Es Krim Zangrandi Surabaya
Es Krim Zangrandi Surabaya, Kedai Legendaris yang Masih Terasa Seperti Dulu
Ada tempat makan yang kita datangi karena makanannya enak.
Ada juga tempat yang rasanya menarik bahkan sebelum makanannya datang.
Es Krim Zangrandi Surabaya buat saya termasuk yang kedua.
Begitu masuk ke kedainya di Jalan Yos Sudarso, suasana zaman dulu langsung terasa.
Kursi rotan.
Warna merah dan krem.
Teras yang lebar.
Foto-foto lama.
Lampu kekuningan.
Lalu papan neon biru bertuliskan Zangrandi di depan.
Waktu saya datang dulu bahkan ada beberapa huruf lampunya yang mati.
Entah kenapa justru saya ingat detail begitu.
Hahaha.
Zangrandi bukan tempat yang datang dengan interior baru lalu sengaja dibuat vintage.
Tempatnya memang sudah tua.
Dan mungkin itu yang membuat rasanya beda.
Zangrandi Sudah Ada Sejak 1930
Kalau dulu saya masih bingung antara tahun 1925 atau 1930, sekarang saya akan pakai 1930 sebagai tahun berdirinya Zangrandi.
Data resmi Pemerintah Kota Surabaya mencatat Zangrandi sebagai salah satu kedai es krim tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1930, didirikan oleh keluarga Italia, Roberto Zangrandi.
Jadi sekarang usianya sudah mendekati satu abad.
Lumayan bikin mikir ya.
Kita datang.
Duduk.
Makan es krim.
Padahal puluhan tahun sebelum kita lahir, orang lain sudah melakukan hal yang kurang lebih sama di tempat ini.
Mungkin menu yang mereka pesan beda.
Bajunya jelas beda.
Tapi ritualnya sama.
Duduk santai sambil makan es krim.
Awalnya Ada di Tunjungan
Cerita Zangrandi ternyata memang lebih panjang dari bangunan di Jalan Yos Sudarso sekarang.
Catatan resmi Pemkot Surabaya menyebut usaha keluarga Zangrandi sebelumnya berada di Jalan Tunjungan 55, dengan nama Ijspaleisje Tutti Frutti. Kemudian berkembang menjadi kedai es krim yang dikenal sebagai Renato Zangrandi Ijspaleis.
Di artikel lama, saya sempat menemukan referensi surat kabar yang membawa ceritanya sampai ke tahun 1920-an.
Menarik sih.
Tapi setelah saya update sekarang, saya lebih memilih berhenti pada fakta yang memang bisa dikonfirmasi dengan cukup jelas.
Berdiri sejak 1930 saja sebenarnya sudah tua banget.
Nggak perlu ditambah-tambah supaya terdengar lebih legendaris.
Roberto Zangrandi dan Resep Es Krim Italia
Nama Zangrandi berasal dari Roberto Zangrandi, orang Italia yang menetap di Surabaya.
Resep es krimnya dikembangkan bersama keluarganya, termasuk istrinya yang dalam catatan Surabaya dikenal sebagai Mevrouw Zangrandi.
Kemudian sekitar 1960, keluarga Zangrandi kembali ke Italia.
Usaha beserta resepnya lalu dibeli oleh Aditanumulia, sahabat keluarga Zangrandi. Setelah itu usaha diteruskan oleh keluarga pemilik baru hingga berkembang seperti sekarang.
Menurut saya cerita seperti ini menarik bukan karena panjangnya.
Tapi karena ternyata sebuah resep bisa ikut berpindah tangan dan tetap hidup sampai puluhan tahun kemudian.
Bangunan Zangrandi Sekarang Sudah Jadi Cagar Budaya
Ini bukan lagi “konon”.
Bangunan Rumah Es Krim Zangrandi memang resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Kota Surabaya pada 2009, melalui SK No. 188.45/25/436.1.2/2009. Budaya Kemdikbud
Pemkot Surabaya juga mencatat bagian luar, warna bangunan, sampai elemen klasik seperti kursi rotannya dipertahankan karena status tersebut.
Pantes dari dulu sampai sekarang fotonya masih terasa Zangrandi banget.
Saya suka tempat yang seperti ini.
Kadang renovasi memang perlu.
Tapi nggak semua yang tua harus dibikin baru dan kinclong.
Kalau kursi rotannya masih bisa dipakai, ya sudah.
Duduk saja.
Hahaha.
Rasanya Memang “Es Krim Jadul”
Kalau harus menggambarkan rasa Zangrandi, saya nggak akan bilang:
“Ini es krim paling creamy yang pernah saya makan.”
Justru bukan begitu.
Menurut saya teksturnya lebih ringan dan sedikit berbeda dari gelato atau premium ice cream modern yang sangat creamy.
Ada sedikit rasa dan tekstur old-fashioned.
Sederhana.
Dan mungkin justru itulah daya tariknya.
Saya sendiri paling suka rasa vanila dan cokelat.
Nggak neko-neko.
Kalau datang ke tempat yang sudah jualan es krim hampir seratus tahun, entah kenapa saya malah pengen pesan rasa klasik.
Bukan matcha pistachio salted caramel macadamia segala macam.
Hahaha.
Noodle Ice Cream, Menu yang Paling Saya Ingat
Kalau hanya mau mencoba satu menu yang agak khas, saya akan pilih Noodle Ice Cream.
Es krim vanila dibentuk seperti mie panjang-panjang.
Waktu pertama lihat saya langsung teringat Spaghetti Ice Cream di Ragusa Jakarta.
Konsepnya kurang lebih sama.
Tapi teksturnya tetap rasa Zangrandi.
Sekarang menu online Zangrandi masih mencantumkan Noodle Ice Cream, jadi menu ini ternyata belum hilang. Harga yang tercantum saat artikel ini diperbarui sekitar Rp39.000 sebelum pajak, meskipun harga tiap outlet bisa berubah.
Saya senang menu seperti ini masih dipertahankan.
Nggak semuanya harus diganti jadi menu kekinian.
Banana Split-nya Masih Klasik
Waktu itu kami juga pesan Banana Split.
Penyajiannya klasik banget.
Mangkok kaca.
Pisang.
Es krim.
Cherry.
Astor.
Bahkan sendok kecilnya waktu itu berwarna emas.
Saya justru suka detail seperti ini.
Nggak terasa sedang makan dessert di cafe baru.
Dan banana split masih ada di menu Zangrandi sekarang, dengan harga online sekitar Rp39.000 sebelum pajak pada saat saya mengecek.
Pisangnya waktu saya makan pas.
Nggak keras.
Nggak kelembekan.
Ya memang seharusnya begitu sih.
Tapi banana split dengan pisang yang belum matang itu bisa merusak suasana hidup.
Hahaha.
Avocadocano, Karena Saya Suka Alpukat
Ini salah satu pesanan saya juga.
Avocadocano.
Saya suka alpukat, jadi sebenarnya pilihan ini cukup mudah ditebak.
Alpukat dipadukan dengan es krim dan cokelat, lalu disajikan dalam gelas yang juga terasa seperti peralatan dessert zaman dulu.
Sekarang variasi avocado dessert masih ada di menu Zangrandi, termasuk Avocado Fudge, meski lineup dan nama menu bisa berubah dari waktu ke waktu.
Kalau suatu hari datang lagi, saya mungkin malah pesan ini lagi.
Saya memang nggak terlalu kreatif kalau sudah punya favorit.
Tutti Frutti, Menu yang Punya Hubungan dengan Sejarah Zangrandi
Kalau ingin mencoba sesuatu yang lebih terkait sejarah tempatnya, pilih Tutti Frutti.
Nama Tutti Frutti sudah muncul sejak periode awal usaha keluarga Zangrandi di Surabaya.
Dan yang menarik, menu ini masih tercantum sampai sekarang.
Menu online terbaru menampilkan Tutti Frutti sekitar Rp39.000 sebelum pajak.
Ini menurut saya salah satu menu yang lebih seru dicoba untuk pertama kali.
Bukan karena pasti paling enak.
Tapi karena ada ceritanya.
Macedonia Juga Masih Ada
Satu lagi menu lama yang ternyata belum hilang adalah Macedonia.
Di tulisan lama saya, nama ini sudah muncul sebagai salah satu menu yang dikenal sejak periode awal Zangrandi.
Sekarang masih tercantum di menu dengan harga sekitar Rp36.000 sebelum pajak.
Nah, kalau datang rame-rame malah enak.
Jangan semua pesan menu sama.
Pesan beberapa.
Taruh di tengah.
Lalu saling icip.
Karena kalau cuma satu mangkok vanila sebenarnya kita belum benar-benar menjelajah Zangrandi.
Harga Es Krim Zangrandi Sekarang Berapa?
Harga lama dari artikel 2022 sebaiknya sudah kita lepaskan.
Sekarang menu online Zangrandi menunjukkan gambaran:
- 1 scoop sekitar Rp23.000
- 2 scoop sekitar Rp34.000
- Banana Split sekitar Rp39.000
- Noodle Ice Cream sekitar Rp39.000
- Macedonia sekitar Rp36.000
- Tutti Frutti sekitar Rp39.000
- beberapa kreasi es krim lain sekitar Rp36.000–Rp45.000.
Harga tersebut tercantum sebelum PPN 10% dan bisa berbeda antar-outlet atau berubah sewaktu-waktu.
Untuk outlet Yos Sudarso sendiri, listing terbaru menempatkan pengeluaran rata-rata sekitar Rp50.000–Rp75.000 per orang, tergantung pesanan.
Menurut saya masih masuk akal untuk tempat yang sekarang juga kita datangi sebagai bagian dari pengalaman Surabaya.
Bukan sekadar membeli satu scoop es krim.
Sekarang Menunya Nggak Cuma Es Krim
Ini juga berubah cukup jauh.
Zangrandi sekarang punya menu makanan yang lebih banyak.
Ada pasta.
Pizza.
Nasi goreng.
Snack.
Waffle.
Pancake.
Steak.
Bitterballen.
Risoles.
Lumpia.
Dan masih banyak lagi.
Jadi kalau pergi dengan orang yang bilang:
“Aku nggak pengen manis.”
Tenang.
Nggak perlu ditinggal di luar.
Hahaha.
Tetap bisa makan.
Walaupun kalau saya datang ke Zangrandi ya tujuan utamanya tetap es krim.
Jam Buka Zangrandi Yos Sudarso
Website resmi pariwisata Surabaya saat ini mencantumkan jam operasional:
10.00–22.00 setiap hari.
Listing bisnis terbaru juga menunjukkan jam yang sama untuk sebagian besar hari, dengan Sabtu kadang tercantum sampai pukul 23.00.
Jadi kalau datang malam banget, saya tetap menyarankan cek pada hari yang sama.
Jam buka restoran bisa berubah.
Tapi secara umum, jam 10 pagi sampai malam aman.
Saya sendiri malah lebih suka datang sore.
Entah kenapa Zangrandi terasa cocok dengan jam empat atau lima.
Duduk santai.
Makan es krim.
Nggak buru-buru.
Lokasi Zangrandi Yos Sudarso
Alamatnya masih:
Jl. Yos Sudarso No. 15, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur 60271.
Lokasinya sangat tengah kota.
Dekat Balai Pemuda dan kawasan pusat Surabaya.
Jadi gampang dimasukkan ke itinerary kalau sedang jalan-jalan di sekitar:
Balai Pemuda,
Alun-Alun Surabaya,
Jalan Tunjungan,
atau kawasan pusat kota lainnya.
Saya dulu ingat ada suara dari area penyeberangan jalan dekat sana setiap orang mau menyeberang.
Detail nggak penting.
Tapi entah kenapa masih keingat.
Zangrandi Pernah Dikabarkan Tutup, Tapi Sekarang Masih Buka
Sekitar 2021 memang sempat beredar kabar bahwa Zangrandi tutup.
Tapi outlet bersejarah di Yos Sudarso masih beroperasi sampai sekarang.
Data wisata resmi Kota Surabaya masih mencantumkannya sebagai tempat kuliner aktif, dan listing terbaru juga menunjukkan aktivitas serta ribuan ulasan pengunjung.
Jadi bagian artikel lama berjudul “Zangrandi Tutup?” menurut saya nggak perlu lagi dibuat H2 tersendiri.
Itu search intent sesaat waktu pandemi.
Sekarang cukup dijawab pendek seperti ini.
Yang Saya Suka Justru Suasana Nostalgianya
Kalau ditanya apakah Zangrandi punya es krim paling modern dan paling creamy di Surabaya?
Saya nggak akan bilang begitu.
Dan menurut saya memang nggak perlu.
Zangrandi menarik karena keseluruhan pengalaman.
Es krimnya.
Bangunannya.
Kursi rotan.
Foto-foto hitam putih.
Lantai lama.
Neon.
Orang-orang yang datang bersama keluarga.
Ada rasa seperti sedang masuk ke tempat yang menyimpan memori banyak orang.
Waktu saya duduk di sana dulu, saya sempat berpikir:
mungkin beberapa puluh tahun lagi, foto kita yang sedang makan es krim hari itu juga akan terlihat tua.
Anak-anak sudah besar.
Kita mungkin datang lagi.
Duduk di kursi yang bentuknya masih sama.
Pesan es krim lagi.
Kalau dipikir-pikir agak sentimentil ya.
Padahal cuma makan es krim.
Hahaha.
Tapi tempat lama memang suka bikin pikiran ke mana-mana.
Penjual Kacang di Depan Zangrandi
Satu foto yang entah kenapa dulu tetap saya ambil adalah gerobak penjual kacang rebus di depan Zangrandi.
Eye catching banget.
Ya difoto saja.
Buat bahan blog.
Hahaha.
Saya nggak tahu apakah sekarang penjual yang sama masih ada.
Jadi tentu ini bukan informasi praktis untuk pembaca.
Tapi saya tetap mau menyimpan bagian ini.
Karena artikel travel lama menurut saya nggak perlu diperbarui sampai semua jejak kunjungan awalnya hilang.
Justru hal kecil seperti ini yang membuat kita ingat:
“Oh iya, waktu itu suasananya memang begini.”
Kalau ke Surabaya, Masih Layak Mampir ke Zangrandi?
Menurut saya iya.
Terutama kalau suka kuliner yang punya cerita.
Kalau mencari dessert modern dengan puluhan topping, mungkin banyak pilihan lain.
Kalau mencari gelato artisan yang sangat creamy, juga banyak.
Tapi kalau ingin duduk di salah satu tempat makan paling bersejarah di Surabaya sambil menikmati es krim dengan rasa yang masih terasa old-school, Zangrandi susah digantikan.
Saya sendiri kalau datang lagi kemungkinan tetap pesan:
Noodle Ice Cream.
Lalu mungkin Tutti Frutti.
Atau Avocadocano.
Atau akhirnya pesan semuanya lalu sharing.
Lebih aman begitu.
Hahaha.
Karena datang ke tempat yang menunya sudah bertahan lintas generasi lalu cuma pesan air mineral rasanya sedikit kurang niat.
Dan mungkin itu yang paling saya suka dari Zangrandi.
Surabaya terus berubah.
Gedung baru muncul.
Cafe datang dan pergi.
Tapi di satu sudut Jalan Yos Sudarso, kita masih bisa duduk di kursi rotan dan makan es krim seperti orang-orang sebelum kita.
Menurut saya itu cukup istimewa.
