Oleh-Oleh Khas Turki
Oleh-Oleh Khas Turki: Apa yang Worth It Dibawa Pulang?
Kalau pergi ke Turki, salah satu cobaan terbesarnya ternyata bukan jalan kaki seharian.
Tapi belanja.
Hahaha.
Serius.
Masuk Grand Bazaar saja rasanya hampir semua benda ingin dibawa pulang.
Lampu mosaik cantik.
Piring keramik warna-warni.
Gelas teh Turki.
Pouch.
Turkish delight.
Kopi.
Rempah.
Belum karpet.
Untung yang terakhir langsung sadar diri karena membayangkan berat kopernya.
Saya sendiri waktu traveling ke Turki membeli beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Indonesia. Ada piring keramik, pouch bermotif Turki, buku dan diary, makanan, serta beberapa souvenir kecil.
Setelah melihat lagi foto-foto perjalanan lama, saya malah baru sadar betapa banyaknya pilihan oleh-oleh di sana.
Tapi kalau sekarang ditanya oleh-oleh khas Turki apa yang benar-benar worth it dibeli, saya tidak akan menjawab dengan daftar sepanjang mungkin.
Saya justru akan memilih yang memang khas, enak atau berguna setelah dibawa pulang, dan tidak membuat kita menyesal ketika menimbang koper di bandara.
Oleh-Oleh Khas Turki Apa yang Paling Terkenal?
Kalau ingin versi singkatnya dulu, beberapa oleh-oleh Turki yang menurut saya paling menarik adalah:
| Oleh-oleh | Cocok untuk | Catatan |
|---|---|---|
| Turkish delight atau lokum | keluarga & teman | ringan, banyak pilihan |
| Kopi Turki | pecinta kopi | gampang dibawa |
| Nazar boncuğu | souvenir kecil | sangat identik dengan Turki |
| Keramik İznik | dekorasi rumah | cantik tapi rawan pecah |
| Gelas teh Turki | dekorasi & dipakai | pilih kemasan aman |
| Cezve | pecinta kopi | unik dan fungsional |
| Rempah Turki | yang suka memasak | ringan dan praktis |
| Baklava | pecinta makanan manis | cek daya tahan |
| Peştemal | oleh-oleh tekstil | ringan untuk koper |
| Sabun zaitun | hadiah kecil | mudah dibawa |
| Lampu mosaik | dekorasi | cantik tapi merepotkan |
| Karpet/kilim | kolektor & dekorasi | berat dan perlu teliti |
Kalau saya sendiri harus memilih cuma lima?
Keramik, lokum, kopi Turki, nazar boncuğu, dan textile seperti peştemal atau pouch.
Ini tipe oleh-oleh yang begitu dilihat langsung terasa:
“Oh iya, ini dari Turki.”
1. Turkish Delight atau Lokum
Kalau ada satu makanan yang paling identik dengan oleh-oleh Turki, mungkin lokum.
Di luar Turki kita lebih mengenalnya sebagai Turkish delight.
Bentuknya biasanya potongan kecil, teksturnya kenyal lembut, dan rasanya manis.
Manis banget malah.
Hahaha.
Variannya banyak sekali.
Ada yang rasa:
- mawar
- lemon
- jeruk
- delima
- mint
- pistachio
- hazelnut
- walnut
Sekarang juga banyak versi premium yang bagian dalamnya penuh kacang.
Menurut saya yang seperti ini justru lebih enak daripada lokum polos karena rasa manisnya sedikit terbantu oleh kacangnya.
Kalau membeli untuk dibawa ke Indonesia, pilih kemasan yang tertutup rapat.
Lebih bagus lagi kalau vacuum packed atau boxed dengan baik.
GoTürkiye juga memasukkan lokum sebagai salah satu souvenir makanan paling khas dan menyebut Spice Bazaar sebagai salah satu tempat populer untuk mencarinya.
2. Baklava
Kalau lokum sudah manis, baklava…
ya tidak kalah.
Baklava dibuat dari lapisan pastry tipis dengan kacang, paling sering pistachio atau walnut, kemudian diberi sirup.
Waktu pertama mencoba, saya cuma bisa bilang:
manis banget.
Tapi anehnya tetap ambil lagi.
Hahaha.
Untuk dimakan langsung di Turki saya sangat merekomendasikan.
Kalau mau dijadikan oleh-oleh, cek dulu:
- kapan dibuat
- berapa lama bisa disimpan
- apakah tersedia kemasan khusus perjalanan
- apakah harus disimpan dingin
Jangan membeli terlalu awal di awal perjalanan lalu baru dibawa pulang seminggu kemudian.
Saya lebih suka membelinya mendekati hari pulang.
3. Kopi Turki
Ini menurut saya salah satu oleh-oleh paling gampang.
Kecil.
Ringan.
Tidak gampang pecah.
Dan benar-benar bisa digunakan setelah pulang.
Turkish coffee bukan nama jenis biji kopi tertentu, tetapi mengacu pada cara penggilingan dan penyeduhannya. Kopinya digiling sangat halus lalu secara tradisional dimasak menggunakan cezve.
Kalau suka kopi, beli satu atau beberapa bungkus untuk di rumah.
Di Istanbul, kopi Turki mudah ditemukan di bazaar, toko makanan, supermarket, sampai coffee shop.
GoTürkiye bahkan menyarankan memasangkan kopi Turki dengan cezve dan fincan, cangkir kecil untuk Turkish coffee.
Nah.
Kalau sudah begitu biasanya niat awal cuma beli kopi.
Pulang-pulang bawa satu set.
4. Cezve, Panci Kecil untuk Membuat Turkish Coffee
Kalau mau oleh-oleh yang sedikit lebih spesial, saya suka cezve.
Cezve adalah pot kecil bertangkai panjang yang digunakan untuk membuat Turkish coffee.
Bentuknya unik.
Ada yang sederhana.
Ada juga yang cantik sekali dari tembaga dengan ukiran.
Kalau memang ingin dipakai untuk memasak kopi, bukan cuma pajangan, perhatikan materialnya.
Cezve tembaga tradisional biasanya bagian dalamnya dilapisi timah.
Kalau cuma untuk dekorasi, tentu lebih bebas memilih desain.
Saya justru suka oleh-oleh seperti ini karena tidak terasa sekadar souvenir.
Bisa benar-benar digunakan di rumah.
Lalu kalau lagi bikin kopi, bisa sedikit nostalgia:
“Ini beli di Turki.”
Padahal yang bikin tetap kita sendiri di dapur Jakarta.
Hahaha.
5. Nazar Boncuğu, Si Mata Biru yang Ada di Mana-Mana
Waktu pertama ke Turki, saya melihat benda biru berbentuk mata ini hampir di mana-mana.
Namanya nazar boncuğu.
Di toko.
Rumah.
Gantungan.
Perhiasan.
Souvenir.
Bahkan kadang di kendaraan.
Secara tradisional nazar boncuğu dikaitkan dengan kepercayaan untuk menangkal evil eye atau pandangan buruk. Tetapi sekarang simbolnya juga sangat kuat sebagai bagian dari budaya visual dan souvenir Turki. GoTürkiye sendiri menyebut nazar boncuğu sebagai salah satu ikon Turki yang paling mudah dikenali dan masih digunakan di rumah maupun tempat kerja.
Kalau tidak tertarik dengan makna kepercayaannya, anggap saja sebagai benda dekoratif.
Bentuknya juga macam-macam:
- gantungan kunci
- gelang
- kalung
- magnet
- hiasan dinding
- ornament kaca
Buat oleh-oleh banyak orang, ini praktis banget.
Kecil.
Ringan.
Dan nggak bikin panik lihat timbangan koper.
6. Keramik İznik
Nah, ini salah satu favorit saya.
Keramik Turki cantik banget.
Saya sendiri sampai membeli beberapa piring waktu itu.
Sepanjang perjalanan pulang cuma berharap:
tolong jangan pecah.
Hahaha.
Alhamdulillah aman.
Keramik bergaya İznik biasanya mudah dikenali dari motif floral, terutama tulip, carnation, dan warna biru, turquoise, merah, serta putih.
İznik memang berkembang sebagai salah satu pusat penting produksi keramik Ottoman. GoTürkiye juga mencatat bahwa pada abad ke-17 İznik sudah menjadi pusat utama pembuatan tile dan keramik.
Yang bisa dibeli macam-macam:
- piring
- mangkuk
- coaster
- vas
- tile dekoratif
- tempat perhiasan
Kalau mau aman untuk koper, saya paling menyarankan benda kecil dan relatif pipih.
Piring kecil jauh lebih rasional daripada vas besar.
Walaupun ketika berdiri di toko…
rasionalitas biasanya sedikit menghilang.
7. Gelas Teh Turki
Kalau pernah sarapan atau makan di Turki, pasti sering melihat gelas kecil berbentuk seperti tulip.
Itu gelas çay.
Teh merupakan bagian besar dari kehidupan sehari-hari masyarakat Turki dan gelas kecil ini rasanya langsung mengingatkan pada perjalanan ke sana.
Banyak toko menjual:
- gelas polos
- gelas dengan motif emas
- gelas berwarna
- satu set lengkap dengan saucer
- tea set dekoratif
Saya suka sekali lihat model-modelnya.
Masalahnya cuma:
pecah.
Jadi kalau mau beli, minta toko membungkusnya benar-benar aman.
Kalau punya koper hard case, lebih menenangkan sedikit.
Sedikit.
8. Çaydanlık, Teko Teh Turki
Kalau ingin membawa ritual minum teh Turki sampai ke rumah, ada çaydanlık.
Ini teko dua tingkat.
Bagian bawah digunakan untuk air panas, sedangkan teko di atas untuk seduhan teh yang lebih pekat.
Nanti keduanya dicampur saat dituangkan ke gelas sesuai tingkat kekentalan yang diinginkan.
Saya dulu melihat bentuk ini dan baru sadar kenapa teh di Turki bisa muncul terus dengan cepat.
Sistemnya memang mendukung.
Hahaha.
Buat oleh-oleh memang sedikit makan tempat.
Tapi kalau suka tea culture, menarik.
9. Rempah-Rempah Turki
Kalau suka masak, ini jauh lebih praktis daripada lampu mosaik.
Rempah yang banyak ditemukan di Turki antara lain:
- sumac
- pul biber atau red pepper flakes
- cumin
- mint kering
- thyme
- berbagai spice mix
Spice Bazaar di Istanbul tentu menjadi salah satu tempat paling menyenangkan untuk melihat-lihat.
Aromanya campur aduk.
Warnanya cantik.
Dan godaan belanjanya lumayan.
GoTürkiye menyebut Spice Bazaar masih dipenuhi rempah seperti cinnamon, cumin, saffron, turmeric, mint, thyme, nuts, Turkish coffee, dan lokum.
Untuk dibawa ke Indonesia, pilih kemasan tertutup dari toko yang punya turnover bagus.
Saya lebih suka membeli rempah dalam kemasan daripada open bulk kalau akan masuk koper lintas negara.
10. Turkish Tea
Selain kopi, tentu ada teh.
Turki termasuk negara dengan budaya minum teh yang sangat kuat.
Teh hitam dari kawasan Black Sea adalah yang paling umum.
Kalau tidak mau ribet bawa çaydanlık, ya cukup tehnya saja.
Ringan.
Bisa dibagi-bagikan.
Dan tidak takut pecah.
Ada pula berbagai teh herbal dan fruit tea yang sering dijual di kawasan wisata.
Tapi jangan menganggap semua apple tea yang diberikan toko souvenir otomatis merupakan teh tradisional yang sehari-hari diminum orang Turki.
Kalau ingin pengalaman yang lebih lokal, justru beli black tea Turki.
11. Peştemal atau Hammam Towel
Ini justru salah satu oleh-oleh yang menurut saya sangat masuk akal.
Peştemal adalah kain atau handuk tipis yang berkaitan dengan budaya hammam Turki.
Bahannya ringan.
Bisa dilipat kecil.
Motifnya cantik.
Dan setelah pulang tetap bisa dipakai sebagai:
- handuk
- beach towel
- scarf
- throw
- kain piknik
GoTürkiye juga menyebut pestemal sebagai salah satu tekstil tradisional yang bisa ditemukan di bazaar Istanbul.
Kalau koper sudah mulai penuh, peştemal jauh lebih bersahabat daripada keramik.
12. Pouch, Tas Kecil, dan Textile Bermotif Turki
Ini termasuk yang saya beli sendiri.
Saya membeli beberapa pouch bermotif khas Turki.
Sayangnya waktu itu saya lupa memotret.
Padahal lucu.
Ini tipe oleh-oleh yang menurut saya enak untuk dibagikan.
Tidak berat.
Tidak pecah.
Bisa dipakai.
Dan motifnya tetap mengingatkan pada Turki.
Selain pouch, banyak juga:
- cushion cover
- scarf
- tote bag
- table runner
- textile bermotif kilim
Kalau ingin rasa karpet Turki tapi tidak mau membawa karpet…
beli sarung bantal bermotif kilim.
Masalah selesai.
13. Karpet dan Kilim Turki
Nah, ini kelas berat.
Secara harfiah juga berat.
Hahaha.
Karpet Turki memang indah.
Dan kalau menemukan karpet handmade berkualitas, memang bisa menjadi benda yang disimpan sangat lama.
Tapi saya tidak akan menyebutnya sebagai oleh-oleh yang harus dibeli semua orang.
Kalau memang serius mau membeli, pahami dulu:
- handmade atau machine made
- bahan wool, cotton, atau silk
- knot density
- daerah asal
- ukuran
- biaya pengiriman
- apakah toko memberi certificate
Dan jangan membeli karpet mahal hanya karena merasa nggak enak setelah duduk satu jam sambil diberi teh.
Minum tehnya boleh.
Belinya dipikir dulu.
14. Lampu Mosaik Turki
Ini salah satu barang yang dulu paling bikin saya tergoda.
Cantik banget.
Lampu mosaik Turki dari kaca warna-warni memang langsung membuat toko souvenir terlihat seperti dunia lain.
Saya banyak melihatnya di Istanbul, dan juga waktu perjalanan ke Bursa.
Kalau dibawa pulang?
Nah.
Itu masalahnya.
Takut pecah.
Makan tempat.
Kalau ukurannya besar bisa berat juga.
Kalau memang suka sekali, pilih model kecil seperti table lamp atau candle holder daripada chandelier besar.
Atau pastikan tokonya bisa packing profesional.
Kalau saya?
Waktu itu cukup memandang.
Dengan penuh cinta.
Hahaha.
15. Sabun Zaitun dan Produk Hammam
Sabun tradisional juga banyak dijual di Turki.
Terutama sabun berbasis:
- olive oil
- laurel
- berbagai herbal
Produk hammam seperti sabun, kese atau exfoliating mitt, dan textile juga cocok dijadikan paket oleh-oleh kecil.
GoTürkiye sendiri menyebut soap dan natural products sebagai salah satu barang yang banyak ditemukan di pasar dan toko lokal.
Praktisnya?
Tidak mudah pecah.
Cuma jangan beli terlalu banyak sabun berat sekaligus.
Diam-diam berat juga kalau sepuluh.
16. Turkish Olive Oil
Turki punya tradisi produksi zaitun yang panjang, terutama di wilayah Aegea dan Mediterania.
Kalau suka memasak, olive oil bisa jadi oleh-oleh menarik.
Tapi saya pribadi akan pilih botol kecil.
Karena:
berat.
Cairan.
Risiko bocor.
Tiga kombinasi yang tidak terlalu disukai koper.
Kalau ingin sesuatu dengan tema zaitun tetapi lebih gampang, sabun zaitun jauh lebih praktis.
17. Ebru Art
Kalau suka benda seni, cari ebru.
Ebru adalah seni marbling tradisional yang membuat pola warna di permukaan air lalu memindahkannya ke kertas.
Hasilnya tidak ada yang persis sama.
Saya suka oleh-oleh seperti ini karena tidak terlalu “souvenir shop”.
Lebih terasa sebagai karya.
Ukurannya juga bisa dipilih yang kecil dan mudah dimasukkan koper.
Bisa berupa:
- artwork
- bookmark
- notebook
- kartu
- cover buku
Kalau suka buku seperti saya, ini justru menarik.
18. Buku dan Diary
Saya sendiri sempat membeli buku atau diary waktu di sekitar Hagia Sophia.
Dan setelah perjalanan selesai malah menyesal kenapa tidak mencari lebih banyak.
Saya memang begitu.
Kalau masuk toko buku atau stationery, bahaya.
Hahaha.
Buku tentang Istanbul, Ottoman history, Cappadocia, seni Islam, atau foto-foto Turki menurut saya jadi souvenir yang jauh lebih personal daripada gantungan kunci.
Kalau memang orang yang diberi suka membaca, ini bagus.
Kalau tidak…
ya magnet saja.
Magnet dan Gantungan Kunci Tetap Nggak Pernah Salah
Setelah semua daftar panjang tadi, kita kembali pada pilihan paling aman:
magnet kulkas dan gantungan kunci.
Hahaha.
Murah dibanding banyak souvenir lain.
Ringan.
Mudah dibawa banyak.
Dan cocok kalau punya daftar orang yang harus diberi oleh-oleh lumayan panjang.
Saya tidak anti souvenir mainstream.
Justru ada alasan kenapa magnet laku di seluruh dunia.
Praktis.
Di Mana Beli Oleh-Oleh di Istanbul?
Kalau itinerary hanya Istanbul, sebenarnya pilihannya banyak sekali.
Grand Bazaar
Grand Bazaar paling terkenal.
Isinya memang luar biasa banyak:
karpet, jewellery, textile, ceramics, lamps, leather goods, souvenir, dan entah apa lagi.
Menurut saya Grand Bazaar tetap wajib didatangi setidaknya sekali.
Beli atau tidak beli urusan belakangan.
Atmosfernya sendiri sudah bagian dari pengalaman.
Spice Bazaar
Kalau fokusnya makanan, kopi, teh, rempah, lokum, dried fruit, dan nuts, saya lebih suka ide ke Spice Bazaar atau Mısır Çarşısı.
GoTürkiye juga menggambarkannya sebagai tempat untuk mencari spices, Turkish coffee, lokum, nuts, tea ware, dan berbagai makanan lokal.
Arasta Bazaar
Kalau Grand Bazaar terasa terlalu besar dan ramai, ada Arasta Bazaar di belakang Blue Mosque.
Lebih kecil.
Lebih gampang dilihat-lihat.
Di sana bisa menemukan carpet, textile, glassware, İznik-style ceramics, peştemal, soap, lamp, jewellery, tea, sampai spices.
Saya suka konsep pasar seperti ini kalau cuma ingin browsing tanpa merasa harus menaklukkan ribuan toko.
Haruskah Menawar Harga di Turki?
Tergantung tempat belanjanya.
Di bazaar atau toko souvenir tertentu, tawar-menawar memang masih bisa dilakukan.
Tapi jangan menganggap semua tempat harus ditawar.
Toko dengan harga fixed.
Department store.
Supermarket.
Specialty food shop.
Ya bayar sesuai harga yang tertera.
Kalau di bazaar, saya biasanya lihat-lihat beberapa toko dulu.
Jangan langsung jatuh cinta di toko pertama.
Karena lima meter kemudian bisa menemukan barang serupa.
Lalu menyesal.
Tips Membeli Oleh-Oleh Turki supaya Nggak Repot di Koper
Ini justru hal yang paling saya rasakan setelah belanja di sana.
Prioritaskan barang kecil dulu.
Lokum, kopi, teh, magnet, pouch, scarf jauh lebih gampang daripada lampu besar.
Barang pecah belah masukkan ke tengah koper.
Bungkus dengan pakaian. Piring keramik yang saya beli dulu untungnya sampai Indonesia dengan aman.
Jangan beli makanan terlalu awal.
Terutama baklava dan makanan segar.
Perhatikan berat.
Karpet, olive oil, ceramics, tea set kelihatannya innocent sampai semua dimasukkan dalam satu koper.
Sisakan ruang sejak berangkat.
Ini alasan saya sekarang tidak suka koper sudah penuh dari Jakarta.
Pulang dari Turki hampir pasti nambah barang.
Oleh-Oleh Turki Mana yang Menurut Saya Paling Worth It?
Setelah pernah melihat sendiri banyak pilihan oleh-oleh di Turki, kalau sekarang saya pergi lagi saya mungkin akan membeli:
Lokum premium dengan pistachio, karena gampang dibagikan.
Kopi Turki, karena ringan dan benar-benar akan diminum.
Keramik kecil, karena saya memang suka bentuk dan motifnya.
Peştemal atau textile, karena gampang dimasukkan koper.
Dan mungkin cezve kecil dari tembaga.
Lampu mosaik?
Masih pengen.
Sejak dulu pengen.
Tapi saya mungkin akan berdiri di depan tokonya lagi sambil berpikir:
“Pecah nggak ya sampai Jakarta?”
Hahaha.
Pada akhirnya oleh-oleh menurut saya bukan bagian paling penting dari perjalanan.
Nggak perlu sampai stres.
Nggak perlu merasa wajib membelikan semua orang barang mahal.
Kadang satu kotak Turkish delight sudah cukup.
Atau satu magnet.
Yang penting bukan harga barangnya.
Tapi ketika melihatnya lagi beberapa tahun kemudian, kita masih ingat:
Oh iya, ini saya beli waktu jalan-jalan ke Turki.
Dan mungkin itu sebenarnya fungsi souvenir yang paling menyenangkan.
Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya traveling dan berbelanja di Turki. Harga, stok, toko, aturan bagasi, dan ketentuan membawa makanan dapat berubah, jadi cek kembali sebelum membeli dalam jumlah besar.
