Negara Turki
Negara Turki: Mengenal Negeri di Antara Asia dan Eropa.
Ada negara yang rasanya cukup mudah dijelaskan dalam satu atau dua kalimat. Turki bukan salah satunya.
Dibilang negara Asia, sebagian kecil wilayahnya berada di Eropa. Dibilang Eropa, sebagian besar daratannya justru terbentang di Anatolia, Asia. Jejak sejarahnya pun bercampur ke mana-mana. Ada Yunani dan Romawi, Bizantium, Seljuk, Ottoman, lalu Republik Turki modern.
Ketika traveling ke Turki, campuran itu terasa hampir di setiap kota.
Di Istanbul kita bisa melihat Hagia Sophia dan Blue Mosque dalam satu kawasan. Beberapa hari kemudian berjalan di antara reruntuhan Ephesus, lalu pindah ke Pamukkale, Cappadocia, atau Konya, dan rasanya seperti memasuki cerita yang berbeda lagi.
Mungkin itu juga yang membuat saya merasa Turki bukan negara yang cukup dikenal hanya dari Istanbul dan balon udara Cappadocia.
Kalau sedang merencanakan perjalanan ke sana, ada baiknya mengenal negaranya sedikit lebih dulu. Tidak perlu sampai menghafalkan sejarah seperti mau ujian, tentu saja. Tetapi ketika kita tahu apa yang sedang kita lihat, perjalanan rasanya jadi jauh lebih menarik.
Sekilas tentang Negara Turki
Turki atau Türkiye adalah negara transkontinental yang berada di Asia dan Eropa. Ibu kotanya Ankara, sedangkan Istanbul merupakan kota terbesar dan pusat ekonomi serta budaya yang paling dikenal wisatawan.
Nama resminya adalah Republic of Türkiye atau Republik Türkiye.
Sebagian besar wilayah negara ini berada di Anatolia, Asia, sedangkan bagian kecil lainnya terletak di Thrace, Eropa. Posisi geografis tersebut membuat Turki sejak lama menjadi penghubung antara kawasan Eropa, Balkan, Asia, Kaukasus, Mediterania, dan Timur Tengah. Pemerintah Türkiye sendiri menggambarkan posisi negaranya sebagai titik pertemuan Eropa dan Asia. Turkey.gov.tr
Kalau ingin gambaran cepat, ini beberapa informasi dasarnya.
| Tentang Turki | Keterangan |
|---|---|
| Nama resmi | Republic of Türkiye |
| Nama yang umum digunakan di Indonesia | Turki |
| Ibu kota | Ankara |
| Kota terbesar | Istanbul |
| Bahasa resmi | Bahasa Turki |
| Mata uang | Turkish Lira / Lira Turki (TRY) |
| Benua | Asia dan Eropa |
| Zona waktu | UTC+3 |
| Kode telepon | +90 |
Penduduk Türkiye saat ini berjumlah lebih dari 85 juta orang menurut data populasi terbaru yang tersedia melalui World Bank. World Bank Open Data
Tetapi kalau hanya melihat tabel seperti itu, Turki tentu terasa terlalu sederhana.
Bagian menariknya justru dimulai setelahnya.
Turki atau Türkiye, Sebenarnya Mana yang Benar?
Kalau beberapa tahun terakhir kamu sering melihat tulisan Türkiye menggantikan Turkey, itu memang perubahan resmi.
Pada 2022, pemerintah negara tersebut meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa menggunakan nama Türkiye dalam komunikasi internasional. PBB menerima permintaan tersebut dan perubahan namanya berlaku sejak surat resmi diterima pada Juni 2022. The United Nations in Türkiye
Lalu apakah sekarang kita harus menyebutnya Türkiye?
Tidak juga.
Dalam bahasa Indonesia, kata Turki masih sangat lazim digunakan. Karena tulisan ini dibuat untuk pembaca Indonesia, saya tetap menggunakan Turki dalam sebagian besar artikel. Rasanya juga jauh lebih natural daripada memaksakan Türkiye di setiap paragraf.
Jadi kalau menemukan dua-duanya, jangan bingung. Kita sedang membicarakan negara yang sama.
Turki Berada di Benua Apa?
Ini termasuk pertanyaan yang paling sering muncul ketika membicarakan negara Turki.
Turki berada di dua benua: Asia dan Eropa.
Sebagian besar wilayahnya terletak di Anatolia atau Asia Minor, sedangkan wilayah yang berada di Eropa dikenal sebagai Eastern Thrace.
Yang membuat pembagian ini lebih menarik adalah Istanbul.
Selat Bosphorus membelah kawasan Istanbul menjadi sisi Eropa dan Asia. Jadi dalam satu hari kita benar-benar bisa berada di dua benua tanpa perlu naik pesawat.
Cukup menyeberang Bosphorus.
Buat saya, ini salah satu fakta geografis yang kedengarannya biasa saja ketika dibaca di internet, tetapi terasa jauh lebih menarik ketika benar-benar berada di sana.
Naik ferry dari sisi Eropa menuju sisi Asia lalu menyadari kita baru saja pindah benua rasanya tetap agak lucu.
Padahal sebenarnya cuma duduk sebentar di kapal.
Kenapa Letak Turki Begitu Penting?
Kalau membuka peta, posisi Turki sebenarnya luar biasa strategis.
Di utara ada Laut Hitam, di barat terdapat Laut Aegea, sedangkan bagian selatan menghadap Laut Mediterania.
Turki juga berbatasan dengan negara-negara yang secara budaya dan geografis sangat berbeda: Yunani, Bulgaria, Georgia, Armenia, Azerbaijan, Iran, Irak, dan Suriah.
Lalu ada Bosphorus dan Dardanelles, dua selat penting yang menghubungkan kawasan Laut Hitam dengan Laut Mediterania.
Posisi inilah yang sejak ribuan tahun lalu membuat Anatolia tidak pernah benar-benar berada di pinggir sejarah.
Bangsa datang dan pergi. Kerajaan tumbuh lalu runtuh. Jalur perdagangan melewati wilayah ini. Agama dan budaya bertemu.
Dan hari ini, jejaknya masih bisa kita lihat hampir di seluruh Turki.
Ibu Kota Turki Ternyata Bukan Istanbul
Saya rasa ini salah satu fakta tentang Turki yang paling sering membuat orang terkecoh.
Ibu kota Turki adalah Ankara, bukan Istanbul.
Wajar kalau banyak yang mengira Istanbul. Kota ini jauh lebih terkenal secara internasional, jumlah penduduknya besar, dan hampir semua itinerary liburan Turki memasukkannya sebagai tujuan utama.
Bahkan kalau baru pertama kali datang ke Turki, kemungkinan besar kota pertama yang benar-benar membuat kita merasa “akhirnya sampai di Turki” adalah Istanbul.
Tetapi pusat pemerintahan berada di Ankara, yang menjadi ibu kota Republik Turki sejak 1923.
Sederhananya:
Ankara adalah ibu kota negara.
Istanbul adalah kota terbesar sekaligus pusat ekonomi, sejarah, budaya, dan pariwisata yang sangat penting.
Saya sendiri tetap merasa Istanbul lebih mudah menjadi pintu masuk untuk memahami Turki. Dalam satu kota saja kita sudah bisa menemukan begitu banyak lapisan sejarah negara ini.
Sejarah Turki Jauh Lebih Panjang daripada Ottoman
Kalau di Indonesia membicarakan sejarah Turki, yang paling sering muncul biasanya Kesultanan Ottoman.
Saya dulu juga begitu.
Padahal setelah mulai melihat kota-kota dan situs sejarahnya, baru terasa bahwa Ottoman sebenarnya hanya salah satu bagian dari cerita yang sangat panjang.
Wilayah Anatolia sudah menjadi tempat tinggal berbagai peradaban sejak ribuan tahun lalu.
Di wilayah yang sekarang menjadi Türkiye pernah berkembang atau berkuasa berbagai bangsa dan kerajaan, mulai dari Hittite, Yunani, Persia, Romawi, Bizantium, Seljuk hingga Ottoman.
Itulah mengapa traveling keliling Turki kadang terasa sedikit seperti berpindah buku sejarah.
Di Ephesus kita bertemu peninggalan kota Yunani-Romawi.
Di Istanbul sangat kuat jejak Bizantium dan Ottoman.
Di Konya ada sejarah Seljuk dan tradisi Mevlevi.
Di Cappadocia kita menemukan kota bawah tanah, gereja-gereja batu, dan permukiman yang ceritanya bahkan tidak bisa diringkas dalam satu periode sejarah saja.
Belum lagi Göbekli Tepe, yang membawa ceritanya jauh ke masa Neolitikum.
Jadi kalau sebelumnya menganggap Turki identik dengan Ottoman, siap-siap mengubah pikiran.
Dari Konstantinopel sampai Republik Turki
Salah satu bab sejarah yang paling dikenal tentu saja penaklukan Konstantinopel pada 1453 oleh Sultan Mehmed II.
Konstantinopel kemudian berkembang menjadi pusat Kekaisaran Ottoman.
Saat berada di Istanbul, sejarah ini terasa sangat dekat karena banyak bangunan yang kita kunjungi hari ini berada tepat di tengah cerita tersebut.
Hagia Sophia mungkin contoh paling mudah.
Bangunan itu sudah melewati begitu banyak periode, mulai dari gereja Bizantium, masjid Ottoman, museum, hingga kembali digunakan sebagai masjid.
Begitu juga Topkapi Palace yang selama berabad-abad menjadi pusat pemerintahan dan tempat tinggal para sultan Ottoman.
Setelah Kekaisaran Ottoman berakhir, Republik Turki diproklamasikan pada 29 Oktober 1923, dengan Mustafa Kemal Atatürk sebagai presiden pertamanya. Portal resmi pemerintah Türkiye juga mencatat 29 Oktober 1923 sebagai tanggal berdirinya republik. Turkey.gov.tr
Nah, kalau sudah tahu sedikit urutannya, mengunjungi tempat-tempat sejarah di Turki terasa jauh lebih nyambung.
Tidak hanya, “Oh ini bangunan tua yang bagus.”
Tetapi kita tahu kira-kira bagian cerita mana yang sedang kita lihat.
Turki Punya Lebih Banyak Situs UNESCO daripada yang Mungkin Kita Kira
Türkiye saat ini memiliki 22 situs yang terdaftar dalam UNESCO World Heritage List, terdiri dari 20 situs budaya dan dua situs campuran budaya-alam. UNESCO World Heritage Centre
Beberapa yang mungkin sudah familiar untuk traveler antara lain:
- Historic Areas of Istanbul
- Ephesus
- Archaeological Site of Troy
- Göbekli Tepe
- Bursa dan Cumalıkızık
- Göreme National Park and the Rock Sites of Cappadocia
- Hierapolis-Pamukkale
- Hattusha
- Çatalhöyük
Yang saya suka dari daftar ini adalah betapa berbedanya satu situs dengan situs lainnya.
Cappadocia tidak terasa seperti Ephesus.
Ephesus tidak terasa seperti Bursa.
Pamukkale pun punya kombinasi alam dan sejarahnya sendiri.
Itu juga alasan kenapa menurut saya itinerary Turki yang hanya berputar di satu kota sayang sekali kalau punya waktu lebih panjang.
Bahasa Turki Ternyata Tidak Sesulit Tulisannya
Bahasa resmi negara ini adalah bahasa Turki atau Türkçe.
Bahasa Turki menggunakan alfabet Latin, walaupun ada beberapa huruf yang mungkin terasa asing bagi kita:
ç, ğ, ı, ö, ş, dan ü.
Jadi setidaknya ketika melihat papan jalan kita masih bisa mencoba membacanya.
Berhasil mengucapkannya dengan benar itu perkara lain.
Di kawasan wisata seperti Istanbul, Cappadocia, atau hotel dan restoran yang banyak menerima turis, bahasa Inggris biasanya cukup membantu.
Tetapi semakin jauh dari kawasan turis, belum tentu semua orang nyaman berbahasa Inggris.
Saya selalu suka menghafalkan beberapa kata dasar saat traveling. Bukan karena tiba-tiba bisa bercakap-cakap, tetapi rasanya lebih menyenangkan.
Beberapa yang paling gampang:
- Merhaba: halo
- Teşekkür ederim: terima kasih
- Lütfen: please/tolong
- Evet: ya
- Hayır: tidak
Lalu ada satu kata yang kemungkinan akan cepat sekali dikenali setelah beberapa hari di Turki:
Çay.
Teh.
Karena teh benar-benar ada di mana-mana.
Budaya Turki Terasa dari Hal-Hal Kecil
Kalau harus menjelaskan budaya Turki hanya dengan “campuran Asia dan Eropa”, menurut saya terlalu sederhana.
Memang ada pengaruh dari banyak arah. Balkan, Mediterania, Kaukasus, Asia Tengah, Timur Tengah, warisan Ottoman, juga kehidupan Eropa modern.
Tetapi sebagai traveler, kita justru lebih mudah merasakannya melalui hal-hal kecil.
Gelas teh berbentuk tulip yang terus muncul di meja.
Orang mengobrol lama sambil minum çay.
Penjual simit di jalan.
Pasar yang ramai.
Karpet.
Keramik warna-warni.
Suara azan yang terdengar di antara bangunan kota modern.
Meja sarapan yang sepertinya tidak mengenal konsep “cukup tiga lauk saja”.
Saya suka bagian ini karena budaya sebuah negara akhirnya tidak terasa seperti sesuatu yang harus kita baca di museum.
Kita bertemu dengannya sepanjang hari.
Agama di Turki dan Kehidupan Sehari-hari
Mayoritas penduduk Turki beragama Islam, tetapi Republik Türkiye merupakan negara sekuler. Konstitusi dan struktur negaranya memisahkan institusi pemerintahan dari agama, dan pemerintah Türkiye menyebut negaranya sebagai republik demokratis, sekuler, dan sosial yang berlandaskan hukum. Turkey.gov.tr
Bagi traveler Indonesia, beberapa hal di Turki mungkin terasa cukup familiar.
Masjid mudah ditemukan.
Suara azan terdengar sehari-hari.
Makanan halal juga relatif mudah dicari.
Tetapi kehidupan masyarakatnya cukup beragam.
Di Istanbul misalnya, dalam beberapa blok saja kita bisa melewati masjid tua, toko pakaian modern, café, restoran, pastry shop, hingga bar.
Jadi sebaiknya jangan datang dengan satu gambaran saja tentang seperti apa masyarakat Turki.
Negaranya jauh lebih beragam daripada itu.
Mata Uang Turki adalah Lira
Mata uang Türkiye adalah Turkish Lira atau Lira Turki, dengan kode TRY dan simbol ₺.
Saya sengaja tidak menuliskan kurs rupiah di sini karena nilainya bisa berubah dan artikel seperti ini lebih enak dibuat evergreen.
Sebelum berangkat, tinggal cek kurs terbaru.
Kartu debit dan kredit cukup umum digunakan di kota-kota besar dan kawasan wisata, tetapi saya tetap lebih nyaman mempunyai sedikit uang tunai.
Apalagi kalau mampir ke pasar, toko kecil, atau membeli sesuatu di tempat yang tidak terlalu touristy.
Dan tentu saja ada Grand Bazaar.
Di tempat seperti itu masalahnya kadang bukan apakah kita membawa cukup lira.
Masalahnya adalah kemampuan berkata, “Tidak, saya tidak butuh satu mangkuk keramik lagi.”
Makanan Turki Bukan Cuma Kebab
Kalau ada satu hal yang menurut saya perlu diluruskan sebelum pergi ke Turki, ini dia.
Makanan Turki jauh lebih luas daripada kebab.
Kebab bahkan punya banyak sekali versi.
Selain itu masih ada:
- köfte,
- pide,
- mantı,
- börek,
- gözleme,
- menemen,
- dolma,
- berbagai macam meze,
- simit,
- baklava,
- lokum,
- sampai aneka sup Turki.
Dan tentu saja Turkish breakfast.
Sarapan Turki termasuk pengalaman makan yang menurut saya menarik justru karena meja biasanya dipenuhi banyak piring kecil.
Ada roti, keju, zaitun, telur, tomat, mentimun, madu, selai, kaymak, dan berbagai tambahan lain.
Awalnya kelihatannya seperti, “Oh, cuma sedikit-sedikit.”
Sampai setengah jam kemudian baru sadar ternyata sedikit-sedikitnya ada belasan.
Kalau suka kuliner, Turki mudah sekali membuat itinerary makan sendiri.
Turki Punya Empat Musim
Satu hal yang perlu diingat kalau merencanakan liburan ke Turki adalah cuacanya tidak sama di seluruh negeri.
Turki sangat luas.
Kondisi di Istanbul belum tentu sama dengan Cappadocia, Antalya atau Pamukkale.
Secara umum ada empat musim:
Musim semi, sekitar Maret sampai Mei
Udara mulai menghangat dan biasanya cukup nyaman untuk jalan kaki.
Istanbul juga terkenal dengan bunga tulip pada musim semi.
Musim panas, sekitar Juni sampai Agustus
Beberapa wilayah bisa terasa sangat panas, terutama kawasan seperti Ephesus, Pamukkale, dan pesisir Mediterania.
Kalau itinerary banyak outdoor, topi dan air minum bukan detail kecil.
Musim gugur, sekitar September sampai November
Buat saya ini periode yang menyenangkan untuk perjalanan keliling Turki karena suhu mulai turun dan biasanya lebih nyaman untuk eksplorasi kota.
Musim dingin, sekitar Desember sampai Februari
Turki bukan negara yang semuanya hangat.
Cappadocia dan kawasan Anatolia bisa sangat dingin bahkan bersalju.
Pemandangannya memang cantik, tapi jangan tertipu fotonya.
Kalau datang musim dingin, jaket serius tetap diperlukan.
Kota-Kota di Turki Tidak Semuanya Terasa Sama
Salah satu hal yang saya suka ketika keliling Turki adalah perubahan suasananya.
Berpindah kota bisa terasa seperti masuk ke versi Turki yang berbeda.
Istanbul
Kalau baru pertama kali ke Turki, saya tetap menyarankan mulai dari sini.
Hagia Sophia, Blue Mosque, Topkapi Palace, Grand Bazaar, Galata, Bosphorus, dan kawasan-kawasan di sisi Asia membuat Istanbul bisa mengisi itinerary beberapa hari sendiri.
Ankara
Ibu kota Türkiye dan pusat pemerintahan.
Ankara mungkin tidak sepopuler Istanbul untuk traveler internasional, tetapi penting untuk sejarah republik modern.
Bursa
Bursa punya hubungan kuat dengan masa awal Kesultanan Ottoman.
Kotanya juga terasa berbeda dari Istanbul, jadi saya suka memasukkannya ke perjalanan darat Turki.
Izmir
Kota besar di sisi Aegea dan salah satu basis yang sering digunakan untuk menjelajahi kawasan sekitarnya.
Konya
Nama Konya sangat erat dengan Jalaluddin Rumi dan tradisi Mevlevi.
Atmosfernya terasa berbeda lagi dibanding kota-kota wisata Turki yang lebih ramai.
Antalya
Kalau bayangan tentang Turki selama ini cuma masjid dan Cappadocia, Antalya menunjukkan sisi lain negara ini.
Pantai, Laut Mediterania, old town, dan resort banyak ditemukan di kawasan tersebut.
Dan tentu masih banyak kota lain.
Karena itu saya membuat pembahasan Kota di Turki secara terpisah. Kalau semua dimasukkan di sini, artikel ini bisa berubah menjadi buku kecil.
Lalu Cappadocia Itu Kota atau Bukan?
Ini menarik karena banyak orang menyebut Cappadocia seolah-olah nama sebuah kota.
Cappadocia sebenarnya merupakan kawasan historis di Anatolia Tengah, bukan sebuah kota.
Tempat-tempat yang sering dikunjungi wisatawan tersebar di kawasan yang antara lain berada di Provinsi Nevşehir.
Göreme, Uçhisar, Ürgüp, Avanos, Kaymaklı, dan Derinkuyu adalah beberapa nama yang akan sering muncul ketika menyusun itinerary Cappadocia.
UNESCO memasukkan Göreme National Park and the Rock Sites of Cappadocia ke World Heritage List sejak 1985. UNESCO World Heritage Centre
Dan ya, balon udara memang sangat fotogenik.
Tetapi menurut saya sayang sekali kalau datang ke Cappadocia hanya untuk naik balon lalu pulang.
Lanskap batu, underground city, cave churches, dan lembah-lembahnya justru membuat kawasan ini jauh lebih menarik.
Tempat Wisata Turki Jauh Lebih Banyak daripada Istanbul dan Cappadocia
Dua nama ini memang paling mudah muncul ketika kita membayangkan liburan ke Turki.
Tetapi kalau punya waktu, pilihan tempatnya jauh lebih luas.
Ada Ephesus, salah satu situs kota kuno paling terkenal di negara ini.
Ada Pamukkale dengan travertine putih dan kota kuno Hierapolis di atasnya.
Ada Bursa dengan jejak awal Ottoman.
Ada Konya.
Ada Troy, Safranbolu, Göbekli Tepe, Antalya, Fethiye, Bodrum, Mardin, Mount Nemrut, dan masih banyak lagi.
Itulah sebabnya kalau tujuan utamanya mencari destinasi, saya lebih menyarankan lanjut ke tulisan Wisata Turki.
Artikel ini sengaja saya buat untuk mengenal negaranya lebih dulu.
WNI Bebas Visa ke Turki
Untuk traveler Indonesia, ada kabar yang cukup menyenangkan.
Pemegang paspor biasa Indonesia saat ini bebas visa untuk masuk ke Türkiye hingga 30 hari pada setiap kunjungan, selama total masa tinggal tidak melebihi 90 hari dalam periode 180 hari. Ketentuan tersebut tercantum dalam informasi visa resmi Kementerian Luar Negeri Türkiye. Ministry of Foreign Affairs of Türkiye
Jadi untuk liburan singkat biasanya prosesnya relatif sederhana.
Tetapi aturan imigrasi bisa berubah.
Kalau tulisan ini kamu baca beberapa waktu setelah diterbitkan, saya tetap menyarankan mengecek informasi terbaru dari Kedutaan Besar Türkiye atau Kementerian Luar Negeri sebelum membeli tiket.
Untuk urusan visa dan paspor saya memang lebih suka sedikit cerewet.
Daripada baru tahu ada aturan baru ketika sudah berdiri di bandara.
Kenapa Turki Menarik untuk Traveler Indonesia?
Kalau hanya karena cantik, banyak negara yang cantik.
Menurut saya daya tarik Turki justru datang dari kombinasi banyak hal yang jarang berada dalam satu perjalanan.
Ada sejarah.
Ada alam.
Ada makanan.
Ada budaya Islam yang terasa cukup familiar untuk kita, tetapi kehidupan kotanya tetap berbeda.
Ada kota kuno Yunani-Romawi, masjid Ottoman, gereja Bizantium, pantai Mediterania, pegunungan, sampai lanskap Cappadocia.
Buat traveler Indonesia, urusan makanan halal juga relatif mudah. Itu mungkin terdengar sepele, tetapi saat melakukan perjalanan panjang dari satu kota ke kota lain, kenyamanan seperti ini terasa.
Dan ada satu lagi yang saya rasakan setelah melihat beberapa bagian Turki: negara ini enak untuk perjalanan darat.
Pemandangan berubah.
Kota berubah.
Sejarah yang kita temui juga berubah.
Jadi perjalanan bukan hanya sesuatu yang terjadi setelah sampai destinasi berikutnya.
Jalannya sendiri menjadi bagian dari cerita.
Turki yang Tidak Bisa Dijelaskan Hanya dengan “Asia atau Eropa”
Pertama kali mengenal Turki, mungkin pertanyaannya sederhana.
Turki negara mana?
Ibu kotanya apa?
Turki masuk Eropa atau Asia?
Tetapi setelah mulai membaca dan, apalagi, setelah datang sendiri, jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Secara geografis Turki memang berada di antara Asia dan Eropa.
Tetapi yang menarik justru semua hal yang terjadi karena posisi tersebut selama ribuan tahun.
Ada jejak peradaban kuno, Bizantium, Seljuk, Ottoman, sampai Türkiye modern. Ada kota-kota yang rasanya sangat berbeda satu sama lain. Ada tradisi yang masih hidup berdampingan dengan kehidupan modern.
Mungkin itulah yang paling saya suka dari Turki.
Kita bisa datang dengan tujuan sederhana, misalnya ingin melihat balon udara Cappadocia atau masuk ke Hagia Sophia.
Lalu pulang dengan daftar tempat yang masih ingin dikunjungi.
Dan biasanya daftar itu malah lebih panjang daripada sebelum berangkat.
