Hanoi
Hanoi: Kota yang Membuat Saya Langsung Merasa Sedang di Vietnam
Kalau ditanya kota mana yang paling terasa seperti “Vietnam” dari perjalanan pertama saya, mungkin jawabannya Hanoi.
Bukan karena Hanoi paling cantik.
Bukan juga karena tempat wisatanya paling spektakuler.
Justru karena begitu keluar dan mulai melihat jalanan, saya langsung merasa sedang berada di tempat yang berbeda.
Motor di mana-mana.
Orang duduk makan di kursi kecil.
Toko berdempetan.
Café tersembunyi di lantai atas bangunan lama.
Dan menyeberang jalan yang pada awalnya terasa seperti sebuah keputusan hidup.
Hanoi memang agak chaotic.
Tapi setelah beberapa saat, kekacauan itu justru terasa seperti bagian dari pesonanya.
Saya datang ke Hanoi sebagai bagian dari perjalanan Vietnam 5 hari 4 malam dengan rute Hanoi, Sapa, Fansipan, Halong Bay, lalu kembali lagi ke Hanoi.
Jadi waktu saya di kota ini memang tidak terlalu panjang.
Tapi ternyata cukup untuk membuat Hanoi menjadi salah satu bagian yang paling saya ingat.
Mengenal Hanoi, Ibu Kota Vietnam
Hanoi adalah ibu kota Vietnam yang berada di bagian utara negara ini. Kota ini terkenal dengan Old Quarter, danau, bangunan bersejarah, peninggalan kolonial Prancis, street food, dan budaya café yang kuat.
Hanoi punya sejarah lebih dari seribu tahun dan sampai sekarang masih menjadi salah satu pusat budaya utama Vietnam.
Menurut saya yang membuat Hanoi menarik adalah percampurannya.
Bangunan tua ada.
Kuil ada.
Sejarah ada.
Tapi di sebelahnya bisa langsung ada specialty coffee shop atau toko modern.
Dan semuanya terasa bercampur begitu saja.
Kenapa Hanoi Cocok untuk Perjalanan Pertama ke Vietnam?
Ada satu alasan praktis kenapa saya suka Hanoi sebagai pintu masuk Vietnam:
dari sini kita bisa pergi ke banyak tempat yang karakternya benar-benar berbeda.
Ke Sapa untuk pegunungan.
Fansipan.
Halong Bay.
Ninh Binh.
Ha Giang.
Jadi Hanoi bukan hanya destinasi.
Ia juga menjadi base yang sangat strategis untuk menjelajahi Vietnam Utara.
Itulah yang saya lakukan.
Hanoi → Sapa → Fansipan → kembali Hanoi → Halong Bay.
Dan dalam lima hari saja rasanya sudah melihat beberapa wajah Vietnam yang berbeda.
Kalau baru pertama kali datang dan tidak ingin terlalu banyak penerbangan domestik, Vietnam Utara menurut saya pilihan yang enak.
Tempat Wisata di Hanoi yang Menurut Saya Paling Menarik
Hanoi Old Quarter
Kalau cuma punya satu area untuk merasakan Hanoi, saya akan pilih Old Quarter.
Kawasan ini terkenal dengan jalan-jalan sempit, toko, kuliner, bangunan lama, dan aktivitas perdagangan yang sudah berlangsung selama berabad-abad.
Kalau pertama kali datang, saya justru tidak menyarankan terlalu serius mengikuti itinerary.
Jalan saja.
Karena sebagian daya tarik Old Quarter memang ada pada hal-hal yang kita temukan tanpa direncanakan.
Toko kecil.
Pedagang buah.
Café.
Banh mi.
Motor berhenti sembarangan.
Orang duduk di kursi plastik kecil.
Dan gang yang tadinya saya kira jalan buntu ternyata tembus entah ke mana.
Saya suka kawasan seperti ini.
Sedikit berantakan, tapi ada kehidupan.
Hoan Kiem Lake
Tidak jauh dari Old Quarter ada Hoan Kiem Lake.
Setelah berjalan di antara motor, toko, dan jalan sempit, sampai di danau ini rasanya seperti Hanoi tiba-tiba menurunkan volume.
Hoan Kiem Lake berada di pusat kota dan menjadi salah satu landmark paling penting Hanoi.
Saya suka area seperti ini bukan karena ada banyak hal yang “harus dilakukan”.
Justru sebaliknya.
Jalan.
Duduk.
Lihat orang.
Istirahat sebentar.
Kadang di tengah perjalanan yang padat, tempat seperti itu malah paling dibutuhkan.
Ngoc Son Temple dan The Huc Bridge
Kalau sudah berada di Hoan Kiem Lake, sulit tidak melihat The Huc Bridge.
Warnanya merah terang dan menjadi salah satu bagian Hanoi yang paling photogenic.
Jembatan tersebut membawa pengunjung menuju Ngoc Son Temple yang berada di sebuah pulau kecil di danau.
Tempatnya tidak terlalu besar.
Jadi saya tidak akan mengalokasikan setengah hari khusus untuk ini.
Lebih enak digabungkan dengan Old Quarter dan Hoan Kiem Lake.
Hanoi Train Street
Nah, ini salah satu tempat yang kemungkinan besar sudah pernah dilihat bahkan sebelum merencanakan pergi ke Vietnam.
Hanoi Train Street.
Rel kereta melewati gang sempit.
Rumah dan café berada sangat dekat dengan rel.
Lalu ketika kereta datang, meja dan kursi harus dibereskan.
Secara konsep memang agak absurd.
Mungkin itu sebabnya orang ingin melihatnya.
Saya sendiri tetap penasaran walaupun tahu tempat ini sangat turistik.
Dan menurut saya tidak ada salahnya.
Tidak semua tempat yang viral otomatis jelek.
Kadang memang viral karena pemandangannya tidak biasa.
Aturan akses Train Street memang beberapa kali berubah karena alasan keselamatan.
Jadi saya tidak akan menulis jadwal atau pintu masuk yang terlalu spesifik di artikel ini.
Kalau memang ingin datang, sebaiknya cek kondisi terbaru menjelang kunjungan dan ikuti arahan petugas atau pemilik café.
Temple of Literature
Kalau punya waktu lebih, Temple of Literature atau Văn Miếu termasuk tempat yang layak dimasukkan.
Kompleks ini awalnya dibangun pada abad ke-11 dan berkaitan dengan pendidikan Konfusianisme serta Imperial Academy.
Tempatnya jauh lebih tenang daripada Old Quarter.
Courtyard.
Gerbang.
Kolam.
Bangunan tradisional.
Dan prasasti batu yang berkaitan dengan para sarjana.
Kalau suka sejarah dan arsitektur, menurut saya akan menarik.
Ho Chi Minh Mausoleum Complex
Nama Ho Chi Minh tentu tidak mungkin dilepaskan dari sejarah Vietnam modern.
Di Hanoi terdapat Ho Chi Minh Mausoleum, yang berada di kawasan Ba Dinh Square.
Di area yang sama juga terdapat beberapa tempat penting seperti Presidential Palace dan One Pillar Pagoda.
Ini tipe tempat yang menurut saya lebih menarik setelah sedikit membaca sejarah Vietnam.
Kalau datang hanya untuk melihat bangunan, mungkin rasanya biasa.
Begitu tahu siapa Ho Chi Minh dan bagaimana Vietnam modern terbentuk, konteksnya berubah.
French Quarter
Kalau Old Quarter identik dengan jalan sempit dan bangunan padat, French Quarter memberikan suasana yang berbeda.
Boulevard lebih lebar.
Bangunan kolonial lebih besar.
Pepohonan.
Hotel bersejarah.
Gedung pemerintahan.
Salah satu landmark terkenal adalah Hanoi Opera House.
Saya suka kota yang punya lapisan seperti ini.
Tidak semuanya seragam.
Jalan beberapa blok saja, suasananya bisa berubah.
St. Joseph’s Cathedral
Ada juga St. Joseph’s Cathedral, gereja bergaya Neo-Gothic yang berada tidak terlalu jauh dari Hoan Kiem.
Kawasan sekitarnya sekarang cukup hidup dengan café dan tempat makan.
Kalau hanya punya waktu singkat, tempat ini gampang sekali dimasukkan ke walking route Old Quarter.
Cafe Giang dan Egg Coffee yang Akhirnya Saya Coba Sendiri
Kalau ada satu hal yang dari awal memang ingin saya coba di Hanoi, itu egg coffee.
Saya memilih Cafe Giang.
Awalnya saya cukup skeptis.
Kopi.
Telur.
Dua hal yang baik-baik saja sendiri-sendiri.
Haruskah disatukan?
Ternyata rasanya jauh lebih masuk akal daripada namanya.
Bagian atasnya creamy, manis, dan lembut.
Kopinya tetap terasa di bawah.
Buat saya lebih mirip dessert berbasis kopi.
Dan saya suka.
Mungkin bukan jenis kopi yang ingin diminum tiga kali sehari.
Tapi kalau ke Hanoi, menurut saya memang layak dicoba setidaknya sekali.
Budaya Café Hanoi Ternyata Serius
Setelah berada di Hanoi, baru terasa bahwa kopi di sini bukan sekadar minuman.
Café ada di banyak sudut.
Ada café lama.
Café modern.
Tempat kecil tersembunyi di lantai dua.
Tempat menghadap jalan.
Tempat yang interiornya cantik.
Dan tempat yang kursinya sangat kecil sampai saya kadang bertanya apakah kursi itu memang dibuat untuk orang dewasa.
Kalau kembali ke Hanoi, mungkin salah satu hal yang ingin saya lakukan justru café hopping lebih banyak.
Bukan menambah lima attraction.
Makanan Hanoi yang Menurut Saya Layak Dicoba
Pho
Rasanya agak aneh kalau pergi ke Hanoi dan tidak mencoba pho.
Pho memang ditemukan di seluruh Vietnam sekarang.
Tapi Vietnam Utara, termasuk Hanoi, punya hubungan sejarah yang kuat dengan hidangan ini.
Saya sendiri justru suka mencoba makanan di tempat asalnya.
Bukan karena pasti lebih enak.
Tapi ada konteks.
Makan pho di Hanoi terasa sedikit berbeda dibanding makan pho di mall Jakarta.
Walaupun fungsi utamanya sama.
Tetap makan.
Bun Cha
Selain pho, Hanoi juga terkenal dengan bun cha.
Biasanya berupa grilled pork yang disajikan dengan rice vermicelli, herbs, dan dipping sauce.
Kalau punya beberapa kali kesempatan makan, saya justru akan mencoba:
pho sekali,
bun cha sekali,
banh mi,
baru setelah itu sibuk mencari café.
Prioritas orang berbeda.
Prioritas saya rupanya cukup banyak yang berkaitan dengan makan.
Street Food dan Kursi Plastik Kecil
Salah satu pemandangan yang sangat Hanoi menurut saya adalah orang-orang duduk di kursi plastik kecil di pinggir jalan.
Kadang posisi duduknya terlihat seperti kita kembali ke taman kanak-kanak.
Tapi justru tempat makan seperti ini sering terasa paling menarik.
Bukan berarti semua street food otomatis bagus atau aman.
Tetap lihat kebersihan.
Lihat turnover pembeli.
Kalau ramai orang lokal, biasanya menjadi indikasi yang cukup membantu.
Pengalaman Menyeberang Jalan di Hanoi
Ini terdengar seperti bercanda.
Tapi kalau baru pertama kali datang, menyeberang jalan di Hanoi memang bisa sedikit intimidating.
Motor datang terus.
Kalau menunggu jalan kosong total, mungkin sampai besok.
Yang saya pelajari adalah:
jalan dengan tenang,
kecepatan konsisten,
jangan mendadak maju mundur.
Pengendara biasanya akan membaca gerakan kita.
Tetap lihat kanan-kiri dan gunakan crossing kalau ada, tentu saja.
Setelah beberapa hari, mulai terbiasa.
Hanoi Pagi dan Hanoi Malam Terasa Berbeda
Kalau menginap di pusat kota, coba keluar pagi.
Bukan jam sepuluh.
Benar-benar pagi.
Orang olahraga.
Sarapan.
Kopi.
Kota mulai bergerak.
Kemudian malam hari suasananya berubah.
Lampu.
Street food.
Bar.
Orang berkumpul.
Kalau waktunya memungkinkan, lihat dua-duanya.
Menurut saya ini salah satu cara paling mudah merasakan ritme Hanoi.
Berapa Hari Ideal untuk Hanoi?
Kalau hanya Hanoi:
2-3 hari menurut saya cukup bagus untuk perjalanan pertama.
Dalam dua hari kita sudah bisa menikmati:
Old Quarter,
Hoan Kiem,
Temple of Literature,
French Quarter,
makanan,
dan café.
Tiga hari jauh lebih santai.
Tapi Hanoi juga sering menjadi base perjalanan Vietnam Utara.
Contoh 5 Hari
Hanoi → Sapa → Fansipan → Halong Bay → Hanoi
Ini seperti yang saya jalani.
Contoh 6-7 Hari
Hanoi → Ninh Binh → Sapa → Halong Bay
Sedikit lebih lengkap dan punya variasi landscape lebih banyak.
Day Trip dan Destinasi dari Hanoi
Salah satu kekuatan Hanoi adalah banyaknya destinasi yang bisa dikombinasikan.
Sapa
Untuk gunung, Fansipan, trekking, dan udara dingin.
Halong Bay
Untuk cruise dan landscape limestone.
Ninh Binh
Untuk sungai, karst, sawah, dan Trang An atau Tam Coc.
Ha Giang
Kalau punya waktu lebih dan suka road trip.
Mai Chau
Untuk countryside dan suasana yang lebih tenang.
Menurut saya kalau pertama kali ke Vietnam, tidak perlu memaksakan Hanoi + Da Nang + Ho Chi Minh City dalam satu trip pendek.
Hanoi saja sudah punya banyak cabang perjalanan.
Dari Bandara Noi Bai ke Pusat Hanoi
Bandara utama Hanoi adalah Noi Bai International Airport, yang berada di luar pusat kota.
Pilihan menuju kota antara lain:
- taxi,
- ride-hailing,
- airport transfer,
- bus,
- atau kendaraan yang sudah diatur hotel atau tour.
Karena saya bepergian dalam grup, transportasi kami memang lebih banyak sudah diatur sebelumnya.
Kalau traveling sendiri atau berdua, pilihan transportasi bisa berbeda.
Untuk artikel evergreen, saya sengaja tidak mengunci harga karena tarif berubah.
Yang penting jangan hanya melihat jaraknya di Google Maps lalu menganggap bandara berada “dekat” Old Quarter.
Sisakan waktu cukup, terutama saat kembali ke bandara.
Menginap di Mana di Hanoi?
Dalam perjalanan ini saya menginap di Luxor Boutique Hotel.
Untuk itinerary pendek, saya lebih mementingkan lokasi daripada hotel yang terlalu resort-like.
Karena hampir sepanjang hari berada di luar.
Yang penting:
- tidur nyaman,
- lokasi praktis,
- mudah mendapat transportasi,
- gampang kembali setelah seharian jalan.
Kalau baru pertama kali ke Hanoi, menurut saya area Hoan Kiem atau Old Quarter termasuk pilihan paling praktis karena banyak attraction dan tempat makan bisa dicapai dengan berjalan kaki.
Waktu Terbaik ke Hanoi
Hanoi punya perubahan musim yang lebih terasa dibanding Vietnam Selatan.
Secara umum, musim semi dan musim gugur sering dianggap periode yang nyaman, sedangkan musim panas bisa panas dan lembap serta musim dingin bisa cukup dingin.
Kalau perjalanan juga mencakup Sapa dan Halong Bay seperti saya, jangan hanya mengecek cuaca Hanoi.
Cek tiga-tiganya.
Karena bisa sangat berbeda.
Apakah Hanoi Worth It?
Menurut saya iya.
Tapi jangan datang mengharapkan kota yang rapi dan polished seperti Singapore.
Hanoi bukan itu.
Pesonanya justru ada pada sedikit kekacauan tadi.
Kehidupan jalan.
Makanan.
Kopi.
Bangunan lama.
Dan fakta bahwa di tengah semua keramaian, kita tetap bisa menemukan danau, temple, dan café yang membuat tempo kota mendadak melambat.
Saya juga merasa Hanoi adalah kota yang semakin menarik setelah kita berhenti mengejar checklist.
Kalau cuma berpindah dari attraction A ke B ke C, mungkin cepat capek.
Coba sisakan waktu untuk jalan tanpa tujuan.
Ngopi.
Makan.
Duduk di Hoan Kiem.
Lihat orang lewat.
Masuk gang yang kelihatannya menarik.
Buat saya justru di situ Hanoi mulai terasa.
Kalau Kembali ke Hanoi, Apa yang Akan Saya Lakukan Berbeda?
Saya akan memberi kota ini waktu lebih banyak.
Waktu perjalanan pertama, Hanoi menjadi semacam titik awal dan akhir.
Datang.
Jalan.
Lanjut Sapa.
Kembali.
Lanjut Halong Bay.
Jadi banyak bagian kota yang hanya saya lihat sekilas.
Kalau kembali, mungkin saya tidak akan menambah banyak attraction.
Justru saya ingin:
lebih banyak café hopping,
makan tanpa buru-buru,
jalan kaki di Old Quarter pagi hari,
melihat lebih banyak sisi French Quarter,
dan mungkin punya satu hari tanpa itinerary.
Karena setelah perjalanan pertama, saya merasa Hanoi bukan kota yang harus “ditaklukkan”.
Lebih enak dinikmati sedikit demi sedikit.
Ada kota yang langsung membuat kita berkata, “wah, cantik.”
Hanoi tidak begitu buat saya.
Hanoi justru datang pelan.
Awalnya ramai.
Agak bikin bingung.
Motor terlalu banyak.
Menyeberang jalan bikin mikir.
Lalu beberapa jam kemudian saya mulai menikmati semuanya.
Dan ketika perjalanan selesai, baru terasa:
oh, saya ternyata suka Hanoi.
Mungkin justru karena kota ini tidak mencoba terlalu keras untuk membuat saya suka.
Ia jalan saja seperti biasa.
Kita yang pelan-pelan menyesuaikan diri.
