Tradisi Sungkeman Adat Jawa
Tradisi Sungkeman Adat Jawa, Bukan Sekadar Bersimpuh dan Minta Maaf.
Belakangan ini saya sedang banyak menulis tentang Solo.
Mulai dari Pasar Triwindu, kuliner, sampai tempat-tempat yang rasanya sangat Jawa begitu kita sampai di sana. Lalu entah kenapa saya jadi kepikiran satu tradisi yang hampir selalu muncul kalau bicara tentang keluarga Jawa.
Sungkeman.
Saya rasa hampir semua orang Indonesia pernah melihatnya, meskipun mungkin tidak semua keluarga melakukannya.
Seorang anak bersimpuh di depan orang tua. Kepala ditundukkan. Tangan orang tua digenggam atau dicium. Kadang ada kata-kata yang sudah disiapkan, kadang baru dua kalimat sudah berhenti karena keburu nangis.
Kalau di acara pernikahan, biasanya bagian ini yang sukses membuat suasana mendadak sunyi.
Padahal lima menit sebelumnya masih sibuk foto pengantin.
Dan ternyata kalau ditelusuri lebih jauh, sungkeman bukan sekadar adegan mengharukan dalam pernikahan Jawa. Ada cerita panjang tentang bakti kepada orang tua, meminta maaf, meminta restu, sampai hubungan tradisi Jawa dengan kehidupan di keraton Surakarta.
Apa Sebenarnya Sungkeman Itu?
Kata sungkem dalam bahasa Jawa mempunyai makna sujud atau tanda bakti dan hormat.
Dalam praktiknya, sungkeman dilakukan oleh seseorang kepada orang yang lebih tua atau sangat dihormati dengan mengambil posisi lebih rendah, biasanya bersimpuh atau berlutut, lalu menyampaikan penghormatan, permohonan maaf, atau meminta doa restu.
Pura Mangkunegaran menjelaskan sungkeman sebagai tradisi yang mempertemukan nilai bakti dalam budaya Jawa dengan semangat saling memaafkan yang kemudian tumbuh bersama tradisi Islam di Jawa.
Mungkin karena itu sungkeman terasa sangat sederhana kalau hanya dilihat gerakannya.
Duduk.
Bersimpuh.
Salim.
Selesai.
Tapi secara emosional ternyata berat.
Kita menempatkan diri lebih rendah di depan orang yang selama ini membesarkan, mendidik, atau dituakan. Lalu mengakui bahwa kita pernah salah dan masih membutuhkan doa mereka.
Buat saya, mungkin justru itu inti sungkeman yang paling mudah dipahami.
Ada momen ketika ego disuruh minggir sebentar.
Ternyata Sungkeman Punya Jejak Kuat di Solo
Nah, ini bagian yang membuat saya merasa artikel ini pas sekali ditulis setelah membahas Solo.
Kalau mencari sejarah sungkeman, kita akan menemukan beberapa versi. Jadi saya pribadi kurang suka kalau langsung mengatakan, “Sungkeman pertama kali diciptakan oleh si A pada tahun sekian.”
Tradisi kan jarang sesederhana itu.
Tetapi catatan Pura Mangkunegaran memang memperlihatkan bahwa sungkeman sudah dikenal pada masa K.G.P.A.A. Mangkoenagoro I, yang memerintah pada 1757–1795.
Menurut Pura Mangkunegaran, setelah salat Idulfitri Mangkoenagoro I mengumpulkan para punggawa dan prajurit di balai istana. Mereka kemudian mencium tangan dan lutut Mangkoenagoro I sebagai bentuk bakti dan penghormatan. Pertemuan bersama itu juga lebih praktis karena tidak perlu saling mendatangi satu per satu.
Saya suka bagian ini.
Karena di balik tradisi yang sekarang kelihatannya sangat seremonial, ternyata ada alasan yang cukup praktis juga:
biar nggak perlu keliling satu-satu.
Hahaha.
Dari lingkungan keraton dan bangsawan, tradisi sungkeman kemudian semakin luas dilakukan masyarakat Jawa.
Sumber lain juga menghubungkan perkembangannya dengan lingkungan Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, Yogyakarta, dan Pakualaman, meskipun tata caranya dapat berbeda mengikuti adat masing-masing.
Jadi memang masuk akal kalau sungkeman terasa sangat dekat dengan budaya Solo.
Bahkan sampai sekarang, sungkeman tetap ada dalam upacara resmi di Pura Mangkunegaran. Dalam rangkaian Tingalan Jumenengan Mangkunegara X, misalnya, keluarga dan abdi dalem melakukan sungkeman sebagai bentuk penghormatan kepada pemimpin Mangkunegaran.
Artinya tradisi ini tidak cuma hidup di foto pernikahan atau acara Lebaran keluarga.
Di lingkungan budaya Surakarta sendiri masih dijalankan.
Makna Sungkeman yang Sebenarnya
Kalau disederhanakan, mungkin orang akan mengatakan:
“Sungkeman itu minta maaf sama orang tua.”
Benar.
Tapi ternyata ada lebih banyak lapisan di dalamnya.
Menghormati Orang Tua
Yang paling jelas tentu penghormatan.
Dalam sungkeman, orang yang lebih muda mengambil posisi tubuh lebih rendah. Bukan karena dianggap lebih tidak penting, tetapi sebagai simbol bahwa ia sedang memberi penghormatan kepada orang tua atau orang yang dituakan.
Dalam beberapa tulisan tentang budaya Jawa, sikap semacam ini sering dikaitkan dengan andhap asor, yaitu kemampuan merendahkan hati dalam berhubungan dengan orang lain.
Dan saya rasa ini salah satu hal yang masih sangat terasa dalam budaya Jawa.
Cara bicara ada tingkatannya.
Cara duduk di depan orang yang lebih tua diperhatikan.
Bahkan lewat di depan orang tua saja biasanya otomatis sedikit membungkuk sambil bilang:
“Nuwun sewu.”
Tubuh ikut bicara.
Sungkeman mungkin bentuk yang paling jelas dari itu.
Meminta Maaf
Bagian kedua adalah permohonan maaf.
Dalam sungkeman Lebaran, ini malah menjadi inti yang paling terlihat. Anak meminta maaf kepada orang tua atas ucapan dan perilaku yang mungkin menyakiti hati.
Dalam pernikahan pun demikian.
Sebelum memulai kehidupan sebagai sebuah keluarga baru, pengantin meminta maaf atas kesalahan kepada orang tuanya.
Rasanya sederhana ketika ditulis.
Begitu dilakukan?
Belum tentu semudah itu.
Kadang justru kata-kata sederhana seperti, “Maaf ya, Bu,” jauh lebih susah diucapkan daripada pidato panjang.
Minta Doa dan Restu
Ini yang sangat kuat dalam sungkeman pernikahan.
Kedua pengantin bukan hanya mengucapkan terima kasih dan meminta maaf, tetapi juga meminta pangestu, atau restu.
Dalam tradisi perkawinan Jawa, sungkeman menjadi salah satu bagian akhir dari rangkaian prosesi adat. Penelitian mengenai adat pernikahan di Surakarta mencatat sungkeman bersama panggih dan sejumlah ritual lain sebagai bagian yang masih digunakan dalam resepsi pernikahan Jawa di kota tersebut.
Seolah sebelum berjalan lebih jauh sebagai pasangan suami-istri, keduanya berhenti sebentar.
Menoleh ke orang tua.
Lalu bilang:
Kami akan mulai hidup sendiri. Tolong doakan.
Kalau dipikir-pikir, memang bikin haru.
Sungkeman dalam Pernikahan Adat Jawa
Ini mungkin bentuk sungkeman yang paling sering kita lihat sekarang.
Biasanya dilakukan dalam rangkaian panggih, yaitu pertemuan pengantin setelah akad atau upacara pernikahan.
Urutan detailnya bisa berbeda antara keluarga, gaya Surakarta, gaya Yogyakarta, dan adat yang sudah disesuaikan dengan kebiasaan keluarga masing-masing. Jadi saya tidak mau menulis seolah ada satu urutan yang berlaku mutlak untuk semua orang Jawa.
Namun secara umum, kedua mempelai akan bersimpuh di depan orang tua.
Dalam sejumlah tata upacara pernikahan Jawa, sungkeman dimulai kepada orang tua pengantin perempuan, kemudian dilanjutkan kepada orang tua pengantin laki-laki. Pengantin mencium tangan atau mendekatkan kepala ke lutut orang tua sambil meminta maaf dan memohon restu.
Ada satu detail yang baru saya sadari setelah membaca lebih jauh.
Dalam tata upacara tradisional, keris pengantin pria biasanya dilepas ketika sungkeman.
Dinas Kebudayaan DIY mencatat sungkeman setelah panggih disertai dengan lolos duwung, yaitu melepas keris untuk sementara. Kajian tentang filosofi pernikahan Jawa juga menjelaskan simbolnya: meskipun seseorang memiliki kekuatan, ketika berada di hadapan orang tua ia tetap menundukkan diri.
Saya suka simbol yang satu ini.
Tidak perlu kalimat panjang-panjang.
Senjata ditaruh dulu.
Baru menghadap orang tua.
Pesannya sudah jelas.
Kenapa Sungkeman Pernikahan Sering Bikin Nangis?
Sebenarnya nggak ada aturan yang mengatakan sungkeman harus menangis.
Kalau nggak nangis ya nggak apa-apa.
Nggak berarti kurang sayang.
Tapi saya bisa mengerti kenapa bagian ini sering jadi momen paling emosional dalam pernikahan.
Seharian pengantin biasanya sibuk.
Makeup sejak subuh.
Akad.
Foto.
Ketemu banyak orang.
Ada MC.
Ada fotografer.
Ada rundown.
Lalu tiba-tiba harus duduk di depan ayah dan ibu.
Semua suara seperti mengecil.
Kemudian diminta mengucapkan terima kasih karena sudah dibesarkan sejak kecil.
Ya susah juga kalau nggak teringat macam-macam.
Apalagi kalau orang tua kemudian menjawab dengan doa.
Sudah.
Biasanya maskara mulai terancam.
Sungkeman Saat Lebaran, Suasananya Agak Berbeda
Kalau sungkeman pernikahan terasa sangat seremonial, sungkeman Lebaran biasanya lebih sederhana.
Setelah salat Idulfitri, keluarga berkumpul. Orang tua atau anggota keluarga yang paling tua duduk, lalu anak-anak dan keluarga yang lebih muda datang bergantian meminta maaf.
Tradisi ini masih tercatat sebagai bagian dari perayaan Idulfitri masyarakat Jawa. Dinas Kebudayaan DIY, misalnya, mendokumentasikan kebiasaan setelah salat Id, ketika keluarga melakukan sungkeman kepada orang tua atau orang yang lebih tua sebelum kemudian bersilaturahmi dengan tetangga dan kerabat.
Nah, kalau yang ini saya rasa banyak keluarga punya versi sendiri.
Ada yang sungkemnya serius banget.
Pakai Bahasa Jawa Krama.
Lama.
Satu orang bisa beberapa menit.
Ada juga yang:
“Nyuwun pangapunten nggih, Pak, Bu.”
Salim.
Peluk.
Sudah.
Lalu lima menit kemudian rebutan opor.
Hahaha.
Menurut saya dua-duanya tidak masalah.
Yang penting bukan seberapa panjang teksnya.
Harus Pakai Bahasa Jawa Krama?
Kalau keluarga memang terbiasa memakai Bahasa Jawa, sungkeman sering disampaikan menggunakan Krama sebagai bentuk kesopanan kepada orang yang lebih tua.
Banyak contoh ucapan sungkem Lebaran juga menggunakan Bahasa Jawa halus.
Tapi menurut saya jangan sampai tradisinya malah kehilangan rasa karena kita terlalu sibuk menghafal kalimat yang tidak kita pahami.
Tidak ada salahnya memakai Bahasa Indonesia kalau memang itu bahasa yang sehari-hari digunakan keluarga.
Yang penting isi pesannya.
Kalau ingin menggunakan Bahasa Jawa sederhana, kurang lebih bisa seperti:
“Bapak, Ibu, kula nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kula. Matur nuwun sanget. Kula nyuwun donga saha pangestu.”
Kurang lebih artinya:
“Bapak, Ibu, saya meminta maaf atas semua kesalahan saya. Terima kasih banyak. Saya mohon doa dan restunya.”
Pendek.
Nggak perlu dibuat seperti pidato.
Kalau setelah kalimat kedua sudah nangis, ya sudah.
Sisanya bisa dilanjutkan sambil pelukan.
Sungkeman Tidak Hanya Ada Saat Pernikahan dan Lebaran
Ini juga menarik.
Dua momen yang paling populer memang pernikahan dan Idulfitri, tetapi praktik sungkem sebenarnya bisa muncul dalam beberapa upacara Jawa lain.
Misalnya dalam ruwatan, seseorang dapat melakukan sungkem kepada orang tua sebelum menjalani rangkaian ritual. Balai Pelestarian Kebudayaan Yogyakarta pernah mendokumentasikan sungkeman sebagai pembuka dalam Ruwatan Sukerta.
Di Mangkunegaran sendiri, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, sungkeman juga masih menjadi bagian dari Tingalan Jumenengan.
Jadi sebenarnya yang bertahan bukan cuma bentuk ritualnya.
Tetapi ide dasarnya:
memberi hormat kepada seseorang yang mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan kita.
Apakah Tradisi Sungkeman Sekarang Sudah Berubah?
Pasti.
Tradisi yang masih hidup biasanya memang berubah.
Pernikahan Jawa sekarang juga tidak selalu menjalankan seluruh prosesi seperti generasi sebelumnya. Kajian mengenai pernikahan di Surakarta menunjukkan bahwa perkembangan zaman, kondisi keluarga, dan keyakinan agama ikut membuat masyarakat memilih serta menyesuaikan rangkaian adat yang digunakan.
Ada yang melakukan panggih lengkap.
Ada yang hanya mengambil beberapa bagian.
Ada yang tetap sungkeman tetapi tanpa MC adat.
Ada yang memakai kebaya dan beskap lengkap.
Ada juga yang sungkeman setelah akad dengan pakaian modern.
Menurut saya justru nggak masalah.
Tradisi tidak harus membeku supaya dianggap asli.
Kalau nilai yang ingin disampaikan masih sama, bentuknya boleh menyesuaikan keluarga yang menjalankannya.
Saya malah lebih suka sungkeman yang sederhana tetapi sungguh-sungguh daripada semua tata cara dilakukan sempurna tetapi pengantinnya hanya sibuk memikirkan kapan harus melihat kamera.
Bagian yang Paling Saya Suka dari Sungkeman
Kalau melihat seluruh tata caranya, saya rasa bagian paling menarik dari sungkeman sebenarnya bukan ketika kepala menyentuh lutut atau tangan orang tua.
Tapi jeda yang dibuat oleh tradisi itu.
Dalam kehidupan normal, berapa sering kita sengaja duduk di depan orang tua dan bilang:
“Terima kasih sudah membesarkan saya.”
Atau:
“Maaf kalau selama ini saya banyak salah.”
Atau sekadar:
“Tolong doakan saya.”
Mungkin jarang.
Apalagi semakin besar.
Kadang ngobrol dengan orang tua malah lebih sering:
“Sudah makan?”
“Sudah.”
“Pulang jam berapa?”
“Nggak tahu.”
Selesai.
Hahaha.
Sungkeman memaksa kita berhenti sebentar dari percakapan sehari-hari seperti itu.
Dan mungkin justru itulah kenapa tradisi ini masih bertahan.
Dari Mangkunegaran Sampai Rumah Kita Sendiri
Setelah membaca sejarahnya, saya malah jadi melihat sungkeman dengan cara yang sedikit berbeda.
Awalnya saya menganggapnya sebagai salah satu ritual pernikahan adat Jawa.
Ternyata ceritanya jauh lebih luas.
Ada jejak Mangkunegaran.
Ada tradisi Lebaran.
Ada hubungan antara budaya Jawa dan kehidupan beragama.
Ada tata krama terhadap orang tua.
Lalu semuanya bertahan sampai sekarang, meskipun bentuknya sudah berubah mengikuti zaman.
Dan menariknya, untuk sebuah tradisi yang sudah berjalan begitu lama, inti sungkeman sebenarnya masih sangat sederhana.
Menghormati orang yang lebih tua.
Berani meminta maaf.
Mengucapkan terima kasih.
Dan meminta doa sebelum melangkah lebih jauh.
Tidak terlalu rumit, kan?
Mungkin yang rumit justru melakukannya.
Karena kadang mengatakan “maaf” dan “terima kasih” kepada orang yang paling dekat dengan kita malah lebih susah daripada mengatakannya kepada orang lain.
Itulah mungkin kenapa sungkeman tetap terasa istimewa.
Bukan karena harus memakai kebaya, beskap, blangkon, atau berada di dalam keraton.
Bahkan dilakukan sederhana di ruang tamu rumah pun maknanya tetap bisa sampai.
Asal sungguh-sungguh.
