Kanabu Resto
Kanabu Resto: Restoran Aceh di Jakarta yang Bikin Saya Kangen Masakan Rumah
Kalau ngomongin makanan Aceh, kebanyakan orang mungkin langsung kepikiran Mie Aceh.
Padahal masakan Aceh jelas nggak cuma mie.
Ada ayam tangkap, keumamah atau ikan kayu, kuah beulangong, teri asam sunti, pacri nanas, sampai berbagai masakan rumahan yang buat saya justru lebih bikin kangen.
Mungkin karena saya dulu pernah tinggal di Aceh, jadi ketika menemukan Kanabu Resto di Bendungan Hilir, Jakarta, rasanya sedikit seperti menemukan kembali makanan yang familiar.
Saya datang pertama kali ketika Kanabu masih tergolong baru. Waktu itu saya ingat sekali restorannya ingin mengenalkan makanan Aceh yang bukan sekadar Mie Aceh dan kopi Aceh.
Dan itu justru yang bikin saya tertarik.
Saya bisa menemukan makanan yang biasanya lebih dekat dengan meja makan orang Aceh daripada daftar “kuliner Aceh paling terkenal” yang selalu muncul di internet.
Kanabu Resto Itu Restoran Apa?
Kanabu Resto adalah restoran masakan Aceh di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, yang menyajikan berbagai hidangan khas Aceh seperti Ayam Tangkap, Kuah Beulangong, Ikan Kayu atau Keumamah, Teri Asam Sunti, serta masakan rumahan Aceh lainnya.
Kanabu pertama kali saya kunjungi karena penasaran dengan konsepnya.
Dari luar saja nuansa Acehnya sudah terasa. Ada elemen dekorasi Aceh, pintu bergaya tradisional, bahkan dulu tersedia pelaminan Aceh yang memang dibuat sebagai spot foto.
Jadi bukan sekadar restoran yang kebetulan menjual ayam tangkap.
Konsep Acehnya benar-benar dibawa masuk ke ruangannya.
Arti Nama Kanabu
Ini salah satu hal yang dulu saya suka dari ceritanya.
Nama Kanabu berasal dari bahasa Aceh.
Kana kurang lebih berarti “sudah ada” atau “tersedia”, sementara bu berarti nasi.
Konsepnya ingin menggambarkan makanan yang memang tersedia di rumah-rumah Aceh: masakan rumahan yang tinggal disantap bersama nasi.
Setidaknya begitu penjelasan yang saya dapat saat pertama kali datang.
Dan menurut saya konsep ini lebih menarik dibanding kalau restoran hanya menjual Mie Aceh, karena kuliner Aceh memang jauh lebih luas.
Kanabu Resto Masih Buka?
Masih.
Saat artikel ini saya perbarui, Kanabu Resto masih tercatat aktif di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Listing bisnis terbaru mencantumkan jam operasional setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB.
Ini juga berbeda sedikit dari tulisan lama saya yang masih mencatat “Sabtu–Kamis”.
Jadi sekarang lebih mudah diingat:
setiap hari 10 pagi sampai 10 malam.
Tetap saya sarankan cek lagi sebelum datang, terutama kalau berkunjung saat Ramadan, Lebaran, atau hari libur besar.
Lokasi Kanabu Resto
Kanabu Resto berada di:
Jl. Bendungan Hilir No. 44A, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Lokasinya ada di kawasan Benhil yang memang penuh tempat makan.
Dulu saya ingat parkirnya bisa cukup padat saat jam makan siang.
Kalau datang rame-rame atau ada acara kantor, menurut saya lebih enak tidak datang tepat di puncak lunch hour.
Suasana Kanabu Resto
Salah satu hal yang saya ingat dari Kanabu adalah tempatnya cukup luas.
Dulu restorannya bisa menampung rombongan besar dan tersedia ruang VIP serta smoking area.
Bagian yang paling menarik buat saya justru dekorasinya.
Sebelum masuk, ada dapur terbuka dengan kuali besar.
Dan ini bukan sekadar pajangan.
Kuali tersebut digunakan untuk memasak kuah beulangong, salah satu masakan khas Aceh yang memang secara tradisional dimasak dalam kuali besar untuk banyak orang.
Waktu saya datang, saya diberi tahu satu kuali besar bisa digunakan untuk puluhan kilogram daging dan kuah dalam jumlah sangat banyak.
Kebayang kan aromanya ketika lewat depan dapur?
Belum duduk saja sudah lapar.
Hahaha.
Apa Itu Kuah Beulangong?
Kalau belum familiar, kuah beulangong adalah hidangan khas Aceh berbahan daging—sering kambing atau sapi—yang dimasak dalam kuali besar dengan banyak rempah.
Nama beulangong sendiri merujuk pada belanga atau kuali besar.
Hidangan ini punya hubungan kuat dengan acara komunal di Aceh, seperti kenduri, pernikahan, Maulid, dan berbagai perayaan masyarakat.
Versi Kanabu dulu menggunakan banyak sekali rempah, dan memang aromanya jauh lebih kompleks dibanding kari yang biasa saya makan.
Dalam materi restoran yang pernah beredar, kuah beulangong Kanabu disebut memakai sekitar 20–25 jenis rempah, dengan kuah yang tidak sepekat kari India atau sebagian gulai Padang tetapi juga tidak encer seperti sup.
Nah, ini salah satu alasan menurut saya menyebut semua masakan Sumatra “mirip Padang” itu terlalu menyederhanakan.
Kelihatannya mungkin sama-sama penuh rempah.
Tapi rasanya beda.
Cara Penyajian Makanannya Mirip Rumah Makan Padang
Waktu saya datang, banyak lauk langsung dihidangkan ke meja.
Kita tinggal pilih mana yang mau dimakan.
Model seperti ini memang terasa familiar buat orang Indonesia karena mengingatkan pada restoran Padang.
Tapi isinya tentu khas Aceh.
Ada keumamah.
Teri asam sunti.
Tauco.
Pacri.
Sambal.
Dan berbagai lauk lain.
Review pengunjung terbaru juga masih menyebut sistem hidang, yaitu berbagai makanan diletakkan di meja dan pengunjung membayar yang dimakan.
Menurut saya sistem seperti ini enak kalau datang rame-rame.
Bahaya satu saja:
semuanya kelihatan menarik.
Hahaha.
Menu Kanabu Resto yang Saya Coba
Ini bagian yang menurut saya jangan dibuang dari tulisan lama karena justru pengalaman pertama saya itulah yang membuat artikel ini berbeda.
Waktu datang, saya mencoba cukup banyak menu.
Ada Ayam Tangkap, Kari Bebek, Ikan Kayu, Teri Asam Sunti, Udang Asam Sunti, Tauco Kacang Panjang, Pacri Nanas, sambal khas Aceh, sampai Timpan.
Kalau sekarang disuruh pilih mana yang paling saya ingat?
Ada beberapa.
Ayam Tangkap
Ayam Tangkap jelas salah satu menu Aceh paling terkenal setelah Mie Aceh.
Dan versi Kanabu waktu itu saya suka.
Ayamnya menggunakan ayam pejantan yang dimarinasi kemudian digoreng bersama banyak daun aromatik, terutama daun kari atau salam koja dan pandan.
Yang khas memang tampilannya.
Ayam seolah “tenggelam” di antara daun-daun goreng.
Makanya dinamakan Ayam Tangkap—kita seperti harus mencari atau “menangkap” potongan ayam di antara tumpukan daun.
Setidaknya itu penjelasan populer yang sering kita dengar.
Waktu saya makan di Kanabu, ayamnya ternyata empuk, walaupun dari tampilannya saya sempat mengira bakal keras.
Daun karinya juga bukan cuma dekorasi.
Aromanya masuk ke ayam dan menjadi karakter utama hidangan.
Menu ini masih disebut sebagai salah satu andalan Kanabu dalam berbagai listing dan ulasan restoran.
Kalau pertama kali ke Kanabu, menurut saya ini salah satu menu paling aman untuk dicoba.
Kari Bebek
Kari Bebek-nya juga salah satu yang saya ingat.
Warna dan bumbunya pekat sampai dari foto saja sudah kelihatan “berat”.
Tapi yang saya suka memang masakan Aceh seperti ini: aroma rempahnya kuat.
Dulu Kanabu juga punya Kari Kambing atau Kuah Beulangong.
Kalau datang rame-rame, menurut saya enak pesan satu lauk seperti ini untuk sharing bersama nasi.
Ikan Kayu atau Keumamah
Nah, ini justru menu yang menurut saya penting kalau benar-benar ingin mengenal makanan Aceh.
Ikan Kayu, dalam bahasa Aceh dikenal sebagai keumamah, terbuat dari ikan yang diawetkan sampai teksturnya menjadi keras dan kering sebelum dimasak kembali dengan bumbu.
Namanya ikan kayu karena teksturnya memang keras seperti kayu sebelum diolah.
Dulu keumamah punya fungsi sangat praktis karena ikan yang sudah diawetkan bisa disimpan lebih lama.
Setelah dimasak dengan cabai dan rempah, rasanya jadi gurih, pedas, dan sangat khas.
Kalau selama ini hanya tahu Mie Aceh, coba ini.
Ini justru tipe masakan yang lebih membuat saya ingat makanan rumahan di Aceh.
Teri Asam Sunti
Ini juga salah satu favorit saya karena asam sunti memberi rasa yang sangat khas.
Asam sunti dibuat dari belimbing wuluh yang diasinkan dan dikeringkan.
Rasanya asam, sedikit asin, dan punya aroma yang berbeda dari sekadar memasukkan jeruk atau asam jawa ke masakan.
Teri dengan asam sunti itu sederhana, tapi justru enak banget dimakan dengan nasi hangat.
Ini tipe lauk yang kelihatannya kecil…
tahu-tahu nasinya nambah.
Udang Asam Sunti
Konsepnya mirip—asam sunti bertemu seafood.
Menurut saya rasa asam sunti cocok banget dengan udang karena membantu membuat seafood terasa lebih segar dan tidak terlalu berat.
Kalau belum pernah mencoba asam sunti, menu seperti ini bisa jadi perkenalan yang menarik.
Tauco Kacang Panjang
Masakan Aceh juga punya banyak lauk yang terlihat sederhana.
Salah satunya tauco kacang panjang.
Rasanya gurih dan sedikit fermented dari tauco.
Setelah beberapa lauk daging dan kari yang berat, sayuran seperti ini justru saya butuhkan.
Saya memang selalu begitu.
Awal makan:
“Wah daging!”
Beberapa menu kemudian:
“Ada sayur nggak?”
Hahaha.
Pacri Nanas
Nah, ini salah satu menu yang menurut saya cukup unik buat orang yang tidak terbiasa.
Pacri nanas memakai nanas dengan bumbu rempah.
Ada perpaduan manis, asam, dan gurih.
Dalam meja penuh kari dan lauk berbumbu kuat, rasa nanasnya justru membantu menyegarkan.
Saya suka masakan yang punya fungsi seperti ini.
Bukan sekadar “buah dijadikan lauk”.
Ada alasan rasanya cocok dengan makanan lain di meja.
Sambal Ganja
Nama ini selalu bikin orang berhenti sebentar.
Hahaha.
Tenang.
Tidak ada ganjanya.
Sambal ganja—yang juga dikenal dengan nama asam udeung—adalah sambal khas Aceh yang umumnya menggunakan udang, cabai, belimbing wuluh atau unsur asam, bawang, dan bahan aromatik.
Namanya populer sebagai “sambal ganja” karena katanya bikin ketagihan.
Bukan karena ada bahan terlarang di dalamnya.
Di Kanabu dulu sambal ini termasuk menu yang menarik perhatian, dan sampai sekarang berbagai publikasi tentang Kanabu juga masih menyebutnya sebagai salah satu sajian andalan.
Kalau baru pertama makan masakan Aceh:
coba.
Timpan Aceh
Setelah lauk-lauk pedas dan berbumbu, saya suka kalau ditutup dengan timpan.
Timpan adalah kue tradisional Aceh yang biasanya dibuat dari tepung ketan dan pisang, diberi isi seperti srikaya atau kelapa, kemudian dibungkus daun pisang.
Teksturnya lembut.
Manisnya juga tidak seperti dessert modern yang berat.
Dan buat saya, timpan termasuk makanan yang langsung membawa memori ke Aceh.
Makanya kalau tersedia, saya hampir pasti pesan.
Es Timun Serut
Minuman yang menurut saya cocok sekali dengan makanan Aceh berbumbu kuat adalah es timun serut.
Segar.
Simple.
Dan setelah makan kari serta sambal, rasanya seperti reset.
Kanabu juga dikenal menyediakan minuman seperti es timun serut, teh tarik dan beberapa minuman khas lain.
Kalau saya kembali lagi, kemungkinan besar tetap pesan timun.
Dulu Saya Kecewa Karena Nggak Ada Mie Aceh
Nah, ini bagian tulisan lama yang lucu kalau dibaca sekarang.
Waktu pertama datang saya sempat kecewa karena:
nggak ada Mie Aceh.
Hahaha.
Saya sampai menulis semoga suatu hari Kanabu menjual Mie Aceh dan Kopi Aceh.
Sekarang situasinya tampaknya sudah berubah.
Menu dan review yang lebih baru menunjukkan ada pilihan mie seperti mie goreng kambing dan mie tumis, jadi menu Kanabu tampaknya sudah berkembang dibanding kunjungan pertama saya.
Karena saya belum mencoba versi menunya yang sekarang secara langsung, saya tidak akan menulis daftar terbaru seolah sudah mencobanya.
Lebih aman:
cek menu saat datang.
Tapi lucu juga.
Dulu saya minta ada mie.
Sekarang sepertinya sudah ada.
Harusnya saya datang lagi.
Menu Apa yang Saya Rekomendasikan untuk Pertama Kali?
Kalau baru pertama datang dan ingin mencoba makanan Aceh yang cukup representatif, saya akan pilih:
Ayam Tangkap
Paling mudah disukai.
Kuah Beulangong/Kari Kambing
Untuk rasa rempah Aceh yang lebih serius.
Ikan Kayu atau Keumamah
Karena ini sangat khas.
Teri atau Udang Asam Sunti
Untuk mengenal asam sunti.
Pacri Nanas
Sebagai penyeimbang.
Sambal Ganja
Karena ya… masa nggak penasaran?
Hahaha.
Kalau masih muat, tutup dengan Timpan.
Jangan semua orang pesan satu porsi sendiri.
Sharing saja supaya bisa coba lebih banyak menu.
Apakah Makanan Aceh Sama dengan Masakan Padang?
Tidak.
Ini salah satu wording artikel lama yang ingin saya perbaiki.
Dulu saya menulis rasanya “mirip banget masakan Padang namun beda rempahnya.”
Kalau sekarang, saya akan bilang:
ada beberapa kemiripan karena sama-sama kuliner Sumatra yang kaya rempah, tetapi tradisi masakan Aceh punya karakter sendiri.
Masakan Aceh banyak dipengaruhi posisi geografisnya yang sejak lama berhubungan dengan India, Arab, Melayu, dan kawasan lain.
Kita sering menemukan:
asam sunti.
daun kari.
kelapa.
cabai.
rempah dalam jumlah banyak.
ikan.
daging.
Teknik serta kombinasinya berbeda dengan masakan Minangkabau.
Jadi jangan datang ke restoran Aceh lalu berharap “Padang versi lain”.
Beda.
Apakah Kanabu Cocok untuk Makan Keluarga atau Rombongan?
Menurut pengalaman saya:
iya.
Tempatnya cukup besar dan konsep makanannya memang cocok untuk sharing.
Waktu kunjungan saya dulu juga ada VIP room.
Kalau sekarang hendak datang dengan rombongan besar atau acara kantor, saya akan telepon dulu untuk memastikan kapasitas dan ketersediaan ruang karena fasilitas restoran bisa berubah.
Nomor yang tercantum pada listing bisnis terbaru adalah (021) 2527286.
Harga Makan di Kanabu Resto
Saya sengaja tidak mempertahankan harga-harga dari tulisan lama.
Dulu saya menulis misalnya Kari Kambing Rp45.000.
Angka itu berasal dari kunjungan bertahun-tahun lalu dan sudah tidak layak ditampilkan sebagai harga saat ini.
Kalau membahas restoran, saya sekarang lebih suka begini:
harga lama menjadi dokumentasi pengalaman, bukan informasi pembelian hari ini.
Recent menu images memang masih tersedia di berbagai platform, tetapi harga restoran bisa berubah sewaktu-waktu.
Jadi kalau faktor harga penting, cek menu terbaru atau hubungi restoran sebelum datang.
Worth It Nggak Kanabu Resto?
Kalau ingin makan masakan Aceh yang lebih luas daripada Mie Aceh, menurut saya iya.
Itu justru alasan utama saya suka konsep Kanabu.
Kalau cuma ingin sepiring Mie Aceh cepat?
Ada banyak pilihan lain di Jakarta.
Tapi kalau ingin duduk bersama keluarga atau teman, lalu mencoba:
Ayam Tangkap.
Keumamah.
Asam Sunti.
Kuah Beulangong.
Pacri Nanas.
dan berbagai masakan rumahan Aceh dalam satu meja…
Kanabu jauh lebih menarik.
Apalagi buat saya yang pernah tinggal di Aceh.
Ada rasa familiar yang sulit dijelaskan.
Kadang yang bikin kangen suatu tempat bukan landmark.
Bukan pantainya.
Bukan hotelnya.
Tapi satu rasa makanan.
Dan ketika mencium aroma daun kari atau asam sunti lagi di Jakarta, tiba-tiba ingatannya kembali.
Pengalaman Saya: Kanabu Bukan Sekadar Tempat Makan Mie Aceh
Kalau sekarang membaca tulisan lama saya, justru saya senang dulu datang ke Kanabu ketika mereka tidak menjadikan Mie Aceh sebagai pusat segalanya.
Karena kalau waktu itu ada Mie Aceh, mungkin saya malah pesan mie.
Lalu pulang.
Selesai.
Hahaha.
Karena tidak ada, saya justru mencoba lebih banyak makanan Aceh yang sebenarnya jauh lebih menarik untuk dikenalkan.
Ikan Kayu.
Teri Asam Sunti.
Pacri Nanas.
Kari.
Ayam Tangkap.
Dan Timpan.
Itu yang membuat saya merasa makan di Kanabu bukan sekadar “makan makanan Aceh di Jakarta”.
Sedikit banyak ada memori juga.
Jadi kalau Rora—eh, kalau saya—kembali ke Kanabu sekarang, mungkin saya tetap akan melewatkan mie dulu.
Pesan nasi.
Lalu keluarkan lauk satu-satu.
Karena ternyata kadang cara terbaik mengenal kuliner Aceh memang bukan lewat menu yang paling terkenal.
Justru lewat makanan yang biasa muncul di meja rumah.
Artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi saya makan di Kanabu Resto. Alamat dan jam operasional diperbarui menggunakan listing bisnis terkini. Menu, harga, ruang VIP, fasilitas, dan cara penyajian dapat berubah, jadi konfirmasi langsung ke restoran jika ada kebutuhan khusus.
