Istana Gebang Blitar
Istana Gebang Blitar, Menelusuri Rumah Masa Remaja Bung Karno
Kalau datang ke Blitar dan tertarik dengan cerita tentang Bung Karno, biasanya ada dua tempat yang langsung masuk daftar kunjungan: Makam Bung Karno dan Istana Gebang.
Saya datang ke keduanya.
Dan ternyata suasananya sangat berbeda.
Di kawasan Makam Bung Karno kita lebih banyak bertemu cerita mengenai Bung Karno sebagai tokoh nasional. Ada makam, museum, perpustakaan, foto-foto perjalanan politik, dan berbagai dokumentasi sejarah.
Sementara begitu masuk ke Istana Gebang, rasanya lebih personal.
Di sini kita seperti masuk ke dalam rumah sebuah keluarga.
Ada ruang tamu, kamar tidur, ruang makan, meja kerja, dapur, sumur, sampai perabot yang dulu digunakan sehari-hari.
Saya justru suka bagian seperti ini.
Sejarah jadi terasa lebih dekat karena kita tidak hanya membaca nama dan tanggal, tetapi bisa melihat tempat seseorang pernah duduk, tidur, makan, menerima tamu, bahkan pulang ke rumah ketika liburan.
Dan ada satu informasi tentang Istana Gebang yang menurut saya perlu diluruskan.
Istana Gebang bukan rumah masa kecil Bung Karno.
Lebih tepat kalau disebut rumah keluarga Bung Karno yang berkaitan dengan masa remajanya.
Kenapa?
Karena keluarga Bung Karno mulai tinggal di rumah ini sekitar tahun 1917, ketika Bung Karno sudah berusia sekitar 16 tahun dan masih bersekolah di HBS Surabaya. A-DATA Kota Blitar
Nah, kalau ingin tahu seperti apa isi rumahnya, mari kita masuk.
Dan kali ini benar-benar home tour, karena saya keliling hampir ke seluruh bagiannya.
Sejarah Istana Gebang Blitar
Istana Gebang, atau sering disebut juga Ndalem Gebang, berada di kawasan Sananwetan, Kota Blitar.
Rumah ini mulai berkaitan dengan keluarga Bung Karno sekitar tahun 1917.
Menurut Katalog Museum Indonesia serta profil resmi Pemerintah Kota Blitar, rumah tersebut dibeli oleh Raden Poegoeh Wardoyo, suami Sukarmini yang merupakan kakak kandung Bung Karno, dari seorang pegawai perkeretaapian bernama Portier. Kedua orang tua Bung Karno kemudian tinggal di sini. Repositori Kemendikdasmen
Pada masa itu ayah Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, memang dipindahtugaskan dari Mojokerto ke Blitar sebagai guru.
Sementara Bung Karno masih bersekolah di HBS Surabaya.
Jadi beliau bukan tinggal penuh di Gebang seperti anak kecil yang tumbuh besar di rumah ini. Tetapi ketika pulang ke Blitar, terutama saat liburan, rumah inilah yang menjadi rumah keluarganya.
Itulah kenapa menurut saya istilah rumah masa remaja Bung Karno terasa lebih masuk akal.
Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901. Tahun 1917 berarti usianya sudah sekitar 16 tahun.
Sudah remaja banget kan.
Katalog Museum Indonesia juga mencatat bahwa bangunan ini pernah dipugar pada 1998, tetapi bentuk aslinya sebisa mungkin tetap dipertahankan. Pada 2011, kepemilikan Istana Gebang kemudian beralih kepada Pemerintah Kota Blitar dan selanjutnya dikembangkan sebagai museum serta destinasi wisata sejarah. Repositori Kemendikdasmen
Kenapa Disebut Istana Gebang?
Namanya memang terdengar megah.
Istana Gebang.
Padahal kalau datang ke sini, bentuk bangunannya lebih terasa seperti rumah keluarga besar bergaya kolonial daripada sebuah istana dalam pengertian yang kita bayangkan sekarang.
Saya malah suka menyebutnya rumah.
Karena ketika masuk, atmosfer rumahnya masih terasa.
Ada sofa, lemari, tempat tidur, meja rias, ruang makan, dapur sampai halaman belakang.
Sebagian masyarakat juga mengenalnya sebagai Ndalem Gebang atau dahulu sebagai rumah keluarga Wardoyo.
Sekarang, nama Istana Gebang sudah melekat sebagai salah satu tempat wisata sejarah paling dikenal di Blitar.
Alamat Istana Gebang Blitar
Lokasinya tidak sulit dicari.
Istana Gebang
Jl. Sultan Agung No. 59
Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur
Menurut informasi resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Blitar, lokasinya sekitar dua kilometer dari Stasiun Blitar. Visit Blitar Kota
Kalau sebelumnya sudah berkunjung ke Makam Bung Karno, menurut saya sekalian saja mampir ke sini.
Blitar tidak terlalu besar, jadi jarak antartempat wisata sejarahnya relatif nyaman ditempuh.
Tiket Masuk dan Jam Buka Istana Gebang
Waktu saya datang, tiket masuknya murah sekali. Kalau tidak salah hanya beberapa ribu rupiah.
Saya bahkan sampai lupa waktu itu Rp2.000 atau Rp5.000.
Maafkeun.
Hahaha.
Untuk artikel yang sekarang, saya justru tidak mau mencantumkan tarif lama sebagai harga terbaru karena bisa berubah.
Katalog Museum Indonesia pernah mencatat Istana Gebang buka setiap hari pukul 07.00–17.00 dan gratis, tetapi informasi resmi pariwisata Kota Blitar yang terbaru tidak mencantumkan tarif maupun jam operasional secara rinci. Jadi sebaiknya cek lagi informasi terbaru sebelum datang. Repositori Kemendikdasmen
Yang jelas, kalau saya kembali ke sini lagi, saya akan pilih datang agak pagi atau siang.
Kunjungan saya kemarin sudah cukup sore.
Langit bahkan mulai gelap karena sepertinya mau hujan.
Benar saja.
Tidak lama setelah saya selesai foto-foto di halaman depan, hujannya turun deras.
Untung sudah sempat foto.
Istana Gebang Masih Terasa Seperti Rumah
Ini bagian yang saya paling suka.
Begitu melihat bagian luarnya, saya langsung teringat dengan rumah Eyang saya di Purworejo.
Rumah-rumah lama seperti ini punya karakter yang khas.
Langit-langit tinggi, jendela besar, ruangan luas, teras panjang dan halaman yang lega.
Istana Gebang juga begitu.
Kompleksnya terdiri dari rumah utama dan beberapa bangunan lain di sekitarnya.
Pemerintah Kota Blitar menyebut kondisi interior, furnitur, lukisan dan foto sejarah di dalamnya masih dipertahankan sehingga pengunjung bisa melihat suasana rumah keluarga Bung Karno. Visit Blitar Kota
Pas masuk rasanya memang agak seperti datang bertamu ke rumah orang zaman dulu.
Bedanya, yang punya rumah Bung Karno.
Home Tour Istana Gebang
Nah, sekarang kita mulai bagian yang paling panjang.
Home tour.
Saya beruntung karena sore itu ditemani seorang pemandu bernama Mbak Elsa.
Dan Mbaknya ini ceritanya lancar banget.
Kami tinggal jalan sambil mendengarkan.
Jujur, kalau datang tanpa pemandu, mungkin saya hanya melihat lemari, meja atau kursi tua.
Begitu dijelaskan sejarahnya, barang-barang tadi jadi punya cerita.
Ruang Tamu Istana Gebang
Kita mulai dari ruang tamunya.
Ruangan depan Istana Gebang cukup luas.
Di dalamnya terdapat beberapa set kursi tamu bergaya lama, sebagian berupa kursi kayu dan rotan.
Jendela-jendela besar dengan model lama masih menjadi bagian yang paling menarik perhatian saya.
Di dinding juga terdapat banyak foto serta lukisan Bung Karno dan keluarganya.
Kalau rumah tua model begini berada di kota lain, mungkin sekarang sudah berubah jadi boutique hotel.
Hahaha.
Untung yang ini tidak.
Karena justru menarik melihatnya tetap sebagai rumah sejarah.
Kamar Bung Karno Saat Pulang ke Blitar
Dari ruang depan kami masuk ke salah satu kamar.
Di bagian ini terdapat kamar yang menurut penjelasan pemandu digunakan Bung Karno ketika pulang ke Blitar.
Tempat tidurnya masih model lama dengan kelambu putih.
Ada lemari kayu besar, meja rias dan beberapa foto lama di dinding.
Saya suka sekali meja riasnya.
Kayu zaman dulu entah kenapa selalu terlihat lebih kokoh. Bahkan setelah puluhan tahun masih bagus.
Melihat kamar seperti ini membuat saya baru benar-benar membayangkan Bung Karno bukan sebagai foto hitam putih dalam buku sejarah, tapi sebagai seorang remaja yang sesekali pulang ke rumah keluarganya.
Tidur.
Bangun pagi.
Makan.
Ngobrol.
Hal-hal biasa yang jarang muncul di buku pelajaran.
Ruang Tengah Keluarga
Setelah kamar, kami masuk ke ruang tengah.
Ruangannya juga besar.
Ada beberapa kursi, sofa dan sebuah kursi goyang tua.
Dan seperti biasa untuk museum seperti ini, jangan langsung duduk hanya karena kelihatannya nyaman.
Kursinya bukan buat rebahan setelah keliling.
Hahaha.
Sebagian furnitur merupakan koleksi lama yang memang harus dijaga.
Di bagian ini juga banyak foto keluarga.
Saya cukup lama berhenti melihat foto-fotonya karena justru dari foto keluarga seperti ini kita bisa melihat sisi kehidupan yang lebih personal.
Meja Kerja dan Mesin Ketik
Salah satu sudut yang saya suka adalah meja kerja milik Sukarmini, kakak Bung Karno.
Mesin ketiknya masih ada.
Di belakang meja terdapat banyak foto keluarga.
Entah kenapa mesin ketik selalu membuat saya tertarik.
Mungkin karena saya blogger.
Melihat mesin ketik rasanya seperti melihat nenek moyangnya laptop.
Bedanya kalau salah ketik zaman dulu nggak bisa langsung pencet delete.
Foto-Foto Keluarga Bung Karno
Kalau suka melihat foto sejarah, siapkan waktu agak lama di sini.
Ada banyak sekali foto keluarga dan dokumentasi kehidupan Bung Karno.
Foto kedua orang tuanya.
Foto keluarga.
Foto anak-anak Bung Karno.
Foto kunjungan keluarga.
Sampai berbagai dokumentasi lain yang berhubungan dengan kehidupan keluarga mereka.
Di artikel lama saya bahkan menulis tentang sebuah foto pemakaman Bung Karno yang dianggap sebagian pengunjung memperlihatkan semacam sinar putih.
Foto tersebut memang ada dalam koleksi yang saya lihat waktu itu.
Tapi setelah membaca lagi tulisan lama, saya rasa bagian seperti ini lebih baik ditempatkan sebagai cerita yang berkembang di kalangan pengunjung, bukan fakta sejarah.
Karena kita memang tidak tahu apa penyebab efek cahaya di fotonya.
Lebih baik jujur begitu.
Kamar Utama
Selanjutnya kami masuk ke kamar utama.
Menurut penjelasan pemandu saat itu, kamar ini dahulu digunakan oleh orang tua Bung Karno dan kemudian juga pernah digunakan Bung Karno ketika berada di Gebang.
Ruangan ini cukup besar.
Tempat tidur, lemari pakaian, meja rias, berbagai foto, serta beberapa benda pribadi masih tertata di dalamnya.
Kelambunya putih.
Lemari kayunya besar dengan cermin.
Dan seperti ruangan lain, suasananya terasa seperti rumah yang pemiliknya baru pergi sebentar.
Padahal kita sedang melihat benda dari masa yang sudah jauh sekali.
Tongkat Bung Karno
Di dalam koleksi rumah terdapat beberapa tongkat yang dikaitkan dengan Bung Karno.
Salah satu yang saya lihat memiliki gagang berwarna putih.
Ada tulisan tanggal 14 November 1932 pada bagian koleksinya.
Waktu itu saya sempat menebak gagangnya mungkin dari gading.
Tapi setelah dipikir lagi, kalau tidak ada informasi resmi mengenai bahannya, lebih baik tidak saya pastikan.
Jadi sekarang cukup kita sebut sebagai tongkat dengan gagang berwarna putih.
Aman.
Daripada sok tahu lalu salah.
Lorong dan Kamar di Samping Rumah
Dari ruang tengah ada lorong menuju bagian samping.
Sepanjang lorong masih banyak foto kegiatan Bung Karno.
Ada pula beberapa kamar yang menurut pemandu dahulu digunakan tamu atau rombongan ketika keluarga sedang berkumpul di Gebang.
Kompleks rumah ini memang jauh lebih besar daripada yang terlihat dari bagian depan.
Semakin masuk ke belakang, semakin terasa bahwa ini bukan hanya satu rumah induk.
Meja Rapat dan Cerita PETA Blitar
Di salah satu bagian belakang terdapat meja panjang dengan banyak kursi.
Pemandu kami waktu itu bercerita bahwa tempat ini mempunyai kaitan dengan peristiwa Pemberontakan PETA Blitar pada Februari 1945.
Nah, bagian ini saya revisi sedikit dari artikel lama.
Saya dulu menulis sangat spesifik bahwa Bung Karno memimpin rapat bersama Supriyadi dan beberapa tokoh PETA tepat di meja tersebut.
Setelah saya cek ulang, peristiwa Pemberontakan PETA Blitar pada 14 Februari 1945 memang merupakan bagian penting sejarah Blitar, tetapi saya belum menemukan sumber primer atau sumber resmi yang cukup kuat untuk memastikan bahwa rapat tertentu berlangsung tepat di meja ini.
Jadi sekarang saya lebih nyaman menuliskannya sebagai cerita yang disampaikan pemandu saat kunjungan, bukan sebagai fakta yang sudah pasti.
Menurut saya justru artikel sejarah harus begitu.
Kalau tahu, bilang tahu.
Kalau berasal dari cerita lokal, bilang berasal dari cerita lokal.
Ruang Makan
Berjalan semakin ke belakang kita menemukan ruang makan.
Posisinya memang dekat dengan area dapur.
Meja makan dan perabot di dalamnya masih mempertahankan nuansa rumah lama.
Tidak mewah berlebihan.
Justru terasa seperti rumah keluarga.
Dan ini yang membuat Istana Gebang berbeda dari museum biasa.
Kita tidak sedang melihat koleksi yang dipindahkan ke gedung museum modern.
Kita melihatnya di dalam konteks sebuah rumah.
Teras Belakang
Ini juga salah satu bagian yang saya suka.
Teras belakang.
Saya langsung bisa membayangkan orang-orang zaman dulu duduk sore di sini sambil ngobrol.
Rumah model lama memang selalu punya ruang transisi yang enak.
Tidak langsung dari ruang keluarga ke halaman.
Ada teras.
Ada bangku.
Ada angin.
Sederhana sih, tapi terasa nyaman.
Sumur Tua Istana Gebang
Di halaman belakang terdapat sebuah sumur tua.
Pada kunjungan saya, pemandu menceritakan berbagai kisah lokal tentang sumur ini.
Termasuk cerita tentang aroma bunga atau dupa pada waktu-waktu tertentu.
Cerita seperti itu memang sering muncul di tempat bersejarah.
Saya dengarkan saja.
Benar tidaknya?
Ya saya tidak tahu.
Dan saya rasa tidak perlu dipaksakan menjadi fakta.
Yang lebih menarik bagi saya justru keberadaan sumurnya sendiri, karena membantu kita melihat bagaimana kebutuhan sebuah rumah besar pada masa itu dipenuhi.
Dapur Lama
Dapur Istana Gebang juga masih bisa dilihat.
Ada bagian dapur lama dan ada area dapur yang kemudian digunakan untuk kebutuhan pengelola.
Dapur lama selalu menarik.
Soalnya bagian inilah yang biasanya paling jarang dibahas ketika kita membaca sejarah tokoh besar.
Padahal manusia tetap harus makan.
Hahaha.
Mau presiden, proklamator, guru, pejabat atau blogger, ujung-ujungnya tetap cari dapur.
Kamar Mandi Lama
Bahkan kamar mandinya masih ada.
Termasuk beberapa perlengkapan dan saklar model lama.
Saat melihat bagian ini saya malah senyum-senyum sendiri.
Karena kalau museum biasanya memamerkan benda keren, Istana Gebang sampai toiletnya pun jadi bagian dari perjalanan sejarah.
Tapi justru itu yang membuat pengalaman home tour-nya lengkap.
Untuk pengunjung tentu sudah tersedia fasilitas toilet yang lebih modern. Situs pariwisata resmi Kota Blitar juga mencatat keberadaan toilet umum serta fasilitas pendukung di kawasan ini. Visit Blitar Kota
Mobil Bung Karno
Di area garasi terdapat sebuah mobil Mercedes-Benz yang dikaitkan dengan Bung Karno.
Bagian depannya dilengkapi simbol Merah Putih.
Waktu melihatnya saya langsung berhenti cukup lama.
Mobil tua begini selalu fotogenik.
Apalagi sejarah pemiliknya jelas bukan biasa-biasa saja.
Gamelan dan Balai Kesenian
Kompleks Istana Gebang juga mempunyai gedung kesenian.
Di area ini terdapat seperangkat gamelan dan berbagai perlengkapan seni.
Sampai sekarang kawasan Istana Gebang masih digunakan untuk kegiatan budaya.
Misalnya, pada rangkaian Bulan Bung Karno, Pemerintah Kota Blitar masih menggunakan Istana Gebang sebagai salah satu lokasi kegiatan. Pada 6 Juni 2026, misalnya, di sini diselenggarakan tasyakuran memperingati hari lahir Bung Karno. Blitar Kota
Ini juga salah satu hal yang saya suka.
Bangunan bersejarahnya tidak cuma disimpan.
Masih ada kehidupan budaya di dalamnya.
Gong Perdamaian
Di kawasan Istana Gebang juga terdapat sebuah Gong Perdamaian.
Posisinya berada di luar rumah utama sehingga biasanya kita akan melihatnya ketika berkeliling kompleks.
Kalau datang tidak terburu-buru, sebaiknya memang keliling sampai ke bagian luar rumah.
Banyak benda menarik yang tidak berada di bangunan utama.
Bulan Juni dan Istana Gebang
Kalau ingin melihat Blitar dalam suasana yang berbeda, bulan Juni memang menarik.
Pemerintah Kota Blitar mengenalnya sebagai Bulan Bung Karno.
Ada tiga tanggal yang banyak dikaitkan dengan rangkaian peringatan tersebut:
- 1 Juni, Hari Lahir Pancasila
- 6 Juni, hari lahir Bung Karno
- 21 Juni, hari wafat Bung Karno
Pada 2026 pun rangkaian acara masih berlangsung di berbagai lokasi di Blitar, termasuk Istana Gebang dan kompleks Makam Bung Karno. Blitar Kota
Jadi saya koreksi sedikit artikel lama saya.
Dulu saya menulis haul Bung Karno setiap 6 Juni.
Yang benar, 6 Juni adalah hari lahir Bung Karno.
Sedangkan Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970, dan peringatan haul berkaitan dengan tanggal wafat tersebut. Blitar Kota
Nah, ini kenapa artikel lama memang bagus sesekali dibaca ulang.
Ada saja yang perlu dirapikan.
Souvenir di Istana Gebang
Di dekat bagian masuk terdapat area tempat pengunjung mengisi buku tamu sekaligus beberapa souvenir.
Saat saya datang pilihannya tidak terlalu banyak.
Ada beberapa buku dan salah satu yang paling ikonik tentu peci hitam, model yang sangat lekat dengan penampilan Bung Karno.
Saya tidak ingat akhirnya beli sesuatu atau tidak.
Kayaknya lebih sibuk foto.
Seperti biasa.
Berapa Lama Mengunjungi Istana Gebang?
Kalau hanya melihat rumah utama dengan cepat, mungkin sekitar 30 menit sudah selesai.
Tapi menurut saya sayang.
Kalau ingin benar-benar melihat kamar, membaca foto, mendengarkan cerita pemandu dan berkeliling sampai ke area belakang, sediakan sekitar 1–1,5 jam.
Saya sendiri cukup lama berada di sini.
Apalagi karena waktu itu ditemani Mbak Elsa.
Setiap masuk ruangan ada saja ceritanya.
Dan kami antusias mendengarkan.
Sampai kadang lupa foto.
Kadang juga sadar kamera.
Hahaha.
Istana Gebang atau Makam Bung Karno, Mana yang Sebaiknya Dikunjungi?
Menurut saya bukan pilih salah satu.
Kalau waktunya memungkinkan, datangi dua-duanya.
Karena pengalaman yang didapat berbeda.
Di kawasan Makam Bung Karno, kita bisa belajar lebih banyak mengenai perjalanan hidup, pemikiran, dan dokumentasi sejarah Bung Karno melalui makam, museum, serta Perpustakaan Proklamator Bung Karno.
Sedangkan Istana Gebang memperlihatkan sisi yang jauh lebih domestik.
Rumah.
Keluarga.
Kamar tidur.
Ruang makan.
Dapur.
Barang-barang sehari-hari.
Saya justru merasa keduanya saling melengkapi.
Tips Mengunjungi Istana Gebang
Kalau suatu hari ke sini, beberapa hal kecil ini mungkin berguna:
- datang pagi atau menjelang siang supaya punya waktu lebih panjang;
- kalau tersedia, ikut pemandu karena cerita tiap ruangan jadi jauh lebih menarik;
- jangan menyentuh atau menggunakan furnitur lama jika tidak diperbolehkan;
- luangkan waktu melihat foto-foto keluarga;
- keliling sampai area belakang, jangan hanya rumah utama;
- cek kembali jam buka sebelum datang;
- gabungkan kunjungan dengan Makam Bung Karno dan Perpustakaan Bung Karno.
Dan satu lagi.
Jangan datang terlalu mepet sore seperti saya kalau langit sudah gelap.
Nanti baru selesai foto, hujan turun.
Walaupun kalau begitu akhirnya punya cerita juga sih.
Apakah Istana Gebang Layak Dikunjungi?
Buat saya, Istana Gebang menjadi salah satu tempat yang paling berkesan selama perjalanan ke Blitar.
Bukan karena bangunannya paling megah.
Bukan juga karena koleksinya dibuat seperti museum modern.
Justru sebaliknya.
Tempat ini terasa sederhana dan personal.
Saya bisa berjalan dari ruang tamu ke kamar, dari ruang makan ke dapur, lalu keluar ke halaman belakang sambil membayangkan seperti apa kehidupan keluarga yang dulu tinggal di sini.
Dan entah kenapa, melihat rumah seseorang sering membuat kita merasa lebih dekat dengan sejarah dibanding hanya membaca biografinya.
Hari itu kami ditemani Mbak Elsa sepanjang sore.
Mbaknya sabar sekali menjelaskan satu per satu ruangan.
Terima kasih ya, Mbak Elsa.
Walaupun saya malah lupa foto bareng.
Akhirnya setelah lama berada di Istana Gebang, kami pun keluar.
Langit sudah benar-benar gelap.
Tidak lama kemudian hujan deras turun.
Dan saya cuma berpikir satu hal:
Untung tadi nggak menunda foto bagian depan.
Alhamdulillah, akhirnya bisa sampai juga ke salah satu rumah yang menyimpan begitu banyak cerita tentang keluarga Bung Karno di Blitar.
Blitar, Desember 2022.
Informasi Singkat Istana Gebang Blitar
Nama: Istana Gebang / Ndalem Gebang
Alamat: Jl. Sultan Agung No. 59, Sananwetan, Kota Blitar
Jenis wisata: Museum dan wisata sejarah
Berkaitan dengan: keluarga dan masa remaja Bung Karno
Mulai ditempati keluarga: sekitar 1917
Pengelola: Pemerintah Kota Blitar
Yang bisa dilihat: rumah utama, kamar, ruang keluarga, perabot, foto, koleksi keluarga, dapur, sumur, mobil, gamelan dan area kesenian
Waktu kunjungan: sekitar 1–1,5 jam
Catatan: cek kembali jam operasional dan ketentuan masuk sebelum berkunjung. Informasi resmi terbaru dari Visit Blitar masih mencantumkan Istana Gebang sebagai destinasi wisata Kota Blitar dengan interior, furnitur, foto sejarah dan fasilitas pengunjung. Visit Blitar Kota
