Pandan Croissant di Agathe Patisserie Melbourne
Pandan Croissant Agathé Pâtisserie Melbourne: French Croissant dengan Rasa yang Familiar
Setelah sebelumnya sempat mencoba croissant di Lune, ternyata perjalanan kuliner saya di Melbourne belum selesai.
Kali ini saya mencoba sesuatu yang sedikit berbeda.
Pandan Croissant dari Agathé Pâtisserie.
Begitu tahu ada croissant rasa pandan, saya langsung penasaran.
Mungkin karena buat kita orang Indonesia, pandan itu bukan rasa yang asing sama sekali. Pandan ada di kue, bubur, bolu, klepon, sampai berbagai jajanan pasar.
Tapi pandan dimasukkan ke dalam croissant Prancis?
Nah, itu baru menarik.
Dan ternyata pandan croissant ini memang salah satu pastry yang cukup terkenal dari Agathé Pâtisserie.
Agathé Pâtisserie Itu Apa?
Agathé Pâtisserie adalah French pâtisserie di Melbourne yang didirikan oleh pastry chef Agathé Kerr.
Agathé belajar pastry secara profesional di École de Boulangerie et Pâtisserie de Paris, jadi dasar pastry yang dibuat di sini memang cukup klasik Prancis. Di saat yang sama, menunya tidak berhenti pada croissant original atau pain au chocolat saja. Ada juga berbagai kreasi yang memasukkan rasa Asia seperti pandan, matcha, dan earl grey.
Menurut saya kombinasi seperti ini justru sangat Melbourne.
Tekniknya Prancis.
Tapi pengaruh makanannya datang dari mana-mana.
Dan pandan croissant mungkin contoh yang paling gampang terlihat.
Pandan Croissant yang Bikin Saya Penasaran
Saya tertarik mencoba pandan croissant bukan cuma karena warnanya hijau.
Walaupun ya, warna hijaunya memang susah diabaikan.
Dibanding croissant klasik yang golden brown, versi pandan Agathé terlihat jauh lebih mencolok.
Agathé memang terkenal dengan infused croissant, dan pandan menjadi salah satu flavour yang sudah lama muncul di counter mereka. South Melbourne Market bahkan menyebut pandan croissant sebagai salah satu kreasi mereka yang mendapat banyak perhatian dan menjadi favorit pengunjung.
Waktu melihatnya langsung, rasanya memang beda dari croissant biasa.
Lebih playful.
Lebih fun.
Dan entah kenapa warna hijau itu langsung membuat saya membayangkan aroma pandan bahkan sebelum mencicipinya.
Seperti Apa Pandan Croissant Agathé?
Secara dasar, ini tetap croissant.
Jadi kita masih mendapatkan lapisan pastry yang flaky di bagian luar dan berlapis-lapis di dalam.
Yang membedakan tentu flavour pandan yang masuk ke pastry dan filling-nya.
Beberapa deskripsi lama tentang pandan croissant Agathé menyebut rasa pandan yang harum dengan elemen manis dan nutty, dan versi yang pernah dijual juga menggunakan filling berbasis almond serta red bean. Karena menu Agathé memang sering berubah, detail filling bisa berbeda dari waktu ke waktu.
Itu sebabnya saya lebih suka menggambarkannya berdasarkan pengalaman makan daripada terlalu mengunci resepnya.
Yang paling terasa buat saya adalah kontras antara:
pastry Prancis yang buttery dan flaky
dengan
aroma pandan yang rasanya sangat familiar.
Agak unik memang.
Croissant-nya terasa Eropa.
Aromanya mengingatkan ke Asia.
Rasanya Gimana?
Kalau hanya melihat warnanya, mungkin ada yang membayangkan rasa pandan akan terlalu kuat.
Menurut saya justru tidak perlu seperti itu.
Yang menarik adalah pandan memberikan aroma yang khas tanpa membuat croissant kehilangan karakter dasarnya.
Masih ada buttery pastry.
Masih ada tekstur flaky.
Tapi kemudian muncul rasa pandan yang lembut dan sedikit manis.
Buat saya, ini jenis pastry yang menarik bukan karena ingin menggantikan croissant original.
Justru karena memberikan pengalaman yang berbeda.
Kalau croissant original lebih klasik, pandan croissant terasa lebih fun.
Dan karena saya sudah mengenal rasa pandan sejak kecil, ada sedikit rasa familiar di tengah pastry yang sebenarnya sangat French.
Teksturnya Tetap Croissant, Bukan Roti Pandan
Ini menurut saya penting.
Kadang ketika makanan Barat diberi flavour Asia, hasilnya bisa berubah terlalu jauh dari bentuk aslinya.
Tapi pandan croissant Agathé tetap mempertahankan identitas croissant.
Lapisan luarnya flaky.
Bagian dalam lebih ringan.
Dan kalau fresh, serpihan pastry-nya tetap jatuh ke mana-mana saat digigit.
Ya, tetap messy.
Croissant yang benar-benar flaky memang hampir tidak pernah berhasil dimakan dengan anggun.
Saya sudah menyerah soal itu.
Kenapa Pandan Croissant Agathé Terkenal?
Selain visualnya yang gampang menarik perhatian, menurut saya ada faktor lain.
Agathé memang cukup dikenal karena memadukan French pastry dengan flavour yang tidak terlalu konservatif.
South Melbourne Market menggambarkan mereka sebagai pâtisserie yang membuat French classics sekaligus infused croissants seperti pandan, matcha, dan earl grey. Pandan croissant-nya bahkan sudah beberapa kali disebut dalam program kuliner dan publikasi lokal sebagai salah satu produk yang paling dikenal dari stall ini.
Jadi bukan rasa pandan yang tiba-tiba muncul hanya karena sedang viral.
Sudah menjadi bagian dari identitas Agathé cukup lama.
Dan menurut saya itu penting.
Karena ada bedanya antara menu gimmick dan menu yang memang punya penggemar sendiri.
Agathé Pâtisserie di South Melbourne Market
Lokasi Agathé yang paling dikenal berada di South Melbourne Market.
Stall-nya ada di:
Stall 63, Aisle B
South Melbourne Market
322–326 Coventry Street, South Melbourne
Salah satu hal menariknya adalah area baking-nya cukup terbuka.
Jadi dari luar kita bisa melihat pastry dibuat dan dipanggang.
South Melbourne Market sendiri menyebutnya sebagai open kitchen, sehingga pengunjung bisa melihat langsung proses pastry chef bekerja.
Menurut saya itu menambah pengalaman.
Bukan sekadar datang ke counter lalu beli pastry.
Ada suasana market-nya juga.
Dan kalau memang sedang jalan-jalan ke South Melbourne Market, Agathé mudah sekali dimasukkan ke itinerary.
Sekarang Ada Cabang di Royal Arcade Juga
Agathé tidak hanya ada di South Melbourne Market.
Mereka juga punya lokasi kecil di Royal Arcade, Melbourne CBD, dengan akses dari Elizabeth Street.
Alamatnya:
Shop 43, Royal Arcade
335 Bourke Street, Melbourne CBD
Lokasi Royal Arcade lebih praktis kalau itinerary kita memang banyak berada di CBD.
Saat ini jam bukanya adalah:
Selasa–Jumat: 08.30–15.00
Sabtu–Minggu: 09.30–16.00
Sedangkan South Melbourne Market buka pada hari-hari market dan umumnya mulai pukul 08.00.
Kalau saya harus memilih untuk pengalaman pertama, saya mungkin tetap lebih suka South Melbourne Market.
Bukan semata karena pastry-nya.
Tapi karena suasananya.
Selain Pandan Croissant, Ada Apa Lagi?
Ini bagian yang agak berbahaya.
Karena datang berniat beli satu, lalu lihat counter.
Selesai.
Agathé menjual banyak French pastry klasik seperti:
- traditional croissant,
- pain au chocolat,
- almond croissant,
- Kouign Amann,
- cannelé,
- vanilla flan,
- lemon meringue tart,
- sampai Burnt Basque Cheesecake.
Selain itu ada juga kreasi yang terus berubah, termasuk matcha dan earl grey croissant serta berbagai seasonal pastry.
Jadi kalau datang ramai-ramai, menurut saya enak beli beberapa lalu sharing.
Supaya bisa mencoba lebih banyak.
Ini salah satu alasan traveling bersama keluarga atau teman cukup menguntungkan.
Bisa memesan tiga dessert dengan alasan “buat dicoba bareng”.
Padahal sebenarnya semua orang sama-sama mau makan.
Datang Pagi Kalau Ingin Pilihan Lebih Lengkap
Kalau memang pandan croissant menjadi tujuan utama, saya akan datang relatif pagi.
Agathé punya cukup banyak penggemar dan antrean bisa muncul, terutama saat weekend.
Menu yang tersedia juga dapat berubah dan beberapa pastry bisa habis lebih dulu.
South Melbourne Market menyebut range pastry mereka memang terus berubah, sedangkan pengalaman pengunjung juga menunjukkan pilihan biasanya lebih lengkap sebelum siang.
Jadi jangan datang terlalu sore lalu berharap semua yang terlihat di Instagram masih tersedia.
Bakery seperti ini bukan supermarket.
Kalau habis, ya habis.
Lune atau Agathé?
Karena saya mencoba keduanya, rasanya pertanyaan ini hampir pasti muncul.
Tapi menurut saya sebenarnya tidak perlu memilih.
Lune dan Agathé memberikan pengalaman berbeda.
Lune terasa lebih fokus pada precision, branding, dan croissant sebagai produk utama yang hampir seperti objek desain.
Sedangkan Agathé terasa lebih seperti French pâtisserie yang playful dengan flavour.
Kalau mau mencoba croissant klasik yang sangat technical, saya mengerti kenapa orang pergi ke Lune.
Tapi kalau ingin mencoba sesuatu yang lebih unik, pandan croissant Agathé jelas menarik.
Buat saya justru serunya kuliner Melbourne ada di sini.
Dalam satu kota kita bisa mencoba dua croissant, tetapi pulang dengan pengalaman yang sama sekali berbeda.
Apakah Pandan Croissant Agathé Worth It?
Kalau suka pandan?
Menurut saya iya.
Apalagi buat orang Indonesia.
Ada rasa familiar ketika mencium pandan, tapi bentuk makanannya sama sekali berbeda dari kue-kue pandan yang biasa kita makan di rumah.
Dan itu yang membuatnya menyenangkan.
Saya tidak datang ke Melbourne untuk mencari makanan Indonesia.
Tapi ternyata satu aroma pandan di dalam croissant bisa terasa begitu familiar.
Agak lucu memang.
Jauh-jauh ke Australia, lalu salah satu pastry yang paling saya ingat justru rasa pandan.
Tapi mungkin itu juga yang membuat pandan croissant Agathé terasa spesial.
Bukan hanya karena warnanya hijau atau karena sedang ramai di media sosial.
Tapi karena berhasil membuat dua dunia bertemu dalam satu pastry.
French croissant.
Pandan Asia.
Dan anehnya, ternyata cocok.
Agathé Kerr baru menerima penghargaan Chevalière dans l’Ordre du Mérite Agricole Français pada Agustus 2026 atas kontribusinya pada French food dan pastry.
