Turkish Breakfast
Turkish Breakfast: Mengenal Kahvaltı dan Isi Sarapan Khas Turki
Kalau ada satu kebiasaan makan di Turki yang menurut saya wajib dicoba setidaknya sekali, jawabannya bukan cuma kebab.
Tapi Turkish breakfast.
Saya pertama kali benar-benar memperhatikan sarapan ala Turki ketika tiba di Istanbul pada Juni 2019. Setelah penerbangan panjang dengan Turkish Airlines dari Jakarta, rombongan kami langsung menuju Crowne Plaza Istanbul Old City untuk sarapan.
Padahal di pesawat sebenarnya sudah makan.
Tapi ya namanya baru sampai Turki.
Semangat makannya beda.
Hahaha.
Waktu itu saya melihat meja sarapan penuh roti, keju, zaitun, telur, selai, madu, sucuk, sayuran segar, dan tentu saja teh Turki.
Saya sempat berpikir:
“Orang Turki memang sarapannya sebanyak ini?”
Setelah beberapa kali ke Turki dan makin mengenal makanannya, saya akhirnya paham bahwa Turkish breakfast bukan cuma soal apa yang dimakan.
Ada budaya duduk, berbagi makanan, minum teh, ngobrol panjang, dan tidak terburu-buru.
Dan kalau bertemu versi yang benar-benar lengkap, meja sarapannya memang bisa penuh sekali.
Apa Itu Turkish Breakfast?
Turkish breakfast adalah tradisi sarapan khas Turki yang disebut kahvaltı. Sarapan ini biasanya terdiri dari berbagai makanan kecil yang disajikan bersamaan, seperti keju, zaitun, tomat, mentimun, telur, roti, selai, madu, kaymak, serta teh Turki.
Versi yang lebih lengkap sering disebut serpme kahvaltı.
Kata serpme kurang lebih menggambarkan makanan yang “disebarkan” di atas meja. Jadi bukan satu piring besar untuk satu orang, tetapi banyak piring kecil yang diletakkan di tengah untuk dimakan bersama.
Dan kalau bilang banyak, memang banyak.
Kadang mejanya sampai nyaris tidak kelihatan.
Ada mangkuk kecil isi madu.
Ada keju.
Zaitun.
Tomat.
Mentimun.
Telur.
Selai.
Kaymak.
Sucuk.
Menemen.
Börek.
Simit.
Roti.
Belum tehnya.
Itu baru sarapan.
Kenapa Disebut Kahvaltı?
Ini bagian yang menurut saya menarik.
Dalam bahasa Turki, sarapan disebut kahvaltı.
Kata tersebut berasal dari kahve yang berarti kopi dan altı yang secara harfiah berarti “di bawah” atau dalam konteks ini dipahami sebagai sesuatu yang dimakan sebelum kopi.
Tradisinya dahulu adalah makan sesuatu terlebih dahulu sebelum minum Turkish coffee yang cukup kuat.
Makanya kahve altı lama-kelamaan menjadi kahvaltı.
Lucunya, sekarang saat sarapan justru yang paling sering terlihat bukan kopi.
Tapi çay, teh hitam Turki.
Tehnya bisa datang terus.
Dan terus.
Dan terus.
Kalau gelas kosong, rasanya tinggal tunggu sebentar nanti muncul lagi.
Turkish Breakfast Bukan Cuma Satu Jenis Sarapan
Ini juga yang dulu saya kurang pahami.
Tidak semua orang Turki setiap pagi bangun lalu menyiapkan 20 piring kecil di meja.
Ya capek juga.
Hahaha.
Ada sarapan sehari-hari yang jauh lebih sederhana. Misalnya roti, keju, zaitun, telur, tomat, mentimun, dan teh.
Ada juga orang yang cuma mengambil simit dan teh sebelum berangkat kerja.
Sementara serpme kahvaltı yang lengkap lebih sering dinikmati ketika punya waktu lebih panjang, misalnya saat akhir pekan, liburan, berkumpul bersama keluarga, atau makan di café dan restoran.
Jadi kalau melihat foto Turkish breakfast di Instagram yang mejanya penuh sampai tidak ada ruang untuk meletakkan handphone, itu bukan berarti setiap pagi semua rumah di Turki seperti itu.
Untunglah.
Saya saja membayangkan cucian piringnya sudah lelah duluan.
Apa Saja Isi Turkish Breakfast?
Tidak ada satu menu yang benar-benar wajib sama di seluruh Turki.
Setiap daerah bisa punya makanan khas masing-masing.
Tapi ada beberapa makanan yang sangat umum ditemukan dalam Turkish breakfast.
1. Keju Turki
Kalau suka keju, Turkish breakfast mungkin akan menyenangkan.
Kalau seperti saya…
ya perlu adaptasi sedikit.
Hahaha.
Keju termasuk salah satu bagian penting dari meja sarapan Turki.
Jenisnya bisa bermacam-macam, misalnya:
- beyaz peynir, keju putih yang sekilas mirip feta
- kaşar, keju kuning dengan rasa yang biasanya lebih mudah diterima lidah saya
- tulum, keju dengan rasa lebih kuat
- berbagai keju lokal lain tergantung daerah
Waktu pertama mencoba beberapa keju di hotel Istanbul, saya agak kaget.
Saya terbiasa dengan keju di Indonesia yang rasanya creamy, asin, dan gampang dimakan begitu saja.
Beberapa keju Turki yang saya coba rasanya jauh lebih tajam.
Ada yang asam.
Ada yang aromanya cukup kuat.
Reaksi pertama saya waktu itu kurang lebih:
“Hmm… menarik.”
Bahasa halusnya begitu.
Hahaha.
Tapi setelah mencoba beberapa jenis, ternyata memang tidak semuanya terasa seperti itu.
Dan sekarang saya justru mengerti kenapa keju hampir selalu muncul dalam Turkish breakfast.
Dimakan bersama roti, tomat, zaitun, atau madu, rasanya jadi berbeda.
2. Zaitun Hijau dan Hitam
Ini juga hampir selalu saya lihat.
Ada zaitun hijau.
Ada zaitun hitam.
Kadang sudah dibumbui minyak zaitun dan rempah.
Dulu saya tidak suka.
Sama sekali.
Buat saya rasanya aneh karena di Indonesia saya lebih familiar dengan minyak zaitun daripada buah zaitunnya langsung.
Jadi ketika melihat satu mangkuk penuh zaitun untuk sarapan, saya sempat berpikir:
“Ini serius dimakan begitu saja?”
Ternyata serius.
Dan banyak orang Turki memang menyukainya.
Saya sampai sekarang masih belum akan berebut zaitun di meja sarapan.
Silakan yang lain dulu.
3. Tomat, Mentimun, dan Sayuran Segar
Salah satu hal yang saya suka dari Turkish breakfast adalah selalu ada unsur segarnya.
Biasanya ada irisan:
- tomat
- mentimun
- paprika
- berbagai herbs atau daun segar
Penyajiannya sederhana.
Kadang hanya diberi sedikit olive oil atau bumbu.
Tidak harus pakai mayonnaise atau dressing yang berat.
Awalnya terlihat terlalu polos.
Tapi kalau dimakan bersama keju, telur, dan roti, ternyata justru pas.
4. Telur
Telur termasuk menu yang sangat umum dalam sarapan Turki.
Versinya macam-macam.
Bisa telur rebus.
Telur goreng.
Omelet.
Atau salah satu favorit Turkish breakfast:
menemen.
Menemen dibuat dari telur yang dimasak bersama tomat dan paprika hijau. Ada versi yang memakai bawang dan ada yang tidak, dan rupanya soal bawang ini juga bisa jadi perdebatan.
Saya pribadi tidak mau ikut campur.
Takut perang menemen.
Hahaha.
Menemen biasanya dimakan dengan roti.
Roti dicocol langsung ke bagian telur dan saus tomatnya.
Enak.
Dan jauh lebih menarik daripada sekadar scrambled egg hotel.
5. Sucuk dan Sucuklu Yumurta
Sucuk adalah sosis kering berbumbu yang populer di Turki.
Rasanya cukup kuat karena dibumbui antara lain dengan bawang putih dan rempah.
Salah satu cara makan yang populer adalah dimasak bersama telur menjadi sucuklu yumurta.
Sucuk digoreng terlebih dahulu sampai minyak dan aromanya keluar, kemudian telur dimasukkan ke dalam pan yang sama.
Ini salah satu menu Turkish breakfast yang menurut saya relatif mudah disukai orang Indonesia.
Telur.
Sosis.
Gurih.
Sulit salah.
6. Simit
Kalau ada roti yang paling identik dengan Turki, salah satunya pasti simit.
Bentuknya bulat seperti cincin besar dan bagian luarnya dipenuhi wijen.
Simit bukan cuma makanan sarapan.
Di Istanbul, simit bisa ditemukan di mana-mana.
Ada di bakery.
Ada di café.
Ada juga di gerobak-gerobak merah di pinggir jalan.
Teksturnya lebih chewy daripada roti Indonesia yang biasanya lembut dan empuk.
Waktu pertama makan, saya malah bilang rotinya keras.
Ya maklum.
Lidah saya terbiasa roti yang kalau ditekan balik lagi seperti kasur.
Hahaha.
Tapi simit enak dimakan bersama keju, selai, madu, atau hanya ditemani teh panas.
7. Börek
Selain simit, meja sarapan juga sering berisi börek.
Ini pastry gurih yang dibuat dari lapisan adonan tipis dengan berbagai isian.
Isinya bisa:
- keju
- bayam
- daging
- kentang
Bentuk dan cara pembuatannya pun bermacam-macam.
Kalau sedang menginap di hotel di Turki, kemungkinan besar akan menemukan salah satu versi börek di buffet sarapan.
Kalau saya harus memilih antara roti keras dengan börek…
saya biasanya geser ke börek.
Hahaha.
8. Bal Kaymak: Madu dan Kaymak
Nah, yang ini enak.
Bal berarti madu.
Kaymak adalah produk susu creamy yang teksturnya kurang lebih seperti clotted cream.
Keduanya sering disantap bersama.
Ambil roti.
Oles kaymak.
Tambahkan madu.
Selesai.
Manis, creamy, dan berbahaya karena gampang nambah.
Menurut saya ini salah satu kombinasi Turkish breakfast yang wajib dicoba kalau pertama kali makan kahvaltı lengkap.
9. Selai
Orang Turki juga suka menyajikan berbagai selai saat sarapan.
Tidak hanya strawberry seperti yang paling sering kita lihat di hotel-hotel Indonesia.
Tergantung tempatnya, bisa ada:
- cherry
- apricot
- fig
- rose
- berbagai buah lokal lain
Di hotel tempat saya pertama kali sarapan di Istanbul, pilihan selainya cukup banyak.
Kalau menemui homemade jam di restoran kecil atau daerah pedesaan, malah biasanya lebih menarik lagi.
10. Tahin Pekmez
Ini salah satu pasangan yang sering muncul dalam Turkish breakfast tetapi mungkin belum terlalu familiar untuk orang Indonesia.
Tahin adalah pasta wijen.
Pekmez adalah molasses atau sirup pekat yang biasanya dibuat dari anggur atau buah lainnya.
Keduanya dicampur lalu dimakan bersama roti.
Rasanya manis, nutty, dan cukup mengenyangkan.
Kalau suka tahini, kemungkinan besar akan suka kombinasi ini.
11. Acuka dan Berbagai Spread
Pada meja Turkish breakfast yang lengkap juga bisa muncul berbagai saus dan spread.
Salah satunya acuka, pasta berwarna merah yang umumnya terbuat dari paprika merah, walnut, rempah, dan bahan lain tergantung resep.
Cara makannya?
Ya kembali lagi ke benda paling penting dalam kehidupan sarapan Turki:
roti.
Oles.
Makan.
12. Çay, Bukan Turkish Coffee
Nah ini salah satu hal yang menurut saya sering salah dibayangkan orang.
Namanya memang kahvaltı, yang asal katanya berhubungan dengan kopi.
Tapi minuman yang paling umum menemani Turkish breakfast sekarang justru çay, teh hitam Turki.
Tehnya disajikan di gelas kecil berbentuk tulip.
Warnanya merah gelap.
Dan biasanya datang dalam keadaan…
panas sekali.
Entah bagaimana orang Turki bisa langsung menyeruputnya.
Saya biasanya masih tiup-tiup gelas sementara orang sebelah sudah masuk gelas kedua.
Turkish coffee lebih sering diminum setelah sarapan.
Jadi kalau ingin sarapan seperti orang lokal, pesan çay dulu.
Kopinya belakangan.
Serpme Kahvaltı, Sarapan yang Mejanya Penuh
Kalau ingin merasakan versi Turkish breakfast yang sering muncul di foto-foto, cari restoran yang menawarkan serpme kahvaltı.
Biasanya makanan datang dalam banyak piring kecil sekaligus.
Konsepnya memang untuk sharing.
Jadi paling enak datang berdua atau ramai-ramai.
Isi setiap restoran bisa berbeda, tetapi biasanya ada kombinasi:
- beberapa jenis keju
- zaitun
- tomat dan mentimun
- madu dan kaymak
- selai
- tahin pekmez
- telur atau menemen
- sucuk
- börek
- simit dan berbagai roti
- teh
Lalu makan perlahan.
Ngobrol.
Ambil roti.
Minum teh.
Ngobrol lagi.
Tambah keju.
Tambah teh lagi.
Kalau sarapan Indonesia sering terasa seperti persiapan sebelum memulai aktivitas, serpme kahvaltı justru bisa menjadi aktivitasnya sendiri.
Turkish Breakfast Bisa Berbeda di Setiap Daerah
Ini yang membuat artikel lama saya dulu terlalu menyederhanakan Turkish breakfast.
Ternyata sarapan Turki sangat regional.
Apa yang kita temukan di Istanbul belum tentu sama dengan yang ada di Van, Trabzon, atau Gaziantep.
Van Breakfast
Van kahvaltısı mungkin salah satu regional Turkish breakfast yang paling terkenal.
Van berada di Turki bagian timur dan punya budaya sarapan yang sangat kuat.
Mejanya bisa berisi keju herba khas Van, madu, kaymak, berbagai jenis keju, telur dengan sucuk atau kavurma, murtuğa, kavut, roti, serta teh dari samovar.
Kalau saya suatu saat kembali ke Turki dan punya kesempatan ke Van, ini salah satu hal yang ingin saya coba.
Datang jauh-jauh demi sarapan?
Kenapa tidak.
Saya pernah melakukan hal yang lebih tidak masuk akal demi makanan.
Sarapan di Kawasan Black Sea
Di kawasan Black Sea, sarapan bisa menghadirkan makanan yang berbeda lagi.
Salah satu yang terkenal adalah mıhlama atau kuymak, makanan berbahan corn flour, butter, dan keju yang dimasak sampai creamy dan kejunya bisa ditarik panjang.
Bayangkan perpaduan bubur jagung dengan keju meleleh.
Tapi jauh lebih buttery.
Kalau melihat videonya saja sudah bikin lapar.
Sarapan di Gaziantep
Nah, Gaziantep lain lagi.
Kota yang terkenal dengan kulinernya ini punya sarapan yang jauh lebih berat.
Menu pagi bahkan bisa mencakup beyran, sup daging dan nasi yang disajikan panas, sampai hidangan seperti liver dan katmer.
Iya.
Liver untuk sarapan.
Orang Indonesia makan nasi uduk pagi-pagi sebenarnya sudah tidak bisa komentar banyak juga sih.
Hahaha.
Pengalaman Pertama Saya Mencoba Turkish Breakfast di Istanbul
Turkish breakfast pertama yang saya tulis di blog sebenarnya bukan serpme kahvaltı tradisional di café lokal.
Saya mencobanya di Crowne Plaza Istanbul Old City pada 19 Juni 2019.
Kami baru turun dari penerbangan Turkish Airlines dari Jakarta.
Muka sudah sedikit lecek.
Tapi bahagia.
Dan lapar lagi, meskipun beberapa jam sebelumnya sebenarnya sudah sarapan di pesawat.
Hotel ini berada di kawasan Old City Istanbul, tidak terlalu jauh dari Grand Bazaar.
Bangunannya terasa klasik sekali.
Begitu masuk ke area restoran, buffet-nya tentu tidak hanya menyediakan makanan Turki.
Ada pilihan internasional juga.
Jadi pengalaman pertama saya waktu itu memang bukan contoh paling autentik dari serpme kahvaltı.
Tapi justru dari sana saya mulai memperhatikan satu per satu makanan yang ternyata memang umum dalam sarapan Turki.
Ada berbagai keju.
Zaitun.
Telur.
Sucuk.
Roti.
Simit.
Pastry.
Selai.
Madu.
Sayuran segar.
Dan teh.
Waktu itu saya masih sangat pemilih.
Keju yang baunya kuat saya hindari.
Zaitun saya coba sedikit lalu menyerah.
Sayuran diambil secukupnya.
Akhirnya piring saya malah terlihat cukup standar.
Jauh-jauh ke Turki, isi piring masih mencari yang aman.
Hahaha.
Apakah Sarapan di Hotel Sama dengan Turkish Breakfast Tradisional?
Tidak selalu.
Ini salah satu hal yang sekarang ingin saya koreksi dari tulisan lama.
Hotel besar biasanya melayani tamu internasional, sehingga buffet sarapannya merupakan campuran makanan lokal dan internasional.
Kita bisa menemukan simit dan sucuk.
Tapi di sebelahnya mungkin ada croissant.
Cereal.
Pancake.
Kentang.
Atau menu sarapan hotel internasional lainnya.
Kalau ingin merasakan Turkish breakfast yang lebih tradisional, saya justru menyarankan mencari tempat yang memang menawarkan serpme kahvaltı.
Terutama café atau restoran yang memang dikenal untuk sarapan.
Di Istanbul, budaya breakfast café cukup kuat, terutama di area seperti Beşiktaş dan Kadıköy.
Kalau menginap di Sultanahmet atau Old City dan waktunya terbatas, sarapan hotel tentu lebih praktis.
Tapi kalau punya satu pagi kosong?
Keluar.
Cari kahvaltı.
Duduk agak lama.
Jangan buat jadwal jam 08.00 sarapan lalu 08.20 sudah harus masuk Hagia Sophia.
Nggak cocok.
Jam Berapa Orang Turki Sarapan?
Tidak ada satu jam resmi untuk sarapan di Turki.
Pada hari kerja, tentu banyak orang sarapan cepat sebelum memulai aktivitas.
Tapi pada akhir pekan, sarapan bisa dimulai lebih lambat dan berlangsung cukup lama.
Inilah konteks yang lebih tepat daripada mengatakan semua orang Turki baru sarapan jam 10 pagi.
Kalau sedang liburan, justru saya suka versi lambat seperti ini.
Datang sekitar pukul 09.00 atau 10.00.
Pesan meja penuh makanan.
Lalu baru mulai jalan setelah selesai.
Masalahnya kadang selesai sarapan sudah mendekati makan siang.
Tapi setelah serpme kahvaltı, memang belum tentu masih sanggup makan siang.
Jadi, Turkish Breakfast Itu Enak Nggak?
Kalau ditanya sekarang, setelah beberapa kali ke Turki:
iya, tapi tidak semua komponennya menjadi favorit saya.
Saya masih bukan penggemar berat zaitun.
Beberapa keju Turki yang terlalu strong juga tetap tidak bisa membuat saya jatuh cinta.
Tapi saya suka menemen.
Sucuk.
Simit.
Börek.
Bal kaymak.
Selai.
Dan tentu saja çay.
Yang paling saya suka sebenarnya justru konsepnya.
Sarapan tidak buru-buru.
Banyak makanan ditaruh di tengah.
Semua ambil sedikit-sedikit.
Ngobrol.
Tambah teh.
Ambil roti lagi.
Buat saya, itu yang membuat Turkish breakfast berbeda.
Bukan karena ada satu makanan spektakuler yang harus dicoba.
Tapi karena seluruh meja adalah pengalamannya.
Jadi kalau suatu hari ke Turki, jangan cuma mencari kebab, baklava, atau Turkish coffee.
Sisakan satu pagi untuk kahvaltı.
Dan kalau bisa, jangan sarapan sendirian.
Karena semakin ramai orang di meja…
semakin masuk akal jumlah makanannya.
Pengalaman pribadi dalam tulisan ini berasal dari perjalanan saya ke Turki, termasuk sarapan di Crowne Plaza Istanbul Old City pada 19 Juni 2019. Menu Turkish breakfast dapat berbeda menurut daerah, rumah, restoran, dan gaya penyajiannya.
