Rumah Makan Betawi Haji Jaja
Rumah Makan Betawi Haji Jaja, Pecak Ikan Betawi yang Bikin Saya Ketagihan Kerupuk
Pertama-tama, kita luruskan dulu.
Ini bukan rumah makan punya Jaja Miharja.
Hahaha.
Namanya memang Rumah Makan Betawi H. Jaja, jadi kalau baru dengar saya juga bisa paham kalau pikiran langsung ke sana.
Saya pernah makan di sini karena sedang ingin makanan Betawi yang agak berbeda dari soto Betawi atau nasi uduk.
Dan ternyata menu yang paling saya ingat malah:
pecak ikan.
Plus…
kerupuk kuning pakai kuah asinan.
Nah, yang kedua itu berbahaya.
Karena bisa dimakan terus tanpa sadar.
Warung Betawi H. Jaja di Kebagusan
Warung ini berada di kawasan Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tepat di Jalan Baung III.
Lokasinya nggak terlalu jauh dari Apartemen Kebagusan City. Bahkan sumber kawasan Kebagusan sudah menyebut Warung Betawi Haji Jaja sebagai salah satu tempat makan di Jalan Baung sejak setidaknya 2014.
Tempatnya sendiri bukan restoran besar.
Waktu saya datang, nuansa Betawinya terasa dari bangunan yang sederhana, warna hijau-kuning, dan meja kursi kayu.
Nggak fancy.
Nggak dibuat seperti restoran heritage yang terlalu rapi.
Lebih terasa seperti rumah makan keluarga.
Dan menurut saya justru cocok dengan makanannya.
Tempatnya Masih Ada dan Masih Ramai
Ini yang paling penting kalau kita sedang memperbarui artikel lama.
Warung Betawi H. Jaja masih buka.
Listing bisnis terbaru masih mencatat alamat yang sama di:
Jl. Baung III No.40, Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520.
Jam operasionalnya saat ini sekitar:
10.00–21.00 setiap hari.
Nomor telepon yang tercantum sekarang adalah (021) 2780 7474.
Jadi bukan salah satu rumah makan lama yang ternyata sudah hilang diam-diam.
Syukurlah.
Karena makanan Betawi seperti ini menurut saya justru perlu tempat-tempat kecil yang tetap bertahan.
Pecak Ikan, Ini Menu yang Harus Dicoba
Kalau belum pernah makan pecak ikan Betawi, saya justru menyarankan mulai dari sini.
Pecak ikan adalah masakan Betawi berupa ikan air tawar yang digoreng atau dibakar, lalu disiram dengan kuah atau sambal berbumbu.
Cita rasanya biasanya kombinasi:
pedas, gurih, asam, dan segar.
RRI pada 2026 masih mencatat pecak ikan sebagai salah satu warisan kuliner Betawi, dengan bumbu yang bisa berisi cabai, bawang, kemiri, jahe, dan jeruk limau.
Kementerian Pariwisata juga memasukkan pecak ikan sebagai salah satu kuliner yang bisa ditemukan di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.
Jadi ini memang bukan sekadar menu ikan berkuah.
Betawi banget.
Pecak Bening H. Jaja, Ini yang Saya Coba
Waktu datang, saya mencoba pecak ikan mas dengan kuah bening.
Penampilannya sebenarnya sederhana sekali.
Ikan mas goreng.
Lalu disiram kuah yang penuh potongan cabai, bawang merah, jahe dan bumbu lain.
Nggak pakai plating macam-macam.
Tapi begitu dimakan…
segar.
Saya suka tipe makanan yang rasa pedasnya datang bareng rasa segar seperti ini.
Bukan cuma pedas sampai mulut mati rasa.
Kuahnya juga enak disiram ke nasi.
Ini berbahaya buat yang niatnya:
“Nasiku sedikit saja ya.”
Hahaha.
Biasanya nanti nambah.
Ada Pecak Bening dan Pecak Kacang
Nah, Warung H. Jaja punya sesuatu yang waktu itu menurut saya menarik.
Pecaknya bisa dipilih dalam dua versi:
pecak bening dan pecak kacang.
Versi bening rasanya lebih ringan dan segar.
Sedangkan pecak kacang kuahnya lebih keruh karena ada tambahan bumbu kacang.
Jadi walaupun sama-sama pecak ikan, rasanya nggak sama.
Ini sebenarnya alasan bagus kalau datang rame-rame.
Pesan dua versi.
Sharing.
Daripada semua orang memesan menu sama lalu penasaran meja sebelah.
Hahaha.
Ikan untuk Pecaknya Bisa Pilih
Pilihan ikan di artikel lama saya cukup banyak:
- ikan mas
- gurame
- mujair
- lele
- gabus.
Dan pilihan seperti ini memang lazim untuk pecak Betawi. Pecak tradisional banyak memakai ikan air tawar seperti mas, gurame, mujair, nila, maupun gabus.
Ada juga review lama pengunjung Warung H. Jaja yang secara khusus menyebut pilihan gurame, mas, mujair, lele, dan gabus di sini.
Kalau saya waktu itu pilih ikan mas.
Tapi kalau datang lagi, saya malah penasaran coba gabus.
Karena gabus juga salah satu ikan yang cukup dekat dengan tradisi makanan Betawi.
Harga Ikannya Sebaiknya Tanya Dulu
Nah, ini penting.
Dari dulu daftar menu di Warung H. Jaja nggak selalu mencantumkan harga ikan secara jelas karena ukuran ikan bisa berbeda.
Ikan besar tentu beda harga dengan yang kecil.
Listing bisnis terbaru menempatkan kisaran pengeluaran umum sekitar Rp25.000 sampai Rp125.000 per orang, tetapi angka akhirnya akan sangat tergantung ikan, ukuran, dan jumlah lauk yang dipesan.
Jadi tips saya masih sama:
sebelum pesan ikan, tanya ukuran dan harganya.
Bukan karena tempatnya aneh.
Memang restoran ikan sering begitu.
Daripada setelah kenyang baru lihat bill:
“Lho kok ikannya segini?”
Padahal tadi kita sendiri yang bilang:
“Yang gede aja, Bu.”
Hahaha.
Asinan Betawi, Ini Jangan Dilewatkan
Selain pecak, saya juga pesan asinan Betawi.
Ada yang sayur.
Ada yang buah.
Dan menurut saya ini pasangan yang pas setelah makan ikan dan nasi.
Asam.
Segar.
Ada sedikit manis.
Ada pedas.
Betawi memang pintar sekali bikin makanan yang cuaca Jakarta banget.
Panas-panas makan asinan itu masuk akal.
Susah membayangkan makan asinan sambil kedinginan di gunung.
Hahaha.
Tapi yang Bikin Saya Nggak Berhenti Malah Kerupuk Kuning
Nah.
Ini dia.
Kerupuk kuning dengan kuah asinan.
Sederhana banget.
Tapi saya suka.
Kerupuk dicocol atau disiram sedikit dengan kuah asinan.
Jadi ada bagian yang masih kriuk.
Ada bagian yang mulai lembek terkena kuah.
Asam.
Manis.
Pedas sedikit.
Lalu:
satu lagi.
Satu lagi.
Tahu-tahu nggak tahu sudah makan berapa kerupuk.
Hahaha.
Kalau saya datang lagi ke H. Jaja, ini mungkin justru salah satu yang saya cari duluan.
Bukan menu mahal.
Bukan pula makanan yang perlu dijelaskan dengan istilah kuliner rumit.
Cuma kerupuk kuning dan kuah asinan.
Tapi nagih.
Asinan Buahnya Juga Segar
Selain asinan sayur, waktu itu kami juga coba asinan buah.
Ini enak buat penutup setelah makan pecak.
Apalagi kalau cuaca Jakarta sedang panas.
Yang saya suka dari asinan justru bukan sekadar buahnya.
Kuahnya.
Kalau komposisi asam, gula, cabai dan garam pas, buah biasa saja bisa jadi jauh lebih menarik.
Jadi kalau datang rame-rame, menurut saya pesan satu asinan buat sharing cukup masuk akal.
Walaupun nanti bisa berakhir pesan kedua.
Menu H. Jaja Nggak Terlalu Banyak
Ini salah satu hal yang justru saya suka.
Setidaknya waktu kunjungan saya, menu H. Jaja nggak seperti restoran yang buku menunya 25 halaman.
Fokusnya makanan rumahan Betawi.
Selain pecak, pilihan yang saya temukan antara lain:
sop iga sapi, sayur asem, tahu-tempe, ayam dan bebek.
Saya pribadi malah lebih percaya rumah makan yang punya sejumlah menu yang jelas identitasnya daripada tempat yang sekaligus jual sushi, tom yum, steak, pizza, dimsum dan ayam geprek.
Hahaha.
Pilih salah satu hidup.
Warung H. Jaja sudah jelas:
masakan Betawi.
Pecak Ikan Itu Memang Betawi Banget
Saat memperbarui tulisan ini, saya malah semakin sadar kalau pecak ikan termasuk menu Betawi yang kalah populer dibanding soto Betawi atau kerak telor.
Padahal masih sangat lekat dengan budaya kuliner Jakarta.
Di Setu Babakan, pecak ikan masih dicatat bersama hidangan Betawi lain seperti pucung gabus, sayur besan, dodol Betawi, bir pletok, dan kembang goyang.
Dan menurut saya justru makanan seperti ini yang menarik dicari.
Kalau orang bilang:
“makanan Betawi”
kita jangan berhenti di:
soto Betawi.
Kerak telor.
Nasi uduk.
Masih banyak.
Pecak salah satunya.
Soal Sejarah Pecak, Ada Beberapa Versi
Saya sengaja nggak mau menulis asal-usul pecak sebagai fakta mutlak.
Ada beberapa versi.
Chef dan peneliti kuliner Wira Hardiansyah pernah menjelaskan bahwa nama pecak dikaitkan dengan kawasan Pecah Kulit di Jalan Pangeran Jayakarta, sementara versi lain menghubungkannya dengan kulit ikan yang pecah ketika digoreng kering.
Menarik?
Iya.
Tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai cerita asal-usul yang beredar, bukan:
“pecak ditemukan di tempat X pada tahun Y.”
Karena sejarah makanan tradisional memang sering nggak punya satu dokumen lahir yang rapi.
Yang lebih pasti, pecak sudah lama menjadi bagian dari masakan masyarakat Betawi dan masih bertahan sampai sekarang.
Bagaimana Suasana Warungnya?
Waktu saya datang, tempatnya bersih.
Tapi jangan mengharapkan AC dingin seperti restaurant mall.
Ruangan cukup terbuka.
Jadi kalau Jakarta lagi panas…
ya panas.
Hahaha.
Buat saya nggak masalah.
Justru terasa seperti warung makan keluarga.
Yang penting makanannya keluar.
Nasi panas.
Pecaknya datang.
Asinan ada.
Sudah.
Saya nggak ke sini buat duduk meeting tiga jam sambil buka laptop.
Katanya Banyak Orang Film yang Pernah Makan di Sini
Di artikel lama saya menulis banyak artis suka mampir karena lokasinya dekat dengan beberapa tempat syuting, lalu kabarnya menyebar dari satu orang ke orang lain.
Untuk versi update, saya akan memperlakukannya sebagai cerita yang saya dengar ketika berkunjung, bukan fakta utama artikel.
Karena saya belum menemukan sumber publik yang cukup kuat untuk membuat daftar:
“Artis A pernah datang, artis B pernah datang.”
Dan jujur saja…
buat saya juga nggak terlalu penting.
Saya lebih peduli ikannya enak apa nggak.
Hahaha.
Rumah Makan H. Jaja Sudah Ada Sejak Kapan?
Dulu saya menulis:
“sejak 2007 kalau saya nggak salah.”
Nah, kalimat “kalau saya nggak salah” adalah tanda bahwa kita memang perlu hati-hati.
Saat update sekarang, saya belum menemukan dokumentasi resmi atau wawancara pemilik yang cukup kuat untuk memastikan angka 2007.
Yang bisa saya verifikasi adalah warung ini setidaknya sudah tercatat sebagai tempat makan di Kebagusan sejak 2014, dan ada review khusus tentang pecak H. Jaja pada 2018.
Jadi daripada memaksakan tanggal:
lebih baik saya tulis warung ini sudah cukup lama menjadi bagian dari kuliner kawasan Kebagusan.
Kalau nanti suatu hari saya dapat cerita langsung dari keluarga H. Jaja soal tahun berdirinya, baru ditambahkan.
Lebih aman begitu.
Alamat dan Jam Buka Warung Betawi H. Jaja
Alamatnya:
Jl. Baung III No.40, RT.1/RW.2, Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520.
Jam buka terbaru yang tercantum:
10.00–21.00 setiap hari.
Telepon:
(021) 2780 7474.
Lokasinya berada sangat dekat dengan Kebagusan City dan cukup mudah ditemukan dari jalan utama kawasan Baung.
Kalau memang sengaja datang dari jauh, seperti biasa saya tetap menyarankan cek Maps dulu pada hari kunjungan.
Jam operasional restoran bisa berubah.
Apakah Rumah Makan Betawi Haji Jaja Masih Worth It?
Buat saya masih menarik terutama kalau ingin mencoba pecak ikan Betawi.
Bukan karena tempatnya mewah.
Bukan karena viral.
Dan bukan karena ada selebritas yang katanya pernah makan di sana.
Justru karena menunya sangat lokal.
Pecak.
Asinan.
Sayur asem.
Ikan air tawar.
Kerupuk kuning.
Makanan yang terasa seperti Jakarta sebelum semua sudutnya dipenuhi coffee shop dan franchise.
Saya suka tempat seperti ini.
Mungkin secara interior biasa saja.
Mungkin panas.
Tapi makanannya punya hubungan dengan kota tempat kita tinggal.
Dan saya rasa ini salah satu alasan saya ingin tulisan tentang H. Jaja tetap ada.
Kalau Balik Lagi, Saya Mau Pesan Apa?
Pecak lagi.
Tapi mungkin kali ini coba ikan gabus.
Lalu satu versi pecak bening.
Satu versi kacang buat sharing.
Asinan.
Dan tentu…
kerupuk kuningnya.
Yang terakhir jangan lupa.
Karena berdasarkan pengalaman sebelumnya, saya sudah tahu ending-nya.
Awalnya bilang:
“Cuma satu.”
Lalu ngobrol.
Tangan otomatis mengambil lagi.
Hahaha.
Kadang justru makanan paling sederhana yang paling kita ingat.
Dan kalau habis makan pecak lalu masih terbayang kerupuk kuning berkuah asinan…
ya begitulah.
