Batik Betawi Terogong
Batik Betawi Terogong: Motif, Workshop, dan Pengalaman Melihat Proses Membatik
Saya dulu datang ke Batik Betawi Terogong bareng dua teman.
Niatnya sederhana: jalan-jalan, lihat batik, ngobrol dengan pemiliknya, lalu tentu saja foto-foto.
Ternyata malah pulang dengan cerita yang jauh lebih banyak.
Saya baru sadar waktu itu bahwa di tengah kawasan Jakarta Selatan yang sudah penuh perumahan, apartemen, sekolah internasional, dan jalanan sibuk, masih ada satu kampung yang berusaha mempertahankan tradisi membatik Betawi.
Lokasinya masuk ke gang di kawasan Terogong, Cilandak.
Nggak megah.
Nggak seperti pusat batik besar yang penuh bus wisata.
Justru suasananya terasa seperti datang ke rumah orang.
Di satu sisi ada tempat membatik.
Di sisi lain ada showroom.
Lalu kami duduk ngobrol cukup lama dengan Mpok Siti Laela, yang memang menjadi sosok penting di balik hidupnya kembali Batik Betawi Terogong.
Dan dari situlah saya mulai paham:
batik Betawi ternyata bukan cuma kain dengan gambar Monas atau ondel-ondel.
Ada cerita Jakarta di dalamnya.
Apa Itu Batik Betawi Terogong?
Batik Betawi Terogong adalah batik Betawi yang diproduksi di Kampung Terogong, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, dengan motif yang banyak mengambil inspirasi dari budaya Betawi, ikon Jakarta, flora-fauna lokal, serta kenangan kehidupan masyarakat Betawi tempo dulu.
Batik Betawi Terogong resmi berdiri pada 5 September 2012, meskipun tradisi membatik di kawasan Terogong sendiri sudah dikenal sejak sekitar 1960-an.
Saat itu banyak warga Terogong yang bekerja dalam industri batik.
Lalu memasuki 1970-an, kegiatan membatik mulai meredup.
Bertahun-tahun kemudian, Siti Laela bersama keluarga mencoba menghidupkannya lagi.
Menurut cerita yang pernah saya dengar langsung dari Mpok Laela, tujuannya bukan cuma jualan kain.
Ada keinginan untuk menghidupkan kembali identitas Betawi di Terogong sekaligus memberdayakan ibu-ibu sekitar.
Dan sampai sekarang konsep itu masih berjalan. Liputan terbaru pada 2026 bahkan masih menunjukkan para perajin lokal aktif melakukan pewarnaan, pengecapan, dan pencantingan di sanggar ini.
Sejarah Batik Betawi Terogong
Kalau membaca sejarahnya, Batik Betawi Terogong memang punya cerita yang agak unik.
Pada sekitar 1960-an, kegiatan membatik cukup hidup di kawasan Terogong. Warga ada yang bekerja sebagai perajin atau terlibat dalam industri batik Jakarta.
Kemudian sekitar 1970-an, aktivitas itu perlahan menghilang.
Jakarta berkembang cepat.
Kawasan berubah.
Profesi juga berubah.
Kegiatan membatik yang dulu cukup dekat dengan kehidupan warga akhirnya makin jarang dilakukan.
Siti Laela kemudian mulai belajar membatik kembali bersama keluarganya sekitar 2011, termasuk mengikuti pelatihan yang didukung Pemda DKI. Setahun kemudian, Batik Betawi Terogong didirikan secara resmi.
Saya justru suka bagian ini.
Karena Batik Betawi Terogong bukan cerita tentang tradisi yang tidak pernah terputus.
Justru sempat hilang.
Lalu dihidupkan lagi.
Dan menurut saya itu jauh lebih jujur tentang bagaimana budaya bertahan di kota besar seperti Jakarta.
Lokasi Batik Betawi Terogong
Alamat resminya sekarang adalah:
Jl. Terogong III No.27C, RT.9/RW.10, Cilandak Barat, Cilandak, Jakarta Selatan 12430.
Lokasinya memang masuk ke jalan yang tidak terlalu besar.
Waktu saya datang dulu, ada papan petunjuk menuju tempatnya dan setelah masuk gang tidak terlalu jauh.
Begitu sampai, suasananya terasa jauh lebih seperti rumah produksi daripada butik batik modern.
Dan menurut saya justru itu daya tariknya.
Kita bisa melihat langsung konteks tempat batik itu dibuat.
Jam Buka Batik Betawi Terogong
Situs resminya saat ini mencantumkan:
Senin–Jumat: 09.00–16.00
Sabtu: 10.00–16.00
Minggu: dengan perjanjian terlebih dahulu.
Kalau memang ingin ikut workshop, saya sarankan kontak dulu sebelum datang.
Apalagi kalau datang dalam rombongan.
Karena ini bukan museum besar dengan jadwal tur tiap jam.
Tempatnya masih berupa sanggar yang benar-benar aktif memproduksi batik.
Siapa Pemilik Batik Betawi Terogong?
Sosok yang paling saya ingat dari kunjungan ini adalah Siti Laela atau Mpok Laela.
Kami ngobrol cukup lama waktu itu.
Beliau lahir dan besar di Terogong, berasal dari keluarga Betawi, dan memang punya hubungan personal dengan sejarah batik di kampungnya.
Dalam berbagai wawancara, Mpok Laela juga menjelaskan bahwa ia ingin menghidupkan kembali batik yang dulu pernah ada di Terogong dan membuat batiknya bercerita tentang Jakarta.
Dan itu kelihatan dari motif-motifnya.
Batiknya tidak terlalu terikat pakem klasik seperti batik Solo atau Yogyakarta.
Lebih bebas.
Lebih kontemporer.
Lebih “Jakarta”.
Ciri Khas Batik Betawi Terogong
Yang paling mudah dikenali adalah:
warna cerah dan motif yang sangat dekat dengan Jakarta serta budaya Betawi.
Ada ondel-ondel.
Monas.
Patung Pancoran.
Abang None.
Kembang kelapa.
Tanjidor.
Bajaj.
Penganten Betawi.
Buah mengkudu.
Salak Condet.
Elang bondol.
Bahkan motif yang terinspirasi dari benda atau tanaman yang dulu banyak ditemui di lingkungan masyarakat Betawi.
Situs resmi Batik Betawi Terogong saat ini mencantumkan lebih dari 20 motif seperti Ondel-ondel, Monas, Masjid Krukut, Gerbang Amsterdam, Patung Pancoran, Abang None, mengkudu, cermai, alat musik Betawi, tarian Betawi, Burung Hong, Elang Bondol, Penganten Betawi, Semanggi, Pencak Silat, Salak Condet, Kembang Kelapa, sampai H. Bakir.
Menurut saya ini yang bikin batik Terogong menyenangkan.
Motifnya gampang “dibaca”.
Kita nggak perlu jadi ahli batik dulu untuk melihat:
“Oh, ini Jakarta.”
Motif Ondel-Ondel
Kalau ditanya motif yang paling gampang diasosiasikan dengan Batik Betawi Terogong, jawabannya tentu:
ondel-ondel.
Bahkan dalam publikasi sebelumnya, motif ondel-ondel disebut sebagai salah satu motif yang paling banyak diminati pembeli.
Masuk akal.
Ondel-ondel memang sudah jadi salah satu ikon budaya Betawi yang paling mudah dikenali.
Di kain batik, bentuknya biasanya dikombinasikan dengan elemen lain seperti bunga, tanjidor, atau pola dekoratif.
Hasilnya bisa sangat ramai.
Tapi justru itu karakter visual Betawi yang saya suka.
Motif Monas dan Ikon Jakarta
Selain ondel-ondel, banyak motif Batik Betawi Terogong yang mengambil ikon kota.
Misalnya:
- Monas
- Patung Pancoran
- Gerbang Amsterdam
- mobil atau sepeda kuno
- Abang None
- alat musik tradisional
- tarian Betawi
Menurut saya ini membuat Batik Betawi punya karakter yang berbeda dari batik daerah lain.
Kalau batik klasik Jawa sering punya filosofi simbolis yang sangat kuat di balik pola tertentu, Batik Betawi Terogong justru sering berfungsi seperti rekaman visual Jakarta.
Siti Laela sendiri menjelaskan bahwa ia banyak membuat motif kontemporer yang mengambil ikon Jakarta dan kenangan kehidupan Betawi.
Motif Mengkudu dan Cermai
Yang saya suka justru motif yang lebih sederhana.
Misalnya mengkudu dan cermai.
Kenapa buah seperti ini masuk ke batik?
Karena dulu tanaman tersebut banyak tumbuh di lingkungan rumah warga Betawi.
Jadi motifnya bukan semata-mata karena bentuknya cantik.
Ada unsur memori.
Mpok Laela bahkan dalam wawancara terbaru menjelaskan bahwa motif tanaman seperti tapak liman dan tapak dara juga lahir dari ingatan tentang halaman rumah masyarakat Betawi zaman dulu yang masih luas dan banyak ditumbuhi tanaman.
Nah, bagian seperti ini menurut saya jauh lebih menarik daripada mengatakan semua motif pasti punya “filosofi mendalam”.
Karena tidak selalu begitu.
Kadang motif lahir dari hal yang lebih sederhana:
ingatan masa kecil.
Apakah Semua Motif Batik Betawi Punya Filosofi?
Tidak selalu.
Ini bagian artikel lama yang ingin saya koreksi.
Dulu saya menulis seolah setiap motif Batik Betawi punya banyak filosofi khusus.
Padahal penelitian tentang Batik Betawi Terogong menunjukkan sebagian besar motifnya lebih bersifat representatif dan kontemporer, mengambil ikon Betawi dan Jakarta tanpa selalu punya simbolisme filosofis yang rigid.
Justru menurut saya itu bukan kekurangan.
Itu karakter.
Batik Terogong banyak bercerita tentang Jakarta melalui gambar yang mudah dikenali.
Warna Batik Betawi
Kalau dibandingkan dengan sebagian batik klasik Jawa yang sering memakai sogan atau warna bumi, Batik Betawi memang terasa lebih berani.
Merah.
Kuning.
Hijau.
Biru.
Oranye.
Warna kontras.
Dan warna cerah seperti ini memang sering dianggap sebagai salah satu ciri visual Batik Betawi kontemporer.
Waktu saya datang dan melihat kain-kainnya langsung, kesannya memang:
ceria.
Ngejreng.
Tapi dalam arti bagus.
Kalau dipakai sebagai outer, kemeja, atau aksen busana, langsung kelihatan.
Batik Betawi Termasuk Batik Pesisiran?
Secara umum, Batik Betawi sering dikategorikan dekat dengan karakter batik pesisiran, terutama karena penggunaan warna yang lebih bebas dan pengaruh budaya perkotaan serta lintas budaya.
Balai Pelestarian Nilai Budaya juga menjelaskan Batik Betawi sebagai batik pesisiran dengan motif geometris dan nongeometris, yang berkembang mengikuti potensi alam, ikon kota, sejarah, dan budaya Betawi.
Dan menurut saya ini masuk akal sekali kalau melihat sejarah Jakarta.
Kota ini sejak dulu memang tempat pertemuan banyak budaya.
Bisa Ikut Workshop Membatik?
Bisa.
Ini salah satu alasan saya masih merekomendasikan datang ke sini kalau suka budaya atau ingin aktivitas yang beda di Jakarta.
Batik Betawi Terogong masih menawarkan workshop membatik. Situs resminya bahkan masih punya halaman workshop aktif lengkap dengan alamat, jam operasional, nomor WhatsApp, dan kontak.
Kalau belum pernah membatik sama sekali, justru lebih seru.
Kita bisa belajar:
- membuat pola
- mencanting
- memakai malam
- mewarnai
- memahami proses batik tulis atau cap
Waktu saya datang dulu, saya melihat langsung area tempat ibu-ibu membatik.
Ada canting.
Malam.
Cap.
Pewarna.
Kain.
Semuanya memang dipakai untuk produksi, bukan dekorasi pura-pura buat wisatawan.
Berapa Harga Workshop Batik?
Nah, untuk bagian ini saya tidak akan lagi memakai angka lama Rp35.000–Rp100.000 dari artikel sebelumnya.
Itu jelas harga kunjungan lama dan belum tentu relevan sekarang.
Situs resmi saat ini masih menawarkan workshop, tetapi tidak menampilkan pricelist publik yang cukup jelas di halaman workshop.
Jadi cara paling aman:
hubungi Batik Betawi Terogong dulu untuk paket dan harga workshop terbaru.
Apalagi tarif bisa berbeda untuk:
- individu
- sekolah
- rombongan
- durasi workshop
- ukuran kain
- teknik batik yang dipilih
Lebih akurat begitu.
Proses Pembuatan Batik Betawi Terogong
Waktu datang dulu, kami sempat melihat beberapa tahap pembuatannya.
Secara umum prosesnya mirip batik tradisional lain.
Membuat desain
Motif lebih dulu dibuat atau dipindahkan ke kain.
Untuk batik tulis, pola bisa digambar menggunakan pensil sebagai panduan.
Pemberian malam
Malam atau lilin batik kemudian digunakan untuk menutup bagian tertentu.
Kalau batik tulis, menggunakan canting.
Kalau batik cap, menggunakan cap logam dengan motif tertentu.
Pewarnaan
Kain kemudian diberi warna sesuai desain.
Proses pewarnaan bisa dilakukan beberapa kali tergantung jumlah warna dan efek yang ingin dihasilkan.
Pelorodan
Setelah pewarnaan selesai, malam dihilangkan menggunakan air panas.
Barulah pola batiknya terlihat lebih jelas.
Waktu melihat proses ini langsung saya baru sadar:
yang bikin mahal bukan cuma kain.
Tapi waktu.
Terutama batik tulis.
Batik Cap dan Batik Tulis, Apa Bedanya?
Ini penting kalau mau beli.
Batik cap menggunakan cetakan atau cap untuk menerapkan malam ke kain.
Prosesnya lebih cepat dan pola bisa lebih konsisten.
Batik tulis dikerjakan menggunakan canting secara manual.
Prosesnya jauh lebih lama dan setiap kain punya variasi kecil karena dibuat dengan tangan.
Karena itu harga batik tulis biasanya lebih tinggi.
Harga Batik Betawi Terogong Sekarang
Harga di artikel lama saya sudah tidak relevan.
Dan ternyata memang sudah berubah.
Dalam liputan terbaru, Batik Betawi Terogong disebut menyesuaikan harga pada 2025 karena kenaikan bahan baku dan pewarna. Harga batik cap satu warna ukuran 210 × 115 cm disebut sekitar Rp175.000, batik cap dua warna sekitar Rp225.000, sementara batik tulis mulai sekitar Rp900.000 per lembar untuk contoh produk yang disebut.
Ini bukan berarti semua kain persis segitu.
Harga tetap bergantung pada:
- bahan
- jumlah warna
- teknik
- ukuran
- tingkat kerumitan motif
Jadi saya tetap menyarankan cek harga terbaru ketika datang atau sebelum pesan.
Produk yang Dijual Bukan Cuma Kain
Selain kain, Batik Betawi Terogong juga pernah mengembangkan produknya menjadi:
- pakaian
- tas
- dompet
- sandal
- aksesori batik
Dan sekarang pemesanan juga bisa dilakukan melalui kanal online serta Instagram mereka.
Jadi kalau merasa satu lembar kain terlalu “serius”, bisa cari produk yang lebih praktis.
Batik Betawi Terogong sebagai Tempat Belajar Budaya Jakarta
Ini justru angle yang menurut saya sekarang paling kuat.
Kalau punya teman dari luar Jakarta lalu ingin menunjukkan budaya Betawi, biasanya pilihannya:
ondel-ondel.
Setu Babakan.
makanan Betawi.
Padahal datang ke Terogong juga menarik.
Di satu tempat kita bisa:
lihat batik.
belajar motif.
lihat proses produksi.
ngobrol dengan perajin.
ikut workshop.
dan sekalian beli produk lokal.
Menurut saya aktivitas seperti ini lebih meaningful daripada cuma berhenti di toko souvenir.
Cocok Nggak Datang Bersama Anak?
Kalau anaknya sudah cukup besar untuk mengikuti aktivitas craft:
cocok.
Workshop membatik bisa menjadi aktivitas edukatif yang jauh lebih menarik daripada hanya baca tentang batik dari buku sekolah.
Mereka bisa pegang canting.
Lihat malam.
Mencoba membuat pola.
Dan setelah itu biasanya baru paham kenapa batik tulis nggak mungkin dihargai seperti kaus printing.
Hahaha.
Untuk grup sekolah sebaiknya tentu janjian dulu.
Pengalaman Saya Ketemu Mpok Laela
Bagian ini masih salah satu yang paling saya ingat.
Kami duduk ngobrol cukup lama dengan Mpok Laela.
Cerita tentang Terogong.
Tentang batik.
Tentang ibu-ibu sekitar.
Tentang bagaimana Jakarta berubah.
Saya suka mendengar cerita bahwa dulu di rumah-rumah warga Terogong bisa terlihat kepulan asap kecil dari aktivitas membatik.
Sekarang hal itu sudah hampir nggak terlihat lagi.
Jakarta berubah terlalu cepat.
Rumah berubah jadi bangunan.
Kebun hilang.
Kampung makin kecil.
Karena itu usaha seperti Batik Betawi Terogong menurut saya menjadi lebih penting.
Bukan cuma karena kainnya.
Tapi karena dia menyimpan sedikit cerita tentang Jakarta yang lama.
Apakah Batik Betawi Terogong Masih Eksis?
Jawabannya:
masih.
Bahkan sampai sekarang masih memproduksi, menerima pesanan, mengadakan workshop, dan melibatkan perajin lokal. Liputan terbaru Oktober 2026 menunjukkan sanggarnya masih aktif, produksinya berjalan, dan pemesanan kembali ramai setelah pandemi.
Jadi pertanyaan yang dulu saya tulis di awal artikel:
“Apakah Batik Betawi masih eksis?”
Sekarang jawabannya sudah lebih jelas.
Iya.
Dan justru ini salah satu alasan artikel lama tersebut masih layak hidup.
Jadi, Worth It Nggak Main ke Batik Betawi Terogong?
Kalau hanya mau beli batik, tentu sekarang bisa pesan online.
Tapi kalau ingin tahu ceritanya?
datang langsung jauh lebih menarik.
Karena yang kita lihat bukan cuma produk jadi.
Ada proses.
Ada perajin.
Ada lingkungan kampung.
Ada cerita Mpok Laela.
Ada motif Jakarta.
Dan buat saya sendiri, justru pengalaman ngobrol dan melihat proses membatik itulah yang paling membekas.
Bukan cuma kain yang dipajang di showroom.
Kalau suatu saat saya kembali lagi, saya justru ingin ikut workshop.
Dulu kebanyakan ngobrol dan foto-foto.
Hahaha.
Sekarang rasanya sayang kalau datang tapi nggak mencoba mencanting sendiri.
Dan mungkin setelah itu baru benar-benar terasa:
tinggal di Betawi…
masa nggak punya batik Betawi?
Artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi saya mengunjungi Batik Betawi Terogong serta informasi terbaru dari situs resmi, sumber budaya, dan liputan terkini. Harga, jadwal workshop, dan produk dapat berubah, jadi sebaiknya konfirmasi sebelum datang.
