Masjid Ortakoy
Masjid Ortaköy Istanbul: Masjid Cantik di Tepi Bosphorus
Ada beberapa tempat di Istanbul yang rasanya langsung bisa dikenali hanya dari satu foto.
Masjid Ortaköy salah satunya.
Masjid berwarna terang di tepi Bosphorus, dua minaret ramping, air laut tepat di depannya, lalu Bosphorus Bridge membentang di belakang.
Kalau Blue Mosque terlihat megah dan serius, Ortaköy Mosque menurut saya justru punya kesan yang lebih ringan.
Lebih elegan.
Lebih romantis, mungkin.
Dan lokasinya membuat masjid ini terasa hampir seperti bagian dari pemandangan Bosphorus itu sendiri.
Saya suka tempat seperti ini karena bukan cuma bangunannya yang menarik. Lingkungan di sekitarnya juga hidup. Ada promenade, café, pedagang makanan, kapal lalu lalang, dan orang yang memang datang hanya untuk duduk melihat Bosphorus.
Jadi pergi ke Masjid Ortaköy rasanya bukan seperti datang ke satu attraction lalu pulang.
Lebih seperti menikmati satu kawasan.
Masjid Ortaköy Itu Masjid Apa?
Masjid Ortaköy adalah masjid era Ottoman abad ke-19 yang berada tepat di tepi Bosphorus, di kawasan Ortaköy, Beşiktaş, Istanbul. Nama resminya adalah Büyük Mecidiye Camii.
Masjid yang kita lihat sekarang dibangun atas perintah Sultan Abdülmecid I pada pertengahan abad ke-19.
Sumber resmi pemerintah Türkiye mencatat pembangunannya sekitar 1849-1854, sementara Visit Istanbul menyebut selesai sekitar 1853. Perbedaan satu-dua tahun seperti ini cukup umum dalam referensi bangunan bersejarah, tetapi intinya masjid ini berasal dari pertengahan abad ke-19. Vakıflar Genel Müdürlüğü
Yang jelas, Masjid Ortaköy jauh lebih muda dibanding Hagia Sophia maupun Blue Mosque.
Dan justru itu yang membuatnya menarik.
Arsitekturnya memperlihatkan bagaimana gaya Ottoman berubah pada abad ke-19.
Nama Resminya Bukan Ortaköy Mosque
Nama yang paling sering dipakai wisatawan memang Ortaköy Mosque.
Tetapi nama resminya adalah:
Büyük Mecidiye Camii.
Nama tersebut berkaitan dengan Sultan Abdülmecid I yang memerintahkan pembangunannya.
Kata Büyük berarti besar, sedangkan Mecidiye merujuk kepada sang sultan.
Namun karena lokasinya berada di Ortaköy, nama Ortaköy Mosque akhirnya jauh lebih populer untuk wisatawan.
Jadi kalau suatu hari melihat papan bertuliskan Büyük Mecidiye Camii, jangan bingung.
Itu masjid yang sama.
Siapa yang Membangun Masjid Ortaköy?
Masjid ini dibangun pada masa Sultan Abdülmecid I.
Ia memerintah Ottoman pada periode ketika Istanbul sedang mengalami banyak perubahan arsitektur dan modernisasi.
Pada abad ke-19, selera istana Ottoman mulai semakin banyak menyerap pengaruh arsitektur Eropa.
Dan kita bisa melihatnya dengan sangat jelas di Masjid Ortaköy.
Bangunannya tidak terasa seperti Blue Mosque.
Tidak pula seperti Süleymaniye Mosque.
Ortaköy lebih dekoratif, lebih ringan, dan terasa sangat Eropa pada beberapa bagian.
Ini bukan kebetulan.
Keluarga Balyan di Balik Masjid Ortaköy
Salah satu bagian sejarahnya yang menurut saya menarik adalah nama arsiteknya.
Masjid Ortaköy dirancang oleh Garabet Amira Balyan dan Nigoğayos Balyan, keluarga arsitek Armenia yang sangat berpengaruh pada arsitektur Ottoman abad ke-19. Sumber museum internasional dan GoTürkiye sama-sama mencatat keterlibatan ayah dan anak dari keluarga Balyan tersebut. Sharing History
Nama keluarga ini nanti akan muncul lagi kalau kita membahas Dolmabahçe Palace.
Mereka juga terlibat dalam desain istana tersebut.
Jadi kalau suatu hari setelah mengunjungi Ortaköy lalu pergi ke Dolmabahçe dan merasa ada sesuatu yang sedikit familiar, mungkin memang ada hubungan arsitekturnya.
Menurut saya ini bagus sekali untuk cluster Istanbul nanti.
Ortaköy Mosque bisa internal link ke Dolmabahçe Palace, dan sebaliknya.
Arsitekturnya Bukan Ottoman Klasik
Kalau Blue Mosque identik dengan arsitektur Ottoman klasik, Masjid Ortaköy memperlihatkan gaya yang berbeda.
Bangunan ini sering digambarkan sebagai Neo-Baroque atau Ottoman Baroque, dengan pengaruh Eropa yang cukup kuat. Sumber resmi pendidikan pemerintah Türkiye bahkan menyebut adanya kombinasi gaya Baroque dan Empire pada bangunan ini. Okul Dışı Öğrenme Ortamları
Itulah sebabnya fasadnya terasa jauh lebih dekoratif.
Ada banyak lekukan.
Ornamen.
Jendela besar.
Permukaan batu berwarna terang.
Dan proporsinya lebih vertikal serta ringan.
Kalau dibandingkan dengan Blue Mosque, saya rasa mudah sekali melihat bahwa keduanya berasal dari zaman yang berbeda.
Lokasinya Membuat Masjid Ini Terlihat Istimewa
Masjid Ortaköy berdiri tepat di tepi Bosphorus.
Bukan dekat Bosphorus.
Benar-benar di pinggir air.
Itu salah satu alasan kenapa fotonya begitu ikonik.
Di belakangnya berdiri jembatan yang sekarang bernama 15 July Martyrs Bridge, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai Bosphorus Bridge.
Jadi dalam satu frame kita mendapat:
masjid Ottoman abad ke-19,
Bosphorus,
kapal-kapal,
dan jembatan modern.
GoTürkiye sendiri menyebut waterfront Ortaköy sebagai salah satu titik populer untuk memotret masjid, jembatan, dan Bosphorus dalam satu panorama. Go Türkiye
Menurut saya ini salah satu contoh terbaik tentang Istanbul.
Kota lama dan modern tidak selalu terpisah.
Mereka sering muncul dalam satu pandangan.
Interiornya Sangat Berbeda dari Blue Mosque
Begitu masuk, suasananya tidak seperti Blue Mosque yang luas dan monumental.
Masjid Ortaköy lebih kecil.
Lebih intim.
Dan karena jendelanya besar, ruangnya terasa sangat terang.
Sumber resmi menyebut jendela lebar dan tinggi dirancang untuk membawa perubahan cahaya dari Bosphorus masuk ke dalam ruang masjid. Okul Dışı Öğrenme Ortamları
Saya suka bagian ini.
Karena cahaya di Bosphorus memang terus berubah tergantung waktu dan cuaca.
Jadi interior masjid tidak terasa sama sepanjang hari.
Ada saatnya terlihat sangat terang.
Ada saatnya cahaya lebih lembut.
Dan dari beberapa jendela kita juga bisa melihat air.
Tidak banyak masjid di Istanbul yang punya hubungan sedekat ini dengan Bosphorus.
Warna Interiornya Lebih Lembut
Di bagian dalam, kita bisa menemukan kombinasi warna putih, pink, biru, dan unsur dekoratif keemasan.
GoTürkiye mencatat interiornya menggunakan kombinasi marble berwarna pink, blue, dan white, sementara bagian kubah memiliki dekorasi yang juga menggunakan nuansa pink. Go Türkiye
Kalau Blue Mosque penuh pola İznik tiles, Ortaköy terasa jauh lebih ornamental dengan gaya abad ke-19.
Lebih seperti istana kecil yang kebetulan merupakan masjid.
Tentu saja saya tidak bermaksud mengecilkan fungsi religiusnya.
Justru percampuran antara ruang ibadah dan dekorasi istana Ottoman akhir itulah yang membuatnya unik.
Kaligrafi Sultan Abdülmecid Sendiri
Ada detail lain yang menarik.
Sultan Abdülmecid bukan hanya orang yang memerintahkan pembangunan masjid.
Ia juga dikenal memiliki kemampuan kaligrafi.
GoTürkiye mencatat bahwa beberapa tulisan kaligrafi di dalam masjid merupakan karya Sultan Abdülmecid sendiri. Go Türkiye
Saya suka fakta seperti ini.
Karena tiba-tiba hubungan antara sultan dan bangunan terasa lebih personal.
Bukan cuma, “seorang sultan membangun masjid”.
Ia juga meninggalkan jejak tangannya sendiri di dalamnya.
Dua Minaretnya Terlihat Sangat Ramping
Masjid Ortaköy memiliki dua minaret dengan masing-masing satu balkon atau şerefe. Okul Dışı Öğrenme Ortamları
Bentuknya ramping dan membantu membuat siluet masjid terlihat ringan.
Kalau melihat dari arah waterfront, dua minaret itu berdiri seperti framing untuk kubah utama.
Dan jembatan di belakangnya membuat komposisinya makin dramatis.
Saya rasa ini salah satu masjid yang paling photogenic di Istanbul bukan karena ukurannya besar.
Tapi karena proporsi bangunan dan lokasinya pas sekali.
Masjid yang Kita Lihat Sekarang Bukan Masjid Pertama di Ortaköy
Sebelum Büyük Mecidiye Camii berdiri, ternyata sudah ada masjid yang lebih tua di kawasan ini.
Sumber sejarah Museum With No Frontiers menyebut masjid awal berasal dari abad ke-18 dan bangunan yang sekarang kemudian didirikan menggantikannya pada masa Sultan Abdülmecid. Sharing History
GoTürkiye juga menyebut bangunan sekarang berdiri di atas fondasi masjid lebih kecil yang sebelumnya rusak pada periode Patrona Halil Uprising. Go Türkiye
Jadi sekali lagi, seperti banyak tempat di Istanbul, yang kita lihat sekarang sebenarnya hanyalah lapisan terbaru.
Di bawahnya selalu ada cerita yang lebih lama.
Masjid Ortaköy Pernah Rusak karena Gempa
Lokasi Istanbul memang membuat banyak bangunan bersejarah harus berhadapan dengan gempa selama berabad-abad.
Masjid Ortaköy juga pernah mengalami kerusakan.
Salah satu gempa besar Istanbul pada 1894 merusak bagian bangunan dan minaretnya, lalu dilakukan perbaikan. Sumber sejarah lokal dan dokumentasi restorasi mencatat bangunan juga mengalami kerusakan lain pada periode berikutnya. List Istanbul
Masjid kemudian mengalami beberapa kali restorasi.
Restorasi besar terbaru selesai pada 2014, dan Direktorat Jenderal Yayasan Türkiye mencatat bangunan kembali dibuka untuk ibadah setelah pekerjaan tersebut. Vakıflar Genel Müdürlüğü
Jadi tampilan bersih yang kita lihat sekarang bukan berarti bangunan ini tidak pernah mengalami masalah.
Ia sudah melalui cukup banyak perbaikan.
Masjid Ortaköy Masih Aktif Digunakan untuk Ibadah
Sama seperti Blue Mosque, Ortaköy Mosque bukan museum.
Masjid ini masih digunakan untuk salat.
Wisatawan boleh masuk di luar waktu ibadah, tetapi aturan berpakaian dan etika tetap berlaku.
Untuk wanita, rambut sebaiknya ditutup.
Bahu dan kaki juga tertutup.
Sepatu dilepas sebelum memasuki ruang salat.
Saya tidak akan terlalu panjang membahas ini karena prinsipnya sama dengan mengunjungi masjid aktif lain di Istanbul.
Datang sebagai tamu.
Berpakaian sopan.
Dan kalau sedang ada ibadah, beri ruang untuk orang yang memang datang salat.
Apakah Masuk Masjid Ortaköy Bayar?
Tidak.
Masjid Ortaköy bisa dikunjungi tanpa tiket masuk.
Karena fungsi utamanya tetap sebagai tempat ibadah, tidak ada tiket seperti museum atau attraction.
Ini juga enak kalau sedang menyusun itinerary Istanbul yang budget-nya mulai terasa.
Setelah beberapa tiket palace dan museum, tempat bagus yang gratis selalu terasa menyenangkan.
Terutama kalau pemandangannya sebagus ini.
Jangan Datang Hanya untuk Masjidnya
Ini menurut saya poin penting.
Kalau datang ke Ortaköy, jangan hanya:
foto masjid,
masuk lima menit,
lalu pergi.
Kawasan Ortaköy sendiri menyenangkan untuk dinikmati.
Ada waterfront.
Café.
Restoran.
Pedagang makanan.
Toko kecil.
Dan pada akhir pekan kadang ada market atau artisan stalls. GoTürkiye menyebut area Ortaköy sering memiliki artists’ market pada akhir pekan. Go Türkiye
Kalau cuacanya bagus, saya malah suka ide datang tanpa itinerary ketat.
Lihat masjid.
Jalan sedikit.
Makan.
Duduk di tepi Bosphorus.
Baru lanjut.
Ortaköy Juga Terkenal dengan Kumpir
Nah, kalau sudah datang ke Ortaköy, kemungkinan besar akan melihat deretan penjual kumpir.
Kumpir adalah baked potato besar yang dibelah, bagian dalamnya dicampur butter dan keju, lalu ditambah topping macam-macam.
Dan ketika saya bilang macam-macam, memang macam-macam.
Jagung.
Olive.
Pickles.
Salad.
Saus.
Sosis.
Dan berbagai topping lain yang kadang membuat bentuk kentangnya nyaris tidak terlihat lagi.
Ortaköy memang sangat terkenal dengan kumpir.
Ini salah satu pengalaman yang menurut saya cocok sekali digabungkan dengan kunjungan masjid.
Foto masjid.
Jalan tepi Bosphorus.
Makan kumpir.
Tidak perlu semuanya harus sejarah berat.
Kapan Waktu Terbaik ke Masjid Ortaköy?
Kalau tujuan utamanya masuk ke masjid, saya suka pagi.
Lebih tenang.
Cahaya bagus.
Dan area waterfront biasanya belum seramai siang atau sore.
Tetapi kalau tujuan utamanya foto, sore menjelang sunset punya suasana yang berbeda.
Cahaya mulai hangat.
Jembatan perlahan menyala.
Kapal terus lewat di Bosphorus.
Dan setelah malam, masjid beserta jembatan mendapat pencahayaan yang membuat pemandangannya berubah lagi.
Kalau punya waktu, saya malah akan datang menjelang sore dan tinggal sampai agak gelap.
Dapat dua suasana sekaligus.
Spot Foto Masjid Ortaköy yang Paling Bagus
Nah, ini tempat yang memang sulit tidak difoto.
Waterfront Ortaköy
Ini angle paling klasik.
Masjid berada di depan, Bosphorus di samping, jembatan muncul di belakang.
Sulit salah.
Dari arah square
Kalau ingin melihat masjid bersama suasana kawasan Ortaköy, ambil sedikit jarak dari square.
Foto tidak terlalu postcard-perfect, tapi justru terasa lebih hidup.
Dari atas kapal Bosphorus
Ini salah satu angle yang menurut saya menarik.
Kalau ikut Bosphorus Cruise atau naik ferry yang melewati area ini, kita bisa melihat masjid seolah-olah menempel di tepi air.
Dari sini baru terasa betapa kecil bangunannya dibanding Bosphorus dan jembatan di belakang.
Menjelang blue hour
Kalau suka foto kota, tunggu setelah matahari terbenam.
Langit masih biru.
Lampu masjid dan jembatan mulai menyala.
Biasanya hasil fotonya jauh lebih dramatis daripada siang bolong.
Apakah Masjid Ortaköy Lebih Bagus daripada Blue Mosque?
Menurut saya pertanyaan ini sebenarnya tidak terlalu perlu dijawab.
Keduanya berbeda sekali.
Blue Mosque besar, monumental, Ottoman klasik, dan berada di jantung Historic Peninsula.
Masjid Ortaköy lebih kecil, lebih dekoratif, berasal dari abad ke-19, dan kekuatannya justru ada pada hubungan bangunannya dengan Bosphorus.
Kalau Blue Mosque membuat saya ingin melihat arsitekturnya lebih lama, Ortaköy Mosque membuat saya ingin duduk lebih lama di sekitarnya.
Nuansanya berbeda.
Dan kalau punya waktu, saya akan mengunjungi dua-duanya.
Apa yang Bisa Dikunjungi Sekalian?
Lokasi Ortaköy cukup strategis untuk digabungkan dengan beberapa tempat di sepanjang sisi Eropa Bosphorus.
Yang paling natural:
Dolmabahçe Palace
Ini salah satu kombinasi terbaik karena sama-sama terkait arsitektur Ottoman abad ke-19 dan keluarga Balyan.
Çırağan Palace
Berada tidak terlalu jauh di sepanjang Bosphorus.
Beşiktaş
Cocok kalau ingin lanjut makan atau melihat kehidupan kota yang lebih lokal.
Yıldız Park
Kalau ingin sedikit hijau setelah terlalu banyak bangunan.
Bosphorus Cruise
Bisa dilakukan sebelum atau setelah mengunjungi Ortaköy, tergantung rute.
Menurut saya itinerary yang cukup santai adalah:
Dolmabahçe Palace → Beşiktaş → Ortaköy Mosque → duduk di Bosphorus sampai sore.
Tidak terlalu banyak tempat.
Tapi enak.
Kenapa Masjid Ortaköy Terlihat Begitu “Istanbul”?
Mungkin karena fotonya punya hampir semua elemen yang kita asosiasikan dengan kota ini.
Masjid Ottoman.
Bosphorus.
Kapal.
Jembatan yang menghubungkan Asia dan Eropa.
Bangunan di bukit seberang.
Dan kehidupan kota yang terus berjalan di sekitarnya.
Semua masuk dalam satu frame.
Masjidnya sendiri sebenarnya tidak sebesar Blue Mosque atau Süleymaniye.
Tetapi lokasinya membuat efek visualnya luar biasa.
Kadang saya berpikir, kalau bangunan yang sama berdiri dua kilometer dari air, mungkin tidak akan menjadi ikon sebesar sekarang.
Tempat memang bisa mengubah bangunan.
Dan Ortaköy adalah contoh bagusnya.
Masjid Ortaköy Bukan Tempat yang Perlu Diburu-buru
Kalau datang ke Blue Mosque, kita mungkin fokus pada masjid.
Kalau datang ke Hagia Sophia, fokusnya hampir pasti sejarah.
Di Ortaköy saya justru menyarankan sedikit berbeda.
Jangan terlalu cepat.
Masuk masjid.
Lihat cahaya yang masuk dari jendela.
Keluar.
Jalan ke waterfront.
Cari sudut foto.
Beli minuman atau kumpir kalau lapar.
Kemudian duduk.
Lihat ferry lewat.
Lihat jembatan.
Lihat masjid dari jarak sedikit lebih jauh.
Karena menurut saya pengalaman terbaik di Ortaköy justru bukan saat kita berdiri tepat di dalam masjid.
Tetapi saat menyadari bagaimana bangunan ini menjadi bagian dari Bosphorus.
Kalau Hagia Sophia terasa seperti membaca sejarah Istanbul, Masjid Ortaköy terasa seperti melihat wajah Istanbul dalam satu foto.
Ottoman.
Eropa.
Asia.
Bosphorus.
Dan kota modern.
Semuanya muncul bersamaan.
Mungkin itu sebabnya meskipun ukurannya tidak sebesar masjid-masjid terkenal lain, Ortaköy tetap menjadi salah satu tempat yang paling saya ingat ketika membayangkan Istanbul.
