Orang Turki
Orang Turki: Kesan dan Kebiasaan yang Saya Temui Saat Traveling.
Sebelum pertama kali ke Turki, saya punya bayangan sendiri tentang orang Turki.
Mungkin karena sering lihat drama, baca sejarah Ottoman, lihat foto Istanbul, atau sekadar karena Turki itu terasa seperti negara yang unik. Ada Eropa, ada Asia, ada Islam, ada kehidupan modern, semuanya campur jadi satu.
Begitu sampai di sana, ternyata yang paling menarik bukan cuma bangunannya.
Tapi orang-orangnya.
Ada yang ramah sekali.
Ada yang ekspresif.
Ada yang tiba-tiba ngajak ngobrol meskipun bahasa Inggrisnya terbatas.
Ada yang senang menawarkan teh.
Ada juga yang cuek saja seperti orang kota pada umumnya.
Jadi kalau ditanya, orang Turki itu seperti apa?
Jawaban saya sekarang justru:
nggak bisa disamaratakan.
Turki besar sekali, masyarakatnya beragam, dan orang Istanbul tentu belum tentu sama dengan orang Konya, Cappadocia, atau desa-desa kecil di Anatolia.
Tapi selama beberapa kali traveling di Turki, ada beberapa kebiasaan dan kesan yang cukup sering saya temui.
Bukan aturan mutlak.
Lebih ke catatan kecil dari perjalanan saya.
Orang Turki Berasal dari Latar yang Sangat Beragam
Salah satu hal yang dulu bikin saya bingung adalah:
“Kok wajah orang Turki beda-beda banget, ya?”
Ada yang terlihat seperti orang Eropa Selatan.
Ada yang wajahnya lebih mirip Asia Tengah.
Ada yang terasa Mediterania.
Ada juga yang kalau lewat di jalan mungkin kita nggak akan langsung menebak dia orang Turki.
Itu sebenarnya masuk akal.
Wilayah Turki selama berabad-abad menjadi tempat pertemuan banyak bangsa, kerajaan, jalur dagang, dan migrasi.
Penduduknya juga tidak terdiri dari satu kelompok etnis saja.
Selain mayoritas etnis Turki, ada pula kelompok seperti Kurdi, Arab, Laz, Circassian, dan banyak komunitas lain.
Jadi istilah “wajah orang Turki asli” sebenarnya agak susah dipakai.
Nggak ada satu template wajah yang bisa mewakili semuanya.
Turki Negara Sekuler, Tapi Islam Sangat Terlihat dalam Kehidupan Sehari-hari
Ini juga salah satu hal yang menurut saya sering membuat orang Indonesia bingung.
Turki bukan negara Islam.
Secara konstitusi, Republik Turki adalah negara sekuler.
Tapi Islam tetap menjadi bagian yang sangat terlihat dalam kehidupan sosial dan budaya.
Masjid ada di mana-mana.
Azan terdengar lima kali sehari.
Saat Jumat, beberapa masjid memang sangat ramai.
Ramadan juga terasa.
Di sisi lain, kehidupan masyarakatnya sangat beragam.
Ada perempuan berhijab.
Ada yang tidak.
Ada yang konservatif.
Ada yang sangat modern.
Ada yang religius.
Ada yang sekuler.
Kalau berjalan di Istanbul saja, semua variasi itu bisa terlihat dalam satu jalan yang sama.
Jadi menurut saya jangan membayangkan masyarakat Turki sebagai satu kelompok yang semuanya punya cara hidup sama.
Itu terlalu menyederhanakan.
Bahasa Turki Bukan Bahasa Arab
Ini sering membuat orang keliru.
Karena mayoritas penduduk Turki Muslim dan sejarah Ottoman sangat dekat dengan dunia Islam, orang kadang mengira bahasa Turki mirip bahasa Arab.
Sebenarnya tidak.
Bahasa Turki termasuk keluarga bahasa Turkic.
Bahasa Arab termasuk keluarga bahasa Semitik.
Memang ada kosakata serapan Arab dan Persia dalam bahasa Turki, tapi strukturnya berbeda.
Sejak reformasi bahasa pada masa Mustafa Kemal Atatürk, bahasa Turki modern juga ditulis menggunakan alfabet Latin.
Makanya ketika traveling di sana, tulisan di papan toko sebenarnya relatif mudah dibaca oleh kita.
Masalahnya cuma…
nggak tahu artinya.
Hahaha.
Orang Turki yang Saya Temui Cukup Ekspresif
Nah, yang ini memang salah satu kesan saya paling kuat.
Banyak orang Turki yang saya temui terasa ekspresif saat berbicara.
Nada suara naik turun.
Gesture tangan aktif.
Ekspresi wajah jelas.
Kalau sedang senang ya terlihat senang.
Kalau sedang kesal juga kelihatan.
Kadang buat kita yang terbiasa lebih kalem, percakapan mereka terdengar seperti orang sedang berdebat.
Padahal belum tentu.
Bisa saja memang lagi ngobrol biasa.
Saya sempat beberapa kali menoleh karena mengira orang sedang marah-marah.
Ternyata tidak.
Mereka lanjut minum teh.
Hahaha.
Suka Ngobrol dan Bertanya
Saya juga beberapa kali mengalami orang lokal mulai ngobrol duluan.
Biasanya pertanyaannya standar:
“Dari mana?”
“Indonesia?”
“Jakarta?”
“Muslim?”
“Habis ini ke mana?”
Kadang bahasa Inggrisnya terbatas.
Bahasa Turki saya juga ya… nyaris tidak ada.
Tapi entah bagaimana percakapan tetap bisa jalan.
Sedikit Inggris.
Sedikit gesture.
Sedikit Google Translate.
Sisanya senyum.
Kadang justru percakapan seperti ini yang paling diingat dari perjalanan.
Budaya Menjamu Tamu Cukup Kuat
Budaya hospitality di Turki memang cukup terasa.
Tamu sering ditawari teh, makanan, atau sesuatu untuk disantap.
Konsep misafirperverlik, atau keramahan kepada tamu, sering dianggap sebagai bagian penting budaya sosial Turki.
Saya juga merasakannya dalam bentuk kecil.
Masuk toko, ditawari teh.
Ngobrol agak lama, keluar lagi teh.
Duduk sebentar, teh lagi.
Lama-lama saya berpikir:
orang Turki ini memang minum teh terus, ya?
Ternyata memang iya.
Çay, Teh yang Ada Hampir di Mana-Mana
Kalau ada satu kebiasaan yang menurut saya susah dibantah, ya ini.
Orang Turki suka teh.
Çay biasanya disajikan dalam gelas kecil berbentuk seperti tulip.
Warnanya merah gelap.
Dan panas.
Panas banget menurut standar saya.
Yang bikin saya heran, mereka bisa langsung minum.
Saya baru pegang gelasnya saja sudah mikir:
“Ini lidahnya terbuat dari apa?”
Hahaha.
Teh diminum saat sarapan, setelah makan, ketika ngobrol, saat menerima tamu, sampai saat duduk santai.
Bahkan kadang masuk ke toko pun bisa ditawari teh.
Buat saya, çay bukan sekadar minuman.
Ia seperti bagian dari cara orang Turki bersosialisasi.
Sarapan di Turki Itu Serius
Kalau pernah menikmati Turkish breakfast, pasti tahu maksud saya.
Mejanya bisa penuh.
Ada roti.
Keju.
Zaitun.
Tomat.
Timun.
Telur.
Madu.
Selai.
Mentega.
Kadang sucuk.
Kadang menemen.
Dan tentu saja teh.
Sarapan bukan sekadar ambil roti terus buru-buru pergi.
Pada banyak keluarga dan restoran, sarapan memang jadi momen untuk duduk lama dan ngobrol.
Saya pribadi suka sekali konsep sarapan seperti ini.
Masalahnya cuma satu.
Setelah itu rasanya pengen tidur lagi.
Roti Hampir Selalu Ada
Roti adalah bagian penting dalam makanan sehari-hari di Turki.
Kalau sarapan ada roti.
Makan sup ada roti.
Makan kebab ada roti.
Makan lauk pun sering ada roti di meja.
Simit juga gampang ditemukan di mana-mana.
Bentuknya bundar, dilapisi wijen, dan dijual di toko, bakery, sampai gerobak pinggir jalan.
Saya sempat merasa:
“Ini orang Turki makan roti sebanyak orang Indonesia makan nasi kali ya.”
Kurang lebih begitu rasanya.
Yoghurt Bukan Sekadar Dessert
Kalau di Indonesia mendengar yoghurt, bayangan saya dulu minuman manis rasa stroberi.
Di Turki, beda cerita.
Yoghurt bisa hadir sebagai pendamping makanan.
Rasanya tawar atau asam.
Ada juga ayran, minuman yoghurt yang dicampur air dan garam.
Pertama minum mungkin agak aneh kalau terbiasa yoghurt manis.
Tapi kalau diminum bareng kebab atau makanan daging…
ternyata masuk.
Malah segar.
Orang Turki Suka Mangal
Mangal adalah barbecue ala Turki.
Saya beberapa kali melihat area piknik atau taman yang memang ramai keluarga membakar daging.
Konsepnya mirip acara bakar-bakaran keluarga.
Daging.
Ayam.
Köfte.
Sayuran.
Roti.
Semua dimakan bareng.
Yang saya suka dari budaya seperti ini sebenarnya bukan cuma makanannya.
Tapi momennya.
Duduk lama.
Ngobrol.
Anak-anak main.
Orang tua masak.
Makan nggak buru-buru.
Makanan Manis Punya Tempat Khusus
Baklava mungkin yang paling terkenal.
Tapi budaya makanan manis di Turki jauh lebih luas dari itu.
Ada lokum.
Künefe.
Helva.
Şekerpare.
Dan banyak dessert lain yang tingkat kemanisannya menurut saya…
lumayan serius.
Hahaha.
Makanan manis juga hadir dalam banyak momen sosial dan perayaan.
Jadi kalau traveling ke Turki dan merasa setiap hari ketemu makanan manis, ya memang kemungkinan besar begitu.
Kucing Ada di Mana-Mana
Nah, ini salah satu hal favorit saya.
Terutama di Istanbul dan Ephesus.
Kucing benar-benar hidup berdampingan dengan masyarakat.
Bukan cuma kucing rumahan.
Banyak kucing jalanan yang terlihat sehat, diberi makan, dan dibiarkan berkeliaran.
Di beberapa tempat ada mangkuk makanan dan air.
Kadang ada rumah kecil untuk kucing.
Waktu di Ephesus saya juga melihat banyak kucing santai sekali di antara reruntuhan.
Pose-nya malah lebih photogenic daripada turis.
Hahaha.
Budaya memperhatikan hewan jalanan, terutama kucing dan anjing, memang cukup terlihat di banyak kota di Turki.
Sepak Bola Itu Serius
Kalau ngomong soal sepak bola Turki, tiga nama besar pasti sering muncul:
Galatasaray, Fenerbahçe, dan Beşiktaş.
Di Istanbul, identitas klub terasa sekali.
Warna merchandise.
Bendera.
Toko.
Jersey.
Kalau sedang ada pertandingan besar, suasananya bisa sangat hidup.
Saya pernah mampir ke toko merchandise sepak bola di sekitar Taksim dan langsung terasa bagaimana kuatnya identitas klub.
Buat orang yang bukan penggemar bola seperti saya pun tetap kelihatan.
Rokok Masih Sangat Terlihat
Ini salah satu hal yang cukup terasa kalau duduk di café atau area outdoor.
Orang merokok cukup banyak.
Laki-laki maupun perempuan.
Nargile atau shisha juga mudah ditemukan, terutama di kawasan wisata dan café tertentu.
Buat orang Indonesia sebenarnya pemandangan orang merokok bukan hal asing.
Tapi kalau sensitif dengan asap rokok, ada baiknya pilih area non-smoking kalau tersedia.
Rumah dan Kehidupan Domestik Tidak Bisa Digeneralisasi
Di artikel lama saya pernah menulis berbagai kebiasaan rumah tangga seperti karpet, rajutan, kaos dalam, sampai cara membersihkan rumah.
Sekarang kalau dipikir lagi, saya merasa bagian itu perlu dikoreksi.
Beberapa kebiasaan memang mungkin saya temui atau dengar dari orang tertentu.
Tapi bukan berarti semua orang Turki hidup seperti itu.
Keluarga di Istanbul bisa sangat berbeda dengan keluarga di desa Anatolia.
Generasi muda juga bisa punya kebiasaan berbeda dengan generasi orang tua.
Sama seperti di Indonesia.
Kalau orang asing datang ke satu rumah di Jawa lalu menyimpulkan seluruh orang Indonesia pasti hidup seperti itu, kan agak lucu juga.
Jadi pengalaman seperti itu lebih baik dibaca sebagai potongan kecil kehidupan, bukan aturan umum.
Orang Turki Ramah atau Tidak?
Ini mungkin salah satu pertanyaan yang paling sering muncul.
Kalau dari pengalaman saya:
banyak yang ramah.
Ada yang membantu ketika ditanya jalan.
Ada yang mencoba menjelaskan meskipun kesulitan bahasa.
Ada yang menawarkan teh.
Ada yang suka ngobrol.
Tapi tentu saja bukan berarti semua orang Turki otomatis ramah.
Di kota besar kita juga bisa ketemu orang cuek.
Orang buru-buru.
Pedagang yang agresif.
Orang yang sedang bad mood.
Ya manusia biasa.
Karena itu saya lebih suka bilang bahwa saya cukup sering mengalami keramahan selama traveling di Turki, bukan menyimpulkan semua orang Turki pasti begitu.
Apakah Orang Turki Suka Orang Indonesia?
Saya beberapa kali mendapat respons hangat begitu menyebut berasal dari Indonesia.
Ada yang langsung bilang:
“Indonesia!”
Ada yang menyebut Jakarta.
Ada juga yang menghubungkannya dengan Muslim.
Tapi lagi-lagi saya tidak akan mengatakan seluruh orang Turki pasti suka orang Indonesia.
Yang bisa saya bilang hanyalah:
identitas Indonesia cukup dikenal dan dalam pengalaman saya sering mendapat respons positif.
Dan itu menyenangkan.
Apalagi kalau sedang jauh dari rumah.
Yang Paling Saya Ingat dari Orang Turki
Kalau sekarang diminta menyebut satu kesan saja, saya mungkin akan bilang:
hangat tapi ekspresif.
Tentu berdasarkan orang-orang yang saya temui selama perjalanan.
Saya ingat obrolannya.
Tehnya.
Gesture tangannya.
Kucing-kucing yang santai di jalan.
Orang duduk lama di café.
Keluarga piknik sambil mangal.
Orang yang tetap mencoba menjawab pertanyaan meskipun kami tidak punya bahasa yang sama.
Justru hal-hal kecil seperti itu yang membuat sebuah perjalanan terasa punya cerita.
Karena pada akhirnya, Turki bukan cuma Hagia Sophia, Cappadocia, Pamukkale, atau Blue Mosque.
Yang membuat suatu negara terasa hidup adalah orang-orang yang kita temui di dalamnya.
Dan mungkin itu juga alasan saya masih suka kembali menulis tentang Turki.
Bukan cuma karena tempatnya cantik.
Tapi karena ada banyak momen kecil yang masih saya ingat sampai sekarang.
Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya selama traveling di Turki, termasuk perjalanan pada Juni 2019. Pengalaman setiap orang tentu bisa berbeda, dan kebiasaan masyarakat Turki juga beragam tergantung daerah, keluarga, generasi, serta latar belakang masing-masing.
