Blue Mosque
Blue Mosque Istanbul: Masjid Biru yang Menjadi Ikon Sultanahmet
Ada pemandangan di Istanbul yang rasanya seperti sudah kita kenal bahkan sebelum datang.
Hagia Sophia di satu sisi.
Blue Mosque di sisi yang lain.
Di tengahnya ada taman Sultanahmet, orang-orang berjalan sambil foto, anak kecil mengejar burung, suara azan sesekali terdengar, dan hampir semua wisatawan berhenti sebentar untuk melihat dua bangunan besar yang saling berhadapan itu.
Saya juga begitu.
Awalnya perhatian memang gampang sekali tersedot ke Hagia Sophia karena sejarahnya luar biasa panjang. Tapi setelah melihat Blue Mosque atau Masjid Sultan Ahmed lebih dekat, saya baru sadar bahwa masjid ini punya cerita sendiri yang sama menariknya.
Bukan bangunan Bizantium yang kemudian berubah fungsi.
Blue Mosque memang sejak awal dibangun sebagai masjid kekaisaran Ottoman.
Dan kalau Hagia Sophia membawa kita ke Istanbul abad keenam, Blue Mosque membawa kita ke masa Ottoman sekitar seribu tahun kemudian.
Blue Mosque Itu Masjid Apa?
Blue Mosque adalah Masjid Sultan Ahmed atau Sultanahmet Camii, sebuah masjid kekaisaran Ottoman yang dibangun atas perintah Sultan Ahmed I pada awal abad ke-17. Masjid ini berada di kawasan Sultanahmet, tepat berhadapan dengan Hagia Sophia.
Dalam bahasa Turki namanya adalah Sultanahmet Camii.
Wisatawan internasional lebih mengenalnya sebagai Blue Mosque.
Masjid ini dibangun pada masa Sultan Ahmed I, dengan konstruksi yang berlangsung sekitar 1609 hingga 1617. Arsiteknya adalah Sedefkâr Mehmed Ağa, yang bekerja dalam tradisi arsitektur Ottoman klasik. Situs resmi Visit Istanbul mencatat bahwa bangunan ini dihiasi lebih dari 20.000 İznik tiles dan menjadi salah satu karya arsitektur Ottoman paling terkenal di kota. Visit Istanbul
Blue Mosque juga berada di dalam kawasan Historic Areas of Istanbul, yang masuk UNESCO World Heritage List sejak 1985. UNESCO memasukkan masjid abad ke-17 ini sebagai salah satu bangunan yang membentuk skyline historis Istanbul. UNESCO World Heritage Centre
Dan sampai hari ini, Blue Mosque masih aktif digunakan sebagai masjid.
Ini penting diingat.
Kita memang datang sebagai traveler, tetapi tempat yang kita kunjungi bukan museum.
Kenapa Disebut Blue Mosque?
Kalau melihat masjidnya dari luar, mungkin pertanyaan pertama justru:
“Biru di mana?”
Karena eksteriornya tidak benar-benar berwarna biru.
Nama Blue Mosque berasal dari dekorasi interiornya, terutama ribuan İznik tiles yang menggunakan banyak motif biru, turquoise, hijau, dan warna lain.
Lebih dari 20.000 ubin İznik digunakan di dalam masjid, dengan berbagai motif bunga dan tanaman khas Ottoman. Visit Istanbul
Jadi sebutan “Blue Mosque” sebenarnya nama populer yang muncul dari kesan interiornya.
Orang Turki sendiri lebih lazim menyebutnya Sultanahmet Camii, sesuai nama Sultan Ahmed I yang memerintahkan pembangunannya.
Begitu masuk dan melihat bagian dinding yang penuh tilework, baru nama Blue Mosque terasa lebih masuk akal.
Walaupun menurut saya kalau datang sambil berharap semua interiornya berwarna biru seperti filter Instagram, mungkin sedikit kaget.
Warnanya jauh lebih kompleks daripada itu.
Siapa Sultan Ahmed I?
Nama Sultan Ahmed I mungkin tidak sepopuler Mehmed II atau Süleyman the Magnificent bagi wisatawan.
Tetapi dialah tokoh di balik pembangunan Blue Mosque.
Ahmed I menjadi sultan Ottoman ketika usianya masih sangat muda, pada awal abad ke-17.
Ia kemudian memerintahkan pembangunan sebuah masjid besar di kawasan yang sekarang kita kenal sebagai Sultanahmet.
Lokasinya bukan pilihan sembarangan.
Masjid ini dibangun di jantung kawasan kekaisaran, tidak jauh dari Topkapi Palace, di dekat bekas Hippodrome of Constantinople, dan tepat berhadapan dengan Hagia Sophia.
Bayangkan saja posisi simboliknya.
Hagia Sophia sudah berdiri lebih dari seribu tahun ketika Blue Mosque mulai dibangun.
Kemudian Ottoman membangun sebuah masjid baru yang besar di seberangnya.
Maka tidak mengherankan kalau hari ini dua bangunan tersebut menjadi pasangan visual yang hampir tidak bisa dipisahkan ketika kita membayangkan Istanbul.
Siapa yang Mendesain Blue Mosque?
Arsitek Blue Mosque adalah Sedefkâr Mehmed Ağa.
Ia bekerja dalam tradisi arsitektur Ottoman yang sangat dipengaruhi generasi Mimar Sinan, arsitek besar Ottoman yang sebelumnya menghasilkan bangunan seperti Süleymaniye Mosque.
Desain Blue Mosque memperlihatkan kombinasi antara gaya masjid Ottoman klasik dan pengaruh arsitektur monumental Bizantium yang sudah lama hadir di Istanbul.
Visit Istanbul bahkan menyebut arsitekturnya sebagai sintesis antara tradisi masjid Ottoman dan pengaruh gereja Bizantium. Visit Istanbul
Dan pengaruh itu gampang kita rasakan ketika berdiri di Sultanahmet.
Kubah besar.
Semi-dome yang turun bertingkat.
Ruang interior yang sangat terbuka.
Masjid ini terasa monumental, tetapi bentuknya juga terasa menyatu dengan skyline lama Istanbul.
UNESCO sendiri menilai karakter Istanbul salah satunya lahir dari pertemuan mahakarya arsitektur Bizantium dan Ottoman selama berabad-abad. UNESCO World Heritage Centre
Kenapa Blue Mosque Punya Enam Minaret?
Nah, ini salah satu detail yang paling mudah dikenali.
Blue Mosque memiliki enam minaret.
Pada masa pembangunannya, jumlah tersebut cukup tidak biasa.
Mayoritas masjid Ottoman memiliki jumlah minaret yang lebih sedikit, sementara enam minaret memberi Blue Mosque siluet yang sangat khas.
Ada sebuah cerita populer yang sering diceritakan tentang asal-usulnya.
Konon Sultan Ahmed meminta dibuatkan minaret dari emas, atau altın minare, tetapi arsiteknya salah mendengar menjadi altı minare, yang berarti enam minaret.
Cerita ini menarik sekali.
Masalahnya, bukti sejarahnya tidak terlalu kuat.
Jadi saya lebih suka menganggapnya sebagai legenda populer daripada fakta yang benar-benar bisa kita pastikan.
Yang jelas, enam minaret memang menjadi salah satu ciri Blue Mosque dan membuat bangunan ini mudah dikenali bahkan dari kejauhan.
Saat berjalan di Sultanahmet, kita sering tidak perlu membuka Google Maps.
Cari saja enam menara.
Kemungkinan besar sudah dekat.
Blue Mosque Pernah Menimbulkan Kontroversi karena Enam Minaretnya?
Ada cerita lain yang sering muncul.
Pada saat Blue Mosque dibangun, Masjidil Haram di Makkah juga disebut memiliki enam minaret.
Karena itu pembangunan enam minaret di Istanbul konon menimbulkan keberatan, seolah-olah masjid Sultan Ahmed ingin menyaingi Masjidil Haram.
Versi populer cerita tersebut kemudian menyebut Sultan Ahmed membiayai pembangunan minaret tambahan di Makkah.
Cerita seperti ini sangat sering muncul di artikel wisata.
Tetapi detail historisnya ternyata tidak sesederhana versi singkat tersebut.
Jadi menurut saya lebih aman menyebut bahwa enam minaret Blue Mosque memang merupakan sesuatu yang sangat tidak biasa pada masanya, tanpa menjadikan legenda tersebut sebagai fakta mutlak.
Ini juga prinsip yang saya ingin Travellumy pertahankan.
Kalau ceritanya memang legenda, kita bilang legenda.
Tidak perlu dibuat menjadi fakta hanya karena lebih seru.
Dari Luar, Kubahnya Seperti Bertumpuk
Salah satu hal yang paling saya suka dari Blue Mosque justru terlihat sebelum masuk.
Coba berdiri agak jauh di Sultanahmet Square.
Bangunan ini memiliki satu kubah utama yang dikelilingi semi-dome dan kubah-kubah yang lebih kecil.
Dari luar bentuknya terlihat seperti turun bertingkat, hampir seperti air terjun kubah.
Komposisi ini membuat bangunannya terasa besar tetapi tidak seperti satu massa batu raksasa.
Enam minaret tipis di sekelilingnya kemudian memberi kesan vertikal.
Kalau mendapatkan sudut yang pas, siluetnya memang cantik sekali.
Saya rasa foto paling menarik justru bukan dari terlalu dekat.
Sedikit mundur.
Biarkan kubah dan minaretnya terlihat utuh.
Kenapa Interior Blue Mosque Terasa Begitu Terang?
Begitu masuk, hal pertama yang terasa adalah besarnya ruang.
Tetapi setelah beberapa menit, saya malah memperhatikan cahaya.
Masjid ini punya banyak jendela yang memungkinkan cahaya alami masuk ke ruang salat.
Pada desain aslinya, efek cahaya ini tentu menjadi bagian penting dari pengalaman interior.
Sekarang ada pencahayaan tambahan dan chandeliers, tetapi kombinasi jendela, kubah, dan permukaan tilework tetap membuat ruangnya terasa hidup.
Dan di sinilah detail biru mulai terlihat.
Bukan satu blok warna biru besar.
Tetapi berulang dalam pola-pola kecil.
İznik Tiles, Bagian yang Jangan Dilihat Buru-Buru
Kalau sudah berada di dalam Blue Mosque, coba jangan langsung berjalan ke tengah lalu foto kubah.
Perhatikan dinding bagian bawah.
İznik tiles merupakan salah satu bagian terpenting dari dekorasi masjid.
İznik adalah kota di Türkiye yang pada masa Ottoman terkenal sebagai pusat produksi keramik berkualitas tinggi.
Tile yang digunakan di Blue Mosque menampilkan banyak motif tanaman.
Tulip.
Carnation.
Cypress.
Daun.
Bunga-bunga kecil.
Ada warna biru, turquoise, hijau, merah, dan berbagai kombinasi lainnya.
Lebih dari 20.000 tile digunakan di interior Blue Mosque. Visit Istanbul
Saya suka detail seperti ini karena dari kejauhan kita hanya melihat “dinding biru”.
Begitu mendekat, ternyata masing-masing bagian penuh pola.
Jadi jangan buru-buru.
Kadang bagian terbaik sebuah bangunan justru yang tidak terlihat di foto wide angle.
Tulip Ada di Mana-Mana
Kalau tertarik budaya Turki, motif tulip juga menarik diperhatikan.
Tulip punya hubungan panjang dengan kebudayaan Ottoman.
Jauh sebelum bunga ini identik dengan Belanda dalam imajinasi kita, tulip sudah menjadi motif yang sangat populer di seni Ottoman.
Dan di Blue Mosque kita bisa melihatnya muncul berulang dalam dekorasi İznik.
Kecil sekali detailnya.
Tetapi setelah tahu apa yang dicari, tiba-tiba kita melihat tulip di mana-mana.
Hal seperti inilah yang membuat saya suka membaca sedikit sebelum datang ke tempat bersejarah.
Kalau tidak, mata kita sering melewati begitu saja.
Mihrab dan Minbar
Seperti masjid pada umumnya, di bagian depan ruang salat terdapat mihrab yang menunjukkan arah kiblat.
Di dekatnya terdapat minbar, tempat khatib menyampaikan khutbah.
Keduanya dibuat dari marmer dan merupakan bagian penting dari komposisi interior.
Karena Blue Mosque masih digunakan untuk salat lima waktu dan salat Jumat, fungsi bagian-bagian tersebut bukan sekadar dekorasi sejarah.
Masjid ini masih hidup.
Orang masih datang beribadah di sini setiap hari.
Dan menurut saya justru itu yang membedakannya dari banyak bangunan bersejarah lain.
Kita tidak hanya melihat peninggalan masa Ottoman.
Bangunannya masih menjalankan fungsi yang sama seperti ketika dibangun empat abad lalu.
Blue Mosque dan Hagia Sophia, Mana yang Lebih Tua?
Tidak sebanding dekat.
Hagia Sophia jauh lebih tua.
Bangunan Hagia Sophia yang sekarang berdiri selesai pada abad keenam, sekitar tahun 537.
Blue Mosque baru dibangun pada awal abad ke-17.
Artinya usia keduanya terpaut lebih dari seribu tahun.
Ini juga alasan saya suka melihat dua bangunan ini sebagai pasangan.
Di satu sisi ada mahakarya Bizantium abad keenam.
Di seberangnya ada masjid kekaisaran Ottoman abad ke-17.
Kita hanya perlu berjalan melewati taman beberapa menit untuk berpindah seribu tahun sejarah.
Tidak banyak kota yang bisa menawarkan hal seperti itu.
Blue Mosque dan Hagia Sophia Bukan Tempat yang Sama
Kedengarannya sangat obvious kalau sudah pernah ke Istanbul.
Tetapi ternyata pencarian seperti ini cukup sering muncul.
Blue Mosque dan Hagia Sophia adalah dua bangunan yang berbeda.
Mereka hanya berada sangat dekat dan saling berhadapan di kawasan Sultanahmet.
Hagia Sophia dibangun lebih dulu sebagai gereja Bizantium dan telah mengalami beberapa kali perubahan fungsi.
Blue Mosque sejak awal dibangun sebagai masjid Ottoman.
Kalau pertama kali ke Istanbul, menurut saya dua-duanya harus dikunjungi.
Bukan memilih salah satu.
Justru menariknya ada pada perbandingan keduanya.
Apakah Blue Mosque Termasuk UNESCO?
Blue Mosque berada di dalam Historic Areas of Istanbul, yang masuk UNESCO World Heritage List sejak 1985.
UNESCO menyebut masjid abad ke-17 ini sebagai salah satu elemen penting yang membentuk karakter Historic Peninsula Istanbul dan skyline kotanya. UNESCO World Heritage Centre
Jadi bukan berarti Blue Mosque berdiri sendiri sebagai satu World Heritage Site terpisah.
Ia menjadi bagian dari kawasan warisan sejarah Istanbul yang lebih luas.
Ini detail kecil, tetapi menurut saya penting supaya penulisannya akurat.
Apakah Wisatawan Boleh Masuk Blue Mosque?
Boleh.
Blue Mosque terbuka untuk wisatawan non-Muslim di luar waktu ibadah.
Dan berbeda dengan beberapa attraction utama Istanbul, tidak ada tiket masuk untuk mengunjungi masjid ini. Informasi pengunjung saat ini juga menyebut masjid ditutup sementara bagi turis ketika salat berlangsung, terutama pada salat Jumat yang biasanya membutuhkan penutupan lebih lama. Go Sultanahmet
Karena masih berfungsi sebagai tempat ibadah, aturan kunjungannya tentu berbeda dari museum.
Wisatawan diharapkan berpakaian sopan.
Wanita perlu menutup rambut.
Bahu dan lutut sebaiknya tertutup.
Sepatu dilepas sebelum memasuki area ruang salat.
Saya selalu merasa aturan seperti ini lebih mudah kalau dari awal kita mengingat satu hal:
kita sedang masuk ke rumah ibadah, bukan sekadar attraction.
Selesai.
Tidak terasa rumit lagi.
Waktu Salat Perlu Diperhatikan
Ini salah satu detail yang sering membuat itinerary Istanbul berantakan.
Masjid digunakan untuk ibadah lima kali sehari.
Jadi akses wisatawan akan berhenti sementara di sekitar waktu salat. Go Sultanahmet
Kalau datang Jumat, waktunya bisa lebih panjang karena ada salat Jumat.
Karena itu saya tidak akan menyusun itinerary Sultanahmet dengan jadwal terlalu ketat seperti:
09.00 Blue Mosque
09.30 Hagia Sophia
10.00 Basilica Cistern
Istanbul tidak bekerja seperti spreadsheet.
Ada antrean.
Waktu salat.
Security.
Lalu tiba-tiba kita menemukan angle foto bagus dan berhenti sepuluh menit.
Lebih aman beri napas.
Blue Mosque Gratis, tetapi Jangan Datang Hanya karena Gratis
Iya, masuk Blue Mosque tidak dikenakan tiket.
Tapi menurut saya ini bukan attraction “gratis yang kebetulan dekat Hagia Sophia”.
Bangunan ini layak mendapat waktunya sendiri.
Berjalan di courtyard.
Melihat komposisi kubah.
Memperhatikan minaret.
Masuk ke interior.
Melihat İznik tiles dari dekat.
Kemudian kalau sempat, kembali ke area luar pada waktu yang berbeda.
Itu jauh lebih menyenangkan daripada datang hanya untuk berkata, “Sudah foto Blue Mosque.”
Courtyard-nya Juga Jangan Dilewatkan
Banyak orang fokus ingin cepat masuk ke ruang utama.
Padahal courtyard Blue Mosque sendiri cantik.
Halaman dikelilingi arcade dengan kubah-kubah kecil.
Di tengah terdapat fountain.
Kalau tidak terlalu ramai, bagian ini memberi kesempatan untuk melihat detail arsitektur masjid dari sudut yang berbeda.
Coba juga berdiri di area gerbang dan melihat ke arah kubah.
Frame lengkung pintunya kadang menghasilkan komposisi foto yang bagus.
Dan kalau kebetulan datang ketika rombongan tour baru saja pergi, suasananya bisa berubah drastis hanya dalam beberapa menit.
Kapan Blue Mosque Paling Cantik Dilihat?
Untuk interior, pagi biasanya menyenangkan karena jumlah pengunjung sering belum sebanyak pertengahan hari.
Tetapi untuk melihat Blue Mosque dari luar, saya justru suka menjelang sore.
Cahaya mulai lebih lembut.
Bayangan kubah terlihat lebih jelas.
Dan kawasan Sultanahmet perlahan berubah suasana.
Kalau masih punya tenaga, jangan langsung pulang setelah sunset.
Tunggu sedikit.
Blue Mosque ketika malam dan lampu sudah menyala punya atmosfer yang sama sekali berbeda.
Apalagi kalau dilihat dari taman dengan Hagia Sophia di belakang.
Susah memilih harus menghadap ke mana.
First-world traveler problem, mungkin.
Tempat Foto Blue Mosque yang Saya Suka
Kalau ingin mendapatkan keseluruhan bangunan, jangan memotret tepat di bawahnya.
Beberapa sudut yang menarik:
Sultanahmet Square
Paling gampang untuk mendapatkan kubah dan minaret secara utuh.
Taman di antara Hagia Sophia dan Blue Mosque
Bagus untuk melihat hubungan kedua bangunan.
Area Hippodrome
Sudut pandangnya sedikit berbeda dan biasanya lebih terasa konteks kawasan Sultanahmet.
Courtyard Blue Mosque
Lebih cocok untuk detail arsitektur.
Kalau nanti cluster Istanbul sudah makin lengkap, menurut saya detail seperti ini sebaiknya kita tarik juga ke artikel Best Photo Spots in Istanbul, supaya artikel Blue Mosque tidak terlalu melebar.
Apa yang Bisa Dikunjungi Sekalian dengan Blue Mosque?
Lokasinya mungkin salah satu yang paling praktis di seluruh Istanbul.
Dalam jarak jalan kaki ada:
- Hagia Sophia
- Basilica Cistern
- Hippodrome of Constantinople
- Topkapi Palace
- Istanbul Archaeological Museums
- Arasta Bazaar
Kawasan Sultanahmet sendiri termasuk dalam Archaeological Park yang menjadi bagian dari Historic Areas of Istanbul UNESCO. UNESCO World Heritage Centre
Kalau punya satu hari penuh, area ini sudah bisa memenuhi itinerary tanpa perlu naik transportasi ke mana-mana.
Tapi sekali lagi, jangan memasukkan semuanya hanya karena terlihat dekat di peta.
Topkapi Palace sendiri bisa makan beberapa jam.
Hagia Sophia juga bisa antre.
Dan Blue Mosque tetap mengikuti jadwal ibadah.
Apakah Blue Mosque Worth It?
Kalau baru pertama kali ke Istanbul, menurut saya jawabannya mudah:
iya.
Bahkan kalau merasa sudah melihat banyak masjid di perjalanan lain.
Blue Mosque bukan menarik hanya karena ukurannya besar.
Yang membuatnya istimewa adalah konteksnya.
Lokasinya di jantung kota lama.
Hubungannya dengan Hagia Sophia.
Enam minaret.
Interior İznik.
Sejarah Sultan Ahmed I.
Dan fakta bahwa setelah lebih dari empat abad, masjid ini masih digunakan untuk tujuan yang sama seperti ketika dibangun.
UNESCO menggambarkan skyline Historic Istanbul sebagai hasil pertemuan karya arsitektur Bizantium dan Ottoman selama berabad-abad, dan Blue Mosque menjadi salah satu elemen utama skyline abad ke-17 tersebut. UNESCO World Heritage Centre
Kalau berdiri di taman Sultanahmet dan melihat ke dua arah, rasanya kalimat itu langsung lebih mudah dimengerti.
Blue Mosque Membuat Sultanahmet Terasa Seperti Istanbul yang Kita Bayangkan
Ada tempat yang ketika sampai ternyata tidak seperti bayangan kita.
Sultanahmet sedikit berbeda.
Entah kenapa justru terasa sangat “Istanbul”.
Kubah.
Minaret.
Burung.
Taman.
Hagia Sophia.
Blue Mosque.
Suara azan yang saling menyahut dari bangunan di sekitar kawasan.
Dan orang-orang dari berbagai negara berjalan ke arah yang berbeda sambil berkali-kali berhenti untuk mengambil foto.
Blue Mosque mungkin tidak punya sejarah sepanjang Hagia Sophia.
Ia “hanya” berusia sekitar empat abad.
Lucu juga menulis hanya empat abad.
Tetapi bagi saya, Blue Mosque membantu memperlihatkan sisi Istanbul yang berbeda.
Kalau Hagia Sophia menceritakan bagaimana kota ini berubah dari Konstantinopel Bizantium menjadi Istanbul Ottoman, Blue Mosque memperlihatkan seperti apa Ottoman ingin menampilkan dirinya ketika kekaisaran itu sudah menjadikan Istanbul sebagai rumahnya selama berabad-abad.
Makanya saya tidak akan memilih antara Hagia Sophia atau Blue Mosque.
Datang ke dua-duanya.
Kemudian duduk sebentar di taman di tengahnya.
Lihat yang satu.
Balik badan.
Lihat yang satunya lagi.
Kadang cara paling menyenangkan memahami sejarah memang sesederhana itu.
