Hanoi Old Quarter
Hanoi Old Quarter: Tempat Saya Mulai Mengenal Hanoi
Kalau ada satu kawasan yang paling membuat saya merasa, “oh, saya benar-benar sedang di Hanoi,” mungkin jawabannya Hanoi Old Quarter.
Bukan karena tempat ini paling cantik.
Justru agak berantakan.
Jalanannya sempit.
Motor di mana-mana.
Toko dan café berdempetan.
Ada orang duduk makan di kursi plastik kecil.
Trotoar kadang lebih terasa seperti perpanjangan toko daripada tempat pejalan kaki.
Dan entah kenapa semua itu malah terasa sangat Hanoi.
Saya datang ke Old Quarter di sela perjalanan Vietnam yang cukup padat. Hanoi waktu itu menjadi titik awal sebelum lanjut ke Sapa dan Fansipan, lalu saya kembali lagi sebelum ke Halong Bay.
Jadi saya memang tidak punya banyak hari khusus untuk Hanoi.
Tapi kalau cuma punya waktu singkat, menurut saya Old Quarter adalah tempat terbaik untuk mulai.
Karena di sinilah saya paling cepat menangkap ritme kotanya.
Apa Itu Hanoi Old Quarter?
Hanoi Old Quarter adalah kawasan kota tua bersejarah di sekitar Hoan Kiem, terkenal dengan jaringan jalan sempit, bangunan lama, toko tradisional, street food, café, dan jalan-jalan yang sejak dulu berkaitan dengan guild atau kelompok pedagang tertentu.
Kawasan ini sering disebut sebagai 36 Streets atau 36 phố phường.
Menurut Vietnam Tourism, jalan-jalan tersebut dahulu berkembang berdasarkan 36 jenis perdagangan atau kerajinan yang melayani kawasan kerajaan Thang Long. Beberapa nama jalan masih mencerminkan fungsi lama tersebut sampai sekarang. Vietnam Tourism
Jadi nama jalannya ternyata bukan dibuat random.
Ada ceritanya.
Dan kalau tahu sedikit latar belakang itu, jalan kaki di Old Quarter jadi jauh lebih menarik.
Kenapa Disebut 36 Streets?
Angka 36 tidak selalu harus dibaca sebagai “tepat ada 36 jalan dan tidak boleh lebih”.
Lebih tepat dianggap sebagai sebutan historis untuk kawasan guild tua Hanoi.
Dulu pedagang dan pengrajin dengan bidang serupa berkumpul di jalan tertentu.
Makanya kita menemukan nama seperti:
Hàng Bạc untuk perdagangan perak dan perhiasan.
Hàng Mã untuk benda upacara dan dekorasi.
Hàng Gai yang sekarang terkenal sebagai Silk Street.
Lãn Ông untuk obat dan herbal tradisional.
Vietnam Tourism bahkan mencatat bahwa beberapa jalan masih mempertahankan aktivitas yang mirip dengan perdagangan lamanya, walaupun tentu sebagian besar sudah berubah mengikuti zaman. Vietnam Tourism
Saya suka konsep seperti ini.
Karena Old Quarter bukan sekadar kumpulan bangunan tua.
Ada pola kehidupan kota yang berkembang di balik nama jalannya.
Jangan Datang ke Old Quarter dengan Itinerary Terlalu Kaku
Kalau biasanya saya suka membuat daftar tempat yang ingin dikunjungi, di sini justru saya merasa cara terbaik menikmati Old Quarter adalah sedikit tersesat.
Bukan benar-benar hilang sampai panik tentunya.
Google Maps tetap boleh dibuka.
Tapi tidak perlu setiap lima menit mengejar pin berikutnya.
Jalan.
Belok kalau ada gang yang terlihat menarik.
Berhenti kalau mencium makanan enak.
Masuk café kalau sudah capek.
Lihat toko.
Duduk.
Lanjut lagi.
Vietnam Tourism sendiri menyebut Old Quarter sebagai kawasan yang paling enak dieksplorasi dengan berjalan kaki, justru karena semakin lama kita berjalan, semakin banyak gang kecil, pagoda, café, dan kehidupan sehari-hari yang mulai terlihat. Vietnam Tourism
Dan menurut saya itu benar.
Old Quarter bukan tempat yang “selesai” setelah melihat tiga landmark.
Yang dicari justru suasananya.
Mulai dari Hoan Kiem Lake
Kalau baru pertama kali dan bingung harus mulai dari mana, menurut saya Hoan Kiem Lake adalah titik paling gampang.
Danau ini berada tepat di sisi Old Quarter.
Dari sana kita bisa masuk ke jalan-jalan tua perlahan.
Vietnam Tourism bahkan menyebut area di bagian utara Hoan Kiem Lake sebagai titik yang nyaman untuk mulai menjelajah Old Quarter. Vietnam Tourism
Saya sendiri suka Hoan Kiem karena kontrasnya.
Beberapa menit sebelumnya kita masih berada di jalan sempit penuh motor.
Tiba-tiba suasananya terasa lebih lega.
Orang duduk.
Jalan santai.
Olahraga.
Lalu setelah istirahat sebentar, kita bisa masuk lagi ke Old Quarter.
The Huc Bridge dan Ngoc Son Temple
Kalau sudah di Hoan Kiem Lake, hampir pasti akan melihat The Huc Bridge.
Jembatan merah ini menghubungkan tepi danau dengan Ngoc Son Temple.
Karena lokasinya begitu dekat dengan Old Quarter, saya rasa tidak ada alasan untuk tidak sekalian mampir kalau waktunya cukup.
Saya lebih suka menganggap Hoan Kiem + Ngoc Son + Old Quarter sebagai satu kawasan jalan kaki daripada tiga attraction yang harus dicentang satu per satu.
Lebih santai begitu.
Hàng Bạc, Jejak Jalan Perak Hanoi
Salah satu jalan yang cukup menarik untuk dilihat adalah Hàng Bạc.
Namanya berkaitan dengan perdagangan perak.
Dulu para silversmith membuat uang dan perhiasan di kawasan ini, dan sampai sekarang kita masih bisa menemukan toko perhiasan serta money changer. Vietnam Tourism
Ini salah satu contoh paling gampang untuk memahami konsep 36 Streets.
Nama jalan benar-benar punya hubungan dengan aktivitas perdagangan yang pernah berkembang di sana.
Hàng Mã, Jalan yang Paling Berwarna
Kalau Hàng Bạc berhubungan dengan perak, Hàng Mã jauh lebih mencolok secara visual.
Di sini banyak dijual dekorasi, benda ritual, dan perlengkapan perayaan.
Kalau datang menjelang festival atau perayaan besar, warnanya bisa makin ramai.
Merah.
Emas.
Lampion.
Dekorasi.
Buat yang suka foto, jalan seperti ini jelas menggoda.
Vietnam Tourism juga menyebut Hàng Mã sebagai salah satu jalan yang masih mempertahankan hubungan kuat dengan perdagangan barang ritual dan dekorasi. Vietnam Tourism
Hàng Gai atau Silk Street
Hàng Gai sekarang dikenal sebagai salah satu tempat mencari kain dan produk sutra.
Jalan ini sering disebut Silk Street.
Dulu namanya berkaitan dengan bahan pewarna yang digunakan untuk tekstil, sementara sekarang banyak toko menjual kain, pakaian, dan jasa tailoring. Vietnam Tourism
Kalau suka belanja kain atau scarf, mungkin ini salah satu jalan yang menarik untuk dilihat.
Saya sendiri justru lebih suka melihat etalase dan suasana jalannya.
Kadang tidak membeli apa-apa juga tetap menyenangkan.
Lãn Ông dan Aroma Herbal
Nah, ini yang lebih unik.
Lãn Ông Street dikenal dengan toko-toko obat tradisional dan herbal.
Vietnam Tourism menggambarkannya sebagai jalan yang penuh aroma berbagai tanaman obat. Vietnam Tourism
Kalau kebanyakan jalan di Old Quarter menarik karena visual, Lãn Ông punya sensasi lain.
Aroma.
Dan hal kecil seperti ini yang membuat jalan kaki jadi lebih menyenangkan.
Setiap jalan tidak terasa sama.
Tube Houses, Rumah yang Kurus tapi Panjang
Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika berjalan di Old Quarter adalah bentuk rumahnya.
Banyak bangunan punya fasad sangat sempit, tetapi memanjang jauh ke belakang.
Rumah seperti ini dikenal sebagai tube houses.
Vietnam Tourism menjelaskan bahwa bangunan-bangunan tersebut dibuat sempit di bagian depan tetapi dalam dan tinggi, sering dengan courtyard kecil untuk memasukkan cahaya. Vietnam Tourism
Kalau cuma fokus melihat toko di lantai dasar, mungkin tidak terlalu sadar.
Coba sesekali lihat ke atas.
Fasad.
Jendela.
Balkon.
Bangunan tua.
Kabel.
Dan bentuk rumah yang benar-benar berbeda.
Menurut saya justru detail-detail seperti itu yang membuat Old Quarter terasa fotogenik.
Bukan karena semuanya rapi.
Malah karena tidak terlalu rapi.
Ma May Ancient House
Kalau ingin melihat bagaimana rumah tradisional di Old Quarter pernah digunakan, ada Mã Mây House.
Vietnam Tourism menyebut rumah ini sebagai heritage home yang membantu memberi gambaran kehidupan keluarga pedagang di kawasan lama Hanoi. Vietnam Tourism
Saya rasa tempat seperti ini bagus untuk orang yang suka arsitektur atau sejarah kota.
Karena setelah seharian melihat fasad dari luar, akhirnya kita bisa memahami bagaimana ruang sempit dan panjang tadi bekerja di bagian dalam.
Ô Quan Chưởng, Gerbang Tua yang Masih Bertahan
Ada juga Ô Quan Chưởng Gate.
Ini merupakan satu-satunya gerbang yang masih bertahan dari sistem pertahanan lama kawasan sekitar Thang Long.
Vietnam Tourism mencatat gerbang yang terlihat sekarang dibangun kembali pada 1817, sedangkan bentuk awalnya berasal dari 1749. Vietnam Tourism
Bentuknya tidak terlalu monumental.
Tapi justru karena menjadi salah satu sisa struktur lama kota, tempat ini punya nilai sejarah yang kuat.
Kalau kebetulan rute jalan kaki melewatinya, menurut saya layak berhenti sebentar.
St. Joseph’s Cathedral Masih Sangat Dekat
Walaupun secara ketat tidak selalu dianggap “inti 36 Streets”, St. Joseph’s Cathedral berada sangat dekat dan mudah sekali digabungkan.
Gereja bergaya Neo-Gothic ini berdiri sejak akhir abad ke-19 dan menjadi salah satu jejak kolonial Prancis yang paling mudah dikenali di pusat Hanoi. Vietnam Tourism mencatat gereja tersebut sudah berdiri sejak 1886. Vietnam Tourism
Area sekitarnya juga dipenuhi café.
Jadi saya justru akan menggabungkannya:
Old Quarter → cathedral → ngopi.
Lumayan efisien.
Hanoi Train Street Bisa Sekalian?
Bisa.
Tapi saya lebih suka membuat Hanoi Train Street sebagai artikel terpisah, karena akses dan aturan keselamatannya cukup dinamis.
Secara lokasi memang masih dekat dengan pusat Hanoi, dan Vietnam Tourism menyebut Train Street sebagai salah satu attraction modern yang banyak dikunjungi karena café-café berdiri tepat di sisi rel. Vietnam Tourism
Kalau memang ingin memasukkannya dalam hari yang sama dengan Old Quarter, sangat mungkin.
Tapi cek akses terbaru dulu sebelum datang.
Jangan mengandalkan artikel lama soal pintu masuk atau jadwal kereta.
Cafe Giang, Salah Satu Stop Favorit Saya
Nah, ini bagian yang sudah saya coba sendiri.
Cafe Giang.
Kalau sedang jalan-jalan di Old Quarter, menurut saya enak sekali memasukkan café sebagai bagian itinerary.
Bukan hanya karena capek.
Tapi budaya café memang bagian dari pengalaman Hanoi.
Saya datang ke Cafe Giang untuk mencoba egg coffee.
Awalnya agak curiga.
Kopi + telur terdengar seperti eksperimen yang tidak perlu.
Ternyata enak.
Creamy.
Manis.
Teksturnya lebih dekat ke dessert kopi.
Dan setelah berjalan di Old Quarter yang ramai, duduk sebentar dengan minuman seperti ini rasanya pas sekali.
Makan di Hanoi Old Quarter Jangan Terlalu Takut Kelihatan “Sederhana”
Kalau jalan-jalan di kawasan ini, salah satu bagian paling menarik justru makanannya.
Pho.
Bun cha.
Banh mi.
Jajanan.
Buah.
Minuman.
Dan berbagai makanan yang mungkin namanya tidak kita hafal.
Vietnam Tourism menggambarkan Old Quarter sebagai salah satu kawasan terbaik untuk melihat street food Hanoi, termasuk phở dan bún chả yang dimasak langsung di pinggir jalan. Vietnam Tourism
Saya sendiri suka tempat yang tidak terlalu fancy.
Kursi kecil.
Meja sederhana.
Banyak orang lokal.
Kadang atmosfer seperti itu justru terasa lebih Hanoi.
Tetap lihat kebersihan dan kondisi tempat tentu saja.
Tapi jangan menolak sebuah warung hanya karena kursinya seperti kursi TK.
Di Hanoi, itu bukan pertanda buruk.
Ta Hien Street dan Suasana Malam
Kalau siang Old Quarter ramai dengan perdagangan, malam suasananya berubah lagi.
Salah satu titik yang paling dikenal adalah Tạ Hiện Street.
Vietnam Tourism menyebut area pertemuan Tạ Hiện dan Lương Ngọc Quyến sebagai salah satu spot populer untuk street food dan bia hơi pada malam hari. Vietnam Tourism
Suasananya ramai sekali.
Cocok kalau suka nightlife yang casual.
Kalau tidak suka keramaian, mungkin cukup lewat dan lihat.
Saya sendiri tidak merasa semua orang harus duduk berjam-jam di sana hanya karena “wajib”.
Old Quarter punya banyak sisi lain yang lebih tenang.
Pagi Hari Justru Salah Satu Waktu Terbaik
Kalau menginap dekat Old Quarter, saya sangat menyarankan keluar pagi.
Bukan jam sepuluh.
Lebih pagi.
Karena suasananya berbeda.
Pedagang mulai membuka toko.
Orang sarapan.
Motor belum sepadat tengah hari.
Ada penjual bunga dan buah.
Kota mulai bergerak.
Menurut saya fotografinya juga lebih enak.
Cahaya lebih lembut.
Dan kita bisa memperhatikan bangunan tanpa terlalu banyak distraksi.
Sore dan Malam Lebih Hidup
Kalau pagi terasa lebih lokal dan pelan, sore sampai malam justru lebih ramai.
Toko.
Street food.
Café.
Wisatawan.
Lampu.
Suasana berbeda total.
Kalau punya waktu, saya malah akan datang dua kali.
Pagi untuk berjalan.
Sore atau malam untuk makan.
Tidak harus semua dilakukan dalam satu sesi empat jam sampai kaki protes.
Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan di Hanoi Old Quarter?
Kalau cuma melihat-lihat:
2-3 jam bisa.
Kalau ingin jalan santai, makan, ngopi, mampir Hoan Kiem, Ngoc Son, cathedral, dan beberapa jalan tua:
setengah hari jauh lebih enak.
Kalau suka street photography dan kuliner?
Bisa habis seharian.
Dan menurut saya itu bukan pemborosan waktu.
Karena Old Quarter bukan attraction tunggal.
Ia memang kawasan kota.
Contoh Walking Route Hanoi Old Quarter
Kalau ingin punya sedikit struktur tapi tetap santai, saya akan membuat rute sederhana:
Hoan Kiem Lake → Ngoc Son Temple → Hàng Bạc → Mã Mây House → Ô Quan Chưởng → Hàng Mã → Hàng Gai → St. Joseph’s Cathedral → café atau makan.
Tidak harus urut persis.
Dan jangan terlalu panik kalau tiba-tiba belok ke jalan lain.
Justru kemungkinan besar itu bagian paling menyenangkan.
Apakah Hanoi Old Quarter Gratis?
Ya.
Berjalan-jalan di kawasan Old Quarter sendiri gratis.
Tidak ada entrance gate untuk masuk kawasan.
Beberapa attraction di dalam atau sekitarnya tentu bisa punya tiket masing-masing.
Tapi untuk sekadar menjelajahi jalan-jalannya, duduk di café, makan, dan melihat kehidupan kota, tidak ada tiket kawasan.
Vietnam Tourism juga mencantumkan Old Quarter sebagai area yang dapat dikunjungi bebas, dengan kawasan sekitar satu kilometer persegi yang bisa dieksplorasi dengan berjalan kaki. Vietnam Tourism
Jadi kalau budget perjalanan mulai terasa setelah beli tiket attraction lain, Old Quarter cukup bersahabat.
Asal tidak kalap belanja dan makan.
Itu masalah berbeda.
Menginap di Old Quarter, Worth It Tidak?
Untuk first trip, menurut saya iya.
Saya sendiri menginap di Luxor Boutique Hotel saat berada di Hanoi.
Yang saya suka dari tinggal di kawasan pusat adalah kemudahannya.
Keluar hotel, sudah dekat dengan banyak tempat.
Cari makan gampang.
Café banyak.
Kalau ingin jalan malam tidak perlu selalu naik kendaraan.
Memang ada trade-off.
Old Quarter bisa ramai.
Beberapa jalan berisik.
Hotel tertentu punya kamar lebih kecil karena bangunannya berada di kawasan padat.
Jadi saat memilih hotel, jangan hanya melihat foto kamar.
Cek juga:
lokasinya persis di jalan mana,
review soal noise,
akses kendaraan,
dan seberapa jauh jalan kaki ke tempat yang ingin dikunjungi.
Apakah Old Quarter Terlalu Turistik?
Iya.
Dan tidak.
Ini kawasan paling populer di Hanoi, jadi tentu wisatawan banyak.
Souvenir shop ada.
Tour ada.
Café yang jelas dibuat untuk wisatawan ada.
Tapi Old Quarter juga bukan theme park.
Orang tetap tinggal di sana.
Bekerja.
Berjualan.
Makan.
Mengantar barang.
Menjemput anak.
Beraktivitas.
Itulah bedanya.
Kalau kita cuma berjalan di jalan paling populer selama satu jam, mungkin terasa sangat touristy.
Begitu mulai belok ke gang lain, duduk di café, atau keluar pagi, suasananya berubah.
Apa yang Saya Suka dari Hanoi Old Quarter?
Mungkin karena tempat ini tidak terlalu berusaha tampil cantik.
Ada bangunan yang catnya sudah tua.
Kabel berantakan.
Motor parkir memenuhi trotoar.
Toko kecil.
Rumah sempit.
Orang sibuk dengan urusannya sendiri.
Dan justru itu membuatnya terasa hidup.
Saya lebih suka tempat yang membuat saya ingin memperhatikan daripada tempat yang hanya membuat saya ingin berfoto.
Old Quarter punya itu.
Setiap beberapa meter ada sesuatu.
Kadang makanan.
Kadang bangunan.
Kadang suara.
Kadang cuma seorang penjual buah lewat dengan sepeda.
Hal-hal kecil seperti ini sulit dimasukkan ke itinerary.
Tapi justru paling saya ingat.
Kalau Kembali, Saya Justru Ingin Lebih Banyak Jalan Tanpa Tujuan
Waktu perjalanan pertama, jadwal saya cukup padat.
Hanoi.
Sleeper train.
Sapa.
Fansipan.
Sleeper bus.
Halong Bay.
Jadi Hanoi termasuk Old Quarter terasa seperti sesuatu yang saya nikmati di sela perjalanan.
Kalau kembali lagi, saya ingin memberi kawasan ini waktu lebih banyak.
Bangun pagi.
Jalan.
Cari sarapan.
Masuk café.
Duduk terlalu lama.
Keluar lagi.
Belok ke jalan yang belum pernah dilihat.
Mungkin beli sesuatu.
Mungkin tidak.
Karena menurut saya Old Quarter bukan tempat yang harus dikunjungi dengan target:
“Hari ini saya harus melihat 12 tempat.”
Ia lebih cocok dinikmati dengan rasa penasaran.
Dan mungkin justru di sinilah saya paling memahami Hanoi.
Bukan dari landmark besar.
Tapi dari jalan-jalan kecilnya.
Dari orang yang duduk di trotoar.
Dari aroma makanan.
Dari suara motor.
Dari kopi yang diminum pelan-pelan setelah kaki mulai capek.
Hanoi Old Quarter sedikit berisik.
Sedikit chaotic.
Kadang bikin bingung.
Tapi kalau kembali ke Hanoi nanti, saya tahu saya akan ke sini lagi.
Bukan karena masih ada attraction yang belum dicentang.
Tapi karena saya ingin merasakan suasananya sekali lagi.
