Nasi Jamblang Pelabuhan
Nasi Jamblang Pelabuhan Cirebon, Kuliner Legendaris yang Bikin Saya Balik Lagi
Kalau ada satu makanan yang rasanya wajib saya cari setiap kali ke Cirebon, salah satunya ya nasi jamblang.
Dan salah satu tempat yang sudah beberapa kali saya datangi adalah Nasi Jamblang Pelabuhan Hj. Sumarni.
Tempatnya sederhana.
Masuk dari pinggir gapura Pelabuhan Cirebon.
Kadang papan namanya malah hampir nggak kelihatan karena ketutup mobil.
Tapi begitu masuk, biasanya langsung ketemu meja panjang penuh lauk.
Nah, masalahnya tinggal satu.
Datangnya jam berapa?
Karena pengalaman saya sendiri pernah datang pagi dan pernah datang agak kesiangan.
Bedanya lumayan.
Waktu datang pagi, pilihan lauk masih lengkap dan nasinya masih dibungkus daun jati.
Waktu datang kesiangan?
Daun jatinya sudah habis.
Nasi saya akhirnya pakai alas kertas cokelat biasa.
Tetap enak.
Tapi entah kenapa nasi jamblang tanpa daun jati rasanya seperti ada yang kurang.
Mungkin sugesti.
Mungkin aroma.
Pokoknya beda saja.
Kenapa Namanya Nasi Jamblang?
Nama jamblang berasal dari kawasan Jamblang di Cirebon, tempat makanan ini berkembang.
Ciri yang paling mudah dikenali adalah nasi putih yang dibungkus atau dialasi daun jati, lalu dimakan dengan berbagai lauk yang dipilih sendiri.
Sega Jamblang bahkan sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2023, dengan wilayah persebaran Kota dan Kabupaten Cirebon. Dana Indonesiana
Saya suka fakta ini.
Karena nasi jamblang memang bukan sekadar makanan yang kebetulan terkenal gara-gara wisatawan.
Sudah lama menjadi bagian dari kehidupan orang Cirebon.
Dan sampai sekarang format makannya juga masih sangat sederhana.
Nasi.
Lauk macam-macam.
Sambal.
Selesai.
Daun Jatinya Bukan Sekadar Buat Gaya
Dulu saya pikir daun jati dipakai karena memang tradisi saja.
Ternyata ada alasannya.
Dalam sejarah sega jamblang, daun jati dipilih karena cukup kuat, tidak mudah robek, dan membantu nasi bertahan lebih lama. Pada masa awalnya, nasi ini dibawa sebagai bekal bagi para pekerja yang harus berangkat sejak pagi. detikcom
Sekarang tentu kita datang naik mobil, duduk di meja dan langsung makan.
Beda cerita.
Tapi daunnya masih menjadi identitas utama.
Dan menurut saya memang ada sedikit aroma khas ketika nasi panas kena daun jati.
Makanya waktu dapat kertas cokelat saja, saya agak kecewa.
Hahaha.
Saran saya tetap sama:
datang pagi.
Bukan cuma karena daun jatinya.
Lauknya juga masih lebih lengkap.
Nasi Jamblang Pelabuhan Sudah Ada Sejak 1970
Nah, ini bagian sejarah yang sekarang sudah lebih jelas.
Usaha nasi jamblang keluarga ini dirintis sekitar 1970 oleh Tasriyah, kemudian diteruskan oleh putrinya, Sumarni, dan sekarang sudah masuk generasi ketiga yang salah satunya dikelola Ratna Meilan. Informasi ini berasal dari wawancara keluarga setelah Sega Jamblang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2023. RRI
Jadi sebenarnya nama yang selama ini lebih dikenal orang, Hj. Sumarni, adalah generasi setelah perintis awalnya.
Saya justru suka detail seperti ini.
Karena kalau hanya menulis “berdiri sejak 1970”, rasanya seperti membaca papan sejarah.
Padahal di balik warung makan ada keluarga yang benar-benar meneruskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Lokasi di kawasan pelabuhan sendiri mulai dikenal sejak sekitar era 1990-an. Dari sinilah kemudian nama Nasi Jamblang Pelabuhan melekat. detikTravel
Tempatnya Tetap Sederhana
Kalau mencari restoran yang adem, penuh AC, interior estetik dan kursi sofa empuk…
bukan ini.
Hahaha.
Tempatnya sederhana banget.
Meja-meja panjang.
Area lauk memanjang di salah satu sisi.
Orang antre.
Pilih lauk.
Bayar.
Cari duduk.
Selesai.
Saya sudah beberapa kali datang dan nggak merasa tempatnya berubah drastis.
Paling posisi kasir atau alur ambil makanan sedikit berbeda.
Justru kesederhanaan seperti ini yang saya suka.
Nggak terasa dibuat untuk turis.
Walaupun turisnya memang banyak.
Sistem Makannya Prasmanan
Begitu datang, langsung ikut antrean.
Nasi diambil.
Lalu tinggal mulai menunjuk lauk satu-satu.
Ini bagian yang berbahaya.
Awalnya biasanya:
“Saya ambil sedikit saja deh.”
Lalu lihat telur pindang.
Ambil.
Lihat tahu.
Ambil.
Lihat kerang.
Ambil.
Lihat cumi hitam.
Ya masa nggak ambil?
Tahu-tahu piring penuh.
Hahaha.
Setelah lauk selesai dipilih, baru dihitung di kasir.
Kalau tempat sedang ramai, saya masih pakai trik yang sama:
bagi tugas.
Satu orang antre makanan.
Satu orang cari tempat duduk.
Daripada sudah bawa piring penuh lalu berdiri muter-muter cari meja.
Lauknya Banyak, dan Ini yang Bikin Seru
Salah satu alasan saya suka nasi jamblang memang karena pilihan lauknya.
Bukan satu set menu yang sudah ditentukan.
Kita bebas bikin kombinasi sendiri.
Biasanya ada macam-macam seperti:
ayam goreng, tahu, tempe, perkedel, telur, paru, hati, ikan asin, pepes, sate kentang, sambal goreng, kerang sampai cumi hitam balakutak.
Menu awal Nasi Jamblang Pelabuhan dulu bahkan jauh lebih sederhana, hanya nasi, sambal goreng, tempe, tahu sayur dan ikan asin. Pilihan lain berkembang kemudian. RRI
Sekarang justru masalahnya kebalik.
Pilihan kebanyakan.
Telur Pindang Tetap Salah Satu Favorit Saya
Saya suka telur pindang di sini.
Entah kenapa.
Padahal saya biasanya nggak terlalu suka lauk yang rasa kecap atau semurnya terasa kuat.
Tapi yang ini saya makan.
Rasanya sedikit mengingatkan saya pada telur pindang yang biasa ada di gudeg, tapi versi sini menurut saya lebih cocok dimakan dengan nasi jamblang.
Tentu ini selera pribadi.
Tapi kalau saya balik lagi, kemungkinan besar telur pindang tetap masuk piring.
Ada lauk yang kita ambil karena penasaran.
Ada lauk yang kita ambil karena sudah tahu suka.
Telur pindang masuk kategori kedua.
Cumi Hitam Balakutak, Ini Jangan Dilewatkan
Kalau baru pertama kali makan nasi jamblang di Cirebon, salah satu lauk yang menurut saya wajib dicoba adalah cumi hitam atau balakutak.
Warnanya memang hitam.
Karena dimasak bersama tintanya.
Penampilannya mungkin buat sebagian orang nggak terlalu meyakinkan.
Tapi rasanya…
enak banget.
Gurih, sedikit manis, dan tinta cuminya membuat rasanya lebih kuat.
Biasanya ukurannya juga lumayan besar, jadi satu sudah cukup.
Walaupun kata “cukup” ini kadang relatif kalau lagi lapar.
Hahaha.
Tahu Gorengnya Sederhana, Tapi Selalu Saya Ambil
Kemudian ada tahu.
Ini sebenarnya lauk paling biasa.
Tahu goreng.
Selesai.
Tapi justru lauk rumahan begini kadang enak banget kalau dimakan bersama sambal dan kuah lauk lain yang campur-campur.
Tahunya waktu saya makan terasa segar dan asinnya pas.
Biasanya saya ambil lebih dari satu.
Tidak ada analisis kuliner yang mendalam di sini.
Saya memang suka tahu.
Hahaha.
Sambal Merah yang Kelihatannya Lebih Pedas dari Rasanya
Sambal merahnya juga khas.
Warnanya merah terang.
Kalau lihat pertama kali seolah:
“Wah ini bakal pedas.”
Ternyata buat saya tidak terlalu.
Tapi saya memang suka pedas, jadi standar saya mungkin jangan terlalu dipercaya.
Hahaha.
Sambalnya sederhana, tapi justru enak dicampur dengan nasi, tahu, telur, balakutak dan kuah-kuah lauk yang sudah mulai menyatu di piring.
Ini salah satu jenis makanan yang menurut saya memang lebih enak kalau piringnya sudah agak berantakan.
Bukan makanan untuk plating cantik.
Tumis Kerang dan Telur Dadar
Tumis kerangnya juga salah satu yang saya suka.
Begitu juga telur dadarnya.
Telur dadarnya nggak dibuat tebal seperti telur dadar Padang.
Biasa saja.
Model telur dadar rumahan.
Tapi enak.
Dan memang itu inti nasi jamblang menurut saya.
Makanan rumahan.
Bukan lauk yang satu per satu harus spektakuler.
Tapi ketika semuanya digabung dengan nasi hangat, sambal, sedikit kuah dan daun jati…
nah.
Baru terasa.
Jangan Sok Diet Seperti Saya
Saya pernah datang lalu mengambil nasi sedikit.
Niatnya mungkin:
“Sudah, makan secukupnya saja.”
Diet.
Hahaha.
Kesalahan besar.
Karena setelah mulai makan, ternyata lauknya enak.
Akhirnya balik lagi ambil nasi.
Jadi kalau memang sedang mau makan nasi jamblang, ya makan saja.
Porsi nasinya sendiri biasanya memang kecil. Secara tradisional satu bungkus nasi jamblang kurang lebih hanya sebesar satu kepalan tangan, sehingga orang sering makan lebih dari satu bungkus. detikcom
Jadi bukan saya saja yang rakus.
Ada dasar budayanya.
Hahaha.
Harga Nasi Jamblang Pelabuhan Sekarang
Nah, ini salah satu bagian artikel lama yang memang harus diubah.
Dulu saya masih menulis makan Rp10 ribuan bisa dapat.
Sekarang tentu jangan pakai angka itu lagi.
Data terbaru menunjukkan rata-rata pengeluaran pengunjung kurang lebih Rp25.000–Rp50.000 per orang, tergantung berapa banyak dan jenis lauk yang dipilih. Lauk seperti daging, paru atau seafood tentu membuat totalnya lebih tinggi. Restaurant Guru
Harga nasi sendiri masih murah, tetapi persoalan nasi jamblang memang bukan nasinya.
Persoalannya kita.
Hahaha.
Niat ambil tiga lauk.
Jadi tujuh.
Jadi daripada memasang daftar harga lauk satu-satu yang nanti cepat basi, menurut saya lebih berguna memberi gambaran budget.
Siapkan sekitar Rp25 ribu sampai Rp50 ribuan per orang untuk makan normal.
Kalau semua lauk premium dicoba, ya beda cerita.
Jam Buka Nasi Jamblang Pelabuhan
Artikel lama saya masih menulis buka jam 08.00.
Sekarang informasi terbarunya menunjukkan:
06.00–16.00 setiap hari. Restaurant Guru
Tapi secara pribadi saya tetap menyarankan datang sebelum jam makan siang.
Kalau bisa bahkan sekitar jam 8–10 pagi.
Kenapa?
Lauk masih lengkap.
Daun jati kemungkinan masih tersedia.
Belum terlalu penuh.
Karena pengalaman saya datang siang sendiri sudah membuktikan.
Menu mulai berkurang.
Daun jati habis.
Mau protes ke siapa?
Ya salah sendiri kesiangan.
Hahaha.
Alamat Nasi Jamblang Pelabuhan
Lokasinya masih di:
Jl. Yos Sudarso No. 1, Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45111.
Letaknya dekat kawasan Pelabuhan Cirebon.
Masuknya memang sedikit unik karena lewat sisi gapura pelabuhan.
Tapi sekarang dengan Maps rasanya susah tersesat.
Dulu orang mungkin harus tanya:
“Nasi Jamblang Pelabuhan sebelah mana?”
Sekarang tinggal ikuti titik biru.
Hidup lebih mudah.
Kenapa Nasi Jamblang Dibungkus Daun Jati?
Nah, ini sejarahnya juga perlu saya perbaiki dari artikel lama.
Dulu saya menulis nasi jamblang muncul untuk para pekerja pembangunan Jalan Anyer–Panarukan.
Setelah saya cek sumber budaya Cirebon lagi, cerita yang lebih kuat justru mengarah ke para pekerja pabrik gula Gempol dan Plumbon serta pabrik spiritus di Palimanan pada masa kolonial Belanda.
Para pekerja banyak yang harus berangkat sejak dini hari dan sulit mendapatkan makanan.
Pada masa itu juga ada kepercayaan bahwa menjual nasi merupakan sesuatu yang pamali.
H. Abdulatif bersama istrinya, Tan Piauw Lun atau Mbah Pulung, kemudian menyediakan nasi bungkus untuk para pekerja. Dari situlah tradisi sega jamblang berkembang. detikcom
Daun jati dipakai karena kuat dan membantu nasi bertahan lebih lama.
Jadi bukan karena daun jati sekadar terlihat cantik di Instagram.
Jauh sebelum Instagram lahir, fungsinya memang praktis.
Nasi Jamblang Sekarang Resmi Menjadi Warisan Budaya
Satu hal yang belum ada ketika tulisan lama saya pertama dibuat adalah status Sega Jamblang sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Penetapannya dilakukan pada 2023 untuk Kota dan Kabupaten Cirebon. Dana Indonesiana
Menurut saya ini menarik karena menunjukkan bahwa makanan seperti nasi jamblang bukan cuma soal resep.
Ada cerita buruh.
Ada kebiasaan membungkus dengan daun jati.
Ada cara menyajikan lauk.
Ada perjalanan dari makanan sederhana menjadi identitas Cirebon.
Dan sekarang saya malah semakin paham kenapa kalau ke Cirebon rasanya aneh kalau nggak makan nasi jamblang.
Kalau Ditanya Mana Nasi Jamblang Favorit?
Nah, ini pertanyaan susah.
Karena Cirebon punya banyak nasi jamblang terkenal.
Dan masing-masing orang lokal biasanya punya favorit sendiri.
Saya nggak mau bilang Pelabuhan adalah yang “paling enak”.
Lidah orang beda.
Bahkan review pengunjung terbaru juga campur. Ada yang selalu mampir setiap ke Cirebon, ada juga yang lebih suka warung nasi jamblang lain. Wanderlog
Buat saya, daya tarik Pelabuhan justru kombinasi semuanya.
Tempatnya.
Sejarahnya.
Masuk lewat gapura.
Meja lauk panjang.
Nasi hangat.
Daun jati.
Dan makanan rumahan yang sudah saya tahu mau pilih apa setiap datang.
Kalau ke Cirebon Lagi, Saya Bakal Balik?
Kemungkinan besar iya.
Terutama karena saya masih punya satu kebiasaan buruk.
Datang.
Lihat lauk.
Ambil terlalu sedikit karena takut kebanyakan.
Mulai makan.
Menyesal.
Nambah.
Hahaha.
Kalau balik lagi, saya sudah tahu strateginya.
Datang pagi.
Pastikan dapat daun jati.
Ambil telur pindang.
Balakutak.
Tahu.
Kerang kalau ada.
Sambal merah.
Telur dadar mungkin.
Lalu nasi jangan sok sedikit.
Karena nasi jamblang memang bukan makanan yang perlu dibuat terlalu rumit.
Tempatnya sederhana.
Lauknya rumahan.
Makannya pun santai.
Tapi justru makanan seperti ini yang biasanya bikin saya ingat sebuah kota.
Kalau Cirebon punya rasa, salah satunya buat saya ya rasa nasi jamblang.
