena saya Muslim, ada satu hal lain yang saya perhatikan selama perjalanan:
tidak semua makanan khas Vietnam otomatis halal.
Dan ini penting.
Kadang namanya terdengar aman.
Isinya kelihatan cuma mie, daging, atau seafood.
Tapi setelah dicek lebih jauh ternyata memakai pork, pork broth, lard, atau daging yang belum tentu halal.
Jadi di artikel ini saya tidak hanya membahas rasanya.
Saya juga kasih catatan halal di setiap makanan supaya lebih jelas.
Seperti Apa Rasa Makanan Vietnam?
Secara umum, makanan Vietnam terasa cukup fresh dan seimbang.
Banyak menggunakan:
- rice noodles,
- herbs segar,
- fish sauce,
- jeruk nipis,
- cabai,
- acar sayuran,
- kaldu,
- serta daging atau seafood.
Tapi karakter makanan di setiap wilayah berbeda.
Vietnam Utara biasanya lebih subtle.
Vietnam Tengah cenderung lebih berani dan spicy.
Vietnam Selatan sering terasa lebih manis dan kaya herbs.
Menurut saya justru itu yang membuat kuliner Vietnam menarik.
Kita tidak hanya berpindah kota.
Rasanya juga ikut berubah.
Sebelum Mulai: Catatan Halal untuk Traveler Muslim
Vietnam sekarang punya pilihan restoran halal yang jauh lebih banyak dibanding beberapa tahun lalu, terutama di Hanoi, Da Nang, dan Ho Chi Minh City. Vietnam Tourism sendiri sudah punya panduan khusus restoran halal bersertifikat untuk traveler Muslim.
Tapi saya pribadi tetap memakai prinsip sederhana:
nama makanan tidak menentukan halal atau tidak.
Yang harus diperhatikan justru:
- jenis daging,
- sumber kaldu,
- apakah memakai lard,
- saus tambahan,
- alkohol dalam masakan,
- dan apakah restoran memang halal atau sekadar “no pork”.
“No pork” belum tentu sama dengan halal.
Kalau ragu, saya lebih nyaman mencari restoran bersertifikat halal atau restoran yang memang jelas melayani traveler Muslim.
1. Pho
Kalau harus memilih satu makanan yang paling identik dengan Vietnam, mungkin pho.
Pho adalah sup mie beras dengan kaldu bening, daging sapi atau ayam, lalu dilengkapi herbs dan berbagai condiment.
Versi Hanoi biasanya lebih sederhana dan clean, sementara versi selatan sering datang dengan lebih banyak herbs dan garnish.
Catatan halal
Perlu cek halal.
Walaupun memilih beef pho atau chicken pho, kaldunya belum tentu berasal dari bahan halal.
Dagingnya juga belum tentu halal-certified.
Jadi jangan menganggap “beef pho” otomatis aman.
Kalau traveler Muslim, cari restoran yang memang menjual halal pho.
2. Bun Cha
Kalau ke Hanoi, bun cha hampir selalu muncul dalam daftar makanan wajib.
Hidangan ini terdiri dari grilled pork belly dan pork patties yang disajikan bersama rice vermicelli, herbs, dan dipping sauce.
Vietnam Tourism secara eksplisit menjelaskan bun cha klasik Hanoi menggunakan pork belly dan pork patties.
Catatan halal
Versi tradisional tidak halal.
Ini salah satu yang paling jelas.
Kalau ingin mencoba, cari restoran halal yang membuat versi modifikasi dengan beef atau chicken.
Jangan memesan bun cha biasa lalu hanya bertanya apakah sausnya aman.
Masalah utamanya memang pada dagingnya.
3. Banh Mi
Banh mi mungkin salah satu street food Vietnam yang paling mudah disukai.
Baguette renyah diisi berbagai kombinasi seperti daging, pâté, acar, mentimun, coriander, dan saus.
Vietnam Tourism bahkan punya resep banh mi dengan roasted pork sebagai salah satu versi klasiknya.
Catatan halal
Harus cek isi.
Banyak banh mi menggunakan:
- pork,
- ham,
- pâté,
- cold cuts,
- atau saus yang perlu dicek.
Versi chicken, egg, atau vegetarian bisa menjadi alternatif, tetapi tetap lebih aman kalau dibeli di tempat halal.
Kalau melihat tulisan bánh mì chay, itu berarti versi vegetarian. Vietnam Tourism juga menjelaskan penggunaan kata chay untuk menu vegetarian.
4. Goi Cuon
Gỏi cuốn adalah fresh spring roll.
Biasanya berisi rice vermicelli, herbs, shrimp, dan kadang pork.
Teksturnya fresh karena tidak digoreng.
Catatan halal
Bisa halal, tapi jangan asumsi.
Masalahnya:
- beberapa versi memakai pork,
- saus bisa berbeda,
- dan restoran bisa menggunakan alat masak bersama.
Kalau menemukan shrimp-only atau vegetarian gỏi cuốn di restoran halal, tentu lebih aman.
5. Cha Gio atau Nem Ran
Ini versi spring roll goreng.
Isinya bisa berupa minced meat, jamur, sayur, seafood, atau kombinasi.
Catatan halal
Versi biasa sering memakai pork.
Jadi jangan melihat bentuknya seperti lumpia lalu menganggap isinya sayur.
Tanyakan dulu.
Kalau restoran halal, barulah lebih tenang.
6. Banh Xeo
Bánh xèo adalah savory pancake dari rice flour dan turmeric.
Biasanya diisi bean sprouts, shrimp, dan sering juga pork.
Vietnam Tourism menggambarkan bánh xèo sebagai hidangan populer yang dimakan bersama greens dan dipping sauce.
Catatan halal
Perlu cek.
Versi klasik sering mengandung pork.
Kalau ada seafood-only atau vegetarian, tetap cek proses memasaknya.
Versi di restoran halal tentu paling aman.
7. Bun Bo Hue
Kalau suka mie kuah dengan rasa lebih kuat, cari bún bò Huế.
Hidangan ini berasal dari Hue dan punya rasa lebih spicy serta kompleks dibanding pho.
Vietnam Tourism menjelaskan versi klasiknya menggunakan pork bones dan beef bones, ditambah lemongrass dan shrimp paste.
Catatan halal
Versi tradisional umumnya tidak halal.
Walaupun namanya “bo” atau beef, kaldunya bisa menggunakan pork bones.
Ini contoh bagus kenapa kita tidak boleh hanya membaca nama menu.
Cari versi halal yang memang dibuat ulang dengan bahan halal.
8. Cao Lau
Kalau ke Hoi An, salah satu makanan yang paling terkenal adalah cao lầu.
Noodles-nya tebal dengan herbs dan topping khas.
Vietnam Tourism menyebut cao lau tradisional diberi roasted pork slices.
Catatan halal
Versi tradisional tidak halal.
Kalau ingin mencoba, cari restoran halal atau vegetarian version.
Jangan berharap cukup dengan “minta tanpa pork” karena saus atau kuahnya juga perlu dicek.
9. Mi Quang
Mì Quảng berasal dari Vietnam Tengah.
Noodles disajikan dengan sedikit broth, herbs, peanuts, dan berbagai topping.
Vietnam Tourism menyebut topping-nya bisa berupa pork belly, chicken, shrimp, fish, dan telur.
Catatan halal
Tergantung topping dan broth.
Kalau chicken atau seafood saja belum tentu otomatis halal.
Tetap tanya soal:
- broth,
- meat source,
- dan minyak yang dipakai.
Versi halal jauh lebih aman.
10. Com Tam
Cơm tấm berarti broken rice.
Hidangan ini sangat populer di Vietnam Selatan dan sering disajikan dengan grilled pork, telur, acar, dan fish sauce.
Catatan halal
Versi klasik biasanya tidak halal.
Grilled pork adalah salah satu topping paling umum.
Kalau ada restoran halal yang membuat versi chicken atau beef, baru aman dicoba.
11. Hu Tieu
Hủ tiếu banyak ditemukan di Vietnam Selatan.
Bisa disajikan berkuah atau kering dengan berbagai topping.
Catatan halal
Perlu sangat hati-hati.
Banyak versi memakai:
- pork,
- pork bones,
- seafood,
- atau kombinasi.
Jangan hanya memilih “seafood hu tieu” tanpa bertanya soal kaldunya.
12. Banh Cuon
Bánh cuốn adalah steamed rice rolls yang lembut dan tipis.
Biasanya diisi minced meat dan mushrooms.
Catatan halal
Versi tradisional sering memakai minced pork.
Ada vegetarian version yang lebih mudah dicari.
Kalau melihat tulisan bánh cuốn chay, itu biasanya versi tanpa daging.
Tetapi vegetarian tetap bukan jaminan halal penuh kalau dapurnya bercampur.
13. Xoi
Vietnam juga punya banyak jenis xôi atau sticky rice.
Ada yang manis.
Ada yang gurih.
Ada yang memakai ayam, daging, kacang, atau bahan lain.
Catatan halal
Tergantung topping.
Versi sederhana dengan kacang, kelapa, atau bahan nabati relatif lebih mudah.
Tapi kalau ada sausage, chicken, atau meat topping, tetap perlu cek sumbernya.
14. Banh Chung
Bánh chưng sangat identik dengan Tet atau Tahun Baru Vietnam.
Terbuat dari sticky rice dan mung bean, dibungkus daun lalu dimasak lama.
Catatan halal
Versi tradisional biasanya menggunakan pork.
Kalau menemukan vegetarian bánh chưng, itu bisa menjadi alternatif.
Tetap cek bahan dan tempat produksinya.
15. Cha Ca
Chả cá adalah salah satu makanan khas Hanoi berbahan ikan, turmeric, dill, herbs, dan rice noodles.
Catatan halal
Lebih menjanjikan, tapi tetap perlu cek.
Bahannya berbasis ikan, tetapi saus pendamping bisa menggunakan fermented shrimp paste atau fish sauce.
Vietnam Tourism menyebut chả cá Hanoi memang sering disajikan bersama mắm tôm.
Kalau strict halal, saya tetap memilih restoran yang jelas halal.
16. Cốm Vòng
Nah, ini makanan yang saya temukan secara tidak sengaja.
Saya membeli Cốm Vòng dari seorang ibu yang berjualan sederhana dengan bakul di pinggir jalan.
Bukan toko.
Bukan souvenir shop.
Cuma ibu-ibu pedagang emperan di depan restoran.
Cốm dibuat dari beras ketan muda yang dipanen sebelum matang sempurna, kemudian diproses menjadi butiran tipis hijau.
Rasanya lembut dan tidak terlalu manis.
Catatan halal
Untuk cốm segar polos, bahan dasarnya memang beras ketan muda sehingga secara ingredients relatif sederhana.
Tapi kalau sudah menjadi:
- bánh cốm,
- chả cốm,
- atau olahan lain,
harus cek lagi isi tambahannya.
Chả cốm, misalnya, jelas bisa mengandung daging.
Jadi jangan menganggap semua produk yang bertuliskan cốm punya status yang sama.
17. Egg Coffee
Satu lagi yang saya coba sendiri adalah egg coffee atau cà phê trứng di Cafe Giang, Hanoi.
Bagian atasnya creamy seperti custard.
Di bawahnya kopi Vietnam yang kuat.
Menurut saya lebih mirip dessert kopi daripada secangkir kopi biasa.
Vietnam Tourism juga menyebut egg coffee Cafe Giang sebagai salah satu pengalaman kuliner khas Hanoi.
Catatan halal
Secara umum bahan dasarnya biasanya:
- kopi,
- egg yolk,
- sugar,
- condensed milk.
Jadi kelihatannya relatif sederhana.
Tapi karena Cafe Giang bukan restoran halal-certified yang saya ketahui, saya pribadi tetap tidak akan menyebutnya pasti halal tanpa verifikasi khusus.
Untuk traveler Muslim yang strict, cek ingredients dan standar tempatnya sesuai kenyamanan masing-masing.
18. Ca Phe Sua Da
Cà phê sữa đá adalah kopi Vietnam dengan condensed milk dan es.
Vietnam Tourism menyebutnya sebagai salah satu minuman klasik Vietnam.
Catatan halal
Secara komposisi dasar relatif sederhana:
kopi + condensed milk + es.
Tapi lagi-lagi, kalau ingin kepastian halal penuh, lihat merek bahan dan tempat penyajiannya.
Saya pribadi menempatkan ini sebagai lebih mudah dicek dibanding hidangan berdaging.
19. Che
Chè adalah kelompok dessert Vietnam yang sangat luas.
Bisa berisi:
- beans,
- jelly,
- fruit,
- coconut milk,
- sticky rice,
- atau kombinasi semuanya.
Catatan halal
Sering kali lebih sederhana, tapi tetap cek topping.
Beberapa jelly atau produk olahan bisa memakai bahan yang tidak jelas sumbernya.
Kalau dibuat hanya dari kacang, buah, coconut milk, dan sticky rice tentu lebih straightforward.
Tetapi saya tetap tidak akan memberi label halal tanpa tahu bahan lengkapnya.
20. Banh Trang Nuong
Bánh tráng nướng sering dijuluki Vietnamese pizza.
Rice paper dipanggang lalu diberi topping seperti egg, scallion, dried shrimp, sausage, meat, dan saus.
Catatan halal
Harus cek topping satu per satu.
Sausage atau meat topping sangat mungkin tidak halal.
Kalau menemukan versi egg + seafood saja, tetap cek saus dan cara memasaknya.
Makanan Vietnam Utara, Tengah, dan Selatan Memang Berbeda
Kalau ingin menikmati kuliner Vietnam dengan lebih menarik, menurut saya jangan hanya membuat checklist.
Perhatikan juga wilayahnya.
Vietnam Utara
Beberapa yang paling identik:
- pho Hanoi,
- bun cha,
- cha ca,
- banh cuon,
- Cốm Vòng,
- egg coffee.
Masalah halal yang paling sering muncul di sini biasanya pork dan kaldu.
Vietnam Tengah
Beberapa nama penting:
- bun bo Hue,
- cao lau,
- mi Quang,
- banh beo,
- banh nam,
- banh bot loc.
Vietnam Tengah punya rasa yang lebih bold dan banyak hidangan tradisional yang menggunakan pork.
Vietnam Selatan
Beberapa yang populer:
- com tam,
- hu tieu,
- banh xeo,
- seafood,
- ca phe sua da.
Di sini juga pork sangat umum digunakan dalam street food.
Cara Saya Mencari Makanan Halal di Vietnam
Sebagai traveler Muslim, saya pribadi lebih suka mencari tiga hal:
1. Restoran yang jelas halal
Ini pilihan paling nyaman.
Vietnam Tourism saat ini bahkan punya daftar restoran halal bersertifikat di beberapa kota besar.
2. Menu “chay” untuk vegetarian
Kata chay berguna sekali di Vietnam.
Misalnya:
- phở chay,
- bánh mì chay,
- gỏi cuốn chay.
Vietnam Tourism juga menjelaskan bahwa kata ini umum digunakan untuk versi vegetarian.
Tapi saya tetap ingat:
vegetarian tidak otomatis halal.
Karena bisa saja memakai alcohol, shared cookware, atau bahan saus tertentu.
Kalau sebuah hidangan kelihatannya seafood, saya tetap ingin tahu:
“broth-nya dari apa?”
Kadang masalahnya bukan topping.
Justru kuah atau minyaknya.
Pengalaman Makan Halal Saya di Sapa
Di Sapa saya sempat makan siang di Sapa Banana Leaf Halal Restaurant, yang sekarang bernama Sapa Halal Pak Tam Asian Restaurant & Cafe.
Buat saya restoran seperti ini membantu sekali.
Tidak perlu terlalu banyak menerka.
Menunya juga lebih familiar untuk traveler Indonesia dan Malaysia.
Dan karena pilihan halal di kota pegunungan seperti Sapa tidak sebanyak Hanoi, tempat seperti ini memang terasa berguna.
Makanan yang Saya Coba Sendiri di Vietnam
Karena saya Muslim, saya juga tidak mencoba semua makanan dalam daftar ini.
Dan saya rasa penting untuk jujur soal itu.
Yang benar-benar saya coba dan ingat dari perjalanan antara lain:
egg coffee di Cafe Giang,
Cốm Vòng yang saya beli dari ibu-ibu pedagang pinggir jalan,
dan makanan halal saat berada di Sapa.
Sedangkan makanan seperti:
bun bo Hue,
cao lau,
com tam,
atau hu tieu
saya masukkan karena memang makanan penting Vietnam, bukan karena saya sudah mencobanya sendiri.
Menurut saya perbedaan ini harus jelas.
Saya tidak mau menulis seolah pernah makan sesuatu hanya karena sudah membaca banyak tentangnya.
Jangan Takut dengan Street Food, Tapi Tetap Selektif
Menurut saya street food tetap salah satu bagian paling menarik dari Vietnam.
Warung kecil.
Kursi plastik.
Pedagang kaki lima.
Dapur terbuka.
Tapi buat traveler Muslim, selain melihat kebersihan, ada satu lapisan tambahan:
ingredients.
Kadang makanan terlihat vegetarian tapi menggunakan fish sauce.
Kadang terlihat seafood tapi kaldunya pork.
Kadang terlihat chicken tapi meat source-nya tidak jelas.
Jadi saya menikmati street food, tapi tidak harus mencoba semuanya.
Traveling bukan kompetisi siapa paling berani makan apa saja.
Kalau Pertama Kali ke Vietnam, Makanan Halal Apa yang Bisa Dicari?
Kalau ingin merasakan kuliner Vietnam tetapi tetap nyaman, saya akan mencari versi halal dari:
- pho,
- banh mi,
- fresh spring rolls,
- Vietnamese coffee,
- seafood dishes,
- vegetarian dishes,
- dan beberapa makanan regional yang sudah diadaptasi restoran halal.
Vietnam Tourism sendiri sekarang menyoroti restoran-restoran halal yang menyajikan makanan lokal Vietnam maupun masakan Asia lain di Hanoi, Da Nang, dan Ho Chi Minh City.
Jadi pilihan sekarang sebenarnya jauh lebih banyak.
Makanan Vietnam Ternyata Lebih Luas dari yang Saya Bayangkan
Setelah perjalanan pertama, saya justru merasa baru menyentuh sedikit sekali kuliner Vietnam.
Karena saya baru fokus ke utara.
Hanoi.
Sapa.
Halong Bay.
Saya belum makan bun bo Hue versi halal di Hue.
Belum mencoba cao lau versi halal di Hoi An.
Belum mencari com tam halal di Ho Chi Minh City.
Jadi masih banyak alasan untuk kembali.
Dan buat saya, menjadi traveler Muslim bukan berarti harus melewatkan kuliner lokal.
Cuma caranya sedikit berbeda.
Lebih banyak bertanya.
Lebih banyak mengecek.
Kadang memilih restoran halal.
Kadang memilih vegetarian.
Dan kadang memang memutuskan:
yang ini cukup saya tahu ceritanya saja, tidak perlu saya makan.
Tidak masalah.
Karena pengalaman kuliner tetap bisa kaya tanpa harus mencoba semua yang ada.
Yang penting kita tahu apa yang kita makan, merasa nyaman, dan tetap bisa menikmati perjalanan.
