Hagia Sophia
Hagia Sophia: Bangunan yang Menyimpan 1.500 Tahun Sejarah Istanbul
Ada beberapa tempat yang sebelum datang sudah terlalu sering kita lihat fotonya.
Hagia Sophia salah satunya.
Kubah besar, empat minaret, bangunan berwarna kemerahan, taman Sultanahmet di depannya. Rasanya sudah sangat familiar bahkan sebelum kaki benar-benar menginjak Istanbul.
Tetapi menurut saya, Hagia Sophia jauh lebih menarik setelah kita tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam bangunan itu selama hampir 1.500 tahun.
Karena Hagia Sophia bukan hanya bekas gereja.
Bukan hanya masjid.
Bukan pula sekadar salah satu tempat wisata paling terkenal di Istanbul.
Bangunan ini pernah menjadi gereja utama Kekaisaran Romawi Timur, mengalami penjarahan dalam Perang Salib, menjadi masjid setelah Konstantinopel jatuh ke tangan Ottoman, berfungsi sebagai museum selama puluhan tahun, lalu kembali digunakan sebagai masjid.
Semua periode itu meninggalkan jejak.
Dan anehnya, ketika berdiri di dalamnya, kita bisa melihat jejak-jejak tersebut berada dalam satu ruang.
Mosaik Bizantium di atas.
Kaligrafi Islam berukuran raksasa di sampingnya.
Mihrab menghadap Makkah.
Kubah dari abad keenam menaungi semuanya.
Buat saya, justru lapisan-lapisan itulah yang membuat Hagia Sophia begitu menarik.
Hagia Sophia Itu Sebenarnya Apa?
Hagia Sophia adalah bangunan bersejarah di kawasan Sultanahmet, Istanbul, yang dibangun pada masa Kaisar Justinian I antara tahun 532 dan 537. Saat ini Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid dengan nama resmi Ayasofya-i Kebir Cami-i Şerifi.
Bangunan yang kita lihat sekarang adalah Hagia Sophia ketiga yang berdiri di lokasi tersebut.
UNESCO menyebut Hagia Sophia sebagai salah satu mahakarya arsitektur abad keenam dan bagian penting dari Historic Areas of Istanbul, yang masuk World Heritage List sejak 1985. UNESCO World Heritage Centre
Nama Hagia Sophia sendiri bukan nama seorang santo seperti kadang disangka.
Berasal dari bahasa Yunani Hagia Sophia, artinya kurang lebih Holy Wisdom atau Kebijaksanaan Suci.
Dalam bahasa Turki, namanya ditulis Ayasofya.
Jadi kalau nanti di Istanbul melihat papan bertuliskan Ayasofya, ya itu Hagia Sophia yang kita cari.
Ternyata Hagia Sophia Pernah Dibangun Tiga Kali
Ini salah satu bagian sejarahnya yang menurut saya menarik.
Bangunan yang berdiri sekarang ternyata bukan Hagia Sophia pertama.
Hagia Sophia pertama
Gereja pertama berdiri di lokasi ini pada abad keempat dan dibuka pada masa Kaisar Constantius II sekitar tahun 360.
Bangunannya dikenal sebagai Megale Ekklesia atau Great Church.
Tetapi gereja tersebut rusak berat akibat kebakaran ketika terjadi kerusuhan pada tahun 404.
Tidak banyak yang tersisa dari bangunan pertama ini.
Hagia Sophia kedua
Kaisar Theodosius II kemudian membangun gereja baru di tempat yang sama.
Bangunan kedua dibuka pada tahun 415.
Nasibnya ternyata juga tidak terlalu panjang.
Pada tahun 532 terjadi Nika Revolt, pemberontakan besar di Konstantinopel yang menghancurkan banyak bagian kota. Gereja Hagia Sophia kedua ikut terbakar. Aya Sofya Camii
Kalau membaca ceritanya sekarang terasa sedikit ironis.
Salah satu bangunan paling terkenal di dunia justru lahir karena bangunan sebelumnya hancur dalam kerusuhan.
Justinian Membangun Hagia Sophia yang Kita Lihat Sekarang
Setelah Nika Revolt, Kaisar Justinian I tidak sekadar membangun kembali gereja lama.
Ia ingin membuat sesuatu yang jauh lebih besar.
Dua orang yang dipercaya merancangnya adalah Anthemius of Tralles dan Isidore of Miletus.
Menariknya, keduanya bukan arsitek dalam pengertian modern saja. Mereka juga dikenal memiliki latar belakang matematika dan ilmu pengetahuan.
Konstruksi dimulai pada tahun 532, dan gereja baru diresmikan pada 537.
Artinya bangunan dengan ukuran sebesar itu diselesaikan hanya dalam waktu sekitar lima tahun. UNESCO juga mencatat Hagia Sophia dibangun pada 532-537 dan kemudian menjadi salah satu karya arsitektur paling berpengaruh dari periode Bizantium. UNESCO World Heritage Centre
Kalau melihat ukurannya sekarang, lima tahun terdengar hampir tidak masuk akal.
Terutama mengingat ini abad keenam.
Belum ada crane modern.
Belum ada software engineering.
Dan kubah raksasanya berada lebih dari 50 meter di atas lantai.
Kubah Hagia Sophia yang Membuat Dunia Terpukau
Kalau saya harus memilih satu bagian Hagia Sophia yang paling membuat bangunannya terasa monumental, jawabannya tentu kubahnya.
Diameter kubah utamanya sekitar 31 meter dan berada sekitar 55 meter di atas lantai. Turkish Culture & Tourism Ministry
Tetapi angka saja tidak terlalu menggambarkan rasanya.
Ketika melihat ke atas, kubah itu terlihat seperti melayang.
Efek tersebut partly berasal dari deretan jendela di bagian dasar kubah yang membiarkan cahaya masuk dari berbagai arah.
Untuk bangunan abad keenam, desain seperti ini luar biasa berani.
Bahkan tidak semuanya berjalan mulus.
Gempa bumi merusak kubah pertama dan sebagian akhirnya runtuh pada abad keenam. Kubah kemudian dibangun kembali dengan bentuk yang lebih tinggi. Teda
Dan mungkin justru itulah bagian menarik dari Hagia Sophia.
Bangunan ini tidak bertahan 1.500 tahun karena tidak pernah rusak.
Ia bertahan karena terus diperbaiki.
Hampir Seribu Tahun Menjadi Gereja
Selama berabad-abad, Hagia Sophia menjadi salah satu pusat kehidupan keagamaan Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium.
Di sinilah upacara kekaisaran dilakukan.
Para kaisar dinobatkan.
Liturgi penting berlangsung.
Untuk waktu yang sangat panjang, Hagia Sophia juga menjadi salah satu gereja terbesar dan paling berpengaruh di dunia Kristen.
Dan pengaruh arsitekturnya menyebar jauh melampaui Konstantinopel.
UNESCO mencatat desain Hagia Sophia kemudian menjadi referensi bagi banyak gereja dan, setelah masa Ottoman, juga memengaruhi desain masjid. UNESCO World Heritage Centre
Tapi sejarahnya tidak berjalan tenang sepanjang waktu.
Ketika Tentara Perang Salib Menjarah Hagia Sophia
Salah satu bagian sejarah yang kadang hanya dilewati sebentar adalah Fourth Crusade pada 1204.
Pasukan Perang Salib yang awalnya berangkat menuju Tanah Suci justru menyerang Konstantinopel.
Kota tersebut dijarah.
Hagia Sophia juga ikut mengalami penjarahan.
Selama periode Latin antara 1204 hingga 1261, bangunan ini digunakan sebagai katedral Katolik Roma. Setelah Bizantium berhasil merebut kembali Konstantinopel, Hagia Sophia kembali menjadi gereja Ortodoks. Aya Sofya Camii
Jadi bahkan sebelum Ottoman datang, Hagia Sophia sudah mengalami perubahan fungsi dan kekuasaan beberapa kali.
Tahun 1453 Mengubah Hagia Sophia Lagi
Kemudian datang tahun yang hampir selalu muncul ketika belajar sejarah Istanbul:
1453.
Sultan Mehmed II atau Mehmed the Conqueror menaklukkan Konstantinopel.
Setelah kota jatuh ke tangan Ottoman, Hagia Sophia diubah menjadi masjid. Turkish Culture & Tourism Ministry
Dari sinilah lapisan Ottoman mulai ditambahkan.
Minaret.
Mihrab.
Minbar.
Kaligrafi.
Bangunan tambahan.
Dan berbagai penguatan struktur.
Salah satu orang yang kemudian berperan dalam mempertahankan bangunannya adalah arsitek besar Ottoman Mimar Sinan, yang melakukan pekerjaan penguatan pada struktur Hagia Sophia. Turkish Culture & Tourism Ministry
Menurut saya ini hal yang sering terlewat ketika orang melihat Hagia Sophia sebagai cerita “gereja lalu berubah menjadi masjid”.
Kenyataannya lebih rumit.
Ottoman tidak hanya menggunakan bangunan tersebut, mereka juga merawat, memperkuat, dan mengubahnya selama berabad-abad.
Minaret Hagia Sophia Tidak Dibangun Bersamaan
Kalau melihat Hagia Sophia dari luar, empat minaretnya membuat siluet bangunan ini sangat mudah dikenali.
Tetapi tentu saja minaret tersebut tidak ada ketika bangunan pertama kali dibangun pada abad keenam.
Minaret mulai ditambahkan setelah Hagia Sophia menjadi masjid pada masa Ottoman, dan pembangunannya berlangsung dalam periode yang berbeda-beda.
Itulah sebabnya kalau diperhatikan cukup teliti, bentuk dan detail beberapa minaret tidak benar-benar identik.
Saya suka detail kecil seperti ini.
Karena tiba-tiba bangunannya tidak lagi terlihat seperti satu proyek yang selesai dalam satu zaman.
Hagia Sophia memang seperti scrapbook sejarah dalam ukuran raksasa.
Mosaik Kristen dan Kaligrafi Islam dalam Satu Ruang
Ini mungkin bagian yang paling membuat Hagia Sophia berbeda dari banyak bangunan bersejarah lain.
Kita bisa melihat mosaik figur Kristen dari masa Bizantium dan pada saat yang sama terdapat medali kaligrafi Islam berukuran besar dari periode Ottoman.
Tidak banyak tempat di dunia di mana dua lapisan sejarah sebesar itu bisa dilihat dalam ruang yang sama.
Salah satu mosaik paling terkenal adalah Deësis Mosaic di upper gallery.
Mosaik tersebut menggambarkan Christ Pantocrator bersama Virgin Mary dan John the Baptist.
Ada juga mosaik lain yang menggambarkan kaisar dan permaisuri Bizantium.
Sementara dari masa Ottoman, salah satu elemen yang paling mencolok adalah delapan medali kaligrafi besar yang membawa nama Allah, Nabi Muhammad, khalifah pertama, serta Hasan dan Husain. Medali tersebut dibuat pada abad ke-19 oleh kaligrafer Kazasker Mustafa İzzet Efendi. Hagia Sophia Museum
Bagi saya, bagian inilah yang membuat Hagia Sophia sulit dijelaskan hanya sebagai “gereja” atau “masjid”.
Kedua sejarah itu ada di sana.
Secara literal terlihat di dindingnya.
Mihrab yang Tidak Persis Berada di Tengah
Kalau memperhatikan bagian depan Hagia Sophia, ada sesuatu yang sedikit tidak simetris.
Mihrab tidak tepat sejajar dengan poros tengah bangunan.
Ada alasan sederhana.
Hagia Sophia awalnya dibangun sebagai gereja Kristen dengan orientasi tertentu.
Ketika berubah menjadi masjid, arah salat harus menghadap ke Ka’bah di Makkah.
Karena dua arah tersebut tidak sama persis, posisi mihrab pun sedikit bergeser.
Detail kecil, tetapi saya justru suka hal seperti ini.
Sejarah bangunan tidak hanya diceritakan lewat papan informasi.
Kadang dindingnya sendiri yang bercerita.
Hagia Sophia Kemudian Menjadi Museum
Berabad-abad setelah menjadi masjid Ottoman, fungsi Hagia Sophia berubah lagi.
Pada masa Republik Turki modern, keputusan pemerintah tahun 1934 mengubah Hagia Sophia menjadi museum, dan museum mulai dibuka untuk umum pada 1935. Turkish Culture & Tourism Ministry
Periode museum ini berlangsung selama puluhan tahun.
Pada masa tersebut banyak mosaik Bizantium yang sebelumnya tertutup mulai dipelajari, direstorasi, dan diperlihatkan kembali.
Bagi beberapa generasi traveler, Hagia Sophia yang mereka kenal memang adalah museum.
Sampai kemudian statusnya berubah sekali lagi.
Sejak 2020 Hagia Sophia Kembali Menjadi Masjid
Pada Juli 2020, status museum Hagia Sophia dibatalkan dan bangunan tersebut kembali difungsikan sebagai masjid.
Salat Jumat kembali digelar di Hagia Sophia pada 24 Juli 2020. Diyanet
Perubahan tersebut mendapat perhatian internasional. UNESCO menyatakan kekhawatiran terhadap dampaknya pada nilai universal Hagia Sophia sebagai bagian dari World Heritage Site dan menekankan pentingnya menjaga akses serta karakter warisannya. UNESCO World Heritage Centre
Saat ini nama resminya adalah Ayasofya-i Kebir Cami-i Şerifi atau Hagia Sophia Grand Mosque.
Dan perubahan status ini juga memengaruhi cara wisatawan mengunjunginya.
Cara Melihat Hagia Sophia Sekarang Berbeda
Ini bagian yang penting karena banyak artikel lama di internet sudah tidak akurat.
Sejak sistem kunjungan baru diterapkan pada Januari 2024, wisatawan budaya menggunakan jalur terpisah menuju upper gallery, sementara lantai utama digunakan untuk kegiatan ibadah. Dokumen resmi dari Directorate General of Foundations mencatat visitor area baru mulai beroperasi pada 15 Januari 2024. TÜRSAB
Pada 2026, visitor gallery masih menjadi jalur utama bagi wisatawan asing. Informasi pengunjung terbaru menyebut gallery buka setiap hari sekitar 09.00-19.30, meskipun akses dapat berubah menyesuaikan waktu ibadah atau kondisi operasional. Hagia Sophia Museum
Untuk wisatawan asing, harga tiket visitor gallery saat ini tercantum €25. Hagia Sophia Ticket
Tapi bagian ini memang cepat berubah.
Karena itu nanti di artikel Cara Mengunjungi Hagia Sophia saya ingin membahas khusus:
- pintu masuk yang benar,
- harga tiket terbaru,
- jam kunjungan,
- waktu salat,
- aturan Jumat,
- dress code,
- upper gallery,
- apakah Museum Pass berlaku,
- waktu terbaik datang,
- berapa lama kunjungan,
- dan bagaimana menghindari antrean.
Jadi artikel ini tidak cepat terasa seperti halaman informasi tiket.
Apa yang Bisa Dilihat di Upper Gallery?
Meski wisatawan sekarang tidak bebas menjelajah lantai utama seperti pada masa Hagia Sophia masih menjadi museum, upper gallery justru memberikan perspektif yang sangat bagus.
Dari atas kita bisa melihat keseluruhan ruang utama.
Kubah.
Lampu gantung.
Mihrab.
Kaligrafi Ottoman.
Kolom-kolom.
Dan tentu saja mosaik Bizantium yang memang banyak berada di area gallery.
Salah satu yang sebaiknya jangan dilewatkan adalah Deësis Mosaic.
Jangan jalan terlalu cepat.
Hagia Sophia termasuk tempat yang menurut saya justru rugi kalau dikunjungi dengan gaya “foto, lihat jam, lanjut”.
Detailnya ada di mana-mana.
Jangan Cuma Melihat ke Atas
Kubah memang otomatis menarik perhatian.
Tetapi sesekali lihat juga ke dinding dan lantai.
Hagia Sophia menggunakan berbagai macam marble dengan warna dan pola berbeda.
Beberapa material berasal dari berbagai wilayah dalam Kekaisaran Romawi.
Ada hijau.
Ungu.
Putih.
Abu-abu.
Bahkan cara potongan marmer ditempatkan pun sering dibuat simetris sehingga pola alaminya terlihat seperti lukisan.
Di beberapa tempat ada bekas, goresan, dan detail yang mungkin terlihat sepele.
Salah satunya bahkan berupa Viking graffiti di upper gallery.
Ya, Viking.
Anggota Varangian Guard yang pernah berada di Konstantinopel meninggalkan tulisan rune pada marmer Hagia Sophia.
Bayangkan saja.
Datang ke salah satu bangunan paling megah di dunia lalu coret-coret nama.
Ternyata perilaku wisatawan nakal bukan penemuan zaman Instagram.
Hagia Sophia Bukan Satu-Satunya yang Menarik di Sultanahmet
Lokasi Hagia Sophia juga membuatnya sangat mudah digabungkan dengan beberapa tempat terpenting di Istanbul.
Tepat di seberangnya ada Blue Mosque.
Tidak jauh dari situ ada:
Basilica Cistern,
Topkapi Palace,
Hippodrome of Constantinople,
Istanbul Archaeological Museums,
dan tentu saja taman Sultanahmet.
Kalau baru pertama kali datang ke Istanbul, kawasan ini bisa menghabiskan satu hari penuh.
Menurut saya jangan dipaksakan semuanya dalam setengah hari.
Di Google Maps memang terlihat dekat.
Yang tidak terlihat di Google Maps adalah antrean, security check, waktu berdiri melihat bangunan, berhenti foto, dan keputusan impulsif membeli simit.
Waktu Terbaik Melihat Hagia Sophia dari Luar
Ini sedikit berbeda dengan waktu terbaik masuk.
Untuk menikmati eksterior Hagia Sophia, saya suka kawasan Sultanahmet menjelang sore.
Cahaya mulai lebih lembut dan siluet kubah serta minaretnya terlihat bagus dari taman antara Hagia Sophia dan Blue Mosque.
Kalau sempat kembali malam hari, suasananya berbeda lagi.
Bangunannya menyala.
Area sekitar Sultanahmet lebih tenang dibanding siang.
Dan tanpa buru-buru masuk ke mana-mana, kita bisa duduk saja melihat kedua masjid besar saling berhadapan.
Kadang bagian traveling yang paling saya suka justru sesederhana itu.
Apakah Hagia Sophia Masih Worth It Dikunjungi?
Menurut saya, iya.
Walaupun sistem kunjungannya sekarang berbeda dan wisatawan tidak lagi bebas mengakses seluruh ruang seperti pada masa museum.
Kalau hanya melihatnya sebagai attraction yang harus “diselesaikan”, mungkin tiketnya terasa mahal dan waktu antre menjadi menjengkelkan.
Tetapi kalau tertarik pada sejarah Istanbul, sulit mencari satu bangunan yang menceritakannya sepadat Hagia Sophia.
Romawi Timur.
Bizantium.
Perang Salib.
Ottoman.
Republik Turki.
Semuanya pernah lewat di bangunan yang sama.
Hampir 1.500 tahun.
Dan bangunannya masih berdiri.
Hagia Sophia Membuat Sejarah Istanbul Lebih Mudah Dipahami
Saya selalu merasa sejarah lebih mudah dipahami ketika ada tempat nyata yang bisa kita lihat.
Nama Justinian mungkin hanya terasa seperti nama kaisar dari buku.
Tahun 1453 cuma angka.
Ottoman terasa jauh.
Bizantium lebih jauh lagi.
Tetapi setelah berdiri di Hagia Sophia, semuanya mulai tersambung.
Kubahnya berasal dari dunia Justinian.
Mosaiknya menceritakan periode Bizantium.
Mihrab dan minaret membawa kita ke masa Ottoman.
Lalu lantai dan gallery yang kita pijak sekarang menjadi bagian dari kehidupan Istanbul modern.
Itulah alasan saya tidak suka menyebut Hagia Sophia hanya sebagai tempat wisata Istanbul yang wajib dikunjungi.
Kalimat itu terlalu kecil.
Buat saya, Hagia Sophia adalah salah satu tempat terbaik untuk mulai memahami kenapa Istanbul menjadi kota seperti sekarang.
Dan setelah keluar dari bangunannya, melihat Blue Mosque di seberang taman pun terasa sedikit berbeda.
Karena kita akhirnya sadar bahwa di kawasan yang ukurannya tidak terlalu besar ini, sejarah berlangsung selama lebih dari satu milenium.
Lumayan berat untuk sebuah jalan-jalan pagi.
Tapi justru itu serunya Istanbul.
