Budaya Turki
Budaya Turki: Tradisi, Kebiasaan, dan Hal yang Saya Temui Saat Traveling.
Kalau sebelum pergi ke Turki saya diminta menggambarkan budayanya, mungkin jawabannya akan sangat sederhana:
perpaduan Timur dan Barat.
Kalimat itu memang sering sekali dipakai untuk menjelaskan Turki.
Dan setelah melihat sendiri negaranya, saya paham kenapa.
Tapi menurut saya budaya Turki jauh lebih menarik daripada sekadar kalimat “East meets West”.
Ada budaya minum teh yang rasanya nggak pernah berhenti.
Ada Turkish coffee dengan ritualnya sendiri.
Ada hammam.
Ada karpet, keramik, kaligrafi, musik, festival musim semi, sampai tradisi Sufi yang masih sangat kuat hubungannya dengan Konya.
Dan satu hal yang menurut saya penting sejak awal:
budaya Turki tidak seragam.
Istanbul bisa terasa sangat kosmopolitan.
Konya berbeda.
Kawasan Aegea berbeda lagi.
Cappadocia juga punya kehidupan dan tradisi lokal sendiri.
Jadi tulisan ini bukan tentang “semua orang Turki pasti begini”.
Lebih tepatnya, ini hal-hal tentang budaya dan tradisi Turki yang saya temui atau pelajari selama traveling di sana.
Budaya Turki Itu Seperti Apa?
Budaya Turki terbentuk dari sejarah panjang Anatolia, warisan Ottoman, tradisi Turkic, Islam, budaya Mediterania, Balkan, Kaukasus, serta kehidupan modern Eropa dan Asia.
Karena Türkiye memang berada di persimpangan banyak wilayah, budayanya terasa sangat berlapis.
Yang menurut saya paling mudah dirasakan wisatawan justru bukan teori sejarahnya.
Tapi hal-hal kecil:
cara orang menyajikan teh.
bagaimana meja sarapan penuh makanan.
orang ngobrol lama sambil minum kopi.
masjid tetap aktif sebagai tempat ibadah di tengah kota modern.
karpet dan keramik tradisional dijual berdampingan dengan mall modern.
Itu yang membuat Turki menarik.
1. Budaya Minum Çay, Mungkin yang Paling Terasa
Kalau ada satu budaya yang paling saya lihat selama berada di Turki, mungkin jawabannya:
minum teh.
Çay ada di mana-mana.
Saat sarapan.
Setelah makan.
Di restoran.
Di toko.
Saat ngobrol.
Di rumah.
Di kantor.
Bahkan kalau sedang belanja, kadang baru duduk saja sudah ditawari teh.
Budaya çay begitu penting sampai Culture of Çay tercatat UNESCO sebagai warisan budaya takbenda bersama Azerbaijan pada 2022, dengan teh dipandang sebagai simbol identitas, keramahan, dan interaksi sosial. UNESCO Intangible Cultural Heritage
Tehnya biasanya disajikan dalam gelas kecil berbentuk tulip.
Dan menggunakan çaydanlık, teko dua tingkat.
Saya sendiri selama traveling akhirnya jadi terbiasa melihat gelas teh kecil itu.
Sedikit.
Minum.
Tambah lagi.
Hahaha.
2. Turkish Coffee Bukan Cuma Soal Kopi
Kalau çay lebih terasa sebagai minuman sehari-hari, Turkish coffee punya ritual dan nilai sosial yang berbeda.
Kopinya sangat halus, dimasak menggunakan cezve, lalu disajikan dalam cangkir kecil tanpa disaring.
Ampasnya tetap tertinggal di dasar.
Turkish coffee culture bahkan masuk UNESCO sejak 2013 dan disebut sebagai simbol hospitality, friendship, refinement, dan social interaction. UNESCO Intangible Cultural Heritage
Saya pernah beli kopinya untuk dibawa pulang.
Dan reaksi pertama saya:
pahit banget.
Hahaha.
Saya memang bukan tipe orang yang bisa menikmati kopi hitam tanpa gula.
Tapi justru di situlah menariknya.
Turkish coffee bukan cuma tentang rasa.
Ada kebiasaan duduk bersama.
Ngobrol.
Menjamu tamu.
Bahkan dalam tradisi tertentu, kopi juga punya hubungan dengan upacara pertunangan dan acara keluarga. UNESCO Intangible Cultural Heritage
3. Membaca Ampas Turkish Coffee
Ini juga salah satu tradisi yang cukup terkenal.
Setelah Turkish coffee selesai diminum, cangkir bisa dibalik ke atas saucer.
Setelah ampas mengering atau membentuk pola, bentuknya kemudian “dibaca”.
Tradisi ini dikenal sebagai coffee fortune telling atau kahve falı.
UNESCO sendiri mencatat bahwa ampas kopi yang tertinggal memang sering digunakan untuk fortune-telling dalam Turkish coffee culture. UNESCO Intangible Cultural Heritage
Apakah semua orang Turki melakukannya?
Tentu tidak.
Tapi sebagai bagian dari budaya populer dan tradisi sosial, ini memang cukup dikenal.
Kalau saya?
Lebih tertarik lihat bentuknya daripada percaya hasil ramalannya.
Hahaha.
4. Hospitality dan Budaya Menjamu Tamu
Salah satu kesan kuat tentang masyarakat Turki adalah misafirperverlik, atau hospitality.
Teh, kopi, makanan, dan percakapan memang punya tempat penting dalam cara orang menjamu tamu.
GoTürkiye bahkan secara eksplisit menghubungkan budaya çay dan Turkish coffee dengan hospitality dan hubungan sosial. Go Türkiye
Tapi saya akan menghindari kalimat seperti:
“Orang Turki pasti memaksa tamu makan sampai kekenyangan.”
Versi artikel lama saya agak terlalu dramatis di sini.
Memang banyak keluarga sangat generous kalau menjamu.
Tapi tentu bukan berarti semua rumah dan semua orang sama.
Yang lebih tepat:
menyediakan makanan atau minuman kepada tamu merupakan bagian penting dari budaya hospitality di Turki.
Kalau ditawari teh?
Ambil satu saja.
Nanti kalau satu lagi…
ya kita pikirkan lagi.
Hahaha.
5. Turkish Breakfast Juga Bagian dari Budaya Sosial
Kahvaltı bukan hanya soal makan pagi.
Terutama versi serpme kahvaltı, makanan diletakkan di tengah meja dan dimakan bersama.
Keju.
Zaitun.
Menemen.
Sucuk.
Madu.
Kaymak.
Selai.
Roti.
Çay.
Dan biasanya berlangsung lama.
Menurut saya ini salah satu pengalaman budaya Turki yang paling mudah dicoba wisatawan.
Tidak perlu masuk museum.
Tidak perlu nonton festival.
Cukup duduk di meja sarapan.
Saya dulu pertama kali lebih mengenal Turkish breakfast dari hotel.
Setelah itu baru memahami bahwa kahvaltı punya dimensi sosial sendiri.
6. Hammam, Lebih dari Sekadar Tempat Mandi
Turkish hamam termasuk tradisi yang sejarahnya panjang.
Konsep pemandian umum memang punya akar pada bath culture Romawi dan Bizantium, lalu berkembang kuat pada masa Ottoman.
Pada masa Ottoman, hammam bukan cuma tempat membersihkan diri.
Ia juga menjadi ruang sosial, termasuk untuk aktivitas komunitas, pernikahan, masa setelah kelahiran anak, dan pertemuan. Go Türkiye
Di Istanbul ada hammam bersejarah seperti:
- Çemberlitaş Hamamı
- Cağaloğlu Hamamı
- Hürrem Sultan Hamamı
Kalau suka pengalaman budaya, menurut saya hammam jauh lebih menarik daripada cuma spa hotel biasa.
Walaupun ya…
harus siap dengan pengalaman scrub-nya.
Katanya bisa sangat serius.
Hahaha.
7. Mevlevi Sema Bukan Sekadar “Tarian Whirling Dervish”
Ini salah satu bagian artikel lama yang menurut saya perlu dibuat lebih akurat.
Saya dulu menulisnya sebagai budaya menari.
Padahal Mevlevi Sema adalah sebuah ritual spiritual Sufi, bukan sekadar tari pertunjukan.
Tradisi Mevleviye berkembang di Konya setelah wafatnya Jalaluddin Rumi, dan Sema menjadi bagian dari praktik spiritualnya. UNESCO memasukkannya ke Representative List pada 2008. UNESCO Intangible Cultural Heritage
Gerakan berputar yang terkenal itu memang menjadi bagian visual yang paling dikenal.
Tapi ada:
musik.
puisi.
simbolisme.
ritual.
dan konteks spiritual yang jauh lebih besar.
Ini penting karena pertunjukan untuk turis sekarang kadang dipersingkat atau dipisahkan dari konteks aslinya. UNESCO juga mencatat hal tersebut. UNESCO Intangible Cultural Heritage
Kalau ke Konya, menurut saya pengalaman ini lebih menarik kalau kita memahami artinya dulu.
8. Tari Tradisional Turki Berbeda-Beda Menurut Daerah
Selain Sema, Turki juga punya banyak folk dances.
Misalnya:
Horon
Kuat hubungannya dengan kawasan Black Sea.
Kaşık Oyunu
Menggunakan wooden spoons dan dikenal di beberapa wilayah Anatolia.
Kılıç Kalkan
Sword-and-shield dance yang diasosiasikan dengan Bursa.
Jadi jangan menganggap “tarian Turki” hanya satu jenis.
Sama seperti Indonesia.
Tari Saman jelas berbeda dengan kecak.
Di Turki pun regional culture sangat kuat.
9. Kırkpınar dan Tradisi Oil Wrestling
Yang ini termasuk tradisi paling unik.
Yağlı güreş atau oil wrestling adalah gulat tradisional di mana pegulat dilumuri minyak dan memakai celana kulit yang disebut kispet.
Festival Kırkpınar di Edirne masuk UNESCO sejak 2010. UNESCO Intangible Cultural Heritage
Tradisinya sudah berusia ratusan tahun.
Artikel lama saya terlalu fokus ke “badannya licin jadi susah dipegang”.
Memang benar lucu kalau dibayangkan.
Tapi sebenarnya Kırkpınar punya ritual, musik, master of ceremonies, dan struktur kompetisi yang kompleks.
Jadi bukan cuma orang berminyak saling gulat.
Hahaha.
10. Nazar Boncuğu, Si Mata Biru yang Ada di Mana-Mana
Ini salah satu simbol yang paling gampang dikenali.
Nazar boncuğu berbentuk seperti mata biru dan secara tradisional dikaitkan dengan perlindungan dari evil eye.
Saya melihatnya dalam banyak bentuk:
- gantungan
- gelang
- pajangan
- dekorasi
- souvenir
Dan sekarang memang identik sekali dengan Turki.
Tapi saya tidak akan menulis:
“semua orang Turki percaya benda ini melindungi mereka.”
Lebih tepat:
nazar boncuğu berasal dari kepercayaan tradisional dan tetap menjadi simbol budaya serta dekorasi yang sangat dikenal.
Buat wisatawan, ini juga salah satu oleh-oleh yang paling gampang dibawa pulang.
Kecil.
Tidak berat.
Tidak pecah seperti lampu mosaik.
11. Hıdrellez, Festival Menyambut Musim Semi
Artikel lama menulis Hıdrellez sebagai penyambutan musim panas.
Saya akan koreksi sedikit.
Hıdrellez adalah perayaan musim semi yang berlangsung sekitar 6 Mei dan dikaitkan dengan kebangkitan alam, harapan, kesuburan, dan keberuntungan. UNESCO memasukkannya bersama North Macedonia pada 2017. UNESCO Intangible Cultural Heritage
Dalam berbagai tradisi lokal, ada aktivitas seperti:
- membuat harapan
- berkumpul di alam
- musik dan tarian
- berbagai ritual simbolis
Detailnya tidak selalu sama di setiap daerah.
Dan menurut saya ini penting:
jangan menulis Hıdrellez seolah semua orang Turki melakukan ritual yang persis sama.
Tradisinya beragam.
12. Wish Tree dan Pengalaman Saya di House of Virgin Mary
Saya sendiri pernah melihat kain-kain atau kertas harapan bergantungan ketika berkunjung ke House of Virgin Mary dekat Ephesus.
Bagian ini tetap saya pertahankan karena itu pengalaman langsung.
Saya ingat melihat begitu banyak permohonan dan doa tergantung di area tersebut.
Buat saya ini menarik karena menunjukkan bahwa praktik membuat harapan tidak selalu berada dalam satu tradisi agama atau budaya tertentu.
Ada dimensi lokal, spiritual, dan wisata juga.
Jadi saya tidak akan menyebutnya sebagai “semua orang Turki punya budaya wish tree”.
Lebih tepat sebagai salah satu tradisi dan praktik yang bisa ditemui di beberapa tempat di Turki.
13. Tradisi Menyiram Air Setelah Orang Berangkat
Ada juga kebiasaan yang cukup dikenal yaitu menuangkan air setelah seseorang pergi atau memulai perjalanan.
Maknanya kurang lebih berupa harapan:
semoga perjalanan lancar seperti air dan kembali dengan selamat.
Saya suka simbolisme seperti ini.
Simple.
Tapi ada maknanya.
Budaya sehari-hari justru sering menarik karena tidak selalu berbentuk upacara besar.
14. Tradisi Pernikahan Turki
Budaya pernikahan di Turki juga punya banyak variasi regional.
Salah satu tradisi populer yang sering dibicarakan adalah menulis nama teman-teman perempuan yang belum menikah di bagian bawah sepatu pengantin wanita.
Setelah acara selesai, ada kepercayaan populer bahwa nama yang terhapus lebih dulu mungkin akan menikah berikutnya.
Serius atau cuma seru-seruan?
Mungkin dua-duanya.
Hahaha.
Selain itu ada juga tradisi kina gecesi atau henna night, malam henna sebelum pernikahan.
Menurut saya justru ini lebih penting dimasukkan daripada terlalu banyak trivia kecil karena kina gecesi memang bagian dari tradisi pernikahan yang dikenal luas.
15. Karpet dan Kilim: Seni yang Lebih dari Souvenir
Kalau pernah masuk toko karpet Turki, kita pasti tahu presentasinya bisa dramatis.
Karpet dibentangkan satu-satu.
Teh datang.
Motif dijelaskan.
Lalu tahu-tahu kita mulai berpikir:
“Kayaknya butuh karpet deh di rumah.”
Padahal lima menit sebelumnya nggak.
Hahaha.
Turkish carpets dan kilim memang punya tradisi craftsmanship panjang.
Motif, teknik tenun, warna, serta material berbeda menurut daerah.
Artikel lama saya menyebut “orang Turki mengganti karpet setiap musim”.
Saya tidak akan mempertahankan klaim itu sebagai kebiasaan umum karena terlalu menyapu rata.
Yang jauh lebih penting justru tradisi weaving dan craftsmanship-nya.
16. İznik Çini dan Keramik Turki
Salah satu bagian budaya Turki yang saya suka secara visual adalah çini, tile dan keramik dekoratif.
Motifnya sering memakai:
- tulip
- carnation
- arabesque
- geometric forms
- warna biru, turquoise, merah, putih
Traditional craftsmanship of çini-making masuk UNESCO sejak 2016. UNESCO Intangible Cultural Heritage
Kita bisa melihatnya di banyak bangunan Ottoman.
Dan versi modernnya tentu dijual sebagai piring, mangkuk, coaster, vase, atau tile untuk souvenir.
Saya sendiri termasuk korban.
Piring keramik ikut masuk koper.
Untung sampai Indonesia tidak pecah.
17. Ebru, Seni Melukis di Atas Air
Ebru termasuk seni tradisional yang menurut saya cantik sekali.
Warna diteteskan dan dibentuk di atas permukaan cairan, kemudian pola tersebut dipindahkan ke kertas.
Hasilnya seperti marbling.
Dan karena pola cairnya berubah terus, setiap karya terasa unik.
Ebru masuk UNESCO Intangible Cultural Heritage pada 2014. UNESCO Intangible Cultural Heritage
Kalau suka stationery, buku, atau seni, menurut saya hasil ebru bisa jadi souvenir yang lebih personal daripada magnet kulkas.
Walaupun magnet juga tetap berguna.
18. Karagöz, Semacam Shadow Puppet Turki
Turki juga punya seni pertunjukan bayangan bernama Karagöz.
Kalau orang Indonesia melihatnya, mungkin refleks mengingat wayang kulit.
Konsepnya memang sama-sama memakai figure dan screen, meskipun tradisi, cerita, karakter, dan tekniknya tentu berbeda.
Karagöz masuk daftar UNESCO sejak 2009. UNESCO Intangible Cultural Heritage
Buat saya ini menarik karena menunjukkan bahwa tradisi storytelling lewat puppet ternyata muncul di banyak kebudayaan.
19. Arsitektur Turki Tidak Hanya Ottoman
Kalau bicara budaya Turki, arsitektur juga penting.
Tapi saya tidak akan menulis seolah semua rumah Turki punya gaya tertentu.
Karena jelas tidak.
Ada:
Istanbul
Bangunan Byzantine, Ottoman, Art Nouveau, hingga modern.
Safranbolu
Terkenal dengan rumah Ottoman tradisional.
Cappadocia
Cave dwellings dan struktur batu.
Aegea
Karakter pesisir Mediterania dan Aegea.
Anatolia
Punya banyak tradisi arsitektur lokal yang berbeda.
Dan tentu kalau bicara Ottoman architecture, nama Mimar Sinan sangat penting.
Beberapa masjid Ottoman paling terkenal merupakan hasil karyanya.
20. Masjid Masih Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari
Ini juga sesuatu yang terasa ketika traveling.
Masjid bukan sekadar attraction.
Blue Mosque.
Hagia Sophia sekarang.
Süleymaniye.
Semuanya merupakan tempat ibadah aktif.
Jadi wisatawan perlu memahami etika dasarnya:
- berpakaian sopan
- melepas sepatu sebelum masuk area salat
- perempuan menutup rambut ketika diperlukan
- hindari mengganggu orang yang sedang beribadah
- kunjungan wisata bisa dibatasi saat waktu salat
Ini sebenarnya bukan “budaya unik”, tapi justru pengetahuan budaya yang lebih berguna buat traveler daripada trivia.
21. Budaya Berpakaian Sangat Beragam
Ini penting supaya tidak jatuh ke stereotype.
Di Istanbul kita bisa melihat orang berpakaian sangat modern.
Ada perempuan berhijab.
Ada yang tidak.
Ada orang berpakaian konservatif.
Ada yang sangat fashionable.
Kawasan coastal dan resort berbeda lagi.
Konya mungkin terasa lebih konservatif dibanding beberapa area Istanbul atau Aegea.
Jadi tidak ada satu “cara berpakaian orang Turki”.
Sebagai wisatawan, pakaian biasa umumnya tidak masalah.
Yang penting menyesuaikan konteks, terutama kalau masuk masjid atau kawasan yang lebih konservatif. Rough Guides
22. Menghormati Orang yang Lebih Tua
Dalam banyak keluarga dan komunitas Turki, respect terhadap orang tua dan anggota keluarga yang lebih senior masih kuat.
Ini terlihat dalam:
cara menyapa.
posisi dalam keluarga.
kebiasaan sosial.
Dan bagaimana acara keluarga dijalankan.
Tapi seperti aspek budaya lain, tingkat formalitasnya bisa berbeda antara keluarga, kota, usia, dan lingkungan.
Jadi saya lebih suka bilang:
respect terhadap elders merupakan nilai yang kuat dalam banyak konteks sosial Turki, bukan “semua keluarga Turki pasti begini”.
23. Nargile Ada, Tapi Jangan Dianggap Sebagai Gambaran Semua Orang Turki
Nargile atau water pipe memang punya sejarah panjang di wilayah Ottoman.
Dan sampai sekarang masih mudah ditemukan di beberapa café.
Terutama kawasan wisata atau café yang memang menawarkan pengalaman nargile.
Tapi artikel lama memberi kesan nargile merupakan bagian umum kehidupan orang Turki.
Saya akan turunkan porsinya.
Ini ada.
Ini bagian dari sejarah social café culture.
Tapi bukan sesuatu yang perlu dianggap mewakili masyarakat Turki secara keseluruhan.
24. Film dan Drama Turki Juga Menjadi Ekspor Budaya
Ini salah satu bagian artikel lama yang sebenarnya menarik dan justru terasa makin relevan.
Drama Turki sekarang ditonton di banyak negara.
Lewat serial, orang melihat:
Istanbul.
Bosphorus.
Rumah-rumah Turki.
Makanan.
Pernikahan.
Hubungan keluarga.
Fashion.
Tentu saja drama bukan dokumenter.
Jangan melihat satu serial lalu menganggap hidup orang Turki benar-benar seperti itu.
Sama seperti sinetron Indonesia bukan gambaran lengkap kehidupan Indonesia.
Tapi sebagai cultural export, pengaruhnya memang besar.
Budaya Turki yang Masuk UNESCO
Kalau ingin melihat seberapa kaya living culture Türkiye, UNESCO saat ini mencatat puluhan elemen intangible heritage yang terkait dengan Türkiye.
Beberapa yang paling relevan untuk traveler antara lain:
- Mevlevi Sema ceremony
- Karagöz
- Kırkpınar oil wrestling
- Turkish coffee culture
- Ebru
- traditional çini craftsmanship
- Hıdrellez
- traditional Turkish archery
- culture of çay
- traditional calligraphy
- miniature art
- Nasreddin Hodja storytelling traditions
Türkiye tercatat memiliki 32 elemen dalam daftar UNESCO Intangible Cultural Heritage pada data UNESCO saat ini. UNESCO Intangible Cultural Heritage
Menurut saya angka ini jauh lebih bermakna daripada sekadar membuat daftar “24 budaya unik”.
Karena menunjukkan ada tradisi hidup yang memang diwariskan dan terus dipraktikkan.
Hal yang Perlu Dipahami Wisatawan tentang Budaya Turki
Kalau baru pertama ke sana, saya akan ingat beberapa hal sederhana.
Jangan menganggap semua wilayah sama.
Istanbul bukan Konya. Aegea bukan Anatolia Timur.
Masjid adalah tempat ibadah aktif.
Masuk sebagai tamu, bukan sekadar pencari foto.
Jangan menolak teh seolah ditawari kontrak bisnis.
Kadang orang memang cuma menawarkan teh.
Jangan langsung menganggap semua tradisi adalah “Islamic culture”.
Budaya Turki terbentuk dari banyak lapisan sejarah dan komunitas.
Dan jangan terlalu takut salah.
Observe dulu. Ikuti suasana. Bersikap sopan.
Biasanya itu sudah cukup.
Budaya Turki yang Paling Saya Ingat
Kalau setelah perjalanan disuruh memilih satu budaya yang paling membekas, justru bukan tarian atau festival.
Tapi hal sederhana.
çay.
Karena selalu muncul.
Dan kedua:
cara makanan hadir di meja.
Roti.
Sup.
Main course.
Teh.
Dessert.
Kadang terasa tidak ada habisnya.
Hahaha.
Saya juga masih ingat keramiknya.
Pemandangan karpet dibentangkan.
Wish wall di House of Virgin Mary.
Sema.
Masjid.
Dan perbedaan suasana setiap berpindah kota.
Justru itu kesan paling kuat tentang budaya Turki buat saya:
beragam.
Tidak sesederhana “Timur dan Barat”.
Ada budaya modern.
Ada Ottoman.
Ada Anatolia.
Ada tradisi lokal.
Ada kehidupan religius.
Ada juga kota kosmopolitan yang ritmenya sangat modern.
Dan semua itu bisa terlihat dalam satu perjalanan.
Jadi, Apa yang Membuat Budaya Turki Menarik?
Menurut saya bukan karena budayanya “unik” dalam arti eksotis.
Tapi karena begitu banyak lapisan sejarah masih terasa dalam kehidupan sekarang.
Kita bisa naik tram modern di Istanbul lalu lima menit kemudian masuk masjid berusia ratusan tahun.
Minum Turkish coffee dengan tradisi berabad-abad, lalu bayar pakai kartu contactless.
Masuk mall modern, lalu beberapa jam kemudian melihat pottery dibuat dengan teknik tradisional.
Itu yang menurut saya bikin Turki menarik.
Yang lama dan yang baru tidak selalu berdiri terpisah.
Kadang mereka memang hidup berdampingan.
Dan mungkin itu juga alasan saya selalu merasa masih banyak bagian Turki yang belum saya pahami meskipun sudah pernah datang ke sana.
Karena semakin dipelajari…
malah semakin panjang daftar yang ingin dilihat.
Hahaha.
Tulisan ini memadukan pengalaman pribadi saya traveling di Turki dengan sumber resmi mengenai warisan budaya Türkiye. Budaya dan kebiasaan sosial bisa berbeda menurut daerah, keluarga, generasi, komunitas, dan konteks, jadi saya sengaja menghindari menggeneralisasi seluruh masyarakat Turki.
