Travel Blogger Indonesia
Travel Blogger Indonesia: Blog Perjalanan yang Masih Layak Dibaca
Masih ada nggak sih travel blogger Indonesia sekarang?
Ada.
Banyak malah.
Hanya saja mereka mungkin tidak terlihat seramai dulu.
Sebagian lebih aktif di Instagram atau YouTube. Ada yang tetap menulis blog tetapi frekuensinya tidak sesering dulu. Ada pula blog yang sudah bertahun-tahun tidak diperbarui tetapi tulisan lamanya masih sangat enak dibaca.
Saya sendiri sebenarnya sudah lama suka blogwalking.
Sebelum pergi ke suatu tempat, saya termasuk orang yang masih suka mencari pengalaman orang lain lewat blog.
Bukan cuma:
“Tempat wisata terbaik di kota X.”
Saya lebih suka membaca bagaimana orang itu sampai ke sana.
Naik apa.
Nyasar atau tidak.
Makan di mana.
Tempatnya ternyata bagus atau biasa saja.
Apa yang tidak terlihat di Instagram.
Dan kalau suatu hari kembali, apa yang akan dia lakukan berbeda.
Menurut saya justru cerita seperti inilah yang membuat travel blogger masih relevan di tengah Google, TikTok, YouTube, dan AI sekarang.
Kenapa Saya Masih Membaca Travel Blog?
Sekarang informasi perjalanan sebenarnya mudah sekali ditemukan.
Mau itinerary Istanbul?
AI bisa membuatnya dalam beberapa detik.
Mau tahu cara menuju Sapa?
Google bisa menjawab.
Mau melihat seperti apa Cappadocia?
TikTok penuh videonya.
Tetapi saya masih mencari blog ketika ingin mengetahui pengalaman sebenarnya.
Contohnya saya sendiri ketika menulis perjalanan Vietnam.
Saya bisa menjelaskan bahwa dari Hanoi ke Sapa ada sleeper train.
Informasi itu biasa.
Tetapi pengalaman tidur semalaman di kereta, seperti apa kabinnya, apakah nyaman, dan bagaimana rasanya kemudian kembali ke Hanoi menggunakan sleeper bus adalah cerita yang baru muncul setelah benar-benar menjalani perjalanannya.
Begitu juga ketika menulis Turki.
Semua orang bisa membaca sejarah Hagia Sophia.
Tapi pengalaman berjalan di Sultanahmet, membandingkan Hagia Sophia dan Blue Mosque, berpindah dari Istanbul ke Bursa, lalu Pamukkale, Cappadocia sampai Konya tentu menjadi cerita yang berbeda.
Itulah bagian travel blogging yang masih saya cari.
Bagaimana Saya Memilih Travel Blogger dalam Daftar Ini?
Artikel ini bukan ranking.
Nomor satu bukan berarti yang terbaik dan nomor terakhir bukan berarti kurang bagus.
Saya juga tidak memilih berdasarkan jumlah followers atau traffic.
Saya lebih melihat beberapa hal sederhana:
Ada pengalaman nyata.
Saya ingin membaca tulisan dari orang yang memang pernah datang.
Ada suara penulisnya.
Kalau tulisan bisa dipindahkan ke website lain tanpa terasa berbeda, biasanya saya kurang tertarik.
Ada informasi yang berguna.
Bukan harus selalu panduan lengkap, tetapi setelah membaca saya mendapatkan sesuatu.
Foto dan cerita terasa original.
Dan satu lagi: blog lama tetap boleh masuk.
Kalau tulisannya bagus tetapi penulis sudah jarang update, menurut saya masih layak dibaca.
Saya akan menyebutnya sebagai arsip, bukan berpura-pura seolah masih aktif.
1. The Naked Traveler – Trinity
Kalau membahas travel blogger Indonesia, sulit rasanya tidak memulai dari Trinity.
The Naked Traveler termasuk blog perjalanan Indonesia generasi awal. Trinity sudah menulis sejak pertengahan 2000-an, ketika istilah travel blogger bahkan belum sepopuler sekarang.
Yang membuat tulisannya bertahan lama menurut saya bukan karena informasinya super teknis.
Justru karena suara Trinity sangat terasa.
Lucu.
Kadang nyinyir.
Jujur.
Tidak mencoba membuat semua perjalanan terlihat sempurna.
Cerita-cerita blognya kemudian berkembang menjadi seri buku The Naked Traveler, bahkan pernah diangkat menjadi film.
Saya sendiri suka membaca tulisan seperti ini karena rasanya memang sedang mendengar orang bercerita.
Bukan membaca brosur pariwisata.
Cocok dibaca untuk: cerita perjalanan personal, humor, dan nostalgia era travel blogging Indonesia.
2. PergiDulu.com – Adam dan Susan
PergiDulu dikelola oleh pasangan traveler Adam dan Susan.
Saya suka blog mereka karena pendekatannya cukup praktis.
Ada perjalanan luar negeri.
Indonesia.
Kuliner.
Hotel.
Trekking.
Dan berbagai panduan yang bisa langsung digunakan untuk merencanakan perjalanan.
Gaya tulisannya juga tidak terlalu banyak basa-basi.
Kalau sedang mencari informasi tentang sebuah destinasi, biasanya kita cepat sampai ke bagian yang dibutuhkan.
Buat saya PergiDulu termasuk contoh bagus bahwa travel blog bisa tetap personal tanpa harus semuanya berbentuk diary.
Cocok dibaca untuk: itinerary, panduan perjalanan, trekking, dan kuliner.
3. Her Journeys – Anggey Anggraini
Her Journeys milik Anggey Anggraini termasuk travel blog Indonesia yang secara visual pernah sangat menonjol.
Saya pertama kali tertarik justru karena foto dan destinasinya.
Morocco.
Leh-Ladakh.
New Zealand.
Inggris.
Banyak tempat yang waktu itu belum terlalu sering ditulis travel blogger Indonesia.
Blognya sekarang lebih cocok saya masukkan dalam kategori arsip perjalanan, karena sudah lama tidak sering diperbarui.
Tetapi tulisan lama dan foto-fotonya masih menyenangkan untuk ditelusuri.
Kadang blog yang tidak update pun tetap punya nilai.
Cocok dibaca untuk: visual travel story dan perjalanan luar negeri.
4. KadekArini.com – Kadek Arini
Kadek Arini termasuk nama yang sudah cukup lama berada di dunia travel blogging Indonesia.
Salah satu hal yang paling saya ingat dari blognya adalah fotografi.
Foto-foto perjalanan Kadek punya karakter yang kuat.
Destinasinya juga beragam dan banyak perjalanan dilakukan secara mandiri.
Meskipun update blognya sekarang tidak sesering dulu, arsip perjalanannya masih menarik.
Ini salah satu blog yang menurut saya membuktikan bahwa foto sendiri membuat cerita perjalanan jauh lebih kuat.
Cocok dibaca untuk: solo travel, fotografi, dan inspirasi perjalanan.
5. Catperku.com – Rijal Fahmi
Catperku punya Rijal Fahmi, yang sudah lama menulis cerita perjalanan.
Blognya terasa sangat kuat di sisi informasi praktis.
Banyak artikel tentang Indonesia, Jepang, transportasi, perjalanan darat, sampai video travel.
Rijal juga termasuk travel blogger yang berhasil berkembang lintas format.
Tidak hanya tulisan.
Ada YouTube dan konten visual lainnya.
Untuk blogger baru, Catperku menarik dilihat sebagai contoh bagaimana satu pengalaman perjalanan bisa dikembangkan menjadi banyak jenis konten.
Cocok dibaca untuk: perjalanan Indonesia, Jepang, transportasi, dan video travel.
6. LostPacker – Sutiknyo
Kalau suka perjalanan ke tempat-tempat yang tidak selalu mainstream, arsip LostPacker menarik sekali.
Sutiknyo banyak menjelajah kampung, pesisir, pulau, dan daerah yang jarang muncul dalam itinerary wisata biasa.
Ini yang saya suka.
Travel blogging menurut saya tidak seharusnya hanya menulis tempat yang keyword-nya besar.
Kadang cerita paling menarik justru berasal dari tempat yang orang lain belum kepikiran untuk mencari.
Cocok dibaca untuk: Indonesia, daerah terpencil, laut, dan perjalanan off-the-beaten-path.
7. CeritaEka – Eka Situmorang
Saya menemukan CeritaEka ketika mencari cerita tentang Papua.
Dan itu langsung membuat blog ini menarik buat saya.
Tidak semua blogger punya pengalaman langsung yang dalam tentang Papua.
Eka menulis tentang budaya, makanan, Festival Danau Sentani, sampai pengalaman-pengalaman lokal yang sulit didapat kalau penulis hanya merangkum internet.
Ini contoh bagus tentang information gain dari pengalaman pribadi.
Kita membaca sesuatu yang memang hanya bisa ditulis orang yang pernah berada di sana.
Cocok dibaca untuk: Papua, budaya lokal, Indonesia, dan cerita perjalanan panjang.
8. Marischka Prudence
Marischka Prudence punya latar belakang jurnalistik, dan menurut saya itu terasa dalam cara dia bercerita.
Tulisan lebih observatif.
Foto-fotonya kuat.
Dan diving menjadi salah satu topik yang sering muncul.
Blognya kini lebih cocok dibaca sebagai arsip perjalanan, tetapi arsip seperti ini justru menyimpan banyak cerita yang sulit digantikan artikel generik.
Cocok dibaca untuk: diving, fotografi, laut, dan perjalanan internasional.
9. Satya Winnie
Kalau suka adventure travel, Satya Winnie punya karakter yang kuat.
Diving.
Gunung.
Rafting.
Caving.
Aktivitas yang mungkin saya baca dengan senang hati sambil berpikir, “seru juga ya,” walaupun belum tentu saya mau melakukannya semua.
Dan justru itu gunanya travel blogger.
Kita bisa melihat dunia dari gaya traveling orang lain.
Cocok dibaca untuk: adventure, outdoor, diving, dan perjalanan aktif.
10. Ohelterskelter – Yuki Anggia
Ohelterskelter punya karakter visual dan tulisan yang cukup khas.
Destinasinya juga tidak biasa.
Iceland.
Faroe Islands.
Namibia.
West Coast Amerika.
Banyak perjalanan jauh yang tidak terlalu sering ditulis dalam bahasa Indonesia.
Yuki juga punya background menulis dan fotografi yang kuat, sehingga tulisan-tulisannya terasa lebih editorial.
Sekarang blognya mungkin tidak seaktif masa puncaknya, tapi arsipnya masih layak dibaca.
Cocok dibaca untuk: long-haul travel, fotografi, dan travel writing.
11. JenniferAnandary.com
Kalau beberapa blog di atas terasa generasi awal blogging, Jennifer Anandary mewakili gaya travel blog yang lebih modern.
Desainnya bersih.
Foto rapi.
Bahasanya ringan.
Navigasinya juga enak digunakan.
Menurut saya ini penting karena sekarang orang tidak hanya menilai artikel.
Pengalaman membaca blog juga ikut menentukan apakah mereka mau tinggal.
Cocok dibaca untuk: travel lifestyle, destinasi kekinian, dan inspirasi visual.
12. OmNduut.com – Haryadi Yansyah
Saya sudah lama suka tulisan Om Nduut.
Ceritanya panjang, tetapi masih terasa seperti orang sedang bercerita.
India termasuk salah satu topik yang cukup kuat di blog ini.
Haryadi juga sudah menulis beberapa buku perjalanan.
Kalau sedang mencari tulisan yang tidak terlalu buru-buru dan tetap personal, saya biasanya menikmati blog semacam ini.
Cocok dibaca untuk: India, perjalanan luar negeri, kuliner, dan travel storytelling.
13. Travellumy.com
Ya, ini blog yang sedang kamu baca sekarang.
Saya masukkan bukan karena ingin bilang Travellumy paling bagus.
Belum juga.
Masih panjang pekerjaannya.
Tapi Travellumy memang sedang saya bangun menjadi blog traveling Indonesia berbasis pengalaman pribadi.
Saya ingin satu perjalanan tidak selesai hanya dalam satu artikel.
Misalnya perjalanan Vietnam bisa berkembang menjadi Hanoi, Sapa, Fansipan, Halong Bay, sleeper train, sleeper bus, Cafe Giang, Vietnam Airlines, makanan, oleh-oleh sampai biaya perjalanan.
Begitu pula Turki.
Ada Negara Turki, Wisata Turki, Istanbul, Hagia Sophia, Blue Mosque, Hippodrome, Ortaköy, Topkapi, Cappadocia, Pamukkale dan masih banyak lagi yang ingin saya tulis.
Sebagian perjalanan sudah terjadi bertahun-tahun lalu, jadi saya sedang membuka lagi foto, catatan, dan ingatan satu per satu.
Sedikit pekerjaan rumah memang.
Tapi saya menikmatinya.
Cocok dibaca untuk: perjalanan personal, budaya, sejarah, kuliner, hotel, dan itinerary berdasarkan pengalaman sendiri.
14. TravelingAjaDulu – Olivia Purba
TravelingAjaDulu menarik karena banyak perjalanan Olivia terkait studi, pekerjaan, dan pengalaman tinggal di berbagai negara.
Jadi perspektifnya berbeda dari liburan biasa.
Ada Australia.
Nepal.
Amerika.
Kolombia.
Costa Rica.
Dan berbagai pengalaman hidup nomaden lainnya.
Kalau suka tulisan yang menggabungkan perjalanan dengan pendidikan dan karier internasional, blog ini menarik.
Cocok dibaca untuk: study abroad, perjalanan internasional, dan living overseas.
15. Momopururu – Istiana Sutanti
Momopururu punya niche yang jelas: family travel.
Dan menurut saya ini salah satu kekuatan terbesar sebuah blog.
Membawa anak traveling punya pertimbangan berbeda dari solo traveler.
Hotel.
Makanan.
Transportasi.
Aktivitas.
Jam perjalanan.
Semua berbeda.
Pengalaman seperti ini sangat berguna karena ditulis oleh orang yang memang menjalani perjalanan bersama keluarga.
Cocok dibaca untuk: family travel, hotel, kuliner, dan perjalanan bersama anak.
16. Virus Traveling – Bobby Ertanto
Virus Traveling banyak berbicara tentang perjalanan di Indonesia.
Bobby sudah lama punya misi menjelajah berbagai provinsi dan menuliskan pengalamannya.
Saya suka konsep seperti ini karena Indonesia sendiri sebenarnya tidak akan habis untuk ditulis.
Kadang kita terlalu sibuk mengejar luar negeri sampai lupa berapa banyak cerita perjalanan di negara sendiri.
Cocok dibaca untuk: Indonesia dan eksplorasi antardaerah.
17. AkuChichie.co – Chichie
Salah satu hal yang langsung terasa dari AkuChichie adalah foto-fotonya.
Chichie memang punya kemampuan fotografi, jadi gambar di dalam artikelnya bukan sekadar pelengkap.
Travel.
Kuliner.
Hotel.
Lifestyle.
Semuanya punya visual yang kuat.
Menurut saya ini contoh bagus bagaimana skill lain bisa membuat sebuah blog punya identitas berbeda.
Cocok dibaca untuk: travel, hotel, kuliner, dan fotografi.
18. HarindaBama.com
Kalau suka artikel travel yang lebih dalam, Harinda Bama menarik sekali.
Banyak tulisan tentang:
budaya,
sejarah,
arsitektur,
situs kuno,
dan perjalanan dengan konteks yang lebih luas.
Blognya menggunakan bahasa Inggris dan menurut saya punya tipe tulisan yang tidak dibuat sekadar mengejar pencarian Google.
Kadang justru itu yang membuatnya menarik.
Cocok dibaca untuk: budaya, heritage, history, dan perjalanan mendalam.
19. AriefPokto.com
Arief atau Aip masih termasuk blogger yang aktif di komunitas.
Tulisan perjalanannya cukup beragam dan banyak berasal dari pengalaman langsung.
Saya suka blog seperti ini karena masih mempertahankan rasa “blogger” klasik.
Ada cerita.
Ada kegiatan.
Ada interaksi dengan komunitas.
Dan bukan hanya halaman SEO.
Cocok dibaca untuk: perjalanan Indonesia, lifestyle, dan kegiatan komunitas.
20. Yani Lauwoie – My Travel Stories
Tagline blog Yani sebenarnya sudah menjelaskan semuanya:
Lots of memories I can’t keep, that’s why I write.
Saya suka sekali konsep ini karena mirip dengan alasan saya sendiri menulis blog.
Kita pikir akan ingat semuanya.
Ternyata tidak.
Yani juga pernah menulis buku Explore, Enjoy & Repeat yang berisi cerita perjalanan ke berbagai negara.
Blognya cocok untuk pembaca yang memang menikmati travel story, bukan sekadar mencari informasi tiket.
Cocok dibaca untuk: cerita perjalanan luar negeri dan travel memoir.
21. KhairulLeon.com
Khairul Leon awalnya membuat blog bukan khusus traveling.
Lama-lama perjalanan ke gunung, pantai, dan berbagai destinasi mulai mendominasi.
Dan akhirnya niche-nya terbentuk sendiri.
Ini sebenarnya cukup relatable.
Banyak blogger tidak memulai dengan business plan.
Kita menulis dulu.
Baru kemudian sadar ternyata ada satu topik yang selalu ingin kita ceritakan.
Cocok dibaca untuk: alam, perjalanan Indonesia, dan outdoor.
22. Discover Your Indonesia – Firsta
Discover Your Indonesia sedikit berbeda karena ditulis dalam bahasa Inggris.
Tujuannya sejak awal memang memperkenalkan Indonesia kepada pembaca internasional dari sudut pandang lokal.
Dan kemudian blog ini berkembang lebih jauh sampai menawarkan bantuan perencanaan perjalanan.
Buat saya ini contoh menarik tentang bagaimana sebuah travel blog bisa berkembang menjadi travel business.
Cocok dibaca untuk: Indonesia untuk international travelers dan trip planning.
23. Sharon Travelogue
Sharon Travelogue termasuk salah satu blog yang dulu sering saya baca.
Sekarang update-nya tidak sesering dulu, jadi saya lebih suka menyebutnya arsip perjalanan.
Tapi saya tetap memasukkannya karena gaya bercerita Sharon sangat personal.
Cerita tentang hal-hal kecil seperti bahasa, kebiasaan lokal, dan kehidupan sehari-hari justru yang membuat tulisannya terasa hidup.
Cocok dibaca untuk: Australia, perjalanan luar negeri, dan personal travel story.
24. Evi Indrawanto
Tulisan Evi Indrawanto terasa matang.
Banyak bahasan budaya dan perjalanan Indonesia yang tidak sekadar menyebut tempat.
Ada konteks.
Ada masyarakat.
Ada cerita.
Dan saya suka pendekatan semacam ini karena perjalanan sebenarnya bukan cuma melihat pemandangan.
Kadang orang yang kita temui justru lebih menarik daripada tempatnya.
Cocok dibaca untuk: budaya Indonesia, perjalanan domestik, dan human-interest travel.
25. Peek Holidays – Tracy Chong
Peek Holidays termasuk travel blog lama yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Tracy menulis dengan detail dan foto yang serius.
Blog seperti ini mengingatkan saya bahwa sebelum ada AI dan content factory, travel blogger memang harus benar-benar:
pergi,
memotret,
pulang,
lalu duduk menulis.
Lumayan capek kalau dipikir-pikir.
Tapi mungkin itu juga yang membuat arsip mereka masih menarik sampai sekarang.
Cocok dibaca untuk: international travel dan travel photography.
26. JavaMilk
JavaMilk sudah cukup lama menjadi referensi perjalanan.
Struktur kontennya juga rapi berdasarkan negara dan kawasan.
Saya suka blog yang punya organisasi seperti ini karena setelah membaca satu artikel, kita gampang pindah ke destinasi lain.
Dan buat traveler yang sedang merencanakan perjalanan sendiri, tulisan panjang dan detail seperti ini masih berguna sekali.
Cocok dibaca untuk: independent travel dan panduan perjalanan.
27. dCatQueen – Fanny
dCatQueen banyak membahas dua hal yang sama-sama menyenangkan:
travel dan makanan.
Fanny juga termasuk blogger yang aktif berinteraksi dengan blogger lain.
Buat saya ini bagian dari budaya blogging yang mulai jarang terlihat sekarang.
Dulu blogwalking adalah cara kita menemukan tulisan baru.
Bukan algoritma.
Cocok dibaca untuk: kuliner, perjalanan domestik, dan cerita personal.
28. PegiKemana – Innayah
PegiKemana salah satu blog yang saya suka karena cukup kuat pada budaya dan sejarah.
Museum.
Bangunan tua.
Walking tour.
Kota.
Cerita lokal.
Nay tidak sekadar datang lalu foto.
Ada keinginan untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat itu.
Saya sendiri suka cara traveling seperti ini.
Makanya ketika menulis Istanbul sekarang saya juga jadi semakin ingin tahu sejarah di balik Hagia Sophia, Hippodrome atau Topkapi, bukan cuma melihat bangunannya.
Cocok dibaca untuk: sejarah, heritage, museum, dan walking tour.
29. WalterPinem.me
Walter Pinem banyak menulis alam dan aktivitas outdoor.
Gunung.
Curug.
Laut.
Kalau sedang mencari inspirasi perjalanan yang lebih dekat dengan alam daripada city break, blog seperti ini lebih relevan.
Cocok dibaca untuk: alam, gunung, air terjun, dan outdoor travel.
30. JalanPendaki.com
Nama blognya sudah cukup menjelaskan niche-nya.
Pendakian.
Dan menurut saya justru ini bagus.
Jalan Pendaki tidak berusaha menjadi sumber semua jenis perjalanan.
Fokus.
Gunung.
Trekking.
Peralatan.
Pengalaman mendaki.
Informasi jalur.
Dalam dunia Search sekarang, fokus seperti ini juga membantu pembaca tahu persis kenapa mereka harus datang ke sebuah blog.
Cocok dibaca untuk: hiking, gunung, trekking, dan pendaki pemula maupun berpengalaman.
31. SitiMustiani.com
Saya menemukan blog Siti Mustiani ketika mencari informasi tentang Kalimantan Barat.
Dan memang itu salah satu kekuatannya.
Pontianak.
Singkawang.
Kuliner.
Budaya.
Destinasi sekitar Kalimantan Barat.
Ini contoh lain kenapa local expertise penting.
Orang yang tinggal atau sering menjelajah suatu daerah biasanya punya cerita yang jauh lebih detail dibanding website nasional yang menulis semua provinsi.
Cocok dibaca untuk: Kalimantan Barat, Pontianak, Singkawang, dan local travel.
32. Pakansi.com – Nelwin Aldriansyah
Saya menemukan Pakansi gara-gara Tintin.
Iya, Tintin.
Nelwin pernah melakukan perjalanan mengikuti lokasi-lokasi yang berhubungan dengan petualangan Tintin.
Dan tentu saja saya langsung tertarik.
Karena saya juga suka sekali hubungan antara buku dan perjalanan.
Blog ini menunjukkan bahwa travel blogging tidak harus selalu berupa:
hotel,
destinasi,
itinerary.
Kita bisa punya angle sendiri.
Cocok dibaca untuk: cultural travel, Tintin, sejarah, dan perjalanan dengan tema tertentu.
33. Travelerien – Katerina
Travelerien sudah ada sejak era awal blog Indonesia.
Tulisan Katerina banyak sekali dan mencakup perjalanan, hotel, kuliner, dan berbagai pengalaman lainnya.
Ini salah satu blog yang mungkin lebih dikenal oleh generasi blogger lama dibanding pembaca baru.
Tapi arsipnya panjang dan masih menyimpan banyak referensi perjalanan.
Cocok dibaca untuk: travel Indonesia, hotel, kuliner, dan arsip blogging Indonesia.
34. TheLostraveler – Yofangga
Saya suka struktur TheLostraveler karena destinasi dibagi dengan cukup rapi.
Ada Indonesia.
Asia.
Australia.
Amerika.
Dan kawasan Indonesia juga dipecah lagi.
Buat orang yang suka browsing destinasi lewat kategori, blog seperti ini menyenangkan.
Cocok dibaca untuk: perjalanan antarnegara dan inspirasi destinasi.
35. PapanPelangi.id
PapanPelangi banyak bercerita tentang alam.
Pendakian.
Lembah.
Gunung.
Kopi.
Dan berbagai perjalanan outdoor.
Tulisan yang benar-benar berasal dari aktivitas di lapangan tentu punya nilai lebih karena detail kecilnya sulit didapat dari rangkuman internet.
Cocok dibaca untuk: gunung, alam, outdoor, dan kopi.
36. Ubermoon.me
Ubermoon milik Bulan Bee termasuk blog yang sudah cukup lama ada.
Gaya penulisannya masih terasa seperti blog personal.
Dan buat saya itu bukan kekurangan.
Justru sekarang tulisan yang benar-benar terasa seperti seseorang sedang bicara semakin menyenangkan ditemukan.
Cocok dibaca untuk: personal travel story dan arsip perjalanan.
37. Tindak Tanduk Arsitek
Nah, ini punya angle yang sangat jelas.
Travel + arsitektur.
Indri Juwono tidak hanya melihat sebuah kota sebagai kumpulan tempat wisata.
Ada bangunan.
Ruang.
Desain.
Kota.
Detail arsitektur.
Kalau punya latar belakang atau ketertarikan pada arsitektur, cara melihat sebuah perjalanan jelas akan berbeda.
Dan itu membuat blog ini punya karakter kuat.
Cocok dibaca untuk: architecture travel, city, heritage, dan urban space.
38. SyfaGanjarStory
SyfaGanjarStory menarik karena beberapa tulisan yang kelihatannya sederhana justru menjawab pertanyaan sangat spesifik.
Misalnya pengalaman menggunakan fasilitas tertentu di hotel atau hal-hal kecil dalam perjalanan.
Ini mengingatkan saya bahwa informasi berguna tidak harus selalu terdengar besar.
Kadang pertanyaan sederhana justru yang benar-benar dicari orang.
Cocok dibaca untuk: travel tips praktis dan pengalaman sehari-hari.
39. JilbabBackpacker
JilbabBackpacker milik Rahma punya cerita perjalanan yang sederhana dan personal.
Nama blognya sendiri sudah membawa identitas yang cukup jelas.
Traveling sebagai perempuan Muslim tentu punya beberapa pertimbangan tambahan, mulai dari makanan sampai pakaian dan kenyamanan.
Cocok dibaca untuk: Muslim travel, backpacking, dan pengalaman perjalanan personal.
40. CeritaFebrian
Kalau ingin membaca cerita Indonesia yang jarang muncul di halaman utama media travel, coba CeritaFebrian.
Papua.
Kalimantan.
Komunitas adat.
Budaya lokal.
Cerita perjalanan seperti ini menurut saya sangat penting.
Indonesia terlalu besar kalau hanya ditulis lewat Bali, Yogyakarta, Bandung, dan Labuan Bajo.
Cocok dibaca untuk: budaya lokal, remote Indonesia, Papua, Kalimantan, dan perjalanan antropologis.
41. FajarWalker
FajarWalker memilih positioning yang menarik:
micro-traveling.
Fokus pada perjalanan pendek dan destinasi di sekitar Jabodetabek.
Saya justru suka konsep seperti ini.
Traveling tidak selalu harus tiket pesawat dan paspor.
Kadang tempat dua jam dari rumah pun bisa menjadi perjalanan kalau kita melihatnya dengan rasa ingin tahu.
Cocok dibaca untuk: Jabodetabek, short trip, dan micro-traveling.
42. AnnieNugraha.com
Annie Nugraha sudah lama menulis dan perjalanan menjadi salah satu bagian penting blognya.
Saya suka filosofi bahwa tulisan bisa menjadi jejak atau legacy.
Ini juga semakin saya rasakan setelah bertahun-tahun punya blog.
Kita tidak hanya menulis untuk trafik hari ini.
Suatu saat tulisan lama mungkin justru paling berharga untuk diri sendiri dan keluarga.
Cocok dibaca untuk: perjalanan Indonesia, budaya, personal story, dan refleksi.
43. CatatanNobi
Catatan Nobi punya gaya perjalanan yang ringan.
Tidak semua cerita harus pergi jauh.
Kuliner lokal.
Jalan-jalan sekitar rumah.
Perjalanan sehari.
Justru jenis blog seperti ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Cocok dibaca untuk: local trip, kuliner, dan perjalanan sederhana.
44. Pink Travelogue – Irene Komala
Pink Travelogue dikelola Irene Komala.
Latar belakang desain grafisnya terasa dari presentasi blog yang cukup visual.
Tulisan perjalanan dibuat detail dengan banyak foto.
Dan menurut saya blog seperti ini menunjukkan bagaimana travel blogger sekarang juga berfungsi sebagai content creator, bukan hanya penulis.
Cocok dibaca untuk: visual travel, itinerary, dan inspirasi destinasi.
Travel Blogger yang Jarang Update Tetap Layak Dibaca?
Menurut saya iya.
Tetapi harus dibedakan antara informasi praktis dan cerita perjalanan.
Kalau mencari:
harga tiket,
jadwal kereta,
aturan visa,
jam buka,
atau syarat masuk,
artikel sepuluh tahun lalu tentu tidak bisa langsung dipercaya.
Harus dicek lagi.
Tetapi cerita tentang:
bagaimana rasanya berada di suatu kota,
pengalaman bertemu orang lokal,
perjalanan naik kereta,
budaya,
makanan,
atau kejadian selama perjalanan,
bisa tetap menarik bertahun-tahun kemudian.
Itu sebabnya saya tidak otomatis menghapus blogger dari daftar hanya karena sudah tidak rajin update.
Beberapa blog lama sekarang lebih tepat disebut travel archive.
Dan saya rasa tidak ada yang salah dengan itu.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Travel Blogger Indonesia?
Setelah membaca begitu banyak blog untuk artikel ini, saya justru melihat bahwa blogger yang paling menarik biasanya punya karakter yang jelas.
JalanPendaki punya gunung.
Tindak Tanduk Arsitek punya arsitektur.
PegiKemana kuat di budaya dan sejarah.
Momopururu punya family travel.
Discover Your Indonesia melihat Indonesia untuk pasar internasional.
FajarWalker mulai membangun micro-traveling.
Tidak semua orang harus menulis seluruh dunia.
Kadang menjadi sangat berguna untuk satu topik justru lebih menarik.
Ini juga menjadi pelajaran untuk saya ketika membangun Travellumy.
Saya tidak ingin hanya mempunyai banyak artikel.
Saya ingin ketika membahas satu perjalanan, pembahasannya benar-benar dalam.
Travel Blogger di Era AI Justru Harus Semakin Personal
Ironisnya, semakin pintar AI membuat tulisan, semakin saya merasa blog harus kembali ke hal paling dasar:
orang di belakang tulisan.
Kalau artikel tentang Cappadocia hanya menjelaskan:
ada balon udara,
fairy chimney,
underground city,
dan Göreme,
AI juga tahu.
Tetapi AI tidak mengalami bagaimana rasanya bangun sebelum matahari terbit.
Tidak tahu hotel mana yang saya tempati.
Tidak merasakan jalan panjang dari kota sebelumnya.
Tidak punya foto-foto perjalanan saya.
Dan tidak bisa berkata jujur:
“Kalau saya kembali, bagian ini akan saya lakukan berbeda.”
Google sendiri semakin jelas meminta konten yang punya pengalaman langsung dan memberi nilai lebih dibanding sekadar rangkuman.
Buat travel blogger, sebenarnya itu kabar baik.
Karena experience memang dari dulu menjadi kekuatan blogging.
Jadi, Masih Perlu Membaca Travel Blogger Indonesia?
Saya masih.
Bahkan sekarang mungkin saya lebih menghargainya.
Video pendek bagus untuk membuat saya ingin pergi.
Google Maps membantu mencari lokasi.
AI membantu menyusun gambaran awal.
Tapi kalau saya benar-benar sedang merencanakan perjalanan, saya tetap ingin membaca pengalaman orang yang pernah datang.
Ada detail-detail kecil yang hanya muncul ketika seseorang benar-benar mengalami sesuatu.
Dan saya masih suka ketika di tengah riset perjalanan tiba-tiba menemukan sebuah blog yang belum pernah saya baca sebelumnya.
Lalu satu artikel dibaca.
Pindah ke artikel kedua.
Ketiga.
Tahu-tahu satu jam habis untuk blogwalking.
Ternyata kebiasaan zaman dulu itu belum benar-benar hilang.
Untung saja.
Karena internet akan terasa agak membosankan kalau semuanya hanya berisi jawaban cepat.
Kadang saya masih ingin membaca cerita.
Dan travel blogger Indonesia masih punya banyak cerita untuk diceritakan.
