Hippodrome Square
Hippodrome Square Istanbul: Bekas Arena Balap Kereta di Jantung Sultanahmet
Kalau datang ke kawasan Sultanahmet, kemungkinan besar kita akan berjalan melewati Hippodrome Square tanpa terlalu memikirkannya.
Saya juga merasa tempat ini gampang sekali “kalah” oleh dua tetangganya.
Di satu sisi ada Blue Mosque dengan enam minaretnya.
Sedikit berjalan lagi ada Hagia Sophia, bangunan yang hampir selalu menjadi pusat perhatian wisatawan.
Sementara Hippodrome?
Sekilas sekarang hanya terlihat seperti lapangan panjang dengan taman, beberapa monumen tua, bangku, dan orang-orang lalu lalang.
Padahal sekitar 1.500 tahun lalu, suasananya sama sekali berbeda.
Di tempat inilah puluhan ribu orang memenuhi tribun untuk menonton chariot race atau balap kereta, kaisar menyaksikan pertandingan dari tempat khusus, kelompok pendukung saling bersaing, dan kadang persaingan olahraga berubah menjadi persoalan politik.
Bahkan salah satu kerusuhan paling terkenal dalam sejarah Konstantinopel, Nika Revolt, berawal dari dunia balap kereta yang berpusat di sini.
Jadi kalau sedang berjalan di Sultanahmet dan melihat sebuah obelisk Mesir berdiri di tengah lapangan, jangan cuma foto lalu lewat.
Tempat ini punya cerita yang lumayan gila.
Apa Itu Hippodrome Square?
Hippodrome Square adalah kawasan bekas Hippodrome of Constantinople, arena besar untuk balap kereta, upacara, hiburan, dan kegiatan publik pada masa Romawi dan Bizantium. Area tersebut sekarang menjadi bagian dari Sultanahmet Square di pusat kota tua Istanbul.
Kata hippodrome berasal dari bahasa Yunani.
Hippos berarti kuda dan dromos berarti lintasan atau arena.
Jadi secara sederhana memang berarti tempat perlombaan kuda.
Istanbul Metropolitan Municipality menjelaskan bahwa kawasan yang sekarang dikenal sebagai Sultanahmet Square dahulu disebut Hippodrome pada masa Romawi dan Bizantium. Arena awalnya dibangun pada masa Kaisar Septimius Severus lalu diperbesar secara besar-besaran oleh Constantine the Great. Istanbul U Seyret
Sekarang memang sudah tidak ada tribun raksasa.
Tidak ada lintasan.
Tidak ada kereta.
Tetapi bentuk ruang memanjang Sultanahmet Square masih mengikuti kurang lebih area bekas hippodrome tersebut.
Dan beberapa monumen yang dulu berdiri di tengah arena masih ada sampai sekarang.
Hippodrome Dibangun Sebelum Kota Ini Bernama Konstantinopel
Cerita Hippodrome dimulai bahkan sebelum Konstantinopel menjadi ibu kota kekaisaran.
Arena awal dibangun sekitar awal abad ke-3 pada masa Kaisar Romawi Septimius Severus, ketika kota tersebut masih dikenal sebagai Byzantium.
Kemudian datang Constantine the Great.
Ketika Constantine menjadikan kota ini sebagai ibu kota kekaisaran pada abad ke-4, ia memperbesar kota sekaligus memperluas Hippodrome menjadi arena monumental.
Menurut Istanbul Metropolitan Municipality, kapasitas arena diperkirakan antara sekitar 30.000 sampai 60.000 orang, tergantung sumber sejarah yang digunakan. Istanbul U Seyret
Bayangkan saja.
Sekarang kita berjalan santai di sana sambil membawa kopi atau mencari angle Blue Mosque.
Dulu puluhan ribu orang duduk mengelilingi area yang sama.
Rasanya seperti sebuah stadion nasional berada persis di tengah pusat pemerintahan.
Dan memang kira-kira begitulah perannya.
Balap Kereta Bukan Sekadar Hiburan
Kalau membaca kata chariot race, saya dulu membayangkan hiburan kuno.
Kuda.
Kereta.
Orang berteriak.
Selesai.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Balap kereta di Konstantinopel merupakan hiburan besar yang berhubungan dengan identitas sosial dan bahkan politik.
Ada beberapa kelompok atau faction pendukung, tetapi yang paling terkenal adalah Blues dan Greens.
Mereka bukan sekadar klub penggemar.
Dukungan terhadap tim bisa berkaitan dengan kelompok sosial dan kepentingan politik.
Hippodrome akhirnya menjadi tempat masyarakat mengekspresikan dukungan, kemarahan, bahkan kritik kepada penguasa.
Kaisar pun hadir.
Area istana kerajaan terhubung dengan Hippodrome, sehingga sang kaisar bisa muncul di imperial box untuk menyaksikan pertandingan. Sumber pemerintah Istanbul mencatat Great Palace berada sangat dekat dengan Hippodrome dan kawasan ini menjadi pusat pertemuan, hiburan, olahraga, dan kehidupan publik kota. Istanbul U Seyret
Jadi mungkin lebih tepat kalau membayangkan Hippodrome sebagai campuran:
stadion + alun-alun + arena politik.
Lumayan ramai untuk satu tempat.
Nika Revolt: Ketika Balap Kereta Berubah Jadi Pemberontakan
Kalau sebelumnya kita membahas Hagia Sophia, nama Nika Revolt tahun 532 sudah muncul.
Nah, Hippodrome adalah salah satu pusat ceritanya.
Ketegangan antara kelompok pendukung chariot race dan pemerintahan Kaisar Justinian I akhirnya berkembang menjadi pemberontakan besar.
Seruan “Nika!”, yang kurang lebih berarti “menang”, terdengar di arena.
Kerusuhan kemudian menyebar ke seluruh kota.
Bangunan terbakar.
Termasuk Hagia Sophia kedua yang berdiri sebelum bangunan Hagia Sophia yang kita lihat sekarang.
Situasinya sampai mengancam kekuasaan Justinian.
Pemberontakan akhirnya ditumpas dengan sangat keras di dalam Hippodrome, dan sumber-sumber sejarah biasanya menyebut korban dalam jumlah sangat besar.
Jadi aneh juga rasanya ketika sekarang berdiri di sini.
Tempatnya terbuka.
Orang jalan-jalan.
Ada taman.
Anak kecil berlari.
Sulit membayangkan bahwa lapangan yang terlihat begitu tenang pernah menjadi lokasi salah satu pemberontakan paling dramatis dalam sejarah Bizantium.
Di Tengah Hippodrome Dulu Ada Spina
Kalau melihat sirkuit balap Romawi kuno, biasanya ada semacam pemisah memanjang di tengah lintasan.
Bagian ini disebut spina.
Chariot berlomba mengelilinginya.
Dan spina bukan sekadar pembatas.
Ia juga menjadi tempat menaruh berbagai patung dan monumen yang dikumpulkan dari berbagai wilayah kekaisaran.
Constantine dan penguasa setelahnya membawa sejumlah karya kuno ke Konstantinopel untuk mempercantik arena.
Sebagian besar memang sudah hilang.
Tetapi tiga monumen penting yang dahulu berada di area tengah Hippodrome masih berdiri sampai sekarang:
- Obelisk of Theodosius
- Serpent Column
- Walled Obelisk
Pemerintah Istanbul juga mencatat ketiga peninggalan tersebut sebagai monumen utama Hippodrome yang masih bertahan. Istanbul U Seyret
Kalau datang ke sana, urutkan saja jalan kaki dari satu ke yang berikutnya.
Lebih menarik daripada hanya melihatnya sebagai batu-batu tua yang kebetulan ada di taman.
Obelisk of Theodosius, Ternyata Berasal dari Mesir
Ini mungkin monumen paling mencolok di Hippodrome.
Obelisk of Theodosius adalah obelisk Mesir kuno dari masa Firaun Thutmose III.
Dan usianya bahkan jauh lebih tua daripada Konstantinopel.
Menurut database artefak bersejarah Istanbul Metropolitan Municipality, obelisk ini awalnya didirikan di Mesir sekitar 1450 SM di kompleks Karnak dan kemudian didirikan kembali di Hippodrome pada masa Kaisar Theodosius I. Historical Artifacts
Jadi ketika melihat hieroglyph di permukaannya, itu bukan dekorasi bergaya Mesir yang dibuat orang Bizantium.
Itu benar-benar monumen Mesir kuno.
Saya suka fakta ini karena skalanya membuat umur Istanbul sendiri terasa “muda”.
Bayangkan.
Obelisk sudah berusia hampir dua ribu tahun ketika akhirnya berdiri di Konstantinopel.
Dan sekarang kita melihatnya lebih dari seribu enam ratus tahun kemudian.
Kalau batu itu bisa cerita, mungkin satu artikel Travellumy tidak cukup.
Obelisk Itu Tidak Lagi Sepanjang Aslinya
Obelisk yang kita lihat sekarang tingginya sekitar 19,6 meter dan diyakini hanya merupakan sebagian dari ukuran awalnya. Pemerintah kota Istanbul menyebut bagian yang bertahan kemungkinan sekitar dua pertiga dari tinggi semula. Historical Artifacts
Kemungkinan batu tersebut rusak atau dipotong ketika dipindahkan.
Tetapi bagian yang menurut saya paling menarik justru bukan hanya hieroglyph-nya.
Lihat pedestal di bawah obelisk.
Jangan buru-buru.
Di permukaan marmernya ada relief yang menunjukkan Kaisar Theodosius, pejabat, penonton, sampai adegan yang berkaitan dengan perlombaan dan pendirian obelisk itu sendiri. Historical Artifacts
Ini seperti mendapat sedikit screenshot kehidupan Hippodrome pada abad ke-4.
Ironisnya, banyak orang sibuk memotret bagian atas obelisk dan hampir tidak melihat dasar monumennya.
Saya juga tipe orang yang bisa begitu kalau tidak baca sebelumnya.
Makanya kali ini kita tahu.
Lihat bawah juga.
Serpent Column, Peninggalan yang Bahkan Lebih Tua Lagi
Tidak jauh dari obelisk ada monumen yang lebih kecil.
Bentuknya seperti logam berpilin.
Sekilas mungkin tidak terlalu impressive.
Tetapi Serpent Column punya cerita luar biasa panjang.
Kolom ini berasal dari Yunani kuno dan awalnya berdiri di Delphi.
Monumen tersebut dibuat untuk memperingati kemenangan pasukan Yunani atas Persia pada abad ke-5 SM, lalu dipindahkan ke Konstantinopel pada masa Constantine. Visit Istanbul menyebutnya sebagai salah satu monumen yang sudah melewati lebih dari dua ribu tahun sejarah sebelum bertahan sampai Istanbul modern. Visit Istanbul
Aslinya terdiri dari tiga ular yang tubuhnya saling melilit.
Bagian kepala ularnya sekarang sudah tidak berada di tempat.
Salah satu fragmen kepala yang bertahan disimpan di Istanbul Archaeological Museum. Dokumentasi konservasi kawasan juga mencatat salah satu kepala ular tersebut berada di museum itu. METU Thesis Archive
Ini contoh yang bagus tentang betapa gampangnya kita salah menilai sebuah tempat dari ukuran.
Obelisk besar otomatis menarik perhatian.
Serpent Column kecil.
Tapi usianya?
Sudah lebih dari dua ribu tahun.
Walled Obelisk, yang Sekarang Terlihat Polos
Di bagian lain square berdiri Walled Obelisk, atau dalam bahasa Turki sering disebut Örme Dikilitaş.
Sekarang bentuknya seperti struktur batu tinggi yang cukup polos.
Tetapi dahulu tampilannya tidak begitu.
Sumber wisata resmi GoTürkiye menjelaskan bahwa permukaan Walled Obelisk dulunya berlapis material dekoratif, termasuk façade yang lebih mewah, tetapi lapisan tersebut sudah tidak bertahan. Go Türkiye
Monumen ini dikaitkan dengan masa Kaisar Constantine VII Porphyrogenitus pada abad ke-10.
Kalau Obelisk of Theodosius terlihat lebih “sempurna”, Walled Obelisk justru terasa lebih kasar.
Dan itu juga menarik.
Kita bisa melihat bagaimana satu kawasan menyimpan monumen dari periode yang sangat berbeda.
Mesir kuno.
Yunani kuno.
Bizantium.
Kemudian Ottoman.
Semua hanya beberapa puluh langkah satu sama lain.
Ke Mana Semua Patung Hippodrome Pergi?
Nah, ini pertanyaan yang menarik.
Dulu Hippodrome dipenuhi patung dan dekorasi.
Sekarang sebagian besar hilang.
Salah satu penyebab paling terkenal adalah Fourth Crusade pada 1204, ketika pasukan Latin menjarah Konstantinopel.
Beberapa karya dibawa keluar kota.
Salah satu yang paling terkenal adalah Horses of Saint Mark.
Patung empat kuda perunggu yang dahulu berada di Hippodrome dibawa ke Venesia dan kemudian dikaitkan dengan Basilica di San Marco.
Jadi ketika suatu hari kita jalan-jalan ke Venice lalu melihat kuda-kuda itu, sebenarnya ceritanya nyambung kembali ke Istanbul.
Travel memang sering seperti itu.
Satu kota tiba-tiba menjelaskan kota lain.
Dari Hippodrome Menjadi At Meydanı
Setelah Konstantinopel jatuh ke tangan Ottoman pada 1453, fungsi arena balap tentu tidak berlanjut seperti pada zaman Bizantium.
Tetapi ruang terbukanya tetap penting.
Pada masa Ottoman, kawasan ini dikenal sebagai At Meydanı, yang berarti kurang lebih Horse Square.
Area tersebut dipakai untuk berbagai kegiatan publik.
Festival.
Upacara.
Perayaan.
Bahkan pemberontakan Janissary.
Istanbul Metropolitan Municipality mencatat bahwa pada masa Ottoman, At Meydanı menjadi tempat berbagai perayaan kerajaan, termasuk festival panjang untuk acara keluarga sultan, sekaligus menjadi lokasi sejumlah pemberontakan Janissary. Istanbul U Seyret
Jadi setelah chariot race hilang pun, tempat ini tetap tidak pernah benar-benar sepi dari sejarah.
Blue Mosque Kemudian Mengubah Wajah Kawasan Ini
Pada awal abad ke-17, Sultan Ahmed I membangun Sultan Ahmed Mosque atau Blue Mosque tepat di sisi Hippodrome.
Sejak itulah kawasan tersebut semakin erat dengan nama Sultanahmet.
Blue Mosque dibangun sekitar 1609-1616 dan kemudian menjadi salah satu bangunan utama yang membentuk kawasan ini. Istanbul U Seyret
Kalau sekarang kita melihat Hippodrome, sulit membayangkan lanskapnya tanpa Blue Mosque.
Padahal ketika Constantine memperbesar arena ini, masjid tersebut tentu masih lebih dari seribu tahun dari masa pembangunannya.
Sejarah Istanbul memang suka membuat timeline terasa absurd.
German Fountain Justru Jauh Lebih Muda
Di bagian utara Hippodrome terdapat bangunan kecil berbentuk pavilion dengan kubah.
Ini adalah German Fountain atau Alman Çeşmesi.
Kalau melihat gaya arsitekturnya, saya dulu bisa saja mengira bangunan ini jauh lebih tua.
Padahal dibandingkan monumen lain di Hippodrome, German Fountain hampir seperti anak baru.
Fountain ini merupakan hadiah dari Kaisar Jerman Wilhelm II kepada Sultan Abdülhamid II dan dibangun sebagai pengingat kunjungan Wilhelm II ke Istanbul pada akhir abad ke-19. Struktur dibuat di Jerman, dibawa dalam bagian-bagian, kemudian dirakit di Istanbul sekitar pergantian abad ke-20. Go Türkiye
Bentuknya oktagonal.
Kubah bagian dalam dihiasi mosaik keemasan.
Kalau sudah lelah jalan di Sultanahmet, ini salah satu tempat yang enak untuk berhenti sebentar dan melihat detailnya.
Dan lagi-lagi kita mendapat timeline lain.
Berjalan beberapa puluh meter saja:
Mesir kuno → Yunani kuno → Bizantium → Ottoman → hubungan Ottoman-Jerman.
Lumayan jauh perjalanan sejarahnya untuk ukuran satu taman.
Hippodrome dan Blue Mosque Itu Bukan Tempat yang Sama
Kalau melihat peta, nama-namanya memang bisa agak membingungkan.
Hippodrome of Constantinople adalah bekas arena Romawi-Bizantium.
Sultanahmet Square adalah ruang publik modern yang sekarang menempati kawasan tersebut.
Blue Mosque atau Sultanahmet Camii adalah masjid yang berdiri di sisi square.
Ketiganya sangat dekat, tetapi bukan satu bangunan yang sama.
Dalam itinerary praktis, memang rasanya seperti satu kawasan.
Keluar Blue Mosque, jalan beberapa langkah, sudah berada di bekas Hippodrome.
Itulah kenapa menurut saya tidak perlu membuat waktu kunjungan khusus berjam-jam untuk Hippodrome.
Tapi jangan juga sekadar lewat.
Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan?
Kalau hanya berjalan dari satu ujung ke ujung lainnya, mungkin 15 sampai 20 menit sudah selesai.
Tetapi menurut saya sekitar 30 sampai 45 menit lebih masuk akal kalau benar-benar ingin melihat:
- German Fountain
- Obelisk of Theodosius
- relief di pedestal obelisk
- Serpent Column
- Walled Obelisk
Kalau suka sejarah, bisa lebih lama.
Yang menarik dari Hippodrome justru bukan banyaknya bangunan.
Melainkan memahami apa yang dulu ada di ruang kosong sekitar kita.
Karena sebagian besar arenanya sudah hilang.
Imajinasi sedikit diperlukan.
Apakah Masuk Hippodrome Bayar?
Tidak.
Sultanahmet Square merupakan ruang terbuka dan tidak memerlukan tiket masuk.
Tidak ada gate seperti museum.
Tidak ada loket.
Tidak perlu reservasi.
Justru karena itulah orang gampang tidak menyadari kalau tempat tersebut sebenarnya situs sejarah penting.
Hari ini kita bisa berjalan bebas melewati area yang dulu hanya bisa menampung puluhan ribu penonton di tribun kekaisaran. Access Istanbul
Untuk traveler seperti saya, tempat gratis di antara berbagai tiket Istanbul yang lumayan itu tentu selalu menyenangkan.
Dompet juga perlu itinerary santai sesekali.
Kapan Waktu Terbaik Datang?
Saya suka pagi atau sore.
Pagi lebih nyaman kalau ingin melihat detail tanpa terlalu banyak rombongan tour.
Sore punya cahaya yang lebih bagus, terutama kalau ingin sekaligus mengambil foto Blue Mosque.
Tapi sebenarnya karena area ini terbuka, kita kemungkinan akan melewatinya beberapa kali selama berada di Sultanahmet.
Saya justru menyarankan begitu.
Lihat pagi.
Kemudian lewat lagi sore atau malam.
Suasana kawasan berubah.
Apalagi Blue Mosque yang berada persis di sampingnya akan terlihat berbeda setelah lampu menyala.
Bisa Dikombinasikan dengan Tempat Apa?
Ini bagian paling gampang.
Hippodrome berada tepat di pusat cluster wisata Sultanahmet.
Dalam jarak jalan kaki ada:
Blue Mosque
tinggal di sebelahnya.
Hagia Sophia
beberapa menit berjalan melewati taman Sultanahmet.
Basilica Cistern
juga sangat dekat.
Museum of Turkish and Islamic Arts
berada di sisi Hippodrome, di bangunan bekas Ibrahim Pasha Palace.
Topkapi Palace
masih bisa dicapai dengan berjalan kaki.
Arasta Bazaar
berada di sekitar kompleks Blue Mosque.
Pemerintah Istanbul sendiri menempatkan Hagia Sophia, Blue Mosque, Turkish and Islamic Arts Museum, Basilica Cistern, Arasta Bazaar serta monumen Hippodrome sebagai bagian dari konsentrasi tempat penting di Sultanahmet. Istanbul U Seyret
Jadi kalau itinerary Istanbul cuma punya satu hari khusus Old City, hampir pasti kita akan berada di sini.
Hippodrome Mudah Dilewatkan Justru karena Tidak Terlihat Spektakuler
Ini menurut saya bagian paling menarik dari tempat ini.
Hagia Sophia tidak mungkin tidak terlihat.
Blue Mosque juga terlalu besar untuk dilewatkan.
Basilica Cistern punya antrean dan pintu masuk yang jelas.
Hippodrome tidak.
Tidak ada bangunan utama.
Tidak ada pintu.
Tidak ada tulisan besar “Anda sekarang berada di stadion Bizantium.”
Kita cuma melihat lapangan.
Beberapa pohon.
Obelisk.
Orang berjalan.
Dan justru karena itu banyak orang melewatinya begitu saja.
Padahal kalau sedikit tahu ceritanya, tiba-tiba ruang kosong itu berubah.
Saya mulai membayangkan lintasannya.
Tribun penuh orang.
Kuda berlari.
Kaisar duduk melihat pertandingan.
Kelompok Blue dan Green berteriak dari sisi arena.
Kemudian seribu tahun berlalu dan Sultan Ahmed membangun masjid besar di sampingnya.
Lalu ratusan tahun kemudian saya berdiri di tempat yang sama sambil mengambil foto pakai handphone.
Sedikit absurd kalau dipikir-pikir.
Jangan Cuma Mencari Bangunan di Istanbul
Saya rasa Hippodrome memberi pelajaran kecil tentang cara menikmati Istanbul.
Kita mudah sekali fokus pada bangunan.
Hagia Sophia.
Blue Mosque.
Topkapi Palace.
Galata Tower.
Padahal terkadang yang menarik justru ruang di antara bangunan-bangunan itu.
Hippodrome hampir tidak punya bentuk monumental yang tersisa.
Tetapi dari sinilah kehidupan publik Konstantinopel pernah berputar.
Orang datang mencari hiburan.
Menyaksikan perlombaan.
Mendukung kelompok.
Mengkritik kaisar.
Merayakan kemenangan.
Bahkan memberontak.
Jadi kalau nanti ke Sultanahmet, jangan hanya berjalan dari Hagia Sophia menuju Blue Mosque sambil melihat Google Maps.
Berhenti sebentar di Hippodrome.
Lihat Obelisk of Theodosius.
Cari Serpent Column yang ukurannya jauh lebih kecil.
Berjalan sampai Walled Obelisk.
Kemudian coba bayangkan arena besar yang pernah berdiri di sana.
Menurut saya baru setelah itu Sultanahmet terasa lengkap.
Bukan sekadar kumpulan tempat wisata terkenal.
Tapi bekas pusat sebuah kota yang pernah menjadi salah satu kota terpenting di dunia.
Dan entah kenapa, mengetahui itu membuat jalan kaki dari Blue Mosque ke tukang simit berikutnya terasa sedikit lebih bersejarah.
