Wisata Turki
Wisata Turki: Tempat-Tempat yang Sebaiknya Masuk Itinerary
Sebelum pergi ke Turki, saya kira persoalan terbesar adalah memilih tempat wisata mana yang ingin dikunjungi.
Ternyata setelah mulai menyusun itinerary, masalahnya sedikit berbeda.
Tempat yang ingin dikunjungi terlalu banyak.
Turki itu luas, dan tempat-tempat menariknya tidak berkumpul dalam satu wilayah. Istanbul ada di barat laut. Cappadocia berada jauh di Anatolia Tengah. Ephesus ada di kawasan Aegea. Pamukkale berada di Denizli. Antalya ada di pesisir Mediterania.
Jadi tidak seperti liburan ke satu kota yang bisa kita isi dengan daftar dua puluh attraction lalu selesai.
Untuk perjalanan keliling Turki, kita harus memilih.
Dalam perjalanan saya sendiri, rutenya melewati Istanbul, Bursa, Kuşadası, Pamukkale, Cappadocia, Konya, lalu kembali lagi ke Istanbul. Setelah menjalaninya, saya malah merasa cara paling mudah memahami wisata Turki memang bukan dengan membuat daftar panjang, tetapi dengan melihatnya per kawasan.
Karena setiap daerah menawarkan pengalaman yang berbeda.
Istanbul untuk sejarah Bizantium dan Ottoman.
Bursa untuk jejak awal Ottoman.
Ephesus membawa kita jauh ke zaman Yunani dan Romawi.
Pamukkale memadukan alam dan kota kuno.
Sedangkan Cappadocia rasanya seperti berada di negara lain lagi.
Jadi kalau kamu sedang merencanakan perjalanan pertama ke Turki, berikut tempat-tempat yang menurut saya paling masuk akal untuk mulai dipertimbangkan.
Wisata Turki yang Paling Cocok untuk Perjalanan Pertama
Kalau waktunya terbatas sekitar 8 sampai 10 hari, saya pribadi akan memprioritaskan:
Istanbul → Bursa → Ephesus/Kuşadası → Pamukkale → Cappadocia → Konya → Istanbul.
Tidak harus persis begitu, tentunya.
Tetapi rute tersebut memberi gambaran Turki yang cukup lengkap: kota besar, sejarah Ottoman, reruntuhan kuno, bentang alam, kehidupan di Anatolia, sampai Cappadocia.
Rute wisata resmi GoTürkiye sendiri juga banyak menggabungkan destinasi-destinasi sejarah seperti Istanbul, Troy, Pergamon, Ephesus, Hierapolis, Bursa dan Cappadocia dalam perjalanan tematik yang sama. Go Türkiye
Kalau cuma punya lima atau enam hari, saya justru tidak menyarankan memaksakan semuanya.
Istanbul + Cappadocia sudah bisa menjadi perjalanan yang sangat menyenangkan.
Lebih baik menikmati dua tempat daripada setiap hari cuma berfoto, masuk bus, tidur, lalu besok turun bus lagi.
Saya pernah menjalani perjalanan Turki yang cukup padat, jadi bagian ini saya katakan dengan penuh simpati kepada kaki sendiri.
1. Istanbul, Tempat Terbaik untuk Memulai Wisata Turki
Kalau hanya boleh memilih satu kota di Turki, saya akan memilih Istanbul.
Bukan karena kota lain tidak menarik, tetapi Istanbul seperti versi ringkas dari banyak hal yang membuat Turki menarik.
Ada sejarah.
Ada makanan.
Ada masjid.
Ada istana.
Ada Bosphorus.
Ada pasar tua.
Ada kawasan modern.
Dan kita bisa menyeberang dari Eropa ke Asia hanya dengan naik ferry.
Historic Areas of Istanbul sudah masuk UNESCO World Heritage List sejak 1985, mencakup jejak panjang kota yang pernah menjadi pusat Kekaisaran Bizantium dan Ottoman. UNESCO World Heritage Centre
Untuk kunjungan pertama, saya akan menyediakan minimal dua sampai tiga hari.
Kalau punya empat hari malah lebih enak.
Hagia Sophia
Sulit rasanya membicarakan tempat wisata Turki tanpa memulai dari Hagia Sophia.
Bangunannya sendiri sudah berumur hampir 1.500 tahun dan telah melewati begitu banyak perubahan fungsi dan kekuasaan.
Buat saya, daya tarik Hagia Sophia bukan sekadar kubah besar atau foto interiornya.
Yang membuatnya menarik justru ceritanya.
Dari gereja Bizantium, menjadi masjid Ottoman, kemudian museum, lalu kembali digunakan sebagai masjid.
Kalau sebelumnya membaca sedikit sejarah Konstantinopel, masuk ke sini rasanya berbeda.
Bukan cuma datang untuk centang daftar.
Travellumy nanti sebaiknya punya artikel khusus Hagia Sophia, karena pembahasannya memang terlalu panjang kalau dimasukkan semua di sini.
Blue Mosque
Tepat di seberang Hagia Sophia berdiri Sultan Ahmed Mosque, yang lebih dikenal wisatawan sebagai Blue Mosque.
Nama “Blue Mosque” berasal dari ribuan ubin İznik bernuansa biru yang menghiasi interiornya.
Yang saya suka dari kawasan Sultanahmet adalah kita tidak perlu berpindah terlalu jauh.
Hagia Sophia, Blue Mosque, Hippodrome dan Basilica Cistern berada dalam kawasan yang relatif dekat.
Kalau senang jalan kaki, satu hari di sini bisa habis tanpa terasa.
Kaki mungkin merasa sebaliknya.
Topkapi Palace
Kalau Hagia Sophia banyak bercerita tentang perubahan Konstantinopel, Topkapi Palace membawa kita masuk lebih jauh ke kehidupan Ottoman.
Kompleks istananya luas.
Ada courtyard, paviliun, koleksi, Treasury, sampai Harem.
Kalau memang tertarik sejarah, jangan menyediakan waktu terlalu pendek.
Saya sering merasa sayang kalau orang memasukkan Topkapi sebagai “satu jam kemudian lanjut tempat lain”.
Tempatnya bukan tipe begitu.
Basilica Cistern
Di bawah jalanan Sultanahmet ternyata ada dunia yang sama sekali berbeda.
Basilica Cistern merupakan reservoir bawah tanah dari era Bizantium.
Deretan kolom, cahaya yang redup, dan kepala Medusa di bagian bawah cistern membuat suasananya sedikit misterius.
Tripadvisor saat ini juga menempatkan Basilica Cistern di antara atraksi yang paling banyak mendapat perhatian wisatawan di Türkiye. Tripadvisor
Menurut saya tempat ini cocok dipasangkan dengan Hagia Sophia dan Blue Mosque karena lokasinya berdekatan.
Bosphorus Cruise
Kalau dari tadi isinya bangunan bersejarah terus, saatnya duduk.
Bosphorus Cruise termasuk aktivitas Istanbul yang menurut saya layak dilakukan meskipun terdengar sangat turistik.
Dari kapal kita melihat sisi Istanbul yang berbeda.
Masjid, istana, mansion di tepi Bosphorus, jembatan, lalu bagian Eropa dan Asia berada di dua sisi selat.
Tripadvisor juga memasukkan Bosphorus Strait sebagai salah satu atraksi alam yang paling populer di Turki. Tripadvisor
Kalau cuacanya bagus, saya suka waktu menjelang sore.
Ada sesuatu yang menyenangkan dari duduk sambil minum çay dan melihat Istanbul lewat dari atas kapal.
Tidak perlu buru-buru ke mana-mana.
Grand Bazaar
Grand Bazaar atau Kapalıçarşı bisa jadi tempat belanja, tempat jalan-jalan, atau ujian pengendalian diri.
Tergantung orangnya.
Di dalamnya ada ribuan toko yang menjual karpet, lampu, keramik, perhiasan, leather goods, rempah, sampai souvenir yang awalnya kita yakin tidak perlu.
Lalu tiba-tiba dibawa pulang.
Saya tidak akan datang ke sini dengan agenda terlalu ketat.
Sebagian keseruannya justru dari jalan tanpa benar-benar tahu akan keluar di mana.
Galata dan Jalan-Jalan Tanpa Agenda
Kalau semua waktu di Istanbul diisi monument besar, menurut saya malah ada bagian kota yang hilang.
Sisakan waktu untuk berjalan.
Galata.
Karaköy.
İstiklal.
Balat.
Atau menyeberang ferry ke Kadıköy di sisi Asia.
Saya justru sering mengingat perjalanan dari hal-hal seperti ini: berhenti minum kopi, menemukan toko kecil, membeli simit, lalu duduk tanpa rencana.
Tidak semuanya harus masuk Google Maps dengan tanda bintang.
2. Bursa, Kota yang Membawa Kita ke Awal Cerita Ottoman
Bursa sering kalah terkenal dari Istanbul dan Cappadocia.
Padahal kalau tertarik sejarah Ottoman, kota ini layak dimasukkan.
Bursa pernah menjadi salah satu pusat awal Kesultanan Ottoman, dan UNESCO memasukkan Bursa dan desa Cumalıkızık ke World Heritage List pada 2014 dengan nama Bursa and Cumalıkızık: the Birth of the Ottoman Empire. UNESCO World Heritage Centre
Saya suka Bursa karena suasananya berbeda dari Istanbul.
Lebih tenang.
Tidak terasa seperti sedang mengejar landmark terkenal setiap beberapa ratus meter.
Grand Mosque Bursa
Ulu Cami atau Grand Mosque Bursa adalah salah satu tempat yang paling saya ingat dari kota ini.
Masjidnya tidak semegah Blue Mosque dalam pengertian yang biasa kita lihat di postcard, tetapi justru punya karakter sendiri.
Interiornya luas, dengan banyak kaligrafi besar di dinding dan kolom.
Kalau mengunjungi Bursa dalam rute perjalanan Turki, ini termasuk tempat yang menurut saya jangan dilewatkan.
Koza Han
Tidak jauh dari Ulu Cami ada Koza Han, bekas pusat perdagangan sutra.
Sekarang halaman tengahnya dipenuhi café dan toko-toko yang menjual silk scarf serta berbagai produk tekstil.
Tempatnya menyenangkan untuk berhenti sebentar.
Minum teh.
Melihat orang lalu lalang.
Kemudian kemungkinan besar masuk toko.
Cumalıkızık
Kalau punya waktu lebih panjang di Bursa, bisa mampir ke Cumalıkızık, desa Ottoman tua yang juga menjadi bagian dari situs UNESCO Bursa.
Rumah-rumah tradisional, gang sempit berbatu, dan suasananya berbeda lagi dari pusat kota.
Buat traveler yang suka kampung tua dan historical village, menurut saya menarik.
3. Ephesus, Salah Satu Tempat Wisata Turki yang Paling Membekas
Saya akan bilang dari awal: kalau suka sejarah, Ephesus jangan dilewatkan.
Bahkan kalau merasa diri bukan tipe orang yang suka reruntuhan.
Ephesus atau Efes adalah kota kuno yang berkembang melalui periode Yunani dan Romawi. Situs ini masuk UNESCO World Heritage List pada 2015. UNESCO World Heritage Centre
Yang membuat Ephesus berbeda dari banyak ruins adalah skalanya.
Kita benar-benar berjalan mengikuti jalan kota kuno.
Ada jalan marmer.
Rumah.
Pemandian.
Kuil.
Teater.
Perpustakaan.
Tiba-tiba konsep “kota Romawi” tidak lagi sekadar sesuatu yang ada di buku sejarah.
Library of Celsus
Bangunan paling terkenal tentu Library of Celsus.
Fasad dua lantainya mungkin salah satu spot foto yang paling sering muncul ketika mencari Ephesus.
Tetapi melihatnya langsung jauh lebih menarik daripada foto.
Bangunan tersebut berasal dari awal abad ke-2 Masehi dan dibangun untuk menghormati Tiberius Julius Celsus Polemaeanus.
Saya suka berdiri agak jauh sebelum mendekat.
Dari bagian atas jalan, fasad perpustakaan itu perlahan terlihat di antara reruntuhan.
Ada sedikit rasa seperti masuk ke set film.
Padahal semuanya sudah berada di sana hampir dua ribu tahun.
Great Theatre
Kemudian ada Great Theatre of Ephesus.
Skalanya besar sekali.
Teater ini mampu menampung puluhan ribu penonton pada masa kejayaannya.
Duduk beberapa menit di sini dan melihat ke arah panggung membuat kita lebih mudah membayangkan seperti apa ramainya kota ini dahulu.
Berapa waktu untuk Ephesus?
Saya akan menyediakan sekitar setengah hari.
Kalau datang musim panas, usahakan pagi.
Area terbuka, panas, dan tidak banyak tempat teduh.
Topi, air minum, dan sepatu nyaman jauh lebih berguna daripada outfit cantik yang membuat susah jalan.
4. House of Virgin Mary
Tidak jauh dari Ephesus terdapat House of Virgin Mary atau Meryem Ana Evi.
Menurut tradisi Kristen, tempat ini dikaitkan dengan tahun-tahun terakhir kehidupan Virgin Mary.
Terlepas dari keyakinan masing-masing, suasananya tenang dan berbeda sekali dari Ephesus yang luas serta penuh reruntuhan.
Kalau rute perjalanan melewati Selçuk dan Ephesus, tempat ini mudah digabungkan pada hari yang sama.
Untuk saya pribadi, kombinasi Ephesus dan House of Virgin Mary membuat hari itu terasa cukup padat secara sejarah.
Dalam arti yang bagus.
5. Pamukkale, Tempat yang Kelihatan Seperti Salju
Pertama kali melihat foto Pamukkale, banyak orang mungkin mengira tempat ini tertutup salju.
Bukan.
Permukaan putihnya terbentuk dari endapan mineral air panas yang selama ribuan tahun menciptakan teras-teras travertine.
Nama Pamukkale sendiri berarti kira-kira “cotton castle”.
Dan ternyata di atas formasi putih itu berdiri kota kuno Hierapolis.
Jadi dalam satu lokasi kita mendapat wisata alam sekaligus arkeologi.
UNESCO memasukkan Hierapolis-Pamukkale sebagai World Heritage Site sejak 1988. UNESCO World Heritage Centre
Travertine Pamukkale
Ini tentu bagian yang paling banyak difoto.
Ada area tertentu tempat pengunjung bisa berjalan tanpa alas kaki di permukaan travertine.
Sedikit warning dari saya: permukaannya tidak selalu selembut kelihatannya di Instagram.
Ada bagian yang lumayan menusuk telapak kaki.
Jadi ekspresi orang di foto yang sedang tersenyum cantik belum tentu mencerminkan apa yang dirasakan kakinya.
Hierapolis
Jangan datang ke Pamukkale lalu hanya foto di kolam putih.
Sayang.
Naik sedikit ke atas dan kita masuk kawasan Hierapolis, kota kuno yang berkembang sebagai spa city karena sumber air panasnya.
Ada theatre, necropolis, reruntuhan bangunan, dan berbagai peninggalan lainnya.
Kalau punya waktu, jelajahi keduanya.
Bukan hanya travertine.
6. Cappadocia, Lebih dari Sekadar Balon Udara
Kalau ada satu gambar yang paling cepat membuat orang mengenali wisata Turki, mungkin balon udara yang terbang di atas Cappadocia.
Memang cantik.
Saya tidak akan pura-pura bilang balon udara overrated.
Melihat puluhan balon mengambang ketika matahari terbit memang pengalaman yang sulit dilupakan.
Tapi Cappadocia sebenarnya jauh lebih menarik daripada balonnya.
UNESCO memasukkan Göreme National Park and the Rock Sites of Cappadocia ke World Heritage List sejak 1985. Kawasan tersebut dikenal karena bentang alam hasil erosi vulkanik, permukiman batu, gereja-gereja, serta kota bawah tanah. UNESCO World Heritage Centre
Tripadvisor pun masih menempatkan Göreme National Park, Uçhisar dan berbagai situs Cappadocia di antara atraksi alam dan sejarah yang banyak dikunjungi di Türkiye. Tripadvisor
Hot Air Balloon Cappadocia
Kalau budget memungkinkan, ini memang salah satu pengalaman khas Cappadocia.
Penerbangan biasanya dilakukan pagi sekali.
Sangat pagi.
Jenis pagi ketika alarm berbunyi dan kita bertanya kenapa waktu liburan malah bangun lebih awal daripada hari kerja.
Tetapi begitu berada di luar dan melihat balon-balon mulai naik, biasanya lupa.
Satu catatan penting: penerbangan sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Karena itu saya akan menginap minimal dua malam di Cappadocia kalau balon menjadi prioritas.
Jangan datang hanya satu malam lalu langsung lanjut kota lain.
Kalau penerbangan dibatalkan karena angin, selesai sudah.
Göreme Open Air Museum
Kalau hanya memilih satu attraction selain balon, saya akan memasukkan Göreme Open Air Museum.
Di area ini terdapat gereja-gereja batu dan kapel dengan fresco dari periode Bizantium.
Dan inilah salah satu alasan kenapa menurut saya Cappadocia perlu dilihat bukan cuma sebagai destinasi Instagram.
Sejarahnya jauh lebih dalam.
Uçhisar
Uçhisar Castle berada di salah satu titik tertinggi kawasan Cappadocia.
Dari sini pemandangan lembah terbuka luas.
Kalau suka landscape photography, saya suka area ini.
Terutama menjelang sore.
Underground City
Di bawah tanah Cappadocia terdapat beberapa kota bawah tanah, termasuk Derinkuyu dan Kaymaklı.
Lorongnya sempit.
Tangga turun.
Ruangan kecil.
Kadang kita harus sedikit membungkuk.
Kalau claustrophobic berat, mungkin tidak akan menjadi tempat favorit.
Tapi dari sisi sejarah, menarik sekali membayangkan komunitas yang membangun ruang hidup bertingkat jauh ke bawah tanah.
Pasabag dan Fairy Chimneys
Kemudian ada formasi batu yang paling identik dengan Cappadocia: fairy chimneys.
Pasabag atau Monks Valley menjadi salah satu kawasan yang cukup populer untuk melihat bentuk-bentuk batu tersebut dari dekat.
Kalau cuma melihat dari jendela bus rasanya kurang.
Jalan sedikit di antara formasinya.
Baru terasa skalanya.
7. Konya, Kota yang Rasanya Berbeda dari Rute Turki Lain
Konya biasanya masuk itinerary karena letaknya cukup logis antara Cappadocia dan wilayah barat Turki.
Tetapi menurut saya kota ini tidak seharusnya diperlakukan hanya sebagai “tempat transit”.
Konya mempunyai hubungan kuat dengan Jalaluddin Rumi atau Mevlana, penyair dan sufi abad ke-13.
Mevlana Museum
Tempat yang paling banyak dikunjungi adalah Mevlana Museum, tempat makam Rumi berada.
Suasananya cukup berbeda dari tempat wisata lain yang saya kunjungi di Turki.
Lebih hening.
Lebih reflektif.
Dan walaupun banyak traveler hanya berada di Konya beberapa jam, saya merasa kota ini memberikan sisi lain dari perjalanan Turki yang sebelumnya penuh istana, ruins, dan landscape.
8. Antalya, Kalau Ingin Melihat Turki dari Sisi Mediterania
Antalya tidak selalu masuk paket Turki pertama dari Indonesia, tetapi kalau punya waktu lebih panjang saya akan mempertimbangkannya.
Kawasan ini berada di Turkish Riviera dan menawarkan campuran old town, pantai, reruntuhan kuno, air terjun, dan resort.
Tripadvisor menempatkan beberapa atraksi alam di wilayah Antalya, seperti Düden Waterfalls serta kawasan pantai Mediterania, dalam kategori wisata alam populer Türkiye. Tripadvisor
Kaleiçi
Kota tua Antalya, Kaleiçi, penuh gang kecil, bangunan Ottoman, café dan boutique hotel.
Atmosfernya jauh berbeda dari Istanbul.
Lebih santai.
Lebih coastal.
Düden Waterfalls
Düden punya beberapa bagian, tetapi Lower Düden paling dikenal karena airnya jatuh langsung dari tebing menuju Laut Mediterania.
Kalau perjalanan Turki didominasi museum dan bangunan tua, Antalya seperti memberi jeda.
9. Ölüdeniz dan Fethiye
Kalau masih punya bayangan bahwa wisata Turki identik dengan masjid dan kota tua, lihat foto Ölüdeniz.
Air biru.
Pegunungan.
Pantai.
Paragliding.
Ölüdeniz berada dekat Fethiye di pesisir barat daya Turki dan merupakan salah satu destinasi alam yang banyak mendapat perhatian wisatawan. Tripadvisor menempatkannya di antara atraksi alam populer negara tersebut. Tripadvisor
Ini tipe Turki yang sama sekali berbeda dari Sultanahmet.
Kalau punya perjalanan dua minggu atau lebih, bagian pesisir seperti ini mulai menarik untuk dimasukkan.
10. Göbekli Tepe, untuk yang Suka Sejarah Sangat Tua
Kalau ingin keluar dari rute klasik, ada Göbekli Tepe di tenggara Türkiye.
Ini salah satu situs arkeologi paling penting di dunia.
UNESCO memasukkannya ke World Heritage List pada 2018. Situs tersebut berasal dari periode Neolitikum dan membuat kita mundur ribuan tahun sebelum banyak peradaban kuno yang biasanya kita kenal. UNESCO World Heritage Centre
Lokasinya dekat Şanlıurfa, jadi memang tidak praktis dimasukkan ke itinerary Turki klasik sembilan hari.
Tetapi kalau kembali ke Turki suatu hari nanti dan ingin melihat sisi yang berbeda, ini masuk daftar saya.
11. Mount Nemrut
Masih di kawasan timur Türkiye ada Nemrut Dağ atau Mount Nemrut.
Tempat ini terkenal dengan patung-patung kepala raksasa yang berada di puncak gunung.
Situsnya juga masuk World Heritage List UNESCO. UNESCO World Heritage Centre
Foto sunrise atau sunset di antara patung-patung batu itu terlihat seperti sesuatu dari film.
Tetapi menuju ke sini membutuhkan usaha lebih dibanding destinasi mainstream.
Jadi menurut saya lebih cocok untuk perjalanan Turki kedua daripada kunjungan pertama.
12. Safranbolu, Kalau Suka Kota Tua
Safranbolu adalah kota Ottoman tua yang juga terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site. UNESCO World Heritage Centre
Rumah-rumah tradisionalnya masih menjadi daya tarik utama.
Kalau tipe traveler yang lebih senang jalan kaki pelan di kota kecil daripada berpindah dari attraction ke attraction, Safranbolu bisa menarik sekali.
Ini juga contoh bagus bahwa wisata Turki tidak harus selalu tentang tempat yang sedang viral.
Jadi, Tempat Wisata Turki Mana yang Harus Dipilih?
Nah, ini yang lebih penting daripada menambah daftar sampai 30 tempat.
Kalau pertama kali ke Turki dan punya sekitar 8-10 hari, saya akan memprioritaskan:
Istanbul
untuk Hagia Sophia, Blue Mosque, Topkapi, Basilica Cistern, Bosphorus dan kehidupan kotanya.
Bursa
kalau ingin melihat jejak awal Ottoman.
Ephesus
kalau ingin melihat salah satu kota kuno terbaik di Turki.
Pamukkale
karena kombinasi travertine dan Hierapolis sulit ditemukan di tempat lain.
Cappadocia
untuk landscape, cave churches, underground city dan tentu saja balon udara.
Konya
kalau rutenya memang melewati kota ini dan ingin melihat sisi spiritual serta sejarah Seljuk.
Kalau waktunya 5-6 hari, cukup:
Istanbul + Cappadocia.
Kalau punya dua minggu atau lebih, baru mulai menambahkan:
Antalya, Fethiye, Bodrum, Troy, Safranbolu, Göbekli Tepe atau wilayah lain.
Menurut saya cara seperti ini jauh lebih sehat daripada mencoba menjejalkan seluruh Turki dalam satu itinerary.
Berapa Hari Ideal untuk Wisata Turki?
Kalau ingin melihat lebih dari Istanbul, menurut saya sekitar 9 sampai 12 hari mulai terasa nyaman.
Turki luas.
Jarak antardestinasinya juga tidak pendek.
Misalnya Istanbul ke Cappadocia tidak seperti perjalanan Jakarta-Bandung yang bisa kita putuskan pagi-pagi karena sedang ingin jalan.
Memang ada penerbangan domestik yang membuat perjalanan lebih cepat, tetapi road trip juga punya daya tariknya sendiri.
Dalam perjalanan darat, kita mulai melihat perubahan landscape dari satu wilayah ke wilayah lain.
Dan sebenarnya bagian perjalanan seperti inilah yang membuat saya merasa sedang benar-benar keliling Turki, bukan hanya pindah antar-spot wisata.
Kapan Waktu Terbaik ke Turki?
Kalau tujuan utamanya keliling kota dan situs sejarah, saya lebih suka musim semi atau musim gugur.
Cuaca biasanya lebih nyaman untuk berjalan.
Musim panas bisa terasa panas sekali di kawasan terbuka seperti Ephesus dan Pamukkale.
Sedangkan musim dingin punya daya tarik sendiri, terutama Cappadocia bersalju, tetapi tentu persiapannya berbeda.
Jangan memilih musim hanya berdasarkan foto.
Lihat juga rutenya.
Kalau itinerary banyak jalan kaki, suhu sangat memengaruhi kenyamanan.
Dan Turki memang termasuk negara yang membuat kita jalan lebih banyak daripada yang awalnya direncanakan.
Perlukah Ikut Tour Saat Wisata Turki?
Bisa keduanya.
Kalau hanya Istanbul, saya nyaman mengaturnya sendiri.
Public transport bagus dan banyak tempat bisa dicapai tanpa tour.
Tetapi untuk perjalanan antarkota seperti Bursa-Ephesus-Pamukkale-Cappadocia-Konya, saya bisa mengerti kenapa banyak wisatawan Indonesia memilih tour atau menyewa kendaraan.
Logistiknya menjadi jauh lebih sederhana.
Kalau pergi sendiri, keuntungannya tentu lebih fleksibel.
Bisa tinggal lebih lama di satu kota.
Bisa memutuskan pagi ini tidak mau museum lagi.
Bisa duduk dua jam di café tanpa ada tour leader yang mulai menghitung kepala.
Jadi kembali ke gaya traveling masing-masing.
Jangan Datang ke Turki Hanya untuk Mengumpulkan Foto
Ada satu hal yang baru terasa setelah keliling beberapa kota di Turki.
Negara ini sangat mudah membuat kita terjebak dalam checklist.
Hagia Sophia: sudah.
Blue Mosque: sudah.
Pamukkale: foto.
Cappadocia: balon.
Selesai.
Padahal bagian yang paling saya ingat sering kali justru bukan itu.
Melihat jalan panjang dari dalam bus.
Sarapan Turki yang mejanya penuh sekali.
Minum teh dari gelas kecil.
Masuk ke toko yang awalnya cuma mau lihat-lihat.
Melihat perubahan landscape ketika berpindah kota.
Atau berdiri agak lama di satu tempat karena ternyata jauh lebih menarik daripada yang terlihat di internet.
Jadi kalau sedang menyusun itinerary wisata Turki, sisakan sedikit ruang kosong.
Tidak perlu setiap jam ada attraction.
Turki Memang Sulit Cukup Sekali
Semakin lama saya melihat daftar tempat wisata Turki, semakin jelas satu hal: tidak mungkin melihat semuanya dalam satu perjalanan.
Dan sebenarnya tidak perlu.
Untuk perjalanan pertama, Istanbul, Ephesus, Pamukkale dan Cappadocia saja sudah memberi pengalaman yang sangat berbeda satu sama lain.
Kalau rutenya memungkinkan, tambahkan Bursa dan Konya.
Setelah itu baru kita mulai sadar masih ada Antalya, Fethiye, Safranbolu, Troy, Göbekli Tepe, Mount Nemrut, Bodrum, Mardin dan entah berapa tempat lain.
Mungkin itu justru enaknya.
Ada alasan untuk kembali.
Saya datang ke Turki awalnya dengan bayangan Hagia Sophia, Cappadocia dan beberapa bangunan Ottoman.
Saya pulang justru merasa negaranya jauh lebih besar daripada semua gambar yang biasa muncul di brosur perjalanan.
Dan kalau sekarang ditanya tempat wisata Turki mana yang paling saya rekomendasikan, saya malah kesulitan menjawab satu nama.
Karena buat saya, yang paling menarik justru perjalanannya dari satu Turki ke “Turki” yang lain.
