Tips Liburan ke Turki
Tips Liburan ke Turki untuk First Timer: Yang Perlu Disiapkan Sebelum Berangkat.
Pertama kali mau liburan ke Turki, saya juga sempat bingung harus mulai menyiapkan dari mana.
Visa bagaimana?
Bawa uang apa?
Juni itu panas atau masih dingin?
Kalau mau ke Cappadocia dari Istanbul jauh nggak?
Baju apa yang harus dibawa?
Belum lagi melihat peta Turki yang awalnya terasa sederhana. Istanbul di sini, Cappadocia di sana, Pamukkale sedikit ke kiri…
Begitu dijalani baru sadar:
Turki itu besar.
Hahaha.
Saya pertama kali traveling keliling Turki pada Juni 2019. Waktu itu saya ikut tour dan menjalani rute Istanbul, Bursa, Kuşadası, Ephesus, Pamukkale, Cappadocia, Ankara, lalu kembali lagi ke Istanbul.
Setelah itu saya juga beberapa kali berhubungan lagi dengan perjalanan ke Turki, termasuk naik Turkish Airlines di kelas yang berbeda.
Jadi tulisan ini bukan sekadar checklist sebelum liburan.
Ini kumpulan hal yang menurut saya memang berguna diketahui, terutama kalau baru pertama kali ke Turki dari Indonesia.
1. Paspor Indonesia Sekarang Bebas Visa ke Turki
Ini salah satu perubahan paling penting dibanding saat saya pertama kali pergi.
Pemegang paspor biasa Indonesia saat ini tidak memerlukan visa untuk kunjungan wisata ke Türkiye hingga 30 hari untuk setiap entry, selama total masa tinggal tidak melebihi 90 hari dalam periode 180 hari.
Jadi kalau tujuannya liburan 7, 9, atau 14 hari, prosesnya sekarang jauh lebih sederhana.
Tapi tetap perhatikan masa berlaku paspor.
Kementerian Luar Negeri Türkiye menyarankan dokumen perjalanan masih berlaku setidaknya enam bulan sejak tanggal kedatangan.
Aturan imigrasi termasuk jenis informasi yang bisa berubah, jadi sebelum terbang saya tetap akan mengecek lagi situs resmi pemerintah Türkiye.
Jangan berangkat hanya karena membaca blog saya.
Termasuk tulisan ini.
2. Jangan Menentukan Bulan Liburan Sebelum Tahu Musimnya
Turki punya empat musim.
Secara umum:
- Spring: Maret–Mei
- Summer: Juni–Agustus
- Autumn: September–November
- Winter: Desember–Februari
Saya pernah pergi bulan Juni, jadi sudah masuk awal musim panas.
Waktu itu saya mengira summer ya berarti panas semua.
Ternyata tidak.
Istanbul cukup hangat.
Ephesus terasa panas karena banyak berjalan di area terbuka.
Sementara Cappadocia pagi-pagi masih bisa dingin.
Jadi pelajaran pertama saya:
jangan cek “cuaca Turki” saja. Cek kota satu per satu.
Turki luas dan geografisnya sangat beragam.
Kalau itinerary melewati Istanbul, Ephesus, Pamukkale, dan Cappadocia, kita bisa merasakan suhu yang lumayan berbeda dalam satu perjalanan.
Saya sudah membahasnya lebih lengkap di artikel Musim di Turki, termasuk kapan spring, summer, autumn, winter, dan bulan yang menurut saya paling nyaman untuk sightseeing.
3. Kalau First Timer, Spring dan Autumn Paling Enak untuk Banyak Jalan
Kalau tujuan utama mau keliling kota, situs sejarah, dan Cappadocia, saya pribadi suka ide pergi sekitar:
April–Mei atau September–Oktober.
Kenapa?
Karena itinerary Turki biasanya banyak jalan kaki.
Banyak banget malah.
Hagia Sophia.
Blue Mosque.
Topkapı Palace.
Ephesus.
Pamukkale.
Göreme.
Grand Bazaar.
Kalau semuanya dilakukan saat puncak summer dengan matahari terik, tenaga lebih cepat habis.
Juni ketika saya datang masih cukup nyaman, tapi di Ephesus saja saya sudah merasakan panasnya.
Kalau ingin pantai dan coastal holiday di Antalya atau Bodrum, summer beda cerita.
Justru itu musimnya.
Kalau mengejar salju di Cappadocia, ya tentu winter.
Jadi tidak ada satu musim terbaik untuk semua orang.
Tergantung mau ngapain.
4. Jangan Masukkan Terlalu Banyak Kota dalam Satu Itinerary
Ini kesalahan yang mudah sekali terjadi ketika pertama kali merencanakan perjalanan.
Di Google Maps, semuanya terlihat seperti:
“Oh, sekalian saja.”
Istanbul.
Bursa.
Ephesus.
Pamukkale.
Cappadocia.
Konya.
Antalya.
Tambah ini.
Tambah itu.
Tiba-tiba dua minggu isinya pindah hotel terus.
Saya menjalani itinerary Turki 9 hari 6 malam yang cukup padat. Dalam satu perjalanan kami melewati Istanbul, Bursa, Kuşadası, Ephesus, Pamukkale, Cappadocia, Ankara, lalu kembali ke Istanbul.
Saya senang karena jadi melihat banyak tempat.
Tapi sekarang kalau traveling mandiri, saya mungkin akan membuat ritmenya sedikit lebih santai.
Untuk first timer dengan waktu terbatas, menurut saya lebih baik punya tiga atau empat destinasi yang benar-benar dinikmati daripada delapan kota yang cuma sempat difoto.
5. Beri Istanbul Minimal 3 Hari Kalau Bisa
Istanbul itu bukan kota yang enak dikasih waktu sehari.
Terlalu banyak yang bisa dilihat.
Untuk pertama kali, biasanya orang ingin mengunjungi:
- Hagia Sophia
- Blue Mosque
- Topkapı Palace
- Basilica Cistern
- Grand Bazaar
- Spice Bazaar
- Galata
- Taksim
- Bosphorus
- sisi Asia Istanbul
Belum makan.
Belum ngopi.
Belum tersesat masuk gang gara-gara Google Maps.
Hahaha.
Menurut saya tiga hari penuh adalah titik awal yang lebih realistis.
Kalau lima hari?
Saya malah lebih senang.
Istanbul termasuk kota yang justru menarik kalau tidak semua waktu diisi dengan checklist tempat wisata.
Kadang duduk minum çay sambil lihat Bosphorus malah jadi salah satu bagian yang paling diingat.
6. Cappadocia Jangan Cuma Satu Malam Kalau Mau Naik Balon
Kalau hot air balloon Cappadocia menjadi bucket list utama, saya sarankan menginap minimal dua malam.
Kenapa?
Karena balon udara tidak otomatis terbang setiap pagi.
Penerbangan tergantung kondisi cuaca, terutama angin dan faktor keselamatan.
Saya waktu itu beruntung.
Pagi yang dijadwalkan memang bisa terbang.
Dan sampai sekarang pengalaman naik hot air balloon Cappadocia masih menjadi salah satu momen favorit saya di Turki.
Tapi bayangkan kalau kita hanya punya satu pagi di Cappadocia lalu penerbangannya dibatalkan.
Sedihnya bisa sampai Jakarta.
Jadi beri sedikit buffer.
7. Cappadocia Bukan Nama Kota
Ini kelihatannya sepele, tapi berguna saat booking hotel dan transportasi.
Cappadocia adalah kawasan, bukan kota.
Destinasi yang sering digunakan wisatawan sebagai base antara lain:
- Göreme
- Uçhisar
- Ürgüp
- Avanos
Sementara bandara yang biasa digunakan untuk mencapai kawasan Cappadocia antara lain berada di Kayseri dan Nevşehir.
Jadi ketika mencari tiket atau hotel, jangan bingung kalau tidak menemukan “Bandara Cappadocia” sebagai nama kota tujuan utama.
Hal serupa terjadi dengan beberapa destinasi lain.
Pamukkale berada di Denizli.
Ephesus dekat Selçuk di Provinsi Izmir.
Detail seperti ini kecil, tapi membuat perencanaan jauh lebih gampang.
8. Untuk Pindah Kota, Jangan Selalu Mengandalkan Mobil
Turki besar.
Kalau satu atau dua perjalanan darat tentu menyenangkan.
Tapi kalau itinerary panjang, pertimbangkan kombinasi:
- penerbangan domestik
- bus antarkota
- kereta untuk rute tertentu
- rental mobil
- tour lokal
Saya dulu menggunakan bus selama group tour.
Enaknya?
Tinggal duduk.
Bagasi masuk.
Bangun-bangun rest area.
Tidur lagi.
Hahaha.
Tapi perjalanan seperti Pamukkale ke Cappadocia memang panjang.
Kalau traveling mandiri dengan waktu terbatas, jangan otomatis memilih bus hanya karena terlihat lebih murah.
Kadang tiket pesawat domestik yang waktunya tepat membuat itinerary jauh lebih nyaman.
9. Di Istanbul, Gunakan Transportasi Umum
Istanbul punya jaringan:
- metro
- tram
- bus
- ferry
- Marmaray
- funicular
Jadi tidak perlu selalu naik taksi.
Untuk pembayaran transportasi, Istanbul punya İstanbulkart, sistem kartu transportasi dan pembayaran kota. Situs resminya masih mencatat kartu ini digunakan untuk transportasi Istanbul, dan versi mobile juga mendukung pembayaran transportasi dengan QR.
Buat turis, tram sangat berguna terutama di area wisata utama.
Hagia Sophia, Blue Mosque, dan Grand Bazaar misalnya berada di koridor yang relatif mudah dijangkau.
Ferry juga jangan dianggap sekadar transportasi.
Naik ferry menyeberangi Bosphorus sendiri sudah seperti wisata murah.
Pemandangannya bagus.
10. Jangan Terlalu Terobsesi dengan Taksi
Saya tidak bilang jangan naik taksi sama sekali.
Kadang perlu.
Apalagi membawa koper.
Tapi di Istanbul, kalau tujuan bisa dicapai dengan metro atau tram, saya lebih suka transportasi umum.
Selain lebih mudah menghitung biaya, kita juga tidak terlalu tergantung kondisi lalu lintas.
Karena macet Istanbul bisa mengingatkan kita pada sesuatu.
Jakarta.
Jauh-jauh pergi…
ketemu macet lagi.
Hahaha.
11. Bawa Turkish Lira, Tapi Tidak Perlu Semua Uang dalam Cash
Mata uang Türkiye adalah Turkish Lira atau TRY.
Untuk tempat wisata besar, hotel, restoran, department store, dan banyak toko di kota besar, pembayaran kartu cukup umum.
Tapi saya tetap menyarankan punya uang tunai.
Berguna untuk:
- kios kecil
- pasar
- toilet berbayar
- jajanan
- tip
- transaksi kecil
Saya tidak akan menulis kurs “Rp sekian = 1 Lira” di sini karena nilai tukar bisa berubah cepat.
Sebelum berangkat, cek exchange rate aktual.
Dan jangan menukar seluruh uang di bandara kalau rate-nya ternyata kurang bagus.
12. Sebaiknya Bawa Euro atau USD?
Kalau bertanya mata uang asing apa yang praktis dijadikan cadangan, Euro atau US Dollar sama-sama relatif mudah ditukar di kota wisata.
Tapi untuk transaksi sehari-hari saya lebih nyaman tetap menggunakan Turkish Lira.
Jangan punya kebiasaan melihat angka harga lalu otomatis mengalikannya dalam kepala setiap lima menit.
Capek.
Apalagi setelah beberapa hari.
Saya biasanya baru menghitung kalau barangnya agak mahal.
Kalau beli simit?
Ya beli saja simitnya.
13. Aktifkan Kartu untuk Transaksi Internasional Sebelum Berangkat
Ini saya selalu lakukan kalau pergi ke luar negeri.
Pastikan:
- kartu debit/kredit bisa dipakai internasional
- tahu PIN
- nomor telepon untuk OTP masih aktif
- tahu biaya transaksi asing
- punya minimal satu kartu cadangan
Jangan menyimpan semua kartu dan cash di satu dompet.
Kalau dompet hilang, jangan sekalian semua sumber dana ikut liburan.
Pisahkan.
14. Internet Itu Penting, Bukan Cuma untuk Upload Instagram
Internet saat traveling sekarang menurut saya hampir wajib.
Bukan cuma buat posting foto.
Lebih penting untuk:
- Google Maps
- tiket elektronik
- booking hotel
- aplikasi maskapai
- translate
- transportasi
- mobile banking
Pilihannya bisa roaming Indonesia, SIM lokal, atau eSIM kalau handphone mendukung.
Saya tidak akan merekomendasikan satu paket harga tertentu di artikel ini karena operator dan tarif cepat berubah.
Yang penting, urus sebelum hari pertama benar-benar dimulai.
Jangan baru sadar butuh internet ketika berdiri di luar bandara Istanbul sambil mencari hotel.
15. Download Offline Map Sebelum Berangkat
Ini tips kecil tapi berguna.
Download area Google Maps yang dibutuhkan sebelum terbang.
Terutama:
- Istanbul
- Cappadocia
- kota lain dalam itinerary
Kalau internet tiba-tiba bermasalah, setidaknya peta dasar masih ada.
Saya juga biasanya screenshot:
- alamat hotel
- booking
- tiket
- lokasi meeting point
- detail penerbangan
Memang kelihatannya kuno.
Sampai internet mati.
Baru terasa gunanya.
16. Jangan Packing Berdasarkan Kata “Summer” atau “Winter” Saja
Ini yang saya alami sendiri.
Pergi bulan Juni.
Summer.
Saya pikir cukup pakaian summer.
Tapi di Cappadocia pagi-pagi udara tetap terasa dingin.
Makanya saya selalu menyarankan layering.
Kalau spring atau autumn:
kaos + cardigan + jaket ringan.
Kalau summer:
pakaian breathable + satu outer.
Kalau winter:
thermal + sweater/fleece + winter coat.
Dan selalu cek forecast kota demi kota beberapa hari sebelum berangkat.
Turki bukan cuma Istanbul.
17. Sepatu Nyaman Jauh Lebih Penting daripada Sepatu Cantik
Salah satu kesalahan traveling yang pernah kita semua lakukan:
memilih sepatu berdasarkan foto.
Padahal di Turki banyak area:
- jalan berbatu
- permukaan tidak rata
- bukit
- reruntuhan
- tangga
- area luas
Ephesus misalnya bisa membuat kita berjalan lumayan jauh.
Pamukkale juga.
Istanbul apalagi.
Jadi kalau harus memilih antara:
sepatu super aesthetic tapi bikin kaki lecet
atau
sepatu yang sudah terbukti nyaman…
saya pilih yang kedua.
Nanti fotonya tinggal crop kaki.
Hahaha.
18. Kalau Masuk Masjid, Perhatikan Pakaiannya
Turki memang negara sekuler, tapi ketika masuk masjid tetap ada aturan berpakaian.
Secara umum:
- pakaian sopan
- bahu dan kaki tertutup
- perempuan biasanya perlu menutup rambut
- sepatu dilepas sebelum masuk area salat
Masjid besar yang sering dikunjungi wisatawan biasanya menyediakan penutup kepala atau penutup tambahan jika diperlukan.
Tapi saya lebih nyaman membawa scarf sendiri.
Ringan.
Tidak makan tempat.
Dan berguna juga kalau tiba-tiba dingin.
19. Jangan Datang ke Masjid Tepat Saat Waktu Salat Kalau Tujuannya Sightseeing
Hagia Sophia dan Blue Mosque adalah tempat ibadah aktif.
Jadi ritme kunjungannya berbeda dari museum biasa.
Kalau datang mendekati waktu salat, akses wisatawan dapat dibatasi sementara.
Menurut saya lebih baik cek jadwal dan datang di sela waktu ibadah.
Selain lebih nyaman untuk kita, juga lebih menghormati orang yang memang datang untuk beribadah.
20. Turkish Breakfast Layak Diberi Satu Pagi Khusus
Jangan setiap pagi hanya makan buffet hotel lalu buru-buru pergi.
Kalau itinerary memungkinkan, sisakan satu pagi untuk mencoba serpme kahvaltı.
Turkish breakfast lengkap bisa berisi:
- berbagai keju
- zaitun
- tomat
- mentimun
- menemen
- sucuk
- simit
- börek
- madu dan kaymak
- selai
- teh Turki
Dan makannya memang bukan untuk buru-buru.
Duduk.
Ngobrol.
Ambil roti.
Minum çay.
Tambah lagi.
Saya sudah menulis khusus tentang Turkish Breakfast karena ternyata budaya sarapan Turki jauh lebih menarik daripada yang dulu saya pahami dari buffet hotel.
21. Jangan Cuma Makan Kebab
Kebab memang enak.
Tapi Turki jauh lebih luas dari kebab.
Coba juga:
- menemen
- mantı
- pide
- lahmacun
- köfte
- gözleme
- mercimek çorbası
- börek
- dolma
- baklava
- künefe
- lokum
Saya waktu trip pertama justru agak kebanyakan makan daging.
Sampai di hari tertentu mulai senang ketika melihat sayuran.
Hahaha.
Kalau perjalanan panjang, variasikan makanannya.
22. Air Minum Sebaiknya Selalu Ada di Tas
Apalagi saat mengunjungi area terbuka seperti Ephesus atau Pamukkale.
Berjalan jauh di udara panas dan baru sadar tidak bawa air itu tidak menyenangkan.
Beli sebelum masuk kawasan wisata kalau diperbolehkan.
Dan di penerbangan atau perjalanan bus panjang, saya juga selalu bawa botol kecil.
23. Hati-Hati Kalau Belanja di Area Turis
Grand Bazaar menarik.
Seru.
Dan berbahaya untuk dompet.
Hahaha.
Jangan merasa harus membeli dari toko pertama.
Lihat dulu beberapa toko.
Bandingkan.
Dan kalau harga tidak dipasang, jangan malu bertanya.
Untuk barang bernilai tinggi seperti karpet, perhiasan, atau leather goods, saya lebih hati-hati lagi.
Jangan membeli hanya karena merasa sungkan setelah diberi teh satu gelas.
Tehnya gratis.
Karpetnya tidak.
24. Tidak Semua Stop dari Paket Tour Perlu Ditiru Kalau Traveling Mandiri
Ini salah satu pelajaran dari itinerary saya.
Saat ikut tour, ada beberapa kunjungan ke:
- leather outlet
- carpet workshop
- jewellery
- Turkish delight shop
- pottery workshop
Sebagian memang menarik.
Tapi kalau waktu terbatas dan jalan sendiri, tidak semuanya harus dimasukkan.
Saya lebih memilih menggunakan waktu ekstra untuk:
Ephesus.
Istanbul.
Cappadocia.
Atau sekadar duduk makan santai.
Itinerary tour dan itinerary independen memang tidak harus sama.
25. Untuk Hot Air Balloon, Booking Lebih Awal
Kalau naik balon udara Cappadocia adalah alasan utama datang, jangan menunggu sampai tiba di hotel baru mencari tiket.
Pada periode ramai, slot bisa cepat habis.
Dan kembali lagi:
buat Cappadocia minimal dua malam kalau memungkinkan.
Karena booking ada bukan berarti balon pasti terbang.
Cuaca tetap punya keputusan terakhir.
26. Sisakan Ruang di Koper untuk Oleh-Oleh
Ini pengalaman klasik.
Berangkat koper rapi.
Pulang?
Ada Turkish delight.
Teh.
Keramik.
Scarf.
Makanan.
Souvenir.
Entah apa lagi.
Lalu acara timbang koper dimulai.
Saya bahkan pernah sampai beres-beres isi koper lagi di bandara pada akhir perjalanan.
Jadi sekarang saya lebih suka berangkat dengan sedikit ruang kosong.
Supaya nggak panik di akhir.
27. Belajar Beberapa Kata Bahasa Turki
Di kawasan wisata, bahasa Inggris cukup membantu.
Tapi tidak semua orang akan lancar berbahasa Inggris.
Beberapa kata Turki sederhana sudah lumayan:
Merhaba
Halo.
Teşekkür ederim
Terima kasih.
Lütfen
Tolong/please.
Evet
Ya.
Hayır
Tidak.
Ne kadar?
Berapa?
Lucunya, kadang baru bisa bilang “Merhaba” saja orang lokal sudah senang.
Lalu mereka membalas panjang dalam bahasa Turki.
Kita bengong.
Hahaha.
Tapi setidaknya niatnya ada.
28. Jangan Berasumsi Semua Orang Turki Sama
Turki besar dan masyarakatnya beragam.
Istanbul berbeda dengan Konya.
Kota wisata berbeda dengan desa.
Generasi muda tidak selalu punya kebiasaan yang sama dengan orang tua.
Ada masyarakat yang religius.
Ada yang sekuler.
Ada yang konservatif.
Ada yang sangat modern.
Jadi nikmati perjalanan tanpa terlalu banyak datang membawa stereotip.
Saya justru lebih suka mengamati hal-hal kecil selama perjalanan dan membiarkan pengalaman terbentuk sendiri.
29. Simpan Dokumen Penting Secara Digital
Saya biasanya punya versi digital untuk:
- paspor
- tiket
- hotel
- asuransi
- itinerary
- booking aktivitas
Simpan di cloud dan juga offline di handphone.
Foto halaman biodata paspor juga saya simpan terpisah.
Kalau terjadi sesuatu dengan dokumen asli, setidaknya informasi dasarnya masih ada.
30. Travel Insurance Tetap Layak Dipertimbangkan
Apalagi untuk perjalanan internasional dengan beberapa kota.
Flight delay.
Bagasi.
Masalah kesehatan.
Pembatalan.
Aktivitas tertentu.
Semuanya bisa terjadi.
Baca polisnya, jangan cuma membeli karena paling murah.
Kalau punya rencana aktivitas seperti hot air balloon atau olahraga tertentu, cek apakah aktivitas tersebut termasuk dalam cakupan polis.
31. Jangan Membuat Jadwal Terlalu Ketat di Hari Pertama
Jakarta–Istanbul itu penerbangan panjang.
Saya dulu tiba lalu langsung keliling Istanbul karena memang ikut tour.
Hagia Sophia.
Blue Mosque.
Hippodrome.
Bosphorus.
Baru malam masuk hotel.
Bisa?
Bisa.
Capek?
Ya jelas.
Hahaha.
Kalau jalan sendiri, saya sekarang mungkin akan membuat hari pertama sedikit lebih santai.
Apalagi kalau tubuh gampang kena jet lag.
Tidak perlu membuktikan apa-apa ke Google Maps.
32. Google Maps Bagus, Tapi Jangan Sepenuhnya Percaya Estimasi Jalan Kaki
Terutama di kota lama.
Kadang kelihatannya:
“Cuma 900 meter.”
Ternyata naik.
Turun.
Batu.
Tangga.
Muter.
Lalu mampir toko.
Tahu-tahu sudah setengah jam.
Gunakan peta sebagai panduan, tapi kasih buffer.
Traveling bukan lomba ketepatan ETA.
33. Foto Boleh Banyak, Tapi Jangan Sampai Tidak Melihat Tempatnya
Saya blogger.
Tentu saja foto banyak.
Kadang sangat banyak.
Hahaha.
Tapi semakin sering traveling, saya makin merasa ada momen yang memang lebih enak dilihat langsung.
Cappadocia dari balon misalnya.
Bosphorus.
Interior masjid.
Pamukkale.
Ambil foto.
Tapi setelah itu turunkan handphone sebentar.
Karena lucu juga kalau sudah terbang belasan jam ke Turki tapi akhirnya melihat semuanya dari layar 6 inci.
34. Untuk Perjalanan Pertama, Jangan Merasa Harus Melihat Seluruh Turki
Turki punya 81 provinsi.
Jadi nggak mungkin selesai sekali jalan.
Perjalanan pertama saya saja sudah melewati banyak kota, tapi setelah pulang malah daftar tempat yang ingin didatangi bertambah.
Antalya.
Gaziantep.
Mardin.
Şanlıurfa.
Trabzon.
Bodrum.
Black Sea.
Belum selesai.
Jadi nggak apa-apa kalau perjalanan pertama hanya Istanbul dan Cappadocia.
Atau Istanbul + Ephesus + Pamukkale.
Atau justru hanya Istanbul satu minggu.
Tidak ada itinerary yang harus sama.
Tips Liburan ke Turki yang Paling Penting Menurut Saya
Kalau semua tips tadi terlalu panjang untuk diingat, saya akan merangkumnya menjadi beberapa hal saja.
Jangan terlalu padat membuat itinerary.
Cek cuaca per kota, bukan cuma “cuaca Turki”.
Bawa sepatu yang benar-benar nyaman.
Berikan waktu lebih dari satu malam untuk Cappadocia kalau mengejar balon udara.
Pakai transportasi umum ketika berada di Istanbul.
Jangan membawa semua uang dalam bentuk cash.
Coba makanan di luar kebab.
Dan sisakan sedikit waktu untuk tidak melakukan apa-apa.
Karena setelah beberapa kali traveling, justru momen yang tidak direncanakan kadang paling diingat.
Duduk sambil minum çay.
Masuk toko kecil.
Naik ferry.
Ngobrol meskipun bahasa campur aduk.
Atau sekadar berjalan tanpa mengejar tempat berikutnya.
Apakah Turki Cocok untuk First Timer ke Luar Negeri?
Menurut saya iya.
Terutama kalau sudah cukup nyaman melakukan perjalanan internasional sendiri.
Destinasinya banyak.
Transportasi antarkota cukup beragam.
Istanbul punya transportasi publik yang luas.
Makanan relatif gampang diterima lidah Indonesia.
Dan secara budaya, ada banyak hal yang terasa familiar sekaligus tetap berbeda.
Yang agak menantang justru jarak antarkota dan godaan memasukkan terlalu banyak destinasi.
Jadi kuncinya bukan membuat itinerary sepanjang mungkin.
Justru tahu kapan harus berhenti menambahkan kota.
Turki tidak akan ke mana-mana.
Kalau belum sempat sekarang…
ya bisa balik lagi.
Saya juga begitu.
Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya traveling di Turki. Informasi yang mudah berubah seperti ketentuan visa, transportasi, harga, jam operasional, SIM card, dan aturan masuk tempat wisata saya sarankan selalu dicek kembali melalui sumber resmi sebelum berangkat.
