Sego Buwuhan Bojonegoro
Sego Buwuhan Bojonegoro, Nasi Hajatan yang Sekarang Bisa Dimakan Kapan Saja.
Pertama kali mendengar nama Sego Buwuhan Bojonegoro, mungkin orang luar daerah akan bertanya-tanya.
Sego sih tahu.
Nasi.
Tapi buwuhan itu apa?
Saya sendiri sebenarnya cukup familiar dengan bentuk makanannya karena keluarga suami berasal dari Bojonegoro. Kalau ada acara keluarga atau hajatan, makanan semacam ini bukan sesuatu yang aneh.
Nasi hangat, sayur tewel, mie kuning, tempe, berbagai lauk rumahan, lalu dibungkus atau dialasi daun jati.
Njawani sekali.
Tapi baru setelah makan langsung di Bojonegoro saya tahu kalau makanan seperti ini punya nama sendiri: Sego Buwuhan.
Dan ternyata bukan sekadar nasi campur biasa.
Di balik satu bungkus nasi daun jati ini ada tradisi hajatan masyarakat Bojonegoro yang sudah berjalan turun-temurun. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bahkan memasukkannya sebagai salah satu kuliner khas daerah.
Kalau ditanya layak dicoba atau nggak?
Menurut saya sih layak.
Apalagi kalau suka makanan rumahan Jawa Timur yang bumbunya medok, cenderung gurih, asin, kadang pedas, dan lauknya macam-macam.
Waktu itu saya mencobanya di Warung Sincin.
Dan seperti biasa kalau sudah ketemu makanan model begini, niat awal cuma mencicipi akhirnya ambil ini itu.
Namanya juga prasmanan.
Bahaya.
Apa Itu Sego Buwuhan?
Dalam bahasa Jawa:
sego berarti nasi.
Sedangkan buwuhan berasal dari kata buwuh, yang kurang lebih berarti memberi atau menyumbang.
Istilah ini berkaitan erat dengan tradisi masyarakat ketika menghadiri hajatan. Tamu datang membawa uang atau sumbangan, lalu setelah acara biasanya pulang membawa makanan dari tuan rumah.
Di Bojonegoro, makanan itulah yang kemudian dikenal sebagai Sego Buwuhan.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menjelaskan bahwa dahulu makanan ini terutama ditemui ketika ada syukuran atau hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Sekarang Sego Buwuhan sudah berkembang menjadi kuliner yang bisa dinikmati sehari-hari, tanpa harus menunggu undangan nikahan datang dulu.
Di tempat mertua saya pun tradisi membawa pulang makanan setelah hajatan masih sangat familiar.
Makanya ketika melihat Sego Buwuhan, rasanya bukan seperti menemukan makanan yang benar-benar asing.
Lebih seperti:
“Ooooh, yang ini ternyata namanya Sego Buwuhan.”
Hahaha.
Isi Sego Buwuhan Bojonegoro Apa Saja?
Versi tradisionalnya sebenarnya sederhana.
Komponen yang banyak disebut sebagai ciri khas Sego Buwuhan antara lain:
- nasi putih;
- momoh atau momok tempe;
- mie kuning;
- sayur tewel atau nangka muda;
- tumis pepaya muda atau sayuran lain;
- sate komo atau sate daging sapi berbumbu merah.
Nasi dan lauknya biasa disajikan menggunakan daun jati, yang sekaligus menjadi salah satu ciri khas kuliner ini.
Dalam praktiknya tentu lauk bisa berbeda-beda.
Namanya juga makanan hajatan dan makanan rumahan.
Tiap keluarga bisa punya racikan sendiri.
Ada telur, ayam, ikan, serundeng, sambal, sayur lain, atau apa pun yang sedang dimasak.
Jadi jangan membayangkan Sego Buwuhan punya satu susunan baku yang harus persis sama di setiap tempat.
Kalau di rumah mertua saya misalnya, menu seperti kare ayam dan lele asap juga sering muncul.
Dan enak.
Banget.
Apalagi habis itu minum kopi item buatan Mbah Bu.
Wah.
Sudah.
Nggak perlu fine dining.
Sego Buwuhan dan Tradisi Hajatan di Bojonegoro
Ini justru bagian yang menurut saya membuat Sego Buwuhan menarik.
Kalau cuma dilihat dari isi piringnya, mungkin orang akan bilang:
“Ya nasi sama sayur dan lauk.”
Benar.
Tapi konteks budayanya yang membuat makanan ini berbeda.
Sego Buwuhan lahir dari kebiasaan masyarakat ketika punya hajatan. Makanan bukan hanya untuk tamu yang makan di tempat, tapi juga menjadi semacam buah tangan ketika pulang.
Dan tradisi ini ternyata tersebar luas di berbagai wilayah Bojonegoro.
Pada Thengul International Folklore Festival 2019, Sego Buwuhan bahkan mencatat rekor MURI setelah sebanyak 26.310 bungkus disajikan dalam acara tersebut.
Bayangkan 26 ribu bungkus nasi.
Kalau saya kebagian tugas membungkus, mungkin di bungkus ke-300 sudah minta pulang.
Hahaha.
Acara itu ikut mengangkat Sego Buwuhan sebagai salah satu ikon kuliner Bojonegoro.
Menurut saya memang pantas.
Karena ketika sebuah makanan punya rasa sekaligus cerita di belakangnya, biasanya jauh lebih menarik daripada sekadar makanan yang dibuat supaya viral.
Makan Sego Buwuhan di Warung Sincin
Waktu ke Bojonegoro pada Juli 2022, saya mencoba Sego Buwuhan di Warung Sincin.
Saat itu lokasi warungnya masih berada di pinggir Bengawan Solo.
Ini salah satu alasan saya memilih makan di sana.
Kapan lagi kan makan siang sambil melihat Bengawan Solo?
Buat saya yang datang dari Jakarta, suasananya terasa beda sekali.
Warungnya sederhana.
Terbuka.
Di sebelah sana ada sungai.
Cuaca Bojonegoro?
Puaanaaas.
Hahaha.
Tapi justru suasana seperti itu yang saya ingat sampai sekarang.
Catatan penting: Warung Sincin sekarang sudah pindah dari lokasi yang saya kunjungi pada 2022. Jadi kalau melihat foto-foto saya yang langsung menghadap Bengawan Solo, itu adalah lokasi lamanya.
Sekarang Warung Sincin berada di kawasan Gang Mawar, Kauman, Bojonegoro. Jadi jangan mengikuti foto lama saya sambil mencari meja pinggir sungai.
Nanti bingung.
Dari Jualan Kecil Sampai Punya Warung
Ada cerita lain yang saya suka dari Warung Sincin.
Warung ini mulai berjualan sekitar tahun 2016.
Pemiliknya, Mbak Puspita Sari, awalnya melihat bahwa Sego Buwuhan semakin jarang didapat kalau tidak sedang ada hajatan. Dari situlah muncul ide supaya makanan tersebut bisa dinikmati kapan saja. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga pernah menulis cerita Warung Sincin dan menyebut konsepnya memang membawa suasana nasi hajatan ke makanan sehari-hari.
Waktu ngobrol di sana, saya juga diceritakan bagaimana usahanya berkembang.
Awalnya makanan dititipkan ke sekolah dan warung.
Kemudian mulai dipromosikan lewat Facebook.
Lama-lama dikenal lebih banyak orang.
Setelah itu datang Instagram, TikTok, liputan media, YouTube dan segala macam dunia per-social media-an.
Saat saya makan di sana pun kebetulan sedang ada YouTuber yang meliput.
Saya sempat tanya channel-nya apa.
Sekarang lupa.
Hahaha.
Namanya juga sudah beberapa tahun lalu.
Tapi saya selalu senang melihat usaha makanan lokal berkembang seperti ini.
Apalagi makanan yang dibawa bukan makanan tren, melainkan masakan yang memang berakar dari kebiasaan daerah.
Makan Pakai Daun Jati Memang Beda
Salah satu hal yang paling gampang dikenali dari Sego Buwuhan adalah daun jati.
Waktu makan di Warung Sincin, nasi disajikan di atas daun jati.
Ada pilihan nasi putih, nasi merah, dan nasi jagung.
Suami saya tentu saja pilih nasi jagung.
Dia memang suka nasi jagung.
Saya?
Tetap nasi putih.
Hahaha.
Entah sugesti atau memang ada pengaruhnya, makan nasi panas di atas daun seperti ini rasanya memang berbeda.
Lebih wangi.
Lebih ndeso.
Dan untuk menu seperti ini, menurut saya malah makin nikmat kalau makannya pakai tangan.
Kalau pakai sendok kayak ada sesuatu yang kurang.
Padahal sebenarnya sama saja.
Tapi ya begitulah.
Kadang pengalaman makan tidak selalu bisa dijelaskan secara ilmiah.
Menu Sego Buwuhan yang Saya Coba
Salah satu kesalahan datang ke warung model prasmanan adalah semuanya kelihatan enak.
“Nambah ini sedikit.”
“Yang itu juga.”
“Eh itu apa?”
Akhirnya piring penuh.
Hahaha.
Waktu kunjungan saya, pilihan lauk di Warung Sincin banyak sekali.
Selain komponen Sego Buwuhan, ada berbagai masakan rumahan Jawa Timur.
Sego Buwuhan
Piring saya waktu itu berisi nasi dengan tumis daun pepaya, serundeng, pindang, tewel, dan tempe goreng.
Bukan komposisi Sego Buwuhan yang paling klasik, tetapi justru itulah enaknya makan di warung seperti ini.
Bisa pilih lauk sesuai selera.
Rasanya?
Gurih, asin, pedas, dengan sedikit rasa manis pada beberapa lauk.
Karakter masakannya Jawa Timur banget menurut lidah saya.
Dan sekali lagi:
makannya pakai tangan.
Nikmat.
Sayur Tewel
Tewel adalah nangka muda.
Kalau sudah sering makan masakan Jawa mungkin bukan sesuatu yang asing, tetapi bumbunya bisa berbeda di setiap daerah.
Sayur tewel di sini waktu itu menurut saya pas.
Tidak terlalu pedas.
Kuah dan bumbunya cocok banget dimakan bersama nasi jagung.
Walaupun saya tetap tim nasi putih.
Mie Kuning Bojonegoro yang Bikin Saya Penasaran
Nah, ini salah satu makanan sederhana yang entah kenapa justru selalu saya ingat.
Mie kuning.
Kelihatannya biasa saja kan?
Tapi mie goreng yang sering ada dalam makanan hajatan di Bojonegoro menurut saya rasanya berbeda.
Saya sampai suka menunggu kalau kakak ipar sedang masak mie seperti ini.
Kenapa ya rasanya beda dengan bikin sendiri?
Mienya juga agak berbeda menurut saya.
Bentuknya kecil-kecil, langsing, dan gampang putus.
Saya dulu sampai berpikir jangan-jangan memang jenis mie yang banyak dijual di supermarket sekitar Bojonegoro.
Kalau sudah matang dan diletakkan satu baskom, bahaya.
Digadoin terus bisa habis banyak.
Hahaha.
Wader Blebek
Ini menu yang waktu itu lebih asing buat saya.
Namanya wader blebek.
Ikan wader dimasak dengan sambal dan bumbu yang rasanya pedas, gurih, serta ada aroma kemangi.
Pedasnya?
Puedesss.
Tapi enak.
Sekarang Warung Sincin masih dikenal menyajikan berbagai menu blebek, termasuk ikan wader, belut, udang, iga, dan lauk lainnya.
Kalau suka sambal dan makanan berbumbu kuat, ini tipe menu yang kemungkinan bakal disukai.
Sayur Mangut
Sayur mangutnya juga wajib dicoba kalau tersedia.
Kuah santannya gurih dan pedas, tetapi waktu saya makan tidak terasa terlalu berat atau bikin cepat eneg.
Mangut seperti ini memang paling cocok dimakan dengan nasi hangat.
Diet besok saja.
Capcay Ndeso
Namanya lucu.
Capcay ndeso.
Sayurannya sebenarnya tidak terlalu berbeda dari capcay yang biasa kita kenal.
Tapi rasa dan bumbunya lebih dekat ke masakan rumahan Jawa.
Segar.
Sederhana.
Dan cocok sekali kalau lauk-lauk lain yang dipilih sudah penuh santan atau sambal.
Oseng Pindang
Oseng pindangnya juga saya suka.
Sampai sekarang agak susah menjelaskan apa yang membuat rasanya beda.
Tapi memang berbeda dengan oseng pindang yang biasa saya makan di Jakarta.
Mungkin bumbunya.
Mungkin jenis pindangnya.
Atau mungkin suasana makan di Bojonegoro yang panas sambil melihat satu meja penuh makanan.
Hahaha.
Cumi Ireng
Ada juga cumi ireng.
Saya sudah cukup familiar dengan cumi hitam karena sering makan Nasi Jamblang di Cirebon.
Tapi versi ini bumbunya berbeda.
Sama-sama hitam.
Sama-sama enak.
Tapi karakter rasanya tidak sama.
Dan justru itu menariknya jalan-jalan sambil makan.
Satu bahan yang sama bisa berubah total ketika pindah daerah.
Sambel Lele Ale
Nah, ini salah satu bahan yang cukup sering saya temui dalam masakan Bojonegoro.
Ale.
Ale adalah kecambah dari jenis kacang-kacangan yang sering digunakan dalam masakan Jawa Timur, terutama sebagai campuran sambal atau sayur.
Waktu itu saya makan sambel lele dengan ale.
Di rumah keluarga suami pun ale bukan bahan yang aneh.
Kadang dicampur pindang.
Kadang dibuat sambal.
Kadang masuk masakan lain.
Kalau belum pernah mencobanya, mungkin rasanya akan cukup unik.
Buat saya sekarang malah sudah terasa familiar.
Berapa Harga Sego Buwuhan?
Waktu kunjungan saya pada 2022, harga makan di Warung Sincin termasuk murah.
Kami berenam, mengambil berbagai macam lauk plus minum kelapa muda, kalau tidak salah totalnya masih sekitar Rp100.000–Rp200.000.
Tapi tentu jangan menggunakan angka kunjungan saya sebagai harga sekarang.
Harga bahan makanan berubah, menu berubah, dan Warung Sincin juga sudah berpindah tempat.
Sebagai gambaran saja, daftar pemesanan makanan daring yang terindeks pada 2026 menunjukkan paket Nasi Buwuhan di Warung Sincin berada kira-kira pada kisaran belasan hingga dua puluhan ribu rupiah, tergantung lauk yang dipilih.
Menurut saya tetap masuk kategori makanan yang cukup ramah di kantong.
Tapi seperti biasa untuk artikel kuliner:
cek menu dan harga terbaru ketika datang atau sebelum memesan.
Lebih aman daripada saya menulis angka mati yang dua tahun lagi sudah salah lagi.
Warung Sincin Sekarang Tidak Lagi di Pinggir Bengawan Solo
Ini bagian yang penting kalau membaca artikel saya setelah kunjungan 2022.
Warung Sincin sudah pindah.
Liputan JTV Bojonegoro pada 2024 menyebut lokasi lama memang berada di tepi Bengawan Solo, sedangkan warung kemudian pindah ke tempat baru di Jalan MH Thamrin, Gang Mawar, kawasan Kauman, Bojonegoro.
Listing tempat yang tersedia sekarang mencantumkan alamat:
Gang Mawar No. 11B, Kauman, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Jadi foto saya makan sambil memandang Bengawan Solo tetap saya simpan di artikel ini sebagai bagian dari cerita perjalanan.
Sayang kalau dihapus.
Itu memang pengalaman saya waktu ke sana.
Hanya saja suasana yang ditemukan pembaca sekarang kemungkinan sudah tidak sama.
Untuk jam buka pun sebaiknya periksa kembali sebelum berangkat karena informasi daring yang beredar tidak semuanya sama.
Daripada sudah datang jauh-jauh, ternyata tutup.
Sego Buwuhan Bukan Cuma Ada di Warung Sincin
Walaupun pengalaman pertama saya menulis Sego Buwuhan berasal dari Warung Sincin, makanan ini tentu bukan milik satu warung.
Sego Buwuhan adalah bagian dari tradisi kuliner masyarakat Bojonegoro.
Jadi kalau sedang berada di Bojonegoro, sangat mungkin menemukan versi lain di warung, acara keluarga, hajatan, atau tempat makan lainnya.
Dan saya malah penasaran apakah rasanya akan berbeda jauh dari satu tempat ke tempat lain.
Karena masakan rumahan biasanya begitu.
Resepnya sama-sama disebut tewel.
Sama-sama disebut momoh tempe.
Tapi tangan yang masak beda, hasil akhirnya bisa beda.
Apa Bedanya Sego Buwuhan dengan Nasi Campur Biasa?
Kalau melihat sepintas, memang mirip nasi campur.
Ada nasi.
Ada sayur.
Ada mie.
Ada beberapa lauk.
Tapi menurut saya yang membedakan adalah cerita dan tradisinya.
Sego Buwuhan terkait dengan budaya buwuh dan hajatan masyarakat Bojonegoro.
Komponen seperti momoh tempe, mie kuning, tewel, sate daging, dan penyajian menggunakan daun jati juga membentuk identitasnya.
Jadi jangan hanya melihat isinya.
Kadang makanan sederhana justru punya cerita yang panjang.
Apakah Sego Buwuhan Bojonegoro Enak?
Kalau pertanyaannya ditujukan ke saya:
enak.
Tapi tentu selera orang berbeda.
Saya memang suka makanan Jawa Timuran.
Apalagi keluarga suami dari Bojonegoro, jadi rasa-rasa seperti ini sudah cukup akrab dengan lidah saya.
Bumbunya cenderung kuat.
Ada asin.
Gurih.
Pedas.
Kadang sedikit manis.
Lauknya juga bukan tipe makanan yang dibuat cantik untuk Instagram.
Ini makanan rumahan.
Ndeso.
Diletakkan di daun jati, ambil nasi, tambah tewel, mie, tempe, sambal, ikan, lalu makan.
Sederhana begitu saja.
Tapi justru enak.
Wajib Coba Kalau ke Bojonegoro?
Menurut saya iya.
Terutama kalau baru pertama kali datang ke Bojonegoro dan ingin mencoba makanan yang memang punya hubungan dengan budaya setempat.
Bojonegoro memang lebih terkenal dengan ledre sebagai oleh-oleh.
Tapi kalau bicara makanan berat, Sego Buwuhan menurut saya jauh lebih menarik untuk dicoba karena kita bukan cuma mencicipi rasa.
Ada cerita tentang hajatan.
Ada daun jati.
Ada masakan rumahan.
Ada tradisi buwuh.
Dan sekarang makanan yang dulu menunggu orang punya hajatan itu bisa dimakan kapan saja.
Tidak perlu menunggu tetangga nikah dulu.
Hahaha.
Kalau saya sendiri?
Setelah makan Sego Buwuhan di warung, sebenarnya saya tidak perlu berburu terlalu jauh lagi.
Soalnya kalau pulang ke rumah mertua, makanan seperti ini bisa muncul di meja makan.
Kadang malah ditambah kare ayam.
Lele asep.
Sambal.
Lalu setelah makan dibuatkan kopi hitam sama Mbah Bu.
Wahhhh…
Sakpole enaknya.
Pada akhirnya makanan memang bukan cuma soal restoran terkenal atau harga mahal.
Kadang satu piring nasi, sayur ndeso dan kopi buatan mertua malah jadi rasa yang paling kita ingat.
Bojonegoro, 9 Juli 2022.
Informasi Singkat Sego Buwuhan Bojonegoro
Asal: Bojonegoro, Jawa Timur
Jenis: nasi dengan lauk tradisional, berkaitan dengan tradisi hajatan
Arti nama: sego berarti nasi, sementara buwuhan berkaitan dengan tradisi buwuh atau memberi/sumbangan saat hajatan
Lauk yang umum: momoh tempe, mie kuning, tewel, tumis pepaya muda, sate daging dan lauk rumahan lainnya
Ciri khas: nasi dan lauk disajikan atau dibungkus menggunakan daun jati
Pernah mencatat Rekor MURI: 26.310 bungkus Sego Buwuhan pada Thengul International Folklore Festival 2019
Tempat yang saya coba: Warung Sincin, Bojonegoro
Catatan: Warung Sincin sudah pindah dari lokasi pinggir Bengawan Solo yang saya kunjungi pada 2022. Cek alamat, jam buka, menu, dan harga terbaru sebelum datang.
