Cốm Vòng Hanoi
Cốm Vòng Hanoi: Oleh-Oleh Khas yang Saya Beli dari Pedagang Pinggir Jalan
Kadang makanan yang paling saya ingat dari sebuah perjalanan justru bukan yang saya cari dari awal.
Bukan yang sudah masuk itinerary.
Bukan juga yang saya simpan di Google Maps berbulan-bulan sebelumnya.
Cốm Vòng ini salah satunya.
Waktu itu saya sedang berada di Vietnam dan habis makan di sebuah restoran. Di depan restoran ada seorang ibu yang berjualan sederhana sekali.
Tidak ada toko.
Tidak ada etalase.
Tidak ada papan nama besar.
Beliau cuma membawa bakul berisi makanan dan menjajakannya di pinggir jalan.
Saya penasaran.
Akhirnya saya beli.
Waktu itu saya belum benar-benar tahu makanan ini apa.
Saya cuma tahu ada tulisan atau penyebutan Cốm Vòng, bentuknya menarik, dan kelihatannya seperti sesuatu yang khas Vietnam.
Ternyata setelah saya cari tahu, makanan sederhana yang saya beli dari ibu-ibu di pinggir jalan itu justru punya cerita panjang di Hanoi.
Dan entah kenapa, setelah tahu ceritanya saya malah semakin suka pengalaman kecil ini.
Apa Itu Cốm Vòng?
Cốm Vòng adalah makanan tradisional Hanoi yang dibuat dari beras ketan muda yang dipanen sebelum matang sempurna, kemudian diproses hingga menjadi butiran tipis berwarna hijau dengan aroma lembut.
Nama Vòng berasal dari Làng Vòng atau Vòng Village, kawasan yang sejak lama dikenal sebagai salah satu tempat pembuatan cốm tradisional di Hanoi.
Kalau diterjemahkan secara sederhana, mungkin kita bisa menyebutnya sebagai beras ketan muda yang dipipihkan.
Tapi rasanya tentu tidak seperti makan beras biasa.
Cốm punya aroma khas, tekstur lembut agak kenyal, dan rasa yang cenderung ringan.
Justru Cara Saya Membelinya yang Paling Saya Ingat
Saya rasa kalau waktu itu saya membeli Cốm Vòng dari toko oleh-oleh besar, mungkin ceritanya tidak akan terlalu saya ingat.
Tapi karena belinya dari seorang ibu yang duduk berjualan dengan bakul di depan restoran, rasanya jadi berbeda.
Sangat sederhana.
Tidak ada packaging mewah.
Tidak ada toko yang dibuat cantik untuk turis.
Cuma seorang ibu menjajakan dagangannya kepada orang-orang yang lewat.
Dan buat saya justru ini terasa seperti bagian dari perjalanan.
Saya suka momen-momen seperti ini.
Kadang kita terlalu sibuk mencari “best souvenir shop in Hanoi”, padahal oleh-oleh yang paling berkesan malah muncul begitu saja di pinggir jalan.
Cốm Memang Secara Tradisional Dijual dengan Cara Sederhana
Setelah membaca lebih banyak tentang cốm, pengalaman bertemu penjual seperti itu ternyata terasa masuk akal.
Cốm memang punya hubungan yang kuat dengan kehidupan sehari-hari Hanoi.
Secara tradisional, cốm segar sering dibungkus menggunakan daun, termasuk daun lotus, lalu dijajakan dalam jumlah kecil.
Jadi bentuk penjualan yang sederhana justru terasa cocok dengan karakter makanannya.
Bukan makanan modern yang sejak awal lahir untuk supermarket.
Ini makanan lama.
Dan saya justru merasa beruntung membelinya dengan cara yang seperti itu.
Kenapa Warnanya Hijau?
Warna hijau cốm berasal dari beras yang dipanen ketika masih muda.
Setelah dipanen, beras biasanya dipanggang lalu ditumbuk berulang kali untuk memisahkan kulitnya dan menghasilkan butiran yang semakin pipih.
Proses tradisionalnya cukup panjang.
Padahal ketika pertama kali melihatnya di bakul si ibu tadi, tampilannya kelihatan sangat sederhana.
Butiran hijau.
Dibungkus.
Selesai.
Baru setelah tahu proses di baliknya, saya lebih mengerti kenapa makanan ini dianggap istimewa.
Cốm Vòng Identik dengan Musim Gugur Hanoi
Hal lain yang menarik adalah hubungan cốm dengan musim gugur Hanoi.
Banyak orang Vietnam mengasosiasikan aroma cốm dengan suasana Hanoi ketika udara mulai lebih sejuk.
Ada cerita tentang daun lotus.
Beras muda.
Aroma yang lembut.
Dan suasana kota di musim gugur.
Saya sendiri tidak membeli cốm sambil memikirkan semua itu.
Waktu itu sesederhana:
“Ini apa ya? Kok menarik. Beli ah.”
Tapi justru itu yang saya suka dari traveling.
Kadang kita menikmati sesuatu dulu.
Ceritanya baru menyusul belakangan.
Rasanya Seperti Apa?
Kalau berharap rasa yang sangat manis atau gurih, Cốm Vòng mungkin terasa cukup subtle.
Rasanya lembut.
Sedikit manis alami.
Ada aroma seperti beras muda.
Teksturnya agak kenyal tetapi tidak lengket seperti mochi.
Dan semakin dikunyah, aromanya terasa semakin keluar.
Menurut saya ini bukan tipe snack yang langsung membuat orang berkata:
“Wah, rasanya kuat banget.”
Justru sebaliknya.
Rasanya halus.
Dan saya rasa itu memang bagian dari karakternya.
Kalau Terbiasa Snack Indonesia, Rasanya Memang Beda
Makanan ringan Indonesia biasanya cukup tegas.
Gurih.
Pedas.
Manis.
Banyak bumbu.
Cốm jauh lebih kalem.
Jadi mungkin pada suapan pertama ada yang merasa:
“Cuma begini?”
Tapi kalau dinikmati pelan-pelan, justru ada sesuatu yang menarik dari tekstur dan aromanya.
Saya suka makanan seperti ini karena tidak terasa dibuat untuk mengejutkan lidah.
Cốm Bisa Dimakan Langsung
Cốm segar secara tradisional memang bisa langsung dimakan.
Tidak perlu dimasak lagi.
Salah satu cara klasik menikmatinya adalah bersama pisang matang.
Kombinasi ini menurut saya terdengar sederhana sekali:
cốm + pisang.
Tapi justru mungkin itu poinnya.
Rasa manis pisang memberi kontras dengan rasa cốm yang ringan.
Kalau suatu hari saya kembali dan bertemu cốm segar lagi, saya ingin mencoba cara ini.
Ternyata Cốm Punya Banyak Bentuk
Setelah tahu lebih banyak, ternyata “cốm” bukan cuma satu makanan.
Ada banyak olahan turunannya.
Cốm Tươi
Ini cốm segar, bentuk yang paling dekat dengan versi tradisional.
Biasanya lembut dan masa simpannya pendek.
Cốm Khô
Versi kering yang lebih mudah disimpan.
Kalau ingin dibawa jauh sebagai oleh-oleh, tipe seperti ini tentu lebih praktis.
Bánh Cốm
Salah satu olahan paling populer.
Bánh cốm adalah kue berbahan cốm dengan tekstur kenyal dan isian manis.
Kalau ingin sesuatu yang lebih mudah dimakan sebagai snack, versi ini mungkin lebih familiar untuk banyak orang.
Chả Cốm
Ada juga versi gurih.
Cốm dicampur ke dalam olahan daging dan menghasilkan tekstur khas.
Xôi Cốm
Ada sticky rice berbahan cốm juga.
Jadi satu bahan sederhana ternyata berkembang menjadi banyak makanan.
Yang Saya Beli Bukan dari Toko Oleh-Oleh
Ini yang ingin saya tegaskan karena justru bagian ini paling personal.
Saya tidak sengaja datang ke toko khusus Cốm Vòng.
Tidak searching dulu.
Tidak punya rekomendasi.
Tidak membandingkan harga.
Saya beli dari ibu-ibu yang berjualan di depan restoran, membawa dagangannya dengan bakul seperti pedagang emperan.
Dan menurut saya justru pengalaman seperti itu lebih menyenangkan.
Ada rasa spontan.
Sedikit coba-coba.
Dan ternyata setelah pulang baru sadar:
“Oh, ternyata ini makanan khas.”
Kalau semuanya terlalu direncanakan, traveling malah kadang terasa seperti pekerjaan.
Perlu Hati-Hati Kalau Membeli dari Pedagang Jalanan?
Menurut saya tetap perlu menggunakan pertimbangan biasa.
Lihat kondisi makanan.
Kemasan.
Kebersihan.
Apakah kelihatannya masih segar.
Dan kalau ingin membawanya pulang jauh, tanyakan atau perhatikan jenis makanannya.
Karena cốm segar tidak tahan selama produk kering atau produk kemasan.
Saya pribadi suka mencoba makanan lokal dari pedagang kecil.
Tapi tetap pakai common sense.
Tidak semua yang dijual di pinggir jalan otomatis harus dibeli.
Walaupun saya sendiri cukup gampang tergoda kalau tampilannya menarik.
Cốm Segar Tidak Cocok Disimpan Terlalu Lama
Ini penting kalau ingin dijadikan oleh-oleh.
Kalau membeli cốm segar seperti versi tradisional, masa simpannya memang terbatas.
Jadi lebih cocok dimakan saat masih berada di Vietnam.
Kalau ingin dibawa pulang ke Indonesia, produk seperti bánh cốm atau cốm kering biasanya lebih praktis.
Cek juga kemasannya.
Tanggal produksi.
Dan bagaimana cara menyimpan.
Karena makanan tradisional seperti ini tidak selalu dirancang untuk masuk koper selama berhari-hari.
Apakah Cốm Vòng Cocok Dijadikan Oleh-Oleh?
Menurut saya iya, terutama kalau ingin membawa sesuatu yang tidak terlalu mainstream.
Orang biasanya langsung berpikir:
kopi Vietnam,
permen,
snack kemasan,
atau mungkin teh.
Cốm punya cerita yang lebih spesifik.
Terutama karena sangat berkaitan dengan Hanoi.
Kalau menemukan versi kemasan yang tahan perjalanan, menurut saya menarik untuk dibawa pulang.
Kalau versi segar, lebih baik dinikmati di sana.
Justru Pedagang Kecil Sering Membuat Perjalanan Lebih Berkesan
Saya sering merasa pasar, pedagang kecil, dan penjual di pinggir jalan memberi pengalaman yang tidak kita dapat dari mall atau toko souvenir.
Kita mungkin tidak tahu namanya.
Tidak tahu apakah mereka muncul di TripAdvisor.
Tidak ada rating Google.
Tapi justru interaksi seperti ini membuat sebuah kota terasa lebih nyata.
Ibu yang menjual Cốm Vòng itu mungkin tidak tahu kalau dagangannya akhirnya saya tulis di blog.
Tapi buat saya, momen itu sekarang menjadi bagian dari ingatan tentang Vietnam.
Dan menurut saya itu cukup istimewa.
Cốm Membuat Saya Melihat Hanoi dengan Cara Berbeda
Hanoi yang saya ingat memang penuh dengan hal-hal besar.
Old Quarter.
Hoan Kiem.
Train Street.
Cafe Giang.
Motor di mana-mana.
Tapi ternyata satu makanan kecil bisa memberi lapisan lain.
Ada Hanoi yang tidak selalu muncul sebagai attraction.
Hanoi yang hidup lewat makanan tradisional.
Lewat penjual kecil.
Lewat bakul.
Lewat kebiasaan makan yang diwariskan lama.
Dan setelah tahu itu, saya justru merasa pengalaman membeli Cốm Vòng ini lebih menarik daripada kalau saya sekadar membeli sekotak souvenir di toko modern.
Kalau Menemukan Pedagang Cốm di Hanoi, Perlu Coba?
Menurut saya coba saja.
Tidak perlu beli banyak.
Beli sedikit dulu.
Lihat bentuknya.
Cium aromanya.
Coba teksturnya.
Kalau suka, baru beli lagi.
Dan kalau menemukan penjual seperti ibu yang saya temui, mungkin justru itu pengalaman terbaiknya.
Bukan cuma karena makanannya.
Tapi karena kita merasa sedang membeli sesuatu yang memang menjadi bagian dari keseharian kota.
Saya Awalnya Cuma Penasaran
Itulah bagian paling lucu.
Saya tidak datang ke Hanoi dengan daftar:
“harus beli Cốm Vòng.”
Saya bahkan tidak tahu banyak tentang makanan ini.
Saya hanya melihat seorang ibu berjualan.
Ada makanan yang kelihatannya khas.
Lalu saya beli.
Sesederhana itu.
Tapi setelah pulang dan membaca lebih banyak, saya malah menemukan cerita tentang Làng Vòng, beras ketan muda, daun lotus, dan musim gugur Hanoi.
Kadang oleh-oleh terbaik memang tidak direncanakan.
Tidak selalu datang dari toko terkenal.
Kadang cuma dari seorang ibu dengan bakul di pinggir jalan.
Dan mungkin karena itulah saya masih mengingatnya.
