Batik Rosethree Solo
Batik Rosethree Solo, Batik Tulis yang Bikin Saya Sayang Kalau Cuma Dipotong Jadi Rok.
Beberapa hari lalu saya baru saja mampir lagi ke Berbatik & Batik Rosethree di Solo.
Dan seperti biasa, kalau sudah ketemu batik bagus, niat awal “cuma lihat-lihat” itu cepat sekali buyar.
Hahaha.
Sebenarnya saya sudah cukup lama mengenal Batik Rosethree. Bukan baru karena belakangan namanya sering muncul dipakai artis atau keluarga pejabat.
Saya malah sudah pernah punya salah satu kainnya dari dulu.
Waktu itu saya dapat kain seragaman warna merah.
Bagus banget.
Warnanya dalam, motifnya cantik, bahannya juga enak sekali.
Kemudian kain itu saya jahit jadi rok.
Sekarang?
Agak nyesel.
Hahaha.
Bukan karena roknya nggak bagus. Justru karena setelah jadi, saya baru merasa:
“Aduh, harusnya kain ini tetap jadi jarit.”
Ada batik yang memang cantik dijadikan rok atau dress.
Tapi ada juga kain yang begitu dibentangkan utuh, rasanya sayang kalau motif dan susunannya dipotong-potong.
Kain merah Rosethree saya termasuk yang kedua.
Walaupun ya…
sekarang sudah jadi rok.
Dan untungnya tetap keren.
Saya Suka Batik yang Kalau Dibentang Sudah Cantik
Mungkin ini agak susah dijelaskan kalau belum terlalu sering melihat kain batik.
Ada batik yang cantiknya baru terasa setelah dijahit.
Ada juga batik yang dari awal sudah punya komposisi utuh.
Begitu dibuka, langsung kelihatan kepala kainnya.
Pinggirnya.
Isennya.
Arah motifnya.
Bagian mana yang harus jatuh di depan atau belakang.
Rosethree menurut saya kuat di bagian ini.
Terutama kain-kain tulisnya.
Makanya setelah kain merah saya berubah menjadi rok, saya baru merasa kehilangan sedikit “cerita” dari kain itu.
Bukan berarti salah dijahit jadi rok.
Cuma kalau sekarang saya dikasih kain yang sama, mungkin akan saya pakai sebagai jarit.
Lebih puas lihat motifnya.
Batik Rosethree Memang Fokus pada Batik Tulis Halus
Kalau melihat positioning mereka sekarang, Rosethree memang cukup jelas menyebut dirinya sebagai brand batik tulis halus.
Deskripsi perusahaan terbarunya juga menempatkan Rosethree sebagai luxury heritage brand yang fokus pada batik tulis premium, layanan personal, dan desain yang tetap menghormati tradisi Indonesia. Glints
Dan kalau pernah melihat kainnya langsung, menurut saya masuk akal.
Detailnya memang padat.
Batik tulis halus kan bukan sekadar kain yang “ada cantingnya”.
Garisnya bisa kecil sekali.
Isen-isennya rapat.
Kadang satu bidang yang dari jauh kelihatan seperti warna biasa, pas dilihat dekat ternyata penuh titik dan detail.
Saya suka tipe batik seperti ini karena semakin dekat dilihat, semakin kelihatan pekerjaannya.
Bukan malah kelihatan seperti print.
Motifnya Tradisional, Tapi Nggak Kelihatan Tua
Rosethree termasuk brand yang menurut saya masih cukup kuat mempertahankan rasa batik Solo tradisional.
Di koleksinya banyak motif yang terasa klasik.
Warna gelap ada.
Sogan ada.
Tapi warna terang juga banyak.
Jadi bukan tipe batik yang semuanya cokelat tua dan terasa harus dipakai dengan sanggul lengkap.
Hipwee bahkan pernah menyebut Rosethree sebagai salah satu online shop batik dengan pilihan motif etnik tradisional dalam warna terang maupun gelap, termasuk untuk jarit dan seragam. Hipwee
Nah, bagian seragam ini saya langsung ngerti.
Karena kain merah yang saya punya memang cantik sekali kalau dipakai beramai-ramai.
Warna yang cukup kuat seperti itu kalau semua orang memakai motif yang sama, hasil fotonya biasanya bagus.
Dan ternyata Rosethree memang punya sejarah panjang membuat kain seragam keluarga untuk acara besar.
Salah satu cerita pernikahan yang pernah dipublikasikan The Bride Dept menyebut keluarga pemilik Rosethree sampai menyiapkan kain seragam selama sekitar sepuluh bulan untuk keluarga, kolega, dan tamu dekat supaya semuanya terlihat rapi dan selaras. The Bride Dept
Saya baca itu lalu langsung mikir:
“Oh iya, masuk akal.”
Karena kainnya memang punya karakter yang kuat kalau dipakai sebagai satu kelompok.
Satu Kain Bisa Jadi Seragam, Tapi Tetap Terasa Mewah
Ini sebenarnya nggak gampang.
Kadang kain seragaman terlihat terlalu “seragam”.
Begitu dipakai sepuluh orang, ya seperti rombongan.
Hahaha.
Tapi kalau motifnya punya detail yang bagus dan warnanya cukup matang, hasilnya bisa tetap kelihatan elegan.
Apalagi masing-masing orang menjahit model baju yang berbeda.
Ada yang dijadikan kebaya.
Ada yang jadi rok.
Ada yang jadi kain.
Ada yang dibuat dress.
Motif sama, tapi karakter orangnya tetap kelihatan.
Saya rasa ini juga salah satu alasan Rosethree sering dipakai untuk pernikahan adat.
Bahkan ada dokumentasi penggunaan motif Truntum Gurdo warna emerald untuk seragaman keluarga dalam sebuah pernikahan. merdeka.com
Dan Ternyata Banyak Dipakai untuk Pernikahan Jawa
Kalau melihat rekam jejaknya, Rosethree memang cukup dekat dengan dunia kebaya dan pernikahan adat Jawa.
Misalnya Aaliyah Massaid dan Thariq Halilintar memakai kain Batik Tulis Rosethree dalam rangkaian pernikahan adat Jawa mereka. Popbela.com
Nagita Slavina juga pernah memakai kain Rosethree sebagai bawahan kebaya ketika mendampingi Raffi Ahmad di Istana Negara pada 2024. wolipop
Saya sebenarnya nggak terlalu suka memilih batik hanya karena “dipakai siapa”.
Kalau kainnya nggak cocok ya tetap nggak saya beli.
Tapi menurut saya fakta bahwa kain mereka sering dipakai bersama kebaya cukup menunjukkan satu hal:
motifnya memang bagus dijadikan jarit.
Nah.
Kembali lagi ke rok merah saya tadi.
Makin nyesel kan.
Hahaha.
Kenapa Jarit Itu Beda dengan Sekadar Kain Batik?
Dulu saya juga nggak terlalu memikirkan hal ini.
Pokoknya ada kain batik, ya kain.
Mau dijahit apa saja.
Tapi semakin sering beli batik, lama-lama baru terasa kalau komposisi jarit memang punya desain yang sengaja dibuat untuk dipakai utuh.
Ada bagian kepala kain.
Ada badan.
Kadang ada tumpal.
Susunan motifnya sudah dipikirkan supaya ketika dililitkan, bagian-bagian tertentu jatuh di posisi yang bagus.
Makanya kalau jarit dengan komposisi seperti itu langsung digunting untuk rok A-line, misalnya, ada bagian pola yang mungkin hilang.
Tetap cantik.
Tapi ceritanya berubah.
Saya sekarang jadi agak pelit kalau mau menggunting kain batik bagus.
Lihat dulu.
Bentangkan.
Pikirin beberapa hari.
Baru putuskan.
Daripada nanti seperti saya.
Sudah jadi rok baru bilang:
“Harusnya dulu jangan dipotong.”
Batik Rosethree Itu Bukan Cuma “Batik Artis”
Kalau browsing nama Rosethree, lumayan banyak artikel yang masuk lewat selebritas.
Saya paham kenapa.
Kainnya memang beberapa kali muncul dipakai figur publik.
Tapi menurut saya agak sayang kalau brand seperti ini akhirnya cuma dikenal lewat angle itu.
Karena daya tarik batiknya ada di craftsmanship.
Bukan di siapa yang memakainya.
Rosethree sendiri sekarang bahkan sedang memperluas bisnis ke arah atelier in-house, custom tailoring, dan ready-to-wear, sambil tetap menempatkan batik tulis sebagai pusat brand-nya. Lowongan internal terbaru mereka juga secara khusus mencari desainer yang memahami penempatan motif, proses fitting, sampai finishing busana premium. Glints
Menurut saya ini menarik.
Karena tantangan terbesar kain batik bagus memang sering muncul setelah kain dibeli.
Mau diapain?
Dijahit model apa?
Motif bagian mana yang harus di depan?
Kalau salah potong gimana?
Saya sudah belajar sendiri dari rok merah tadi.
Hahaha.
Jadi layanan seperti atelier justru masuk akal.
Saya Baru Beberapa Hari Lalu ke Sana Lagi
Ini juga yang membuat saya akhirnya kepikiran menulis Rosethree sekarang.
Baru beberapa hari lalu saya mampir lagi.
Dan rasanya menyenangkan melihat brand yang sudah saya kenal cukup lama masih terus berkembang.
Tempatnya sekarang berada di kawasan Sumber, Banjarsari, Solo. Listing terbaru mencantumkan lokasi di Jl. Pleret Raya No.29, Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. Jam bukanya umumnya sekitar pukul 09.00–20.00 pada Senin–Sabtu dan 10.00–17.00 pada Minggu.
Kalau sengaja datang dari luar kota, saya tetap lebih suka cek dulu sebelum berangkat.
Bukan hanya soal buka atau tutup.
Kadang kalau sedang mencari jenis kain atau warna tertentu, enak juga tanya sebelumnya.
Apalagi saya tipe orang yang bisa lama kalau sudah lihat kain.
Kain satu dibuka.
Lihat.
Lipat.
Buka kain sebelah.
Balik lagi ke kain pertama.
“Yang tadi mana ya?”
Sudah.
Mulai kacau.
Rosethree Sekarang Juga Punya Kehadiran di Jakarta
Ini baru menarik.
Walaupun akar brand-nya tetap Solo, Rosethree sekarang juga sudah punya aktivitas yang lebih serius di Jakarta.
Profil perusahaan terbaru mencantumkan alamat operasional di Jl. Panglima Polim V No.62, Jakarta Selatan, dan timnya sedang dikembangkan untuk kebutuhan atelier, content, dan client experience. Glints
Buat pembeli Jakarta ini tentu enak.
Nggak selalu harus menunggu ke Solo.
Bahkan beberapa karya Rosethree sekarang juga dikurasi di Sukma Gallery, Hotel Tentrem Jakarta, bersama karya batik Indonesia lainnya. Hotel Tentrem
Tapi kalau saya pribadi, datang langsung ke Solo tetap punya rasa beda.
Batik ya paling seru memang dilihat langsung.
Warna layar HP kadang kurang bisa dipercaya.
Foto kelihatan biasa.
Begitu kain dibuka:
“Eh, ini bagus banget.”
Nah.
Itu yang bahaya.
Tentang Nama Rosethree
Saya sempat penasaran juga kenapa namanya Rosethree.
Bukan nama yang langsung terdengar seperti brand batik Jawa.
Dari dokumentasi proyek rebranding Rosethree, nama tersebut dijelaskan berasal dari “three roses” dan terkait dengan pemiliknya, Ibu Rustri. Brand ini juga diperkenalkan sebagai produsen batik premium yang berbasis di Solo. Dribbble
Saya suka nama yang nggak terlalu literal seperti ini.
Nggak harus semua brand batik punya kata “Batik Keraton”, “Sekar”, “Sido”, atau istilah Jawa.
Kainnya sendiri sudah cukup Jawa.
Namanya boleh sedikit berbeda.
Kalau Cari Kain untuk Seragaman, Saya Akan Lihat Rosethree
Kalau ada yang tanya kapan menurut saya Rosethree paling menarik untuk dilihat, salah satunya memang untuk seragaman keluarga atau acara.
Bukan berarti hanya cocok untuk itu.
Tapi variasi motif dan warnanya cukup banyak.
Dan yang penting, batiknya tetap terasa istimewa ketika dipakai ramai-ramai.
Kalau kain seragam terlalu sederhana, hasilnya sering kelihatan biasa.
Kalau terlalu ramai, semua orang malah kelihatan seperti gorden berjalan.
Maaf.
Hahaha.
Yang dicari memang tengah-tengahnya.
Dan pengalaman saya dengan kain merah itu, walaupun sekarang sudah berubah menjadi rok, tetap bikin saya suka.
Warnanya cantik.
Motifnya kuat.
Bahannya enak.
Kalau dipakai, jatuhnya bagus.
Saya rasa itu juga sebabnya saya masih ingat kain itu setelah sekian lama.
Kalau Beli Batik Bagus, Jangan Buru-Buru Dipotong
Ini pelajaran pribadi saya dari Rosethree.
Bukan aturan resmi batik.
Tapi kalau baru membeli kain yang motifnya bagus, jangan langsung buru-buru ke penjahit.
Bentangkan dulu.
Lihat bentuk kain utuh.
Coba lilit jadi jarit.
Foto.
Simpan satu-dua hari.
Baru pikirkan lagi.
Kalau ternyata memang lebih suka dijadikan rok, ya lanjut.
Yang penting sadar apa yang akan hilang ketika kainnya dipotong.
Kalau saya melakukan ini dulu pada kain merah Rosethree tadi…
mungkin sekarang masih menjadi jarit.
Tapi ya sudah.
Nggak perlu terlalu disesali juga.
Karena tiap kali saya pakai roknya tetap bagus.
Dan mungkin justru itu bukti paling sederhana bahwa batiknya memang bagus.
Sudah “salah fungsi” sedikit saja masih tetap cantik.
Hahaha.
Kenapa Saya Tetap Suka Batik Rosethree
Saya rasa semakin lama suka batik, alasan membeli juga berubah.
Dulu mungkin:
“Warnanya bagus.”
Sekarang jadi lebih banyak pertimbangan.
Motifnya bagaimana?
Komposisinya enak nggak?
Bahannya bagaimana?
Tulis atau bukan?
Kalau dijadikan jarit bakal bagus?
Kalau diwariskan suatu hari masih akan terasa cantik?
Batik Rosethree termasuk yang membuat saya berpikir begitu.
Bukan kain yang setelah dipakai sekali lalu dilupakan.
Kain merah saya bahkan sampai sekarang masih saya pikirkan.
Walaupun bentuknya sudah rok.
Dan setelah beberapa hari lalu datang lagi ke sana, saya jadi ingat kenapa dari dulu saya suka.
Detail batiknya.
Warna-warnanya.
Dan rasa klasiknya yang tetap gampang dipakai sekarang.
Kalau sedang berburu batik tulis di Solo, terutama yang ingin dipakai sebagai jarit, seragaman keluarga, atau dipasangkan dengan kebaya, Rosethree menurut saya termasuk yang layak dilihat langsung.
Cuma saran saya satu.
Kalau sudah dapat kain yang cantik banget…
jangan langsung digunting.
Nanti menyesal seperti saya.
