Teras Budhe
Teras Budhe: Restoran Jawa di Jakarta dengan Masakan Rumahan dan Nuansa Klasik
Kalau sedang kangen masakan Jawa yang rasanya lebih dekat ke masakan rumahan daripada restoran besar yang serba polished, saya masih ingat Teras Budhe di Panglima Polim.
Saya datang ke sini karena waktu itu penasaran dengan konsep restorannya yang sangat Jawa.
Bukan cuma dari menunya.
Dari parkiran saja nuansa hijau sudah kelihatan. Begitu masuk, ada aroma melati, meja-kursi kayu, ornamen batik, pelayan dengan pakaian bernuansa tradisional Jawa, sampai sudut cemilan dan oleh-oleh.
Jadi memang bukan restoran yang kebetulan jual pecel.
Konsep Jawanya terasa sengaja dibangun.
Dan buat saya itu cukup berhasil.
Teras Budhe Itu Restoran Apa?
Teras Budhe adalah restoran masakan Jawa di Jakarta Selatan yang menyajikan berbagai hidangan rumahan khas Jawa, seperti garang asem, pecel Madiun, nasi gandul, mangut, krengseng, jengkol, aneka sayur, jajanan pasar, dan minuman tradisional.
Lokasinya ada di Panglima Polim, Kebayoran Baru, dan sampai sekarang masih aktif. Listing terbaru mencatat restoran ini buka setiap hari pukul 08.00–22.00.
Kalau dulu saya datang karena penasaran, sekarang menurut saya Teras Budhe lebih menarik dilihat sebagai salah satu pilihan restoran Jawa di Jakarta yang fokus pada masakan rumahan.
Kenapa Namanya Teras Budhe?
Ini salah satu cerita yang dulu bikin saya salah tebak.
Saya kira nama “Budhe” karena pemiliknya memang seorang bude.
Dalam keluarga Jawa, bude biasanya merujuk pada kakak perempuan dari ibu atau ayah.
Ternyata bukan.
Waktu saya datang, saya mendapat penjelasan bahwa Budhe merupakan gabungan nama dari dua pemiliknya: Pak Budi dan Pak Adhe.
Nah, detail seperti ini justru saya suka karena bikin nama restorannya terasa lebih personal.
Suasana Restorannya Jawa Banget
Kalau bicara Teras Budhe, menurut saya suasana restorannya salah satu hal yang paling menonjol.
Warna hijau cukup dominan.
Batik banyak dipakai sebagai elemen dekorasi.
Meja dan kursinya kayu.
Ada aroma melati.
Sebagian staf mengenakan pakaian bernuansa Jawa seperti batik, blangkon, atau beskap.
DetikFood juga pernah menggambarkan Teras Budhe sebagai restoran dengan nuansa Jawa yang kuat, lengkap dengan ornamen batik, furnitur kayu, dan aroma melati.
Jadi kalau datang bersama orang tua atau keluarga yang memang suka suasana tradisional, tempat ini cukup menyenangkan.
Cocok untuk Keluarga dan Rombongan
Ruangannya cukup luas dan terdiri dari dua lantai.
Waktu saya datang, jumlah mejanya cukup banyak dan menurut saya memang cocok untuk makan keluarga, grup kantor, atau acara kecil.
Recent reviews juga masih menyebut tempat ini cocok untuk lunch, dinner, bahkan acara seperti wedding atau gathering, dengan pilihan makanan yang cukup luas untuk keluarga.
Kalau datang weekend atau rombongan besar, saya tetap akan reservasi dulu.
Lebih aman daripada datang lalu lihat semua meja sudah penuh.
Menu Teras Budhe
Ini bagian yang menurut saya bikin tempat ini menarik.
Menunya bukan cuma satu-dua masakan Jawa yang umum.
Pilihan makanannya cukup lebar.
Dulu saya melihat:
- mangut
- pecel Madiun
- nasi gandul
- cumi hitam
- krengseng daging
- jengkol
- tumis daun pepaya
- plecing kangkung
- aneka rebusan
- rujak
- pisang goreng
- aneka minuman tradisional
Sekarang pun publikasi yang lebih baru masih menonjolkan menu seperti Garang Asem Ayam Kampung, Nasi Gandul, dan Pecel sebagai menu utama.
Saya justru suka restoran seperti ini karena satu meja bisa isi macam-macam.
Tidak harus semua orang pesan lauk yang sama.
Mangut Lele
Salah satu menu pertama yang saya coba adalah Mangut Lele.
Kalau lihat tampilannya, kuahnya merah dan kelihatan medok.
Ada tahu juga di dalamnya.
Secara rasa, menurut saya enak, tapi waktu itu terasa lebih ringan dibanding mangut yang biasa saya makan di Jawa.
Saya pribadi lebih suka mangut yang kuahnya benar-benar “ngegigit”.
Istilah ilmiahnya tentu tidak ada.
Hahaha.
Tapi kira-kira maksud saya: bumbunya lebih kuat, lebih smoky, dan rasa santannya lebih nempel.
Kalau Teras Budhe waktu itu versinya lebih halus.
Tetap enak.
Cuma beda preferensi.
Pecel Madiun, Salah Satu Favorit Saya
Nah, kalau Pecel Madiun, saya justru suka sekali.
Isi sayurnya lengkap.
Ada bayam.
Kenikir.
Kacang panjang.
Tauge.
Kol.
Daun pepaya.
Kembang turi.
Lalu sambal kacangnya bisa request tingkat pedas.
Dulu juga datang dengan gendar yang renyah dan tempe garit.
Menurut saya ini salah satu menu yang paling terasa “Jawa rumahan”.
Dan kalau baru pertama kali datang ke Teras Budhe, saya cukup berani merekomendasikan pecelnya.
Garang Asem Ayam Kampung
Ini salah satu menu yang sekarang justru sering disebut sebagai andalan Teras Budhe.
DetikFood menulis versi Teras Budhe menggunakan ayam kampung dengan kuah bening, rasa asam segar dari tomat dan belimbing wuluh, serta sedikit pedas dari cabai rawit. Satu porsinya juga disebut cukup besar untuk sharing.
Waktu kunjungan saya dulu, saya lebih banyak fokus ke mangut, pecel, jengkol dan lauk-lauk lainnya.
Kalau sekarang datang lagi, saya justru akan coba Garang Asem.
Karena ternyata menu ini sekarang cukup identik dengan Teras Budhe.
Nasi Gandul
Selain Garang Asem, Nasi Gandul juga sering disebut sebagai salah satu menu unggulan terbaru mereka.
Kalau belum familiar, nasi gandul merupakan makanan khas Pati, Jawa Tengah, dengan kuah gurih-manis berbumbu dan irisan daging.
Karena saya suka makanan berkuah yang kuat rempah, menu ini termasuk yang ingin saya coba lagi kalau balik.
Jengkol
Saya juga sempat pesan jengkol.
Rasanya sebenarnya enak, cuma waktu itu bumbunya agak ke arah semur.
Manis.
Tidak terlalu pedas.
Dan karena saya pribadi lebih suka jengkol yang rasa pedas-gurihnya lebih kuat, jadi menurut saya kurang greget.
Tapi itu murni masalah selera.
Kalau suka masakan Jawa yang cenderung manis, mungkin justru cocok.
Krengseng Daging dan Menu Daging Lainnya
Teras Budhe juga punya menu seperti krengseng daging.
Buat saya ini tipe lauk yang cocok banget dimakan rame-rame.
Nasi hangat.
Krengseng.
Sedikit sayur.
Sambal.
Sudah.
Kadang makanan yang bikin puas memang tidak perlu terlalu fancy.
Tumis Daun Pepaya dan Sayurannya
Saya suka kalau restoran Jawa punya sayur yang cukup banyak.
Karena kalau semua meja isinya daging, santan, dan gorengan…
lama-lama berat juga.
Hahaha.
Tumis daun pepaya termasuk yang saya suka karena ada sedikit pahit yang justru membantu menyeimbangkan lauk-lauk gurih.
Ada juga plecing kangkung dan berbagai sayuran lain.
Buat saya ini penting kalau makan keluarga, karena biasanya ada satu orang yang bilang:
“Sayurnya apa?”
Dan biasanya orang itu saya.
Rujak Budhe
Ini salah satu menu yang cukup khas.
Dulu saya diberi tahu Rujak Budhe termasuk menu andalan sejak masa mereka masih di Mayestik.
Buahnya banyak.
Bumbu rujaknya kental.
Kacangnya terasa.
Kalau makan berat sudah cukup, rujak seperti ini enak buat penutup.
Lebih segar daripada dessert creamy.
Pisang Goreng
Waktu datang dulu, kami sampai pesan dua piring pisang goreng.
Bukan karena konsep food review yang serius.
Tapi karena lapar.
Hahaha.
Yang datang duluan pisang goreng.
Ya habis.
Lalu tambah lagi.
Ini salah satu hal yang kadang justru bikin pengalaman restoran terasa nyata.
Nggak semua menu harus dianalisis sampai texture profile-nya.
Kadang pisang goreng ya enak karena datang saat kita lapar.
Aneka Rebusan
Saya juga suka konsep ada aneka rebusan seperti kacang, pisang, ubi, ketimus, dan makanan rumahan lainnya.
Benda-benda seperti ini sebenarnya sederhana.
Tapi justru membuat pengalaman makannya terasa lebih Jawa dan lebih dekat ke suasana rumah.
Bisa diambil sebagai camilan sambil menunggu makanan utama.
Cuma hati-hati.
Kalau terlalu banyak ngemil di awal, nanti lauk utama datang malah sudah kenyang.
Es Cincau dan Es Kopyor Jepara
Untuk minuman, dulu saya mencoba Es Cincau dan Es Kopyor Jepara.
Es cincaunya menurut saya enak banget.
Saya bahkan dulu menyebutnya “es cincau versi mahal”.
Hahaha.
Maksudnya tentu bukan kritik.
Lebih ke rasa dan penyajiannya memang lebih proper dibanding es cincau pinggir jalan.
Es kopyornya juga tidak terlalu manis dan porsinya pas.
Kalau makan menu Jawa yang cukup berat, saya memang lebih suka minuman segar yang tidak terlalu banyak gula.
Jus Belimbing
Saya sendiri waktu itu pilih jus belimbing.
Alasannya sederhana.
Mau sesuatu yang segar untuk mengimbangi makanan yang banyak santan, daging, dan gorengan.
Kadang pilihan minuman paling tepat bukan yang paling fancy.
Yang penting segar.
Harga Makan di Teras Budhe
Untuk harga, saya tidak akan mempertahankan angka lama dari artikel 2022 sebagai patokan sekarang.
Publikasi yang lebih baru menyebut makanan di Teras Budhe mulai sekitar Rp50.000-an, dengan beberapa menu sharing yang porsinya cukup besar untuk 2–3 orang.
Review terbaru juga menunjukkan pengeluaran per orang bisa berada sekitar Rp100.000–Rp125.000, tergantung menu yang dipesan.
Jadi menurut saya budgeting yang lebih realistis sekarang adalah:
sekitar Rp100.000-an per orang untuk makan lengkap, tapi tentu bisa lebih rendah atau lebih tinggi tergantung apakah sharing dan jenis menu.
Harga restoran cepat berubah, jadi saya tetap menyarankan cek menu terbaru sebelum datang.
Jam Buka Teras Budhe
Saat artikel ini diperbarui, informasi terbaru mencantumkan:
08.00–22.00 WIB setiap hari.
Ini sedikit berbeda dengan artikel lama saya yang masih menulis tutup pukul 21.00.
Kalau datang untuk breakfast atau early lunch, menurut saya justru menarik karena tempatnya sudah buka sejak pagi.
Lokasi Teras Budhe
Alamatnya tetap:
Jl. Panglima Polim V No.15, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Letaknya cukup strategis dan dekat dengan kawasan kuliner Panglima Polim–Melawai.
Jadi kalau memang sering main ke daerah sini, gampang masuk itinerary makan.
Worth It Nggak?
Kalau suka masakan Jawa rumahan dalam suasana yang nyaman, menurut saya masih worth it.
Yang saya suka dari Teras Budhe bukan karena satu menu “wah banget”.
Justru keseluruhannya.
Suasana Jawa.
Menu banyak.
Bisa sharing.
Ada makanan berat.
Ada sayur.
Ada jajanan.
Ada rebusan.
Ada rujak.
Dan tempatnya cukup nyaman untuk keluarga.
Kalau cari restoran Jawa dengan suasana super modern dan plating yang sangat fancy, mungkin bukan ini arahnya.
Tapi kalau ingin makan yang terasa familiar dan rumahan, justru itu keunggulannya.
Pengalaman Saya: Lebih Berasa Rumah Makan Jawa daripada Restoran Indonesia Generik
Kalau saya ingat lagi kunjungan dulu, yang paling saya suka justru suasananya.
Aroma melati.
Kayu.
Batik.
Makanan dipajang.
Ada sudut cemilan.
Ada rebusan.
Ada rujak.
Hal-hal seperti itu yang bikin tempatnya punya karakter.
Saya juga suka karena menunya tidak terlalu berusaha jadi “modern Indonesian cuisine”.
Tetap terasa sebagai masakan Jawa yang dibawa ke ruang restoran yang lebih nyaman.
Dan menurut saya justru itu yang sekarang masih punya daya tarik.
Kalau kembali lagi, saya mungkin akan pesan lebih sedikit.
Dulu kami pesan banyak sekali.
Namanya juga semangat review.
Hahaha.
Sekarang saya mungkin cukup:
Pecel.
Garang Asem.
Satu lauk daging.
Satu sayur.
Lalu rujak.
Sudah.
Karena ternyata setelah cukup banyak makan di luar, saya semakin sadar bahwa restoran yang paling bikin kangen sering bukan yang paling mewah.
Tapi yang rasanya familiar.
Dan Teras Budhe menurut saya masuk kategori itu.
Artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi saya makan di Teras Budhe. Jam operasional, alamat, dan beberapa menu andalan diperbarui menggunakan sumber terbaru. Harga, menu, dan ketersediaan hidangan dapat berubah sewaktu-waktu.
