Pecel Menangan Solo
Pecel Menangan Solo, Pecel dengan Sayuran yang Bikin Saya Bingung Milih

Kalau sedang pergi sama suami, ada satu jenis makanan yang kemungkinan besar akan dicari.
Pecel.
Entah kenapa tiap ke kota mana pun, kalau ada pecel yang katanya enak, pasti dia tertarik.
Termasuk waktu kami ke Solo.
Waktu itu sebenarnya kami ke sana sekalian nengokin keponakan. Seperti biasa, urusan makan langsung mulai ditanyakan.
“Pecel di Solo yang enak di mana?”
Lalu ada yang menyarankan Pecel Menangan, di daerah Pasar Kliwon.
Ya sudah.
Berangkat.
Saya sendiri sebenarnya juga suka pecel. Jadi nggak perlu dibujuk terlalu keras.
Cuma selera sambal kami berdua beda jauh.
Suami saya nggak suka pedas.
Saya malah kalau nggak pedas rasanya seperti ada yang kurang.
Untung nanti ternyata di Pecel Menangan masalah rumah tangga kecil ini ada solusinya.
Hahaha.
Pecel Menangan yang Masuk ke Dalam Kampung
Lokasinya bukan persis di jalan besar.
Kami harus masuk sedikit ke kawasan Kampung Menangan, di sekitar Jalan Citarum, Joyosuran.
Waktu itu ternyata lokasinya dekat sekali dari rumah keponakan.
Tempat makannya sederhana.
Nggak besar.
Bukan restoran pecel yang dibuat cantik untuk foto-foto, tapi warung makan yang dari luar saja sudah kelihatan kalau fokus utamanya memang makanan.
Saat kami datang, jam makan siang sudah agak lewat sehingga nggak terlalu ramai.
Saya malah senang.
Bisa lihat-lihat dengan lebih santai.
Sekarang alamat lengkapnya tercatat di Jl. Citarum No. 34, Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta. Tempatnya masih aktif dan ulasan terbaru masih banyak menyebut sayurannya yang lengkap, pilihan nasi merah, serta lauk yang lumayan banyak. Wanderlog
Pecel Menangan Sudah Jualan Sejak Sekitar 1985
Cerita warung ini ternyata lumayan panjang.
Pemiliknya, Bu Suparmi, pernah bercerita bahwa awalnya beliau berjualan makanan Jawa secara keliling. Baru sekitar 1985 mulai fokus menjual pecel. Jelajah Langkah
Nama “Menangan” sendiri diambil dari nama kampung tempat warungnya berada.
Yang membuat pecelnya kemudian berbeda ternyata datang dari kebiasaan keluarga Bu Suparmi yang memang suka makan sayuran.
Mereka mencoba macam-macam kombinasi sayur sampai akhirnya pecelnya terkenal punya pilihan sayuran yang jauh lebih banyak daripada pecel yang biasa saya lihat. Dalam wawancara lama, Bu Suparmi menyebut jumlahnya bisa mencapai sekitar 15 macam sayuran. Jelajah Langkah
Nah, bagian ini yang waktu datang langsung bikin saya:
“Wah, lengkap banget.”
Mau Nasi Putih atau Nasi Merah?
Begitu sampai ke bagian pemesanan, kita tinggal pilih.
Mau nasi putih atau nasi merah.
Kemudian pilih sayuran.
Lalu bumbu.
Lalu lauk.
Kelihatannya sederhana.
Tapi kalau orangnya seperti saya, bagian lauk ini bisa lama.
Hahaha.
Pilihan nasi merah masih tersedia sampai sekarang. Menu terbaru juga masih mencantumkan nasi pecel putih, nasi pecel merah, nasi tumpang, gudangan, sampai pecel tanpa nasi. MenuKuliner
Saya suka pilihan nasi merah seperti ini.
Bukan karena sedang sok sehat.
Lebih karena rasanya memang cocok dengan pecel.
Walaupun teori sehatnya kemudian agak rusak begitu sampai bagian gorengan.
Yang Bikin Beda: Sayurannya Banyak Banget
Kalau dilihat sepintas, ya memang pecel.
Nasi.
Sayuran.
Sambal kacang.
Mau difoto dari sudut mana pun bentuk dasarnya tetap pecel.
Tapi yang bikin Pecel Menangan menarik buat saya adalah pilihan sayurnya.
Waktu saya datang ada bayam, daun pepaya, daun singkong, krokot, kemangi, kol, kenikir, kecipir, mentimun, tauge, lembayung, kacang panjang, bunga turi dan beberapa sayuran lain.
Saya sampai melihat satu-satu.
Karena jujur saja, nggak semua sayur saya langsung tahu namanya.
Dan ini bagian yang saya suka dari makan pecel.
Orang sering bilang pecel itu makanan sederhana.
Memang.
Tapi coba lihat isi sayurnya.
Bisa macam-macam banget.
Ada daun yang mungkin kita nggak pernah sengaja masak sendiri di rumah, tetapi begitu masuk pecel ternyata enak.
Ulasan pengunjung terbaru juga masih konsisten menyebut banyaknya variasi sayur sebagai salah satu ciri Pecel Menangan. Wanderlog
Bunga Turi yang Saya Suka
Sebelum masuk warung, saya melihat seorang bapak sedang duduk memotong-motong sesuatu.
Saya langsung penasaran.
Ternyata:
bunga turi.
Saya suka bunga turi.
Rasanya agak susah dijelaskan. Ada tekstur dan sedikit rasa khas yang membuat pecel jadi lebih menarik daripada kalau isinya cuma sayur-sayuran yang umum.
Dan ternyata bapak yang sedang menyiapkan bunga turi tadi juga membantu parkir di depan.
Multitasking sekali.
Hahaha.
Saya malah sempat sibuk foto-foto bunga turinya.
Beginilah kalau blogger sudah ketemu bahan makanan.
Orang lain mungkin tinggal makan.
Saya dulu harus foto dulu.
Nah, Bumbu Pecelnya Ini yang Menyelamatkan Kami
Seperti yang saya bilang tadi, urusan pedas saya dan suami hampir selalu bertolak belakang.
Saya suka pedas.
Dia nggak.
Di Pecel Menangan, sambal pecelnya bisa dipilih tingkat pedasnya.
Waktu kami datang ada beberapa pilihan dari yang nggak pedas sampai yang cukup pedas.
Jadi nggak perlu salah satu mengalah.
Win-win solution.
Sampai sekarang sistem pilihan tingkat pedas ini masih tercantum pada menu mereka. Nasi pecel putih maupun merah bisa dipesan dengan bumbu pedas, sedang, atau tidak pedas sama sekali. Ada juga pilihan bumbu wijen. MenuKuliner
Ini menurut saya detail kecil, tapi berguna.
Karena bumbu pecel itu kalau terlalu pedas buat orang yang nggak tahan pedas, ya selesai sudah.
Sebaliknya buat saya, kalau sambalnya terlalu manis tanpa ada tendangan cabai sedikit…
rasanya kurang seru.
Pecelnya Sehat, Gorengannya yang Menggoda
Kalau cuma melihat semangkuk sayuran, kita bisa merasa sangat sehat.
Bayam.
Kacang panjang.
Kenikir.
Bunga turi.
Nasi merah.
Wah.
Kemudian menoleh sedikit.
Ada tempe mendoan.
Bakwan.
Tahu.
Tempe bacem.
Peyek.
Telur.
Dan macam-macam lauk lain.
Selesai sudah niat sehatnya.
Hahaha.
Saya memang merasa pecel tanpa gorengan agak kurang lengkap.
Masalahnya bukan mengambil satu.
Kadang dua.
Tiga.
Tahu-tahu lauk di piring lebih banyak daripada sayurnya.
Menu terbaru Pecel Menangan masih mencantumkan berbagai lauk seperti tempe mendoan, tempe dan tahu bacem, bakwan, telur ceplok, telur dadar, peyek, botok, belut sampai tempe gembus. MenuKuliner
Jadi godaannya rupanya masih ada sampai sekarang.
Saya Malah Minta Masuk Dapur
Nah, ini kebiasaan saya yang kadang mungkin bikin orang lain heran.
Saya suka lihat dapur.
Bukan mau inspeksi.
Penasaran saja.
Saya suka tahu makanan yang sedang saya makan dibuat seperti apa.
Jadi waktu itu saya tanya:
“Bu, boleh nggak saya lihat-lihat dapurnya?”
Ternyata boleh.
Ya sudah.
Masuk.
Hahaha.
Di dapur saya melihat tempe yang masih dibungkus daun.
Ada tempe mendoan yang sedang digoreng.
Ada juga tempe garit.
Kalau disuruh pilih, saya tetap tim mendoan.
Saya nggak terlalu tertarik tempe yang terlalu kering. Mendoan panas yang masih lembek sedikit itu buat saya lebih susah ditolak.
Ada sukun goreng juga.
Lalu saya melihat kacang tanah yang nantinya dipakai untuk membuat bumbu pecel.
Sebenarnya nggak ada proses ajaib di sana.
Dapur warung.
Orang memasak.
Menggoreng.
Menyiapkan bahan.
Tapi buat saya justru bagian seperti ini yang bikin sebuah tempat makan lebih gampang diingat.
Saya jadi tahu di balik piring yang lima belas menit kemudian habis, tadi ada banyak orang yang sudah sibuk sejak pagi.
Harga Pecel Menangan Sekarang
Waktu saya datang dulu, saya menulis harga seporsi pecel sekitar Rp8.000-an.
Nah, angka itu sekarang sudah lewat.
Data menu yang diperbarui September 2026 mencantumkan kira-kira:
- nasi pecel putih sekitar Rp11.000
- nasi pecel merah sekitar Rp12.000
- nasi pecel putih dengan bumbu wijen sekitar Rp13.000
- nasi tumpang putih sekitar Rp11.000
- lauk sederhana seperti tahu, tempe atau bakwan sekitar Rp2.000-an
- paket nasi pecel plus teh mulai sekitar Rp20.000. MenuKuliner
Tapi saya tetap nggak menyarankan menjadikan daftar ini patokan mati.
Harga bisa berubah, terutama kalau artikel ini masih dibaca beberapa tahun lagi.
Yang jelas, secara kategori Pecel Menangan masih termasuk tempat makan yang cukup ramah di kantong. Listing bisnis terbarunya juga masih menempatkan kisaran harga umum di bawah Rp25.000 per orang sebelum tambahan lauk berlebihan. Dan bagian “tambahan lauk berlebihan” itu saya tujukan terutama untuk diri sendiri.
Jam Buka Pecel Menangan
Ini juga perlu diperbarui dari artikel lama.
Dulu saya menulis buka pukul 06.00–14.00.
Informasi terbaru sekarang mencantumkan:
Senin–Sabtu: sekitar 06.00–15.00 WIB
Minggu: tutup. Wanderlog
Kalau mau pilihan sayur dan lauk lebih lengkap, saya pribadi tetap akan datang pagi atau menjelang makan siang.
Jangan terlalu sore.
Pecel itu menurut saya memang makanan pagi sampai siang.
Jam dua sudah mulai memikirkan kopi.
Entah kenapa.
Lokasinya Nggak di Jalan Besar, Tapi Gampang Dicari
Alamat lengkapnya:
Jl. Citarum No. 34, Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57116. Wanderlog
Warungnya agak masuk dari jalan besar, jadi pertama kali datang mungkin ada sedikit rasa:
“Bener lewat sini?”
Iya.
Ikuti Maps saja.
Parkirnya juga bukan tipe parkiran restoran besar. Jadi kalau datang saat jam ramai dengan mobil, kemungkinan harus sedikit sabar.
Waktu kami datang aman karena sudah lewat makan siang.
Sebenarnya Apa yang Saya Suka dari Pecel Menangan?
Saya pikir-pikir lagi, bukan karena pecelnya dibuat aneh atau jauh berbeda dari pecel lain.
Justru tetap pecel yang saya kenal.
Nasi.
Sayur rebus.
Sambal.
Lauk.
Tapi sayurannya niat banget.
Banyak jenisnya.
Ada beberapa yang nggak selalu gampang ditemukan di tempat pecel lain.
Lalu bisa pilih nasi merah, bisa pilih tingkat pedas, lauknya macam-macam.
Dan buat saya yang suka melihat makanan tradisional apa adanya, tempat seperti ini memang menyenangkan.
Bukan makanan yang harus dijelaskan panjang lebar supaya terdengar istimewa.
Dimakan saja.
Kalau habis, berarti enak.
Waktu itu pecel kami berdua habis.
Cepat pula.
Lapar atau enak?
Ya dua-duanya mungkin.
Kalau ke Solo Lagi, Mau Balik?
Mau.
Apalagi suami.
Saya yakin kalau ditanya mau sarapan pecel atau bukan, jawabannya sudah ketebak.
Dan kalau balik lagi saya sebenarnya penasaran mau mencoba nasi tumpang atau bumbu wijennya, karena waktu kunjungan dulu fokus saya lebih ke pecel biasa.
Tapi saya tahu diri.
Kemungkinan akhirnya tetap pesan pecel, lalu lihat gorengan, ambil mendoan satu, tambah bakwan, lihat telur…
dan kembali gagal makan pecel dengan sehat.
Hahaha.
Kalau kalian suka pecel dan sedang mencari kuliner di Solo yang nggak ribet, harganya masih masuk akal, dan sayurannya jauh lebih beragam daripada pecel yang biasa kita temukan, Pecel Menangan menurut saya masih menarik untuk dicoba.
Datangnya jangan hari Minggu.
Dan kalau kalian suka pedas seperti saya, pilih sambal yang pedas sekalian.
Suami saya silakan tetap di jalur aman.
