Candi Penataran Blitar
Candi Penataran Blitar, Menyusuri Jejak Kediri hingga Majapahit
Candi Penataran Blitar sebenarnya tidak masuk dalam rencana perjalanan yang terlalu serius waktu kami ke Blitar. Tapi karena lokasinya hanya sekitar 12 kilometer dari pusat kota dan tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap, rasanya kok sayang kalau dilewatkan.
Sudah sampai Blitar, masa Candi Penataran nggak dikunjungi?
Apalagi saya belum tahu kapan akan main ke Blitar lagi.
Sayangnya semangat itu rupanya hanya berlaku untuk saya dan suami. Anak-anak yang sudah kelelahan memilih anteng di mobil dan tidak tertarik ikut turun.
Ya sudah.
Nanti kalau suatu hari penasaran dengan Candi Penataran, mereka bisa baca tulisan ibunya saja. Itulah salah satu gunanya punya ibu blogger, hahaha.
Begitu masuk ke kawasannya, hal pertama yang saya rasakan justru bukan suasana candi yang megah seperti Borobudur atau Prambanan. Candi Penataran terasa lebih lapang. Bangunan candinya tersebar di beberapa bagian dengan halaman rumput luas di antaranya.
Padahal Candi Penataran merupakan kompleks percandian terbesar di Jawa Timur.
Dan semakin saya berjalan ke bagian belakang, semakin terasa bahwa tempat ini bukan sekadar satu bangunan candi. Candi Penataran merupakan sebuah kompleks keagamaan yang berkembang selama ratusan tahun, melewati masa Kerajaan Kadiri, Singasari, hingga Majapahit.
Jadi kalau sedang berwisata ke Blitar dan suka sejarah, rasanya tempat ini memang sayang untuk dilewatkan.
Sekilas Tentang Candi Penataran
Candi Penataran adalah kompleks percandian Hindu yang berada di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, di lereng barat daya Gunung Kelud.
Nama yang dikenal masyarakat sekarang adalah Candi Penataran atau Panataran. Namun dalam sumber sejarah, kawasan suci ini berkaitan dengan nama Palah.
Prasasti Palah yang ditemukan di kompleks ini berangka tahun 1119 Saka atau 1197 Masehi. Prasasti tersebut menjadi salah satu bukti tertua keberadaan tempat suci ini.
Yang menarik, kompleks Candi Penataran tidak dibangun sekaligus.
Bangunan-bangunan di dalamnya berasal dari periode yang berbeda dan terus mengalami perkembangan selama beberapa abad. Karena itulah ketika berjalan dari halaman depan sampai belakang, bentuk setiap bangunan tidak selalu sama.
Ada bangunan yang masih cukup utuh, ada yang tinggal bagian dasarnya, ada relief, arca, pendopo, sampai petirtaan.
Buat saya justru itu yang menarik.
Kita seperti berjalan melewati potongan-potongan sejarah yang dikumpulkan dalam satu kawasan.
Sejarah Candi Penataran
Sejarah Candi Penataran tidak bisa dipisahkan dari kerajaan-kerajaan besar yang pernah berkuasa di Jawa Timur.
Bukti tertua yang ditemukan di kompleks ini adalah Prasasti Palah bertahun 1197 Masehi. Masa tersebut berhubungan dengan pemerintahan Raja Srengga dari Kerajaan Kadiri.
Kompleks suci Palah kemudian terus digunakan dan dikembangkan pada masa berikutnya.
Ketika Kerajaan Majapahit mencapai kejayaannya, tempat ini juga masih mempunyai kedudukan penting. Dalam Nagarakretagama atau Desawarnana, Palah disebut sebagai salah satu tempat suci yang dikunjungi Raja Hayam Wuruk dalam perjalanan kerajaan mengelilingi wilayah Jawa Timur.
Saya langsung senyum sendiri waktu membaca bagian ini.
Berarti sejak zaman Majapahit sudah ada yang suka jalan-jalan keliling Jawa Timur juga.
Traveler kerajaan mungkin ya, hahaha.
Tentu tujuan perjalanan Hayam Wuruk saat itu bukan traveling seperti kita sekarang. Perjalanannya mempunyai kepentingan politik, keagamaan, dan pemerintahan. Tetapi catatan tersebut menunjukkan bahwa Palah memang mempunyai posisi penting pada masa Majapahit.
Kompleks Candi Penataran juga sering dikaitkan dengan pemujaan terhadap gunung. Letaknya yang berada di lereng Gunung Kelud bukan kebetulan.
Dalam kepercayaan Hindu Jawa kuno, gunung mempunyai kedudukan sakral. Gunung Kelud sendiri sejak dulu dikenal sebagai gunung berapi aktif, sehingga kawasan ini diduga berkaitan pula dengan ritual untuk memperoleh perlindungan dari kekuatan alam.
Kalau melihat Gunung Kelud dari kawasan ini, hubungan antara candi dan gunung memang terasa lebih masuk akal.
Candi Penataran Ditemukan Tahun 1815?
Dalam banyak tulisan, Candi Penataran disebut “ditemukan” pada tahun 1815.
Saya rasa istilahnya lebih tepat kalau disebut mulai dicatat dan diperkenalkan dalam laporan orang Eropa pada awal abad ke-19, karena tentu masyarakat di sekitar kawasan tersebut bukan berarti tidak mengetahui keberadaan candinya.
Pada 1815, kompleks Penataran mendapat perhatian pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles. Catatan mengenai situs ini kemudian ikut muncul dalam karya Raffles, The History of Java.
Setelah itu beberapa peneliti dan arkeolog mulai melakukan pencatatan serta penelitian lebih lanjut terhadap kompleks Penataran.
Untung juga akhirnya diteliti dan dirawat.
Bayangkan bangunan yang sudah berada di sini sejak lebih dari delapan abad lalu masih bisa kita datangi sekarang.
Lokasi Candi Penataran Blitar
Candi Penataran berada di:
Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Dari pusat Kota Blitar jaraknya sekitar 12 kilometer ke arah utara.
Perjalanan menuju kawasan candi cukup mudah. Saat kami ke sana, kondisi jalan menuju Penataran juga sudah bagus sehingga tidak ada drama perjalanan yang berarti.
Dari pusat Kota Blitar, perjalanan dengan kendaraan biasanya tidak terlalu lama. Jadi Candi Penataran cukup mudah dimasukkan dalam itinerary sehari keliling Blitar.
Kami sendiri datang setelah mengunjungi beberapa tempat lain di kota.
Mungkin itu juga sebabnya anak-anak sudah menyerah duluan dan memilih tinggal di mobil.
Tiket Masuk dan Jam Buka Candi Penataran
Saat kunjungan kami, masuk ke kompleks Candi Penataran tidak dikenakan tiket seperti tempat wisata komersial pada umumnya. Pengunjung dapat memberikan donasi atau mengikuti ketentuan yang berlaku di lokasi.
Untuk harga tiket dan jam buka terbaru, saya sarankan tetap mengeceknya kembali sebelum datang karena ketentuan tempat wisata dan situs cagar budaya bisa berubah.
Ini juga salah satu alasan saya tidak terlalu suka mencantumkan harga secara permanen dalam artikel. Hari ini benar, beberapa bulan kemudian belum tentu.
Begitu tiba, ada pos informasi di dekat pintu masuk.
Kami sempat mendapatkan brosur dan diminta mengisi buku tamu sebelum mulai berjalan mengelilingi kompleks.
Saat itu cuacanya sedang mendung.
Buat jalan kaki keliling candi, mendung sebenarnya menyenangkan karena tidak panas. Tapi saya mulai waswas juga melihat langit. Jangan sampai baru setengah jalan tiba-tiba hujan deras.
Untungnya sampai selesai berkeliling hujan tidak turun.
Alhamdulillah.
Kompleks Candi Penataran
Kalau membayangkan Candi Penataran sebagai satu bangunan candi besar, bayangan itu kurang tepat.
Penataran merupakan sebuah kompleks percandian dengan beberapa bangunan yang tersebar memanjang dari depan menuju belakang.
Secara umum kawasan ini terbagi menjadi tiga halaman: halaman depan, halaman tengah, dan halaman belakang.
Susunannya berbeda dengan candi-candi besar di Jawa Tengah yang sering terlihat lebih simetris.
Di Penataran, bangunan seperti tumbuh bertahap mengikuti perkembangan zamannya.
Dan memang begitu sejarahnya.
Karena dibangun serta digunakan selama beberapa periode kerajaan, kompleksnya menjadi semacam kumpulan lapisan sejarah.
Arca Dwarapala
Tidak lama setelah masuk kawasan, kita akan menemukan sepasang arca Dwarapala, sosok penjaga yang biasanya ditempatkan di pintu masuk kawasan suci.
Masyarakat setempat juga mengenalnya sebagai Reco Pentung.
Arca-arca seperti ini selalu membuat saya berhenti sebentar.
Bentuknya besar, ekspresinya galak, tapi justru tugasnya menjaga.
Semacam security zaman kerajaan, mungkin.
Bale Agung
Berjalan lebih jauh, ada Bale Agung, sebuah bangunan berbentuk batur atau teras batu memanjang.
Sekilas bentuknya memang seperti sebuah pelataran tinggi.
Pada beberapa bagian terdapat tangga yang memungkinkan kita naik ke atas batur.
Bangunan seperti ini diperkirakan mempunyai fungsi yang berkaitan dengan kegiatan di dalam kompleks keagamaan.
Karena bagian atas bangunannya sudah tidak tersisa, kita sekarang memang harus menggunakan sedikit imajinasi untuk membayangkan seperti apa bentuk aslinya ratusan tahun lalu.
Pendopo Teras
Tidak jauh dari Bale Agung terdapat Pendopo Teras.
Ini salah satu bagian Candi Penataran yang menarik karena dinding baturnya dihiasi banyak relief.
Pendopo Teras diperkirakan menjadi tempat berlangsungnya kegiatan atau persiapan upacara keagamaan sebelum memasuki bagian kompleks yang lebih sakral.
Kalau berkunjung ke sini jangan hanya melihat keseluruhan bangunannya dari jauh.
Coba mendekat dan perhatikan reliefnya.
Justru detail-detail kecil di batu seperti inilah yang membuat perjalanan ke situs sejarah menjadi lebih menarik.
Candi Angka Tahun, Ikon Candi Penataran
Salah satu bangunan yang paling mudah dikenali di kawasan Penataran adalah Candi Angka Tahun.
Bangunan ini kadang juga disebut Candi Brawijaya.
Nama Candi Angka Tahun berasal dari angka tahun 1291 Saka atau 1369 Masehi yang terdapat pada bagian bangunannya.
Dibandingkan beberapa bangunan lain di kompleks Penataran, bentuk candi ini masih cukup utuh.
Saya rasa ini juga bangunan yang paling mudah diingat setelah pulang dari sini.
Atap candinya tinggi bertingkat dengan bentuk khas candi Jawa Timur.
Siluet bangunan inilah yang kemudian sangat familiar karena bentuk Candi Angka Tahun juga digunakan sebagai inspirasi lambang Kodam V/Brawijaya.
Di dalam bangunannya terdapat arca Ganesha sehingga kadang-kadang candi ini juga disebut sebagai Candi Ganesha.
Ketika kami berada di sekitar sini, kebetulan sedang ada proses pembuatan video tari.
Lumayan.
Selain lihat candi, dapat tontonan tambahan.
Candi Naga
Dari Candi Angka Tahun kami berjalan lebih jauh menuju Candi Naga.
Nama bangunan ini gampang diingat karena memang ada pahatan naga yang menjadi ciri khasnya.
Sayangnya bangunan Candi Naga sudah tidak utuh. Sebagian besar yang tersisa adalah kaki dan badan bangunannya.
Walaupun begitu, relief naganya masih bisa diamati.
Kalau datang terburu-buru, bagian-bagian seperti ini mungkin mudah terlewat karena dari kejauhan terlihat seperti kumpulan struktur batu saja.
Padahal begitu diperhatikan lebih dekat, detailnya menarik.
Candi Induk Penataran
Semakin ke belakang, kita sampai pada bagian yang menurut saya paling mengesankan, yaitu Candi Induk.
Bangunan ini berada di halaman belakang yang merupakan bagian paling sakral dari kompleks Penataran.
Candi Induk berbentuk teras bertingkat. Pada dindingnya terdapat rangkaian relief yang menceritakan berbagai kisah.
Salah satu yang terkenal adalah relief Ramayana dan Kresnayana.
Jadi jangan hanya naik, foto-foto, kemudian turun lagi.
Coba luangkan waktu berjalan mengikuti sisi bangunannya sambil memperhatikan relief.
Memang tanpa pemandu kita belum tentu langsung tahu adegan apa yang sedang diceritakan. Saya juga tidak sok-sokan mengerti semuanya.
Tapi tetap menyenangkan melihat bagaimana sebuah cerita bisa disampaikan melalui pahatan batu ratusan tahun lalu.
Kami sempat naik ke bagian atas Candi Induk.
Dari sini kawasan Penataran terlihat jauh lebih luas.
Rumput hijau, bangunan-bangunan candi yang tersebar, pepohonan, sampai rumah warga di sekitar kompleks bisa terlihat dari atas.
Saya justru cukup lama berdiri di sini.
Suasananya enak.
Anginnya sejuk dan karena hari mendung, matahari tidak terasa menyengat.
Tangga menuju bagian atas cukup sempit, jadi tetap perlu hati-hati terutama ketika naik atau turun.
Saat memegang batu-batunya saya sempat berpikir, bangunan seperti ini sudah melewati ratusan musim hujan, panas, pergantian kerajaan, penjajahan, kemerdekaan, sampai akhirnya sekarang diinjak-injak traveler yang sibuk cari angle foto.
Aneh juga kalau dipikir-pikir.
Relief Candi Penataran
Salah satu alasan tidak perlu terburu-buru ketika mengunjungi Penataran adalah reliefnya.
Kompleks ini menyimpan banyak pahatan yang menggambarkan kisah-kisah dari tradisi Hindu dan Jawa kuno.
Di antaranya terdapat kisah Ramayana dan Kresnayana, selain relief-relief naratif lain pada beberapa bangunan.
Relief bukan cuma dekorasi.
Pada masa ketika buku, kamera, dan internet jelas belum ada, pahatan semacam inilah salah satu cara cerita dan nilai keagamaan disampaikan dari generasi ke generasi.
Saya kadang suka membayangkan proses pembuatannya.
Memahat satu bagian kecil saja mungkin sudah membutuhkan waktu lama. Ini satu dinding penuh.
Sabar sekali manusia zaman dulu.
Petirtaan Candi Penataran
Kami sebenarnya hampir pulang ketika saya tiba-tiba ingat satu hal.
Petirtaan!
Saya tahu ada petirtaan di kawasan Penataran dan rasanya tanggung sudah sampai sini kalau tidak dicari.
Akhirnya kami berjalan ke sisi kanan kompleks, kemudian turun mengikuti tangga menuju bagian yang lebih rendah.
Awalnya saya kira dekat.
Ternyata anak tangganya lumayan juga.
Turunnya sih gampang.
Yang langsung terpikir justru, nanti naiknya bagaimana?
Hahaha.
Area petirtaan terasa berbeda dengan kawasan candi di atas. Lebih teduh karena dikelilingi banyak pohon dan bambu.
Di bagian bawah terdapat kolam dengan ikan.
Waktu kami datang ada juga pengunjung yang melempar koin ke dalam kolam.
Karena letaknya agak tersembunyi di bawah, suasananya terasa lebih tenang.
Kalau tenaga masih cukup, menurut saya jangan melewatkan bagian ini.
Tapi ingat, setelah turun tetap harus naik lagi.
Saya sudah mengingatkan.
Berapa Lama Keliling Candi Penataran?
Kalau hanya ingin melihat bangunan utama dan berfoto, mungkin sekitar satu jam sudah cukup.
Tapi menurut saya sayang datang ke kompleks bersejarah seperti ini kalau hanya buru-buru.
Sediakan sekitar 1–2 jam supaya bisa berjalan santai, membaca informasi, melihat relief, naik ke beberapa bagian yang diperbolehkan, dan turun ke petirtaan.
Kalau datang bersama orang tua atau anak kecil, waktunya tentu bisa disesuaikan.
Area kompleks cukup luas dan sebagian besar harus ditempuh dengan berjalan kaki.
Tips Mengunjungi Candi Penataran
Ada beberapa hal kecil yang menurut saya akan membuat kunjungan ke Penataran lebih nyaman:
- datang pagi atau sore supaya tidak terlalu panas;
- gunakan alas kaki yang nyaman karena cukup banyak berjalan;
- bawa air minum;
- jangan memanjat bagian candi yang tidak diperbolehkan;
- luangkan waktu melihat relief, jangan hanya mengejar foto;
- kalau suka sejarah, baca sedikit tentang Penataran sebelum datang atau gunakan jasa pemandu bila tersedia;
- sempatkan turun ke petirtaan kalau kondisi fisik memungkinkan.
Dan tentu saja, jangan menyentuh atau merusak relief dan batu candi.
Bangunan ini sudah bertahan ratusan tahun. Tugas kita sederhana saja, jangan sampai generasi kita yang membuatnya rusak.
Apakah Candi Penataran Layak Dikunjungi?
Menurut saya, iya.
Terutama kalau sedang berada di Blitar.
Penataran memang bukan jenis tempat wisata yang penuh wahana atau aktivitas. Tidak ada yang heboh-heboh di sini.
Yang kita dapat justru kesempatan berjalan pelan sambil melihat jejak sejarah yang usianya sudah ratusan tahun.
Dan saya suka tempat seperti ini.
Kadang setelah mengunjungi situs-situs sejarah, muncul keinginan untuk melakukan perjalanan khusus mengikuti jejak kerajaan-kerajaan lama di Jawa.
Mulai dari Kediri, Singasari, Majapahit, satu per satu.
Entah kapan terlaksana.
Tapi bukankah sebagian besar perjalanan memang selalu dimulai dari keinginan kecil seperti itu?
Kalau sedang jalan-jalan ke Blitar, Candi Penataran juga mudah digabungkan dengan beberapa tempat bersejarah lain seperti Makam Bung Karno, Museum Bung Karno, Istana Gebang, atau wisata di sekitar Gunung Kelud.
Blitar bukan kota yang terlalu besar, jadi beberapa tempat masih cukup nyaman dijelajahi dalam satu perjalanan.
Dan kalau anak-anak memilih menunggu di mobil seperti anak saya?
Ya sudah.
Foto yang banyak.
Nanti suruh baca blog ibunya saja.
Informasi Singkat Candi Penataran
Lokasi: Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur
Jenis situs: Kompleks percandian Hindu
Nama kuno: Palah/Rabut Palah
Periode: berkembang sejak masa Kadiri hingga Majapahit
Bukti tertua bertanggal: Prasasti Palah, 1197 M
Bangunan utama: Bale Agung, Pendopo Teras, Candi Angka Tahun, Candi Naga, Candi Induk, dan petirtaan
Waktu kunjungan yang nyaman: sekitar 1–2 jam
Catatan: cek kembali jam operasional dan ketentuan tiket sebelum berkunjung karena dapat berubah.
Blitar, Desember 2022
