Travel Blogging Saat Ini
Travel Blogging Saat Ini: Masih Menjanjikan di Era AI?
Dunia travel blogging sekarang memang jauh berbeda dibanding ketika saya pertama kali mengenal blogging.
Kalau ditarik sampai sekitar 2006, rasanya malah seperti membicarakan zaman lain.
Internet masih berbeda.
Media sosial belum seperti sekarang.
Belum ada TikTok.
Belum ada Reels.
Dan tentu saja belum ada AI yang bisa membuat itinerary Turki dalam hitungan beberapa detik.
Tapi sebenarnya tidak perlu mundur sejauh itu.
Dibanding lima tahun lalu saja, cara orang mencari informasi perjalanan sudah berubah banyak.
Dulu orang mengetik sesuatu di Google, membuka beberapa blog, lalu membaca artikel satu per satu.
Sekarang Google bisa menampilkan AI Overview langsung di halaman pencarian. Orang bisa bertanya pada ChatGPT. Bisa melihat TikTok. Bisa mencari hotel lewat YouTube. Bisa bertanya pada forum. Bahkan Google Search sendiri sekarang semakin visual dan multimodal.
Lalu pertanyaannya:
masih ada tempat untuk travel blog?
Menurut saya masih.
Tapi cara bermainnya memang sudah berbeda.
Dan kalau kita masih membuat travel blog dengan cara yang sama seperti sepuluh tahun lalu, ya kemungkinan besar akan terasa semakin berat.
Travel Blogging Dulu Memang Lebih Sederhana
Ada masa ketika rasanya cukup:
cari keyword,
tulis artikel,
publish,
kemudian tunggu trafik Google datang.
Kadang artikelnya bahkan tidak perlu terlalu istimewa.
Yang penting keyword masuk.
Jumlah artikel banyak.
Internal link ada.
Backlink lumayan.
Lalu setiap pagi yang dicek mungkin bukan kualitas artikel, tetapi dashboard trafik dan Adsense.
Saya juga pernah berada di masa seperti itu.
Ada kepuasan sendiri ketika melihat grafik naik.
Kemudian lama-lama kita terbiasa berpikir bahwa blogging adalah permainan angka.
Berapa artikel.
Berapa pageviews.
Berapa keyword di posisi satu.
Berapa penghasilan hari ini.
Masalahnya, dunia internet tidak pernah diam.
Google berubah.
Pembaca berubah.
Platform baru muncul.
Dan sekarang AI datang membawa perubahan lain yang jauh lebih besar.
Sekarang Informasi Saja Tidak Cukup
Kalau dulu keunggulan travel blogger adalah punya informasi yang orang lain belum tahu, sekarang kondisi itu mulai berubah.
Misalnya saya ingin tahu:
“Bagaimana cara pergi dari Hanoi ke Sapa?”
AI bisa memberi jawabannya.
Kereta.
Bus.
Private transfer.
Durasi.
Perkiraan harga.
Selesai.
Kalau artikel kita hanya mengulang informasi seperti itu, jujur saja pembaca memang semakin punya sedikit alasan untuk masuk ke blog.
Tetapi ceritanya berubah ketika pertanyaannya menjadi:
Bagaimana rasanya naik sleeper train Hanoi-Sapa semalaman?
Apakah nyaman?
Kalau sulit tidur bagaimana?
Kabinnya seperti apa?
Lebih enak sleeper train atau sleeper bus?
Kalau traveling bersama teman, orang tua, atau rombongan bagaimana?
Nah, ini yang jauh lebih sulit digantikan oleh rangkuman informasi.
Saya sendiri pernah melakukan dua-duanya dalam perjalanan Vietnam.
Berangkat dari Hanoi ke Sapa menggunakan sleeper train, lalu kembali ke Hanoi menggunakan sleeper bus.
Secara teori keduanya cuma moda transportasi.
Tapi pengalaman sebenarnya sangat berbeda.
Dan justru pengalaman seperti itulah yang menurut saya menjadi kekuatan travel blog sekarang.
Travel blog tidak lagi menang hanya karena punya informasi. Ia menang karena punya pengalaman.
AI Tidak Membuat Saya Ingin Berhenti Menulis
Waktu AI mulai masuk ke dunia content, saya rasa wajar kalau blogger sedikit panik.
Kalau AI bisa menulis artikel dalam beberapa detik, buat apa saya duduk berjam-jam membuat satu tulisan?
Saya juga pernah berpikir seperti itu.
Tapi semakin lama justru saya melihat fungsi blog menjadi lebih jelas.
AI bisa merangkum.
AI bisa menjelaskan sejarah Hagia Sophia.
AI bisa membuat daftar tempat wisata Istanbul.
AI bisa menyusun itinerary Turki sembilan hari.
Tapi AI tidak ikut perjalanan saya.
Ia tidak berdiri di Sultanahmet lalu melihat Hagia Sophia dan Blue Mosque saling berhadapan.
Tidak merasakan bagaimana suasana Cappadocia pada pagi hari.
Tidak berjalan di Pamukkale.
Tidak duduk di sleeper train menuju Sapa.
Tidak mencoba egg coffee di Cafe Giang.
Tidak merasakan capek setelah naik ke Fansipan lalu turun ratusan anak tangga.
Dan tidak punya pendapat pribadi apakah semua pengalaman itu benar-benar worth it.
Menurut saya justru sekarang blogger harus lebih berani memasukkan bagian-bagian seperti itu.
Karena itulah hal yang benar-benar kita punya.
Google Juga Masih Mencari Pengalaman Nyata
Kadang kita terlalu sibuk mencari “algoritma Google terbaru” sampai lupa membaca apa yang sebenarnya dikatakan Google sendiri.
Google masih menyarankan konten yang dibuat terutama untuk manusia, bukan untuk memanipulasi ranking.
Mereka juga secara eksplisit menanyakan apakah sebuah konten menunjukkan first-hand expertise, misalnya karena penulis benar-benar pernah menggunakan produk, memakai sebuah layanan, atau mengunjungi tempat yang sedang ditulis.
Buat travel blogger, menurut saya pesannya cukup jelas.
Kalau pernah ke Istanbul, ceritakan Istanbul yang benar-benar kita lihat.
Kalau pernah naik Vietnam Airlines, ceritakan pengalaman penerbangannya.
Kalau pernah menginap di hotel tertentu, gunakan foto dan catatan sendiri.
Kalau belum pernah ke suatu tempat, jangan berpura-pura seolah kita sudah pernah.
Sesederhana itu.
Foto Sendiri Menjadi Semakin Penting
Travel blogging selalu dekat dengan foto.
Tapi sekarang saya merasa original photography punya nilai yang bahkan lebih besar.
Bayangkan saya menulis review hotel lalu seluruh fotonya diambil dari Booking.com.
Atau membahas sebuah restoran tetapi menggunakan stock photo makanan.
Pembaca mungkin masih mendapat informasi.
Tapi apa bedanya dengan website lain?
Kalau saya menulis pengalaman mengunjungi Cappadocia, tentu akan jauh lebih kuat kalau ada foto saya sendiri.
Bukan hanya postcard shot.
Foto kamar hotel.
Jalan.
Sarapan.
Bus.
Tiket.
Pemandangan dari jendela.
Hal-hal kecil yang mungkin secara fotografi tidak spektakuler, tetapi justru membuktikan bahwa perjalanan itu benar-benar terjadi.
Sekarang Google Search juga semakin banyak membaca dan menampilkan pengalaman pencarian berbasis visual. Bahkan Search Console sudah mulai memberi reporting khusus untuk multimodal search. Jadi foto perjalanan menurut saya bukan lagi sekadar dekorasi artikel.
Foto adalah bagian dari konten.
Blog Generic Akan Semakin Sulit
Kalau sekarang saya memulai travel blog dari awal, satu hal yang tidak akan saya lakukan adalah membuat tulisan terlalu generik.
Misalnya:
10 Tempat Wisata di Turki
lalu isinya:
Hagia Sophia adalah bangunan bersejarah.
Cappadocia terkenal dengan balon udara.
Pamukkale memiliki travertine putih.
Ephesus adalah kota kuno.
Semua benar.
Tapi semua orang juga sudah tahu.
Dan AI bisa membuat daftar seperti itu dalam beberapa detik.
Yang lebih menarik justru:
Kenapa Hagia Sophia worth it meskipun cara mengunjunginya sekarang berubah?
Berapa hari ideal untuk Cappadocia kalau hot air balloon menjadi prioritas?
Apa yang saya rasakan ketika melihat Pamukkale langsung dibanding fotonya?
Apakah perjalanan darat Turki melelahkan?
Apa yang akan saya ubah kalau menjalani itinerary yang sama lagi?
Di situlah artikel mulai mempunyai sesuatu yang tidak sama dengan halaman lain.
Ini Alasan Saya Sekarang Lebih Suka Content Cluster
Dulu saya juga bisa saja menulis satu artikel besar:
Wisata Turki
selesai.
Sekarang saya lebih suka membangun satu perjalanan menjadi banyak tulisan yang saling berhubungan.
Misalnya dari perjalanan Turki saja bisa lahir:
Negara Turki.
Wisata Turki.
Kota di Turki.
Itinerary Turki.
Hagia Sophia.
Blue Mosque.
Hippodrome Square.
Masjid Ortaköy.
Topkapi Palace.
Cappadocia.
Pamukkale.
Bursa.
Konya.
Makanan Turki.
Turkish breakfast.
Turkish coffee.
Dan masih bisa berkembang lagi.
Artikel Wisata Turki menjadi pintu masuk.
Lalu pembaca yang ingin tahu lebih jauh tentang Hagia Sophia bisa pindah ke artikel khusus Hagia Sophia.
Yang sedang menyusun itinerary bisa membaca itinerary.
Yang tertarik sejarah bisa masuk ke Topkapi.
Buat saya pola seperti ini jauh lebih masuk akal daripada membuat seratus artikel random yang tidak punya hubungan.
Blog terasa seperti perpustakaan.
Bukan gudang.
Sponsored Post Bukan Masalah, Asal Blog Tidak Kehilangan Identitas
Ini salah satu hal dari dunia blogging lama yang menurut saya masih relevan dibicarakan.
Sponsored post bukan sesuatu yang salah.
Blogger juga perlu mendapatkan penghasilan.
Masalah mulai muncul ketika semua job diterima.
Travel blog tiba-tiba membahas:
pinjaman online,
software akuntansi,
obat,
apartemen,
asuransi kendaraan,
lalu besok kembali membahas pantai.
Kalau saya menjadi pembaca, saya juga akan bingung.
Blog ini sebenarnya tentang apa?
Tulisan lama saya pernah menyinggung bahwa menerima berbagai sponsored post yang tidak relevan bisa membuat topik blog menjadi berantakan. Itu masih saya percaya sampai sekarang.
Bukan berarti blog harus super sempit.
Travellumy sendiri bisa membahas travel, budaya, makanan, hotel, penerbangan, buku yang berkaitan dengan perjalanan, dan berbagai hal lain yang masih punya hubungan dengan identitas blog.
Tapi harus tetap terasa ada benang merah.
Kalau semua topik masuk hanya karena dibayar, lama-lama karakter blog hilang.
Dan ketika karakter hilang, kita kembali bersaing hanya lewat informasi.
Padahal informasi adalah bagian yang paling mudah dikomoditaskan sekarang.
Authority Bukan Berarti Harus Jadi “Expert” Segala Hal
Saya dulu sering melihat blogger terlalu sibuk mengejar angka.
DA berapa?
DR berapa?
Traffic berapa?
Ranking keyword berapa?
Saya tidak bilang angka seperti itu tidak berguna.
Tentu berguna untuk analisis.
Tapi authority yang sebenarnya menurut saya jauh lebih sederhana:
apakah orang percaya dengan apa yang kita tulis?
Kalau saya bilang sebuah hotel bagus, apakah pembaca percaya karena mereka tahu saya benar-benar menginap di sana?
Kalau saya mengatakan sebuah tempat sebaiknya dikunjungi pagi hari, apakah ada penjelasannya?
Kalau saya membuat itinerary, apakah rutenya benar-benar pernah saya jalani?
Kalau ada informasi yang berubah, apakah saya melakukan update?
Dan kalau saya tidak tahu sesuatu, apakah saya cukup jujur untuk mengatakan tidak tahu?
Trust dibangun pelan-pelan.
Artikel demi artikel.
Tidak bisa dipercepat hanya dengan angka SEO.
Saya Tidak Mau Travellumy Menjadi Wikipedia Versi Travel
Ini salah satu keputusan yang semakin jelas buat saya.
Informasi tetap penting.
Kalau menulis tentang Hagia Sophia, sejarahnya harus benar.
Kalau menulis visa Turki, sumbernya harus resmi.
Kalau menyebut tiket Topkapi, harganya harus diperiksa.
Tapi kalau seluruh artikel hanya berisi informasi faktual, sebenarnya Travellumy tidak terlalu dibutuhkan.
Wikipedia bisa memberi sejarah.
Website resmi bisa memberi jam buka.
Google Maps bisa memberi alamat.
AI bisa merangkum semuanya.
Yang ingin saya tambahkan adalah:
rasanya bagaimana berada di sana?
Apa yang saya suka?
Apa yang membuat saya terkejut?
Apa yang ternyata berbeda dari foto?
Apa yang perlu diketahui traveler sebelum datang?
Dan kalau saya kembali lagi, apa yang akan saya lakukan berbeda?
Itulah bagian yang membuat blog tetap menjadi blog.
Travel Blogger Sekarang Harus Sedikit Lebih Serius
Saya tidak berarti semuanya harus berubah menjadi perusahaan.
Tidak begitu.
Tetapi kalau memang ingin blog berkembang, sekarang rasanya sulit kalau kita hanya mengandalkan:
“kalau mood saya nulis.”
Saya mulai melihat blog sebagai sebuah proyek jangka panjang.
Ada konten.
Ada branding.
Ada SEO.
Ada foto.
Ada pembaca.
Ada monetisasi.
Ada update artikel lama.
Dan semuanya terhubung.
Di tulisan lama saya pernah menyebut konsep big picture.
Sampai sekarang saya masih suka konsep itu.
Bayangkan kita melihat blog dari atas.
Bukan melihat artikel hari ini saja.
Tapi melihat:
Blog ini sebenarnya mau dikenal sebagai apa?
Siapa pembacanya?
Topik utamanya apa?
Artikel apa yang masih kurang?
Perjalanan mana yang punya cukup materi untuk dibuat cluster?
Bagaimana orang berpindah dari satu artikel ke artikel lain?
Dan suatu hari nanti, bagaimana blog ini menghasilkan?
Ketika gambaran besarnya mulai terlihat, keputusan kecil jadi lebih mudah.
Travellumy Sendiri Sedang Saya Bangun Seperti Itu
Misalnya sekarang saya ingin Travellumy punya cluster Turki yang benar-benar kuat.
Saya tidak hanya ingin punya artikel tentang “tempat wisata Turki”.
Saya ingin kalau seseorang sedang merencanakan perjalanan Turki, dia bisa menemukan banyak jawaban di sini.
Mulai dari mengenal negaranya.
Memilih destinasi.
Menyusun itinerary.
Membaca sejarah Hagia Sophia.
Mengenal Blue Mosque.
Mengetahui apa yang ada di Topkapi Palace.
Sampai nanti mungkin ke makanan, transportasi, hotel, dan pengalaman lain.
Begitu juga dengan Vietnam.
Satu perjalanan lima hari empat malam bisa melahirkan tulisan tentang Hanoi, Sapa, Fansipan, sleeper train, sleeper bus, Halong Bay, Cafe Giang, Vietnam Airlines, makanan, oleh-oleh, dan biaya perjalanan.
Menurut saya ini jauh lebih kuat daripada menulis semua destinasi dunia secara acak.
Saya tidak harus menjadi blog yang tahu semuanya.
Saya lebih ingin menjadi blog yang ketika membahas suatu perjalanan, memang membahasnya dengan niat.
Media Sosial Tetap Penting, tapi Bukan Rumah Utama Saya
Saya juga tidak ingin membuat seolah-olah blog dan media sosial harus saling mengalahkan.
Saya suka Instagram.
Video juga penting.
Pinterest bisa membawa pembaca.
YouTube bisa menjelaskan pengalaman yang lebih visual.
Tapi bagi saya semua itu bisa menjadi pintu.
Blog tetap rumahnya.
Di media sosial, sebuah post cepat sekali tenggelam.
Di blog, tulisan lama masih bisa ditemukan bertahun-tahun kemudian.
Artikel sleeper train Hanoi-Sapa yang ditulis hari ini masih bisa membantu seseorang tahun depan, selama informasinya terus diperbarui.
Tulisan Hagia Sophia bisa menjadi referensi berkali-kali.
Dan satu perjalanan bisa tersimpan dalam bentuk yang lebih lengkap.
Saya suka konsep seperti itu.
Email List Mungkin Akan Menjadi Lebih Penting Lagi
Ini salah satu bagian dunia blogging yang dulu sering saya abaikan.
Kalau seluruh pembaca datang dari Google, berarti kita sangat bergantung pada Google.
Kalau semua audience ada di Instagram, kita bergantung pada Instagram.
Algoritma berubah sedikit saja, kita langsung panik.
Email berbeda.
Orang yang dengan sukarela memberikan email karena ingin membaca tulisan kita lagi adalah audience yang jauh lebih dekat.
Saya rasa travel blogger ke depan perlu mulai memikirkan ini lebih serius.
Tidak harus langsung membuat newsletter setiap hari.
Saya juga tidak mau menambah pekerjaan sampai hidup isinya cuma content calendar.
Tetapi punya cara agar pembaca bisa kembali tanpa bergantung pada algoritma menurut saya semakin masuk akal.
Lalu Bagaimana dengan Penghasilan Travel Blogger?
Masih bisa menghasilkan.
Tapi menurut saya semakin tidak sehat kalau hanya bergantung pada Adsense.
Ada affiliate.
Hotel booking.
Tours.
Travel insurance.
eSIM.
Travel products.
Sponsored collaboration.
Digital products.
E-book.
Itinerary.
Photography.
Writing.
Dan berbagai kemungkinan lain.
Saya justru suka ketika sumber penghasilan tidak bergantung pada satu tempat.
Kalau trafik Google turun, blog tidak otomatis kehilangan seluruh penghasilan.
Dan yang paling penting, monetisasi sebaiknya mengikuti konten.
Bukan konten mengikuti semua tawaran monetisasi yang datang.
Menurut saya urutannya harus begitu.
Apakah Artikel Panjang Masih Perlu?
Saya sering melihat pertanyaan seperti:
“Sekarang orang masih mau baca artikel 2.000 kata?”
Jawaban saya:
kalau isinya dibutuhkan, iya.
Kalau 2.000 kata itu hanya untuk memenuhi keyword dan mengulang informasi, saya sendiri juga malas membacanya.
Google bahkan secara eksplisit mengatakan mereka tidak memiliki word count tertentu yang harus dikejar.
Jadi saya tidak terlalu tertarik dengan aturan:
“Artikel harus 2.000 kata supaya ranking.”
Tidak.
Ada topik yang selesai dalam 800 kata.
Ada yang memang butuh 3.000 kata.
Yang penting setelah selesai membaca, orang tidak perlu kembali ke Google karena artikel kita ternyata tidak menjawab apa-apa.
Itu lebih penting daripada panjangnya.
Update Artikel Lama Sekarang Sama Pentingnya dengan Menulis Baru
Ini juga salah satu perubahan cara saya ngeblog.
Dulu rasanya produktif kalau terus publish artikel baru.
Sekarang saya justru sering melihat artikel lama dan berpikir:
informasinya masih benar tidak?
Foto bisa diperbaiki?
Ada pengalaman baru yang bisa ditambahkan?
Ada internal link yang belum masuk?
Judulnya masih sesuai dengan cara orang mencari sekarang?
Ada bagian yang sebenarnya tidak perlu?
Google juga secara khusus mengingatkan bahwa mengganti tanggal halaman supaya terlihat fresh, tanpa memperbarui isinya secara berarti, bukan strategi yang berguna.
Jadi update bukan:
ganti 2025 menjadi 2026.
Update berarti membuat artikel benar-benar lebih baik.
Tulisan yang sedang kamu baca ini sebenarnya salah satu contohnya.
Versi lamanya lahir dari cara saya melihat travel blogging pada waktu itu.
Sekarang kondisinya berubah.
Dan cara saya ngeblog pun berubah.
Jadi tulisannya juga harus ikut berubah.
Travel Blogging Sekarang Memang Lebih Sulit
Saya tidak mau bilang semuanya indah.
Traffic Google bisa lebih tidak stabil.
AI Overview bisa menjawab pertanyaan tanpa membuat orang klik.
Persaingan jauh lebih besar.
Hotel dan tourism boards juga membuat content sendiri.
Media sosial mengambil perhatian.
Video semakin penting.
Dan membuat artikel berkualitas tinggi membutuhkan waktu jauh lebih banyak daripada sekadar menulis seribu kata.
Beberapa travel blogger lain yang masih aktif pada 2026 juga menulis bahwa blogging memang terasa lebih sulit dibanding beberapa tahun lalu, terutama karena perubahan Search dan AI.
Saya rasa itu realitasnya.
Tapi lebih sulit bukan berarti selesai.
Justru seleksinya menjadi lebih jelas.
Travel Blog yang Hanya Merangkum Informasi Mungkin Akan Kesulitan
Kalau seluruh isi sebuah travel blog bisa dibuat ulang hanya dengan meminta:
“Tulis 20 tempat wisata di Istanbul.”
maka memang sulit bersaing.
Bukan cuma dengan blogger lain.
Tapi dengan AI.
Sebaliknya, kalau sebuah blog berisi:
pengalaman,
foto asli,
cerita,
opini,
kesalahan perjalanan,
rekomendasi,
detail yang hanya diketahui setelah datang,
dan informasi yang benar-benar dicek,
nilai blognya berbeda.
Makanya saya rasa era AI bukan akhir travel blogging.
Justru seperti tes.
Mana artikel yang benar-benar punya alasan untuk ada?
Jangan Cuma Menulis, Bangun Sesuatu
Kalau saya melihat kembali tulisan-tulisan lama, mungkin perubahan terbesar cara berpikir saya ada di sini.
Dulu saya merasa pekerjaan blogger adalah menulis artikel.
Sekarang saya merasa pekerjaan saya adalah membangun sebuah blog.
Kedengarannya hampir sama.
Ternyata tidak.
Menulis artikel adalah satu pekerjaan.
Membangun blog berarti memikirkan bagaimana semua artikel itu saling bekerja.
Bagaimana orang mengenali gaya Travellumy.
Bagaimana foto terlihat.
Bagaimana topik disusun.
Bagaimana tulisan lama diperbarui.
Bagaimana pengalaman pribadi tetap terasa.
Dan bagaimana suatu hari nanti blog itu tetap punya pembaca tanpa saya harus menerbitkan sesuatu setiap hari.
Saya rasa itu jauh lebih menarik.
Jadi, Apakah Travel Blogging Masih Menjanjikan?
Kalau pertanyaannya:
“Apakah travel blogging masih semudah dulu?”
Jawaban saya: tidak.
Kalau pertanyaannya:
“Apakah saya bisa membuat artikel generic, mengejar keyword, lalu hidup dari Adsense?”
Saya juga tidak akan terlalu optimis.
Tapi kalau pertanyaannya:
“Apakah masih ada tempat untuk travel blogger yang benar-benar traveling, punya pengalaman, mau menulis dengan serius, dan membangun blog dalam jangka panjang?”
Buat saya jawabannya masih iya.
Bahkan mungkin blog seperti itulah yang justru semakin dibutuhkan.
Karena informasi akan semakin banyak.
Konten AI akan semakin banyak.
Video akan semakin banyak.
Semua orang bisa membuat itinerary.
Yang menjadi semakin langka justru cerita yang benar-benar punya orang di belakangnya.
Saya masih ingin Travellumy menjadi seperti itu.
Bukan website yang pura-pura tahu semua tempat di dunia.
Tapi sebuah blog tempat saya datang ke suatu tempat, melihat sendiri, mengalami sendiri, pulang, lalu bercerita.
Kadang ceritanya berguna.
Kadang cuma menyenangkan untuk dibaca.
Kadang bertahun-tahun kemudian saya sendiri yang kembali mencarinya karena sudah lupa.
Dan mungkin itu sebabnya setelah sekian lama, saya masih belum bosan dengan blogging.
Dunianya memang berubah.
Caranya ikut berubah.
Tapi rasanya masih sama.
Pergi ke suatu tempat.
Pulang.
Buka laptop.
Lalu mulai menulis.
