Pasar Triwindu Solo
Pasar Triwindu Solo, Tempat Berburu Barang Antik yang Bikin Saya Susah Pulang

Saya punya kelemahan kalau ketemu barang-barang lama.
Nggak harus mahal.
Nggak harus benar-benar barang antik berumur ratusan tahun juga.
Kadang cuma melihat buku lama, bros jadul, piring motif zaman dulu, atau meja rias yang bentuknya seperti punya nenek-nenek bangsawan saja saya sudah betah lihat-lihat.
Makanya setiap ke Solo, Pasar Triwindu termasuk tempat yang selalu bikin saya ingin mampir lagi.
Saya pertama kali ke sini sekitar 2012.
Lalu bertahun-tahun kemudian akhirnya balik lagi.
Dan anehnya, rasanya masih mirip.
Lorong-lorong sempit dengan barang menumpuk sampai ke atas, lampu gantung, patung, wayang, uang kuno, mebel lama, kebaya, piring, topeng, sampai barang yang membuat saya berhenti lalu bertanya sendiri:
“Ini dapat dari mana ya?”
Pasar model begini memang bahaya kalau saya masuk tanpa batas waktu.
Bisa lama.
Datang Kepagian ke Pasar Triwindu
Kunjungan kali itu dimulai dengan kesalahan kecil.
Kami datang terlalu pagi.
Pasarnya belum benar-benar buka.
Hahaha.
Sekarang informasi terbaru mencantumkan Pasar Triwindu buka sekitar pukul 09.00 sampai 16.00 setiap hari. Jadi kalau mau melihat lebih banyak kios sudah buka, jangan terlalu pagi seperti saya.
Tapi sebenarnya saya nggak terlalu rugi juga.
Area depan Pasar Triwindu enak banget untuk jalan kaki.
Trotoarnya lebar, ada pepohonan, dan waktu kami datang jalanan masih cukup sepi. Kakak tentu saja langsung sibuk foto-foto.
Dulu waktu pertama kali kami ke Solo, dia masih kecil.
Sekarang sudah bisa sibuk cari angle sendiri.
Begitulah.
Anaknya bertambah besar, ibunya tetap sama-sama suka foto.
Sambil menunggu pasar buka, kami malah duduk santai di depan.
Dan tentu saja…
ketemu es puter.
Malah Makan Es Puter Dulu
Sebenarnya sebelum berangkat saya memang sudah request:
“Pokoknya nanti jangan pulang sebelum makan es puter depan Triwindu.”
Ternyata bukannya dimakan setelah keliling pasar, malah jadi makanan pembuka karena kami datang kepagian.
Nama penjualnya waktu itu kalau nggak salah Es Puter Hidayah.
Abangnya bilang usaha es puter itu sudah turun-temurun dari kakek dan bapaknya.
Saya bahkan sempat tanya nama si abang.
Sekarang lupa.
Maaf ya, Bang.
Hahaha.
Saya juga dikasih kartu nama dan kayaknya pernah saya foto.
Masalahnya mencari satu foto di antara ribuan foto handphone saya itu kadang lebih susah daripada mencari barang antik di Triwindu.
Es puternya bisa dihias tulisan.
Yang paling gampang tentu:
I Love Solo.
Saya malah sempat mau minta tulis KULAMPAH.
Nggak muat.
Akhirnya cuma “KU”.
Maksain banget.
Kami sampai nambah.
Gelasnya kecil soalnya.
Itu pembelaan saya sampai sekarang.
Pasar Triwindu Ternyata Sudah Ada Sejak 1939
Setelah kios-kios mulai buka, baru kami masuk.
Kalau cuma melihat bangunannya sekarang, mungkin susah membayangkan kalau Pasar Triwindu sudah ada sejak 1939.
Pasar ini bermula saat digelar perayaan 24 tahun naik takhtanya K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VII. Dalam hitungan Jawa, delapan tahun disebut satu windu. Jadi 24 tahun sama dengan tiga windu atau triwindu. Dari situlah nama pasar ini berasal.
Yang menarik, dulu belum ada cerita pasar penuh barang antik seperti sekarang.
Pada awalnya yang berjualan justru jajanan pasar, kain, majalah, dan koran. Baru sekitar 1960 mulai berdiri kios-kios kecil dan perdagangan barang lama ikut berkembang.
Ini menarik buat saya.
Karena sekarang kalau orang bilang Triwindu, yang langsung terbayang pasti barang antik.
Padahal awal ceritanya bukan begitu.
Pada 2008 bangunan pasar kemudian dipugar dan dibuat dua lantai dengan desain yang tetap mengambil karakter arsitektur Jawa. Pasar yang sekarang kita lihat merupakan hasil penataan tersebut.
Dan menurut saya berhasil.
Tetap terasa seperti pasar lama.
Nggak berubah menjadi pusat perbelanjaan yang terlalu rapi sampai kehilangan karakternya.
Masuk ke Dalam, Saya Langsung Bingung Mau Lihat yang Mana
Ini bagian paling menyenangkan dari Pasar Triwindu.
Barangnya campur aduk.
Dalam arti yang bagus.
Di satu kios bisa ada lampu.
Sebelahnya patung.
Geser sedikit ada uang kuno, piring, perhiasan, topeng, jam, mesin tik, wayang, perkakas lama.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bahkan mencatat koleksi yang dijual di sini mulai dari koin dan uang kertas lama, radio, peralatan rumah tangga, wayang, jam, patung kayu dan batu sampai berbagai benda klasik lain.
Tapi menurut saya keseruannya bukan pada daftar barangnya.
Justru pada proses lihat-lihatnya.
Kita masuk ke satu lorong tanpa tahu akan menemukan apa.
Lalu tiba-tiba ada satu benda yang membuat berhenti.
“Nah ini lucu.”
Lima menit kemudian lupa tadi sebenarnya mau mencari apa.
Kakak Langsung Hunting Kebaya Vintage
Kalau saya sibuk lihat ini-itu, Kakak waktu itu justru punya target sendiri.
Kebaya.
Ada kios yang menjual baju dan kain lawasan. Kebaya kutubaru, kain, dan beberapa pakaian lama digantung bercampur satu sama lain.
Langsung semangat dia.
Akhirnya ketemu satu kebaya yang disuka.
Harganya waktu itu Rp50.000.
Saya nggak nawar.
Padahal di pasar begini sebenarnya masih memungkinkan untuk ngobrol harga, terutama kalau beli beberapa barang.
Tapi saya memang bukan orang yang pintar nawar.
Kadang penjual bilang harga sekian, saya malah:
“Oh, iya.”
Selesai.
Hahaha.
Setelah dicuci, kebayanya bagus banget dipakai.
Dan dari sini saya makin yakin, pakaian yang bagus itu nggak selalu harus mahal.
Kadang memang soal taste dan bagaimana kita memakainya.
Harga Rp50.000 itu tentu harga saat kunjungan saya, bukan patokan harga sekarang ya.
Barang seperti ini juga nggak punya harga standar.
Tergantung kondisi, usia, bahan, penjual, dan mungkin kemampuan negosiasi kalian yang semoga lebih baik daripada saya.
Saya Malah Nyari Komik NINA
Sementara Kakak hunting kebaya, saya punya keinginan yang agak berbeda.
Saya nyari komik NINA.
Ada yang masih ingat?
Komik format lebar zaman dulu itu.
Saya pikir pasar barang antik sebesar Triwindu pasti punya.
Ternyata nggak ketemu.
Koleksi buku lamanya memang ada, tapi saat saya datang tidak sebanyak barang dekorasi, perabot, dan koleksi lain.
Sedikit kecewa.
Tapi ya nggak mungkin juga saya marah karena pasar antik tidak menyediakan barang sesuai wishlist pribadi.
Hahaha.
Sampai sekarang kalau masuk toko buku bekas saya masih suka melihat-lihat siapa tahu ada.
Belum move on rupanya.
Uang Kuno yang Bikin Nostalgia
Salah satu yang menarik perhatian kami adalah tumpukan uang lama.
Ada koin dan uang kertas.
Saya sampai melihat lagi uang logam Rp100 yang tebal itu.
Yang generasi tertentu mungkin langsung ingat.
Dan entah kenapa pikiran pertama saya malah:
“Enak nih buat kerokan.”
Bukan nilai sejarahnya.
Kerokan.
Ya begitulah.
Di sinilah Pasar Triwindu menurut saya menyenangkan bahkan kalau kita nggak berniat membeli.
Kadang satu benda kecil langsung menarik memori ke zaman tertentu.
Melihat telepon lama jadi ingat telepon rumah.
Melihat mesin tik jadi ingat suara tek-tek-tek.
Melihat uang lama jadi ingat… kerokan.
Memori orang beda-beda memang.
Meja Rias, Piring sampai Lampu yang Pengen Dibawa Pulang
Kalau punya rumah besar dan transportasi yang memadai, sebenarnya bahaya datang ke sini.
Saya melihat beberapa meja rias tua yang lucu banget.
Modelnya seperti meja punya nyonya bangsawan zaman dulu.
Cermin besar, kayu tua, bentuk yang sekarang sudah jarang dibuat.
Masalahnya:
mau dibawa pulang bagaimana?
Begitu juga lampu gantung vintage.
Cantik.
Saya langsung membayangkan dipasang di dapur atau teras.
Kemudian ingat saya masih harus pulang.
Sudah.
Taruh lagi.
Ada juga piring, teko, guci, dan keramik lawasan.
Nah, untuk barang semacam ini saya jujur nggak punya kemampuan membedakan mana yang benar-benar tua dan mana yang reproduksi.
Dan memang ini hal yang penting kalau berniat membeli barang mahal di Pasar Triwindu.
Barang Antik Asli atau Reproduksi?
Pasar Triwindu menjual barang lama, barang antik, barang vintage, sampai reproduksi atau benda yang dibuat bergaya lama.
Jadi jangan otomatis menganggap semua yang kelihatan tua pasti berusia puluhan atau ratusan tahun.
Saya sendiri bukan kolektor atau ahli barang antik.
Kalau cuma beli barang lucu untuk dekorasi rumah, mungkin tidak terlalu masalah.
Tapi kalau ingin membeli barang karena nilai sejarah, kelangkaan, bahan, atau investasinya, saya akan bertanya lebih banyak kepada pedagang dan kalau nilainya besar mungkin sebaiknya membawa orang yang memang paham.
Waktu saya datang, pedagang cukup terbuka kok kalau ditanya.
Beberapa malah bisa cerita panjang tentang barang mereka.
Dan itu justru serunya.
Jangan cuma tanya:
“Berapa?”
Coba tanya:
“Ini dari mana?”
Kadang ceritanya malah lebih menarik daripada bendanya.
Loro Blonyo Ada di Mana-mana
Di depan pasar saja sudah ada unsur Loro Blonyo.
Di dalam juga gampang menemukan patung pasangan laki-laki dan perempuan Jawa ini.
Buat yang belum familiar, Loro Blonyo biasanya berbentuk sepasang figur pengantin Jawa yang duduk berdampingan.
Saya suka melihat bentuk dan ekspresi masing-masing patung.
Ada yang terlihat serius.
Ada yang agak lucu.
Ada yang mukanya seperti sudah capek menunggu pembeli sejak zaman dahulu.
Oke, bagian terakhir pendapat saya sendiri.
Hahaha.
Perhiasan Lama yang Saya Suka
Saya juga punya kelemahan lain selain notebook.
Bros.
Terutama bros dan kalung yang modelnya agak lawas.
Saya punya beberapa yang biasanya dipakai kalau kondangan atau memakai kebaya.
Di Triwindu banyak sekali model begini.
Sayangnya waktu kami datang, toko yang pernah jadi langganan saya belum buka.
Nah, inilah akibat datang kepagian.
Es puter memang dapat.
Tokonya belum.
Hidup penuh pilihan.
Ada Koper Louis Vuitton Jadul
Salah satu barang yang bikin kami berhenti cukup lama waktu itu adalah sebuah koper model lama dengan logo Louis Vuitton.
Saya nggak tahu tahun berapa.
Saya juga nggak melakukan autentikasi.
Jadi saya nggak akan bilang itu pasti koper LV original antik.
Yang jelas bentuknya memang menarik dan membuat saya membayangkan zaman ketika orang bepergian membawa koper keras besar seperti itu.
Di dekatnya ada cooler Coca-Cola model lama.
Lagi-lagi pertanyaan saya:
barang beginian awalnya datang dari mana ya?
Saya memang suka pasar seperti ini karena barang-barangnya membuat saya jadi kepo.
Walaupun akhirnya nggak beli.
Foto dulu.
Harga Barang di Pasar Triwindu Memang Nggak Bisa Dipatok
Kalau ditanya harga barang di Triwindu berapa, jawabannya:
tergantung.
Bisa puluhan ribu untuk barang kecil.
Bisa ratusan ribu.
Bisa jutaan atau lebih untuk barang yang dianggap langka atau punya nilai tertentu.
Barang yang mirip di kios berbeda juga belum tentu harganya sama.
Jadi kalau benar-benar mau beli, jangan langsung berhenti di kios pertama.
Muter dulu.
Lihat kondisi barang.
Ngobrol.
Bandingkan.
Lalu tawar kalau kalian bisa.
Kalau saya?
Ya seperti yang sudah saya ceritakan tadi.
Kemampuan menawar saya hampir nol.
Jangan jadikan saya contoh.
Tiba-Tiba Ketemu Pak Narno
Nah, ini kejadian yang sebenarnya nggak ada hubungannya langsung dengan Pasar Triwindu.
Tapi justru saya suka bagian ini.
Waktu kami masih duduk sambil makan es puter, lewat seorang bapak mendorong gerobak kecil penuh koran dan majalah.
Saya langsung berdiri.
Jarang banget sekarang melihat penjual majalah keliling seperti ini.
Namanya Pak Narno.
Waktu itu beliau membawa berbagai majalah, termasuk Bobo Junior edisi terakhir.
Tentu saja saya beli.
Ada juga National Geographic dan Trubus yang akhirnya ikut dibawa pulang.
Jujur, ketemu Pak Narno malah rasanya seperti bagian dari pengalaman nostalgia Pasar Triwindu.
Pasar belum buka.
Makan es puter.
Lihat penjual majalah lewat.
Kemudian beli majalah cetak.
Lengkap sudah perjalanan kembali ke masa lalu saya pagi itu.
Saya nggak tahu apakah sekarang Pak Narno masih berjualan di sekitar sana.
Jadi saya juga nggak mau menulis seolah kalian pasti akan bertemu beliau kalau datang.
Tapi kalau suatu hari saya ke sana lagi dan ternyata masih ketemu, mungkin saya tetap akan beli.
Walaupun di rumah entah majalahnya mau ditaruh di mana.
Lokasi Pasar Triwindu Solo
Pasar Triwindu berada di:
Jalan Diponegoro, Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Lokasinya memang enak karena berada di pusat kota dan sangat dekat dengan Pura Mangkunegaran. Sumber pariwisata Jawa Tengah juga menempatkannya tak jauh dari kompleks Mangkunegaran dan kawasan Ngarsopuro.
Jadi kalau sedang jalan kaki di kawasan Mangkunegaran, menurut saya sekalian saja mampir ke Triwindu.
Nggak perlu kendaraan lagi.
Jam Buka Pasar Triwindu
Informasi terbaru yang saya temukan mencantumkan:
09.00–16.00 WIB, setiap hari.
Beberapa sumber lama masih menulis sampai pukul 17.00. Karena ini pasar dengan banyak kios individual, jam masing-masing pedagang juga bisa saja sedikit berbeda.
Kalau mau puas melihat-lihat, saya justru akan datang sekitar 09.30 atau 10.00 pagi.
Sudah banyak kios buka.
Belum terlalu siang.
Dan tidak perlu duduk menunggu sambil makan es puter seperti saya.
Walaupun dipikir-pikir…
itu juga nggak buruk.
Berapa Lama Keliling Pasar Triwindu?
Kalau cuma mau lihat sekilas dan foto-foto, satu jam sebenarnya cukup.
Tapi kalau kalian tipe seperti saya yang berhenti di setiap kios, mengambil barang, melihat bagian belakangnya, bertanya ini apa, terus pindah ke barang lain…
siapkan dua jam.
Minimal.
Apalagi kalau benar-benar mau belanja.
Pasar ini dua lantai dan isinya sangat padat. Benda yang menarik juga kadang bukan dipajang rapi di depan, tetapi nyelip di antara barang lain.
Justru itu yang bikin nagih.
Rasanya seperti mencari harta karun.
Bedanya harta karunnya ada price tag.
Apakah Pasar Triwindu Masih Layak Dikunjungi?
Buat saya, iya.
Bahkan kalau nggak berniat membeli apa pun.
Pasar Triwindu bukan cuma tempat untuk kolektor barang antik.
Kalau suka sejarah, budaya, interior, fashion vintage, fotografi, atau sekadar senang melihat benda-benda dari masa lalu, tempat ini menyenangkan untuk keliling santai.
Dan saya suka karena rasanya belum berubah terlalu jauh dari kunjungan pertama saya bertahun-tahun lalu.
Masih agak gelap di beberapa lorong.
Masih penuh barang.
Masih bikin bingung mau lihat yang mana dulu.
Kalau suatu hari saya balik lagi ke Solo, kemungkinan saya tetap mampir.
Masih mau nyari komik NINA.
Siapa tahu sekarang ada.
