Itinerary Turki 9 Hari 6 Malam
Itinerary Turki 9 Hari 6 Malam: Istanbul, Bursa, Ephesus, Pamukkale hingga Cappadocia.
Kalau sedang mencari itinerary Turki 9 hari, ini adalah rute yang benar-benar pernah saya jalani sendiri.
Bukan itinerary yang saya susun berdasarkan Google Maps.
Saya pergi ke Turki pada 19–27 Juni 2019 bersama PSA Tour. Jadi memang sebagian besar tujuan, hotel, restoran, dan waktu perjalanannya sudah diatur oleh travel.
Tapi setelah menjalani semuanya, saya jadi punya gambaran: mana bagian yang menurut saya worth it, mana hari yang santai, dan mana hari yang ternyata cukup panjang karena sebagian besar waktunya dihabiskan di jalan.
Rute perjalanan kami saat itu kurang lebih:
Jakarta → Istanbul → Bursa → Kuşadası → Ephesus → Pamukkale → Cappadocia → Tuz Gölü → Ankara → Istanbul → Jakarta.
Totalnya 9 hari 6 malam, karena malam pertama dan malam terakhir praktis dihabiskan dalam perjalanan udara.
Kalau ini perjalanan pertama ke Turki dan ingin melihat banyak sisi negara tersebut dalam satu trip, menurut saya rute seperti ini masih menarik.
Kita dapat Istanbul.
Dapat sejarah Ottoman di Bursa.
Dapat Ephesus.
Dapat Pamukkale.
Dan tentu saja Cappadocia.
Cuma satu catatan:
perjalanannya cukup padat.
Turki itu besar. Pindah dari satu kota ke kota lain tidak selalu dekat seperti kelihatannya di peta.
Jadi jangan membayangkan setiap hari cuma sightseeing santai.
Ada beberapa hari yang memang banyak duduk di bus.
Tapi begitulah perjalanan saya waktu itu.
Dan anehnya tetap menyenangkan.
Ringkasan Itinerary Turki 9 Hari
Supaya lebih gampang melihat rutenya, ini versi singkatnya dulu.
| Hari | Rute | Highlight |
|---|---|---|
| Hari 1 | Jakarta – Istanbul | Penerbangan Turkish Airlines |
| Hari 2 | Istanbul | Hagia Sophia, Blue Mosque, Hippodrome, Bosphorus |
| Hari 3 | Istanbul – Bursa – Kuşadası | Bursa, Green Mosque, Green Tomb |
| Hari 4 | Kuşadası – Ephesus – Pamukkale | Ephesus, House of Virgin Mary, Pamukkale |
| Hari 5 | Pamukkale – Cappadocia | perjalanan darat, caravanserai |
| Hari 6 | Cappadocia | hot air balloon, Göreme, underground city |
| Hari 7 | Cappadocia – Tuz Gölü – Ankara – Istanbul | Salt Lake, Ankara |
| Hari 8 | Istanbul | Topkapı Palace, Grand Bazaar, Taksim |
| Hari 9 | Istanbul – Jakarta | tiba kembali di Jakarta |
Kalau melihat tabelnya saja mungkin terasa simpel.
Begitu dijalani?
Lumayan juga. Hahaha.
Hari 1: Jakarta – Istanbul
Saya berangkat hari Rabu, 19 Juni 2019, dari Bandara Soekarno-Hatta.
Waktu itu kami menggunakan Turkish Airlines TK57 dari Jakarta menuju Istanbul.
Penerbangan Jakarta–Istanbul termasuk penerbangan panjang. Waktu itu perjalanan kami berlangsung sekitar 11 jam 45 menit, sedikit lebih cepat dari jadwal sekitar 12 jam.
Karena penerbangannya panjang, saya malah menjadikan bagian ini sebagai pengalaman tersendiri.
Makan.
Nonton film.
Tidur.
Bangun.
Makan lagi.
Saya sudah menulis pengalaman lengkapnya secara terpisah di artikel Turkish Airlines Economy Class Review, jadi di sini saya tidak akan mengulang terlalu panjang.
Satu hal yang perlu diingat kalau membaca itinerary lama: nomor gate dan jadwal penerbangan tentu bisa berubah. Jadi informasi seperti “Terminal 3 Gate 3” dalam pengalaman saya tahun 2019 tidak perlu dijadikan panduan keberangkatan sekarang.
Yang tetap relevan adalah datang lebih awal untuk penerbangan internasional dan cek terminal serta gate dari tiket atau aplikasi maskapai pada hari keberangkatan.
Hari 2: Tiba di Istanbul dan Mulai City Tour
Kami tiba di Istanbul hari Kamis, 20 Juni 2019.
Setelah melewati imigrasi dan mengambil bagasi, kami tidak langsung masuk hotel untuk tidur.
Tidak ada acara jet lag manja-manja.
Langsung sarapan.
Hahaha.
Sarapan di Crowne Plaza Old City
Pemberhentian pertama kami adalah Crowne Plaza Istanbul Old City untuk sarapan.
Ini juga menjadi pengalaman pertama saya melihat lebih dekat Turkish breakfast.
Buffet-nya tentu bukan hanya makanan Turki karena hotelnya melayani tamu internasional, tapi dari sini saya mulai mengenal keju-keju Turki, zaitun, roti, sucuk, teh, dan berbagai menu lain yang kemudian sering saya temui selama perjalanan.
Kalau ingin membaca lebih lengkap tentang budaya sarapan Turki, saya sudah menulis artikel khusus tentang Turkish Breakfast dan kahvaltı.
Hagia Sophia
Setelah sarapan, tujuan pertama kami adalah Hagia Sophia.
Waktu saya datang pada 2019, Hagia Sophia masih berstatus museum.
Sekarang kondisinya berbeda.
Hagia Sophia kembali berfungsi sebagai masjid sejak 2020, sementara area galeri juga dibuka untuk kunjungan wisatawan. Saat tulisan ini diperbarui, restorasi besar masih berlangsung pada beberapa bagian bangunan, termasuk kubahnya.
Jadi kalau mengikuti itinerary saya sekarang, sebaiknya cek kembali aturan kunjungan sebelum datang.
Blue Mosque
Dari Hagia Sophia kami tinggal berjalan menuju Blue Mosque atau Sultan Ahmed Mosque.
Dua landmark ini memang berdekatan.
Itulah enaknya area Sultanahmet.
Dalam radius yang cukup dekat sudah ada Hagia Sophia, Blue Mosque, Hippodrome, Basilica Cistern, dan Topkapı Palace.
Kalau jalan sendiri, menurut saya kawasan ini justru sebaiknya dinikmati dengan berjalan kaki.
Hippodrome
Setelah itu kami mampir ke Hippodrome of Constantinople.
Lokasinya masih di sekitar Sultanahmet.
Dulu kawasan ini digunakan untuk pacuan kereta dan berbagai kegiatan publik pada masa Konstantinopel.
Sekarang bentuk arena aslinya memang sudah tidak terlihat seperti dahulu, tetapi beberapa monumen bersejarahnya masih ada.
Makan Siang di Kebab House
Setelah berjalan dari pagi, akhirnya makan.
Kami makan siang di Kebab House.
Menunya?
Ya kebab dan teman-temannya.
Ini baru hari pertama dan saya masih sangat semangat makan daging.
Belum tahu kalau beberapa hari kemudian saya akan mulai mencari-cari:
“Sayur mana, sayur?”
Hahaha.
Bosphorus Cruise
Setelah makan siang, kami naik Bosphorus Cruise sekitar satu jam.
Kalau baru pertama ke Istanbul, saya sangat menyarankan pengalaman ini.
Dari kapal kita bisa melihat sisi kota yang berbeda.
Masjid.
Istana.
Rumah-rumah di tepi Bosphorus.
Jembatan.
Dan yang paling menarik, Istanbul memang berdiri di dua benua: Eropa dan Asia.
Kalau itinerary waktunya terbatas, cruise sekitar satu sampai dua jam sudah cukup memberi gambaran.
Makan di Balat
Setelah cruise kami makan lagi di sebuah restoran di kawasan Balat yang waktu itu saya catat bernama Chincillat Balat.
Menunya masih seputar daging dan ayam.
Masih kuat.
Belum menyerah.
Menginap di Clarion Hotel Golden Horn
Malam pertama kami menginap di Clarion Hotel Golden Horn.
Dan akhirnya…
tidur.
Setelah penerbangan belasan jam plus city tour hampir seharian, tempat tidur hotel waktu itu rasanya seperti hadiah.
Hari 3: Istanbul – Bursa – Kuşadası
Hari Jumat, 21 Juni 2019, kami meninggalkan Istanbul dan mulai perjalanan panjang menuju Bursa, kemudian lanjut ke Kuşadası.
Nah, mulai hari ini baru terasa model road trip Turki.
Perjalanan ke Bursa
Setelah sarapan di Clarion Hotel Golden Horn, kami berangkat menggunakan bus.
Kalau mengikuti rute serupa secara mandiri, jangan meremehkan waktu pindah kota.
Itinerary Turki lintas provinsi memang membutuhkan perencanaan transportasi yang cukup matang.
Turki juga punya jaringan penerbangan domestik dan bus antarkota yang luas, jadi road trip seperti yang saya lakukan bukan satu-satunya pilihan.
Rest Area Turki
Di tengah perjalanan kami mampir rest area.
Kedengarannya nggak penting.
Tapi saya justru suka.
Bisa ke toilet.
Masuk supermarket.
Cari cemilan.
Lihat-lihat barang yang nggak perlu.
Lalu foto.
Namanya juga turis.
Munira Turkish Delight
Kami juga mampir ke Munira Turkish Delight.
Ini tipe pemberhentian yang memang umum kalau ikut group tour.
Ada demo produk.
Ada kesempatan belanja.
Dan tentu saja mencoba Turkish delight.
Kalau jalan sendiri, bagian ini jelas bisa di-skip kalau tidak tertarik belanja.
Makan Siang di Köfteci Yusuf
Kami makan siang di Köfteci Yusuf.
Porsinya besar.
Dagingnya banyak.
Sampai saya mulai sedikit eneg.
Padahal baru hari ketiga.
Hahaha.
Bursa
Setelah sampai di Bursa, kami mengunjungi beberapa tempat.
Salah satunya kawasan perdagangan sutra.
Bursa memang punya sejarah panjang sebagai kota perdagangan sutra dan salah satu kota penting dalam perkembangan awal Ottoman. GoTürkiye juga masih menempatkan Koza Han dan warisan Ottoman sebagai bagian penting daya tarik Bursa.
Green Mosque
Kami kemudian mampir ke Green Mosque atau Yeşil Cami.
Arsitekturnya cantik dan kawasan sekitarnya relatif mudah dijelajahi dengan berjalan kaki.
Green Tomb
Tidak jauh dari sana ada Green Tomb atau Yeşil Türbe, makam Sultan Mehmed I.
Karena lokasinya berdekatan, dua tempat ini enak dikunjungi sekaligus.
Kalau punya waktu lebih panjang di Bursa, saya sekarang justru ingin menambah Ulu Cami dan Koza Han.
Tapi dalam perjalanan 2019 saya mengikuti program tour yang sudah ditentukan.
Lanjut ke Kuşadası
Setelah selesai di Bursa, perjalanan masih lanjut menuju Kuşadası.
Ini salah satu hari yang cukup panjang.
Kami akhirnya makan malam dan menginap di Ramada Hotel Kuşadası.
Tidur lagi.
Besok sejarah kuno.
Hari 4: Kuşadası – Ephesus – Pamukkale
Hari keempat, Sabtu 22 Juni 2019, menjadi salah satu hari favorit saya.
Karena hari ini kami ke Ephesus dan Pamukkale.
Dua tempat yang sampai sekarang masih sangat saya ingat.
Ephesus
Setelah sarapan di hotel, kami menuju Ephesus Ancient City.
Kalau suka sejarah, Ephesus menurut saya salah satu tempat di Turki yang jangan dilewatkan.
Kota kuno ini sangat luas.
Ada Library of Celsus.
Theatre.
Jalan marmer.
Reruntuhan bangunan publik.
Dan yang paling saya ingat:
panas.
Hahaha.
Karena sebagian besar area terbuka, kalau datang menjelang summer seperti saya, topi, air minum, sunglasses, dan sunscreen wajib dibawa.
Leather Outlet
Setelah Ephesus kami mampir ke tempat penjualan produk kulit, Caliga Pelle.
Sekali lagi, ini khas itinerary group tour.
Kalau jalan sendiri dan memang tidak berminat belanja leather goods, bagian seperti ini bisa dialihkan untuk memberi waktu lebih lama di Ephesus.
House of Virgin Mary
Kami juga berkunjung ke House of Virgin Mary atau Meryem Ana Evi.
Lokasinya berada di perbukitan dekat Ephesus.
Suasananya jauh lebih tenang daripada Ephesus yang terbuka dan ramai.
Menuju Pamukkale
Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Pamukkale.
Pamukkale terkenal dengan travertine putih yang terbentuk dari air thermal kaya mineral. Kawasan Pamukkale dan Hierapolis juga merupakan satu situs UNESCO World Heritage.
Cleopatra’s Antique Pool
Di kawasan Hierapolis kami sempat melihat Antique Pool, yang populer disebut Cleopatra’s Pool.
Nama Cleopatra memang membuatnya terdengar lebih dramatis.
Tapi daya tarik utamanya sebenarnya adalah kolam thermal dengan sisa-sisa kolom antik yang berada di dalam air.
Kalau mau berenang, biasanya ada tiket tambahan dan ketentuannya bisa berubah. Jadi sebaiknya cek kondisi terbaru sebelum datang.
Pamukkale Travertines
Lalu bagian yang paling saya tunggu:
Pamukkale.
Sepatu dilepas dan kami berjalan di area travertine.
Putih.
Air mengalir.
Cantik banget.
Tapi licin.
Jadi kalau foto jangan terlalu fokus sama gaya sampai lupa pijakan.
Malamnya kami makan dan menginap di Hotel Colossae.
Hari 5: Pamukkale – Cappadocia
Hari Minggu, 23 Juni 2019, itinerary kami lebih banyak berisi perjalanan darat.
Tujuannya:
Cappadocia.
Nah, ini hari yang harus diperhatikan kalau ingin meniru itinerary ini secara mandiri.
Jarak Pamukkale ke Cappadocia cukup jauh. Jadi perjalanan daratnya memang memakan sebagian besar hari.
Dalam group tour, saya bisa duduk santai karena semuanya sudah diatur.
Kalau road trip sendiri, pastikan ada waktu istirahat dan jangan membuat jadwal sightseeing terlalu ambisius pada hari yang sama.
Kafiye Sultan
Dalam perjalanan kami mampir ke sebuah outlet bernama Kafiye Sultan.
Kalau jalan sendiri, bagian seperti ini jelas opsional.
Rest Area dan Makan Siang
Kami juga berhenti di Akdeniz Dinleme Tesisleri dan makan siang di Akşehir Özkan.
Perjalanan panjang ternyata ada ritmenya sendiri:
jalan.
Rest area.
Toilet.
Makan.
Jalan lagi.
Hahaha.
Caravanserai
Salah satu pemberhentian yang justru menarik adalah caravanserai.
Bangunan seperti ini dulu menjadi tempat persinggahan pedagang dan pelancong yang melakukan perjalanan jauh melalui Anatolia.
Jadi walaupun cuma mampir, rasanya seperti melihat sedikit gambaran bagaimana perjalanan lintas Turki dilakukan berabad-abad lalu.
Sampai Cappadocia
Akhirnya kami sampai di Cappadocia.
Sedikit catatan:
Cappadocia bukan nama kota, melainkan sebuah kawasan di Anatolia Tengah yang mencakup area seperti Göreme, Uçhisar, Ürgüp, dan sekitarnya. GoTürkiye juga mendeskripsikannya sebagai kawasan yang terkenal karena formasi geologis fairy chimneys.
Malam itu kami makan dan menginap di Crowne Plaza.
Besok paginya…
akhirnya balon udara.
Hari 6: Seharian di Cappadocia
Kalau ditanya satu hari paling memorable dalam itinerary Turki saya?
Mungkin hari ini.
Senin, 24 Juni 2019.
Naik Hot Air Balloon di Cappadocia
Bangunnya pagi sekali.
Tapi untuk pengalaman yang satu ini saya rela.
Saya akhirnya naik hot air balloon di Cappadocia.
Amazing.
Sampai sekarang masih menjadi salah satu pengalaman traveling yang paling saya ingat.
Pemandangan Cappadocia dari udara memang berbeda.
Fairy chimneys.
Lembah.
Formasi bebatuan.
Ditambah puluhan balon lain terbang di sekitar kita.
Kalau hot air balloon menjadi prioritas utama, menurut saya jangan hanya menginap satu malam.
Penerbangan balon sangat tergantung kondisi cuaca dan keputusan keselamatan.
Dengan menginap minimal dua malam, setidaknya ada sedikit ruang kalau penerbangan hari pertama tidak bisa dilakukan.
Sarapan di Hotel
Setelah selesai balon baru kami kembali ke hotel untuk sarapan.
Dan percaya deh.
Setelah bangun subuh, udara dingin, lalu terbang balon…
sarapan hotel mendadak terasa jauh lebih enak.
Tempat Pembuatan Karpet
Hari itu kami juga mengunjungi tempat pembuatan karpet Turki.
Ini cukup menarik karena bisa melihat bagaimana karpet tradisional dibuat.
Walaupun akhirnya tentu ada sesi jualannya juga.
Namanya tour.
Hahaha.
Göreme
Kemudian kami menuju Göreme.
Pemandangannya cantik sekali.
Ini salah satu kawasan yang paling sering muncul ketika orang membayangkan Cappadocia.
Dan setelah melihat langsung, saya paham kenapa.
Makan Siang di Dede Efendi
Kami makan siang di Dede Efendi, restoran yang berada di bangunan batu seperti gua.
Pengalaman makannya sendiri sudah unik.
Jewellery dan Pottery
Setelah makan, kami mampir ke tempat perhiasan dan kemudian Venessa Seramik & Pottery.
Cappadocia, khususnya kawasan Avanos, memang dikenal dengan tradisi keramik.
Kalau suka kerajinan, ini menarik.
Kalau nggak suka belanja?
Ya lihat-lihat saja.
Çardak Underground City
Kami lalu menuju Çardak Underground City.
Ini bagian lain dari Cappadocia yang menurut saya menarik karena menunjukkan kehidupan kawasan ini bukan hanya soal fairy chimneys dan balon udara.
Ada jaringan permukiman bawah tanah yang digunakan masyarakat pada masa lalu.
Dan berada di dalamnya rasanya agak berbeda.
Terutama kalau nggak suka tempat sempit.
Hari 7: Cappadocia – Tuz Gölü – Ankara – Istanbul
Nah, ini yang perlu saya koreksi dari versi lama artikel.
Heading sebelumnya tertulis Cappadocia – Konya, padahal pada perjalanan sebenarnya kami tidak menuju Konya pada hari ini.
Kami meninggalkan Cappadocia, mampir ke Tuz Gölü, lalu ke Ankara, dan kemudian lanjut ke Istanbul.
Hari Selasa, 25 Juni 2019, adalah hari perjalanan yang panjang lagi.
Tuz Gölü
Setelah sarapan di hotel, kami berangkat dan berhenti di Tuz Gölü atau Salt Lake.
Pemandangannya unik.
Pada kondisi tertentu permukaannya terlihat seperti hamparan putih sangat luas.
Kalau airnya tipis, refleksinya juga bisa cantik.
Ini salah satu stop yang saya tidak terlalu pikirkan sebelumnya, tapi ternyata menarik untuk foto-foto.
Ankara
Setelah itu kami menuju Ankara, ibu kota Türkiye.
Bukan Istanbul ya.
Ini ternyata masih sering tertukar.
Di Ankara kami mengunjungi Anıtkabir, mausoleum Mustafa Kemal Atatürk.
Dalam tulisan lama saya menyebutnya Museum Atatürk. Supaya lebih tepat, lokasi utamanya adalah kompleks Anıtkabir, tempat makam dan museum yang berkaitan dengan Atatürk berada.
Makan Siang dan Kembali ke Istanbul
Setelah Ankara kami makan siang di Aynarci Tesisleri, lalu perjalanan berlanjut menuju Istanbul.
Makan malamnya justru di Warung Bu Deden.
Setelah berhari-hari makan daging Turki…
ketemu makanan Indonesia.
Ya tentu saja bahagia.
Hahaha.
Malam itu kami kembali menginap di Clarion Hotel Golden Horn.
Hari 8: Istanbul City Tour
Hari Rabu, 26 Juni 2019, kami kembali menjelajah Istanbul.
Di artikel lama heading hari ini tertulis Konya – Istanbul, tetapi itu juga tidak tepat karena malam sebelumnya kami sudah sampai Istanbul.
Hari kedelapan sebenarnya adalah Istanbul city tour.
Topkapı Palace
Tujuan pertama adalah Topkapı Palace.
Istana ini pernah menjadi pusat pemerintahan dan kediaman para sultan Ottoman selama berabad-abad.
Kompleksnya besar.
Jadi kalau berkunjung sendiri, saya sarankan jangan cuma menyediakan satu jam.
Saat merencanakan kunjungan sekarang, cek juga hari operasional dan jam kunjungan resmi karena bisa berubah berdasarkan musim. Situs museum resmi Türkiye memang menggunakan jam operasional musiman untuk sejumlah museum dan situs bersejarah.
Grand Bazaar
Setelah makan siang kami menuju Grand Bazaar.
Kalau suka belanja, ini surga.
Kalau nggak suka?
Tetap menarik untuk jalan-jalan.
Karpet.
Lampu.
Perhiasan.
Keramik.
Souvenir.
Spices.
Semua ada.
Tapi kalau memang berniat belanja, jangan langsung membeli dari toko pertama.
Lihat-lihat dulu.
Taksim Square
Kami kemudian mampir ke Taksim Square.
Suasananya jauh berbeda dari Sultanahmet.
Lebih modern, ramai, dan dekat dengan Istiklal Street.
Kalau punya waktu lebih panjang di Istanbul, saya justru menyarankan memberi waktu tersendiri untuk area Taksim dan Galata daripada hanya mampir sebentar seperti yang kami lakukan waktu ikut tour.
Menuju Bandara
Selesai jalan-jalan dan belanja, kami menuju bandara untuk pulang.
Waktu itu bahkan sempat beres-beres koper lagi di bandara.
Traveling group memang kadang begitu.
Beli oleh-oleh terus.
Koper ditimbang.
Panik.
Buka koper.
Pindah-pindah barang.
Hahaha.
Hari 9: Istanbul – Jakarta
Hari Kamis, 27 Juni 2019, kami tiba kembali di Jakarta.
Selesai sudah perjalanan Turki 9 hari 6 malam yang lumayan padat tapi sampai sekarang tetap jadi salah satu perjalanan yang paling saya ingat.
Capek?
Iya.
Senang?
Banget.
Dan yang lucu, setelah pulang saya malah merasa masih banyak tempat di Turki yang belum dilihat.
Apakah Itinerary Turki 9 Hari Ini Terlalu Padat?
Kalau ditanya sekarang setelah pernah menjalaninya:
cukup padat.
Terutama karena rute ini menggabungkan Istanbul, Bursa, wilayah Aegea, Pamukkale, Cappadocia, Ankara, lalu kembali ke Istanbul dalam satu perjalanan.
Kelebihannya, untuk perjalanan pertama kita bisa melihat banyak sekali sisi Turki.
Ada kota besar.
Sejarah Ottoman.
Kota kuno.
Pamukkale.
Cappadocia.
Ankara.
Tapi kekurangannya tentu waktu di masing-masing tempat menjadi lebih pendek.
Kalau saya melakukan perjalanan mandiri sekarang, beberapa bagian mungkin akan saya buat lebih santai.
Misalnya:
- Istanbul minimal 3 hari penuh
- Cappadocia minimal 2 malam
- Ephesus tidak digabung dengan terlalu banyak stop belanja
- hari perjalanan panjang jangan diberi terlalu banyak aktivitas tambahan
Tapi saya tidak menyesali itinerary yang saya jalani.
Untuk perjalanan pertama, justru rute seperti ini membuat saya tahu kota atau kawasan mana yang suatu hari ingin saya datangi lagi dengan lebih santai.
Kalau Jalan Sendiri, Apakah Rute Ini Bisa Ditiru?
Bisa.
Tapi saya tidak akan menirunya mentah-mentah.
Karena saat ikut tour kami punya bus, driver, local guide, restoran yang sudah dipesan, dan hotel yang sudah diatur.
Kalau traveling mandiri, waktu check-in, mencari transportasi, parkir, membeli tiket, sampai tersasar sedikit saja akan membuat ritmenya berbeda.
Saya akan mempertahankan alur besarnya, tetapi mengurangi beberapa stop belanja dan memberi waktu lebih panjang di destinasi utama.
Rute sederhananya bisa tetap:
Istanbul → Bursa → Kuşadası/Ephesus → Pamukkale → Cappadocia → Ankara → Istanbul.
Ini juga sejalan dengan banyak rute budaya yang menghubungkan destinasi utama Türkiye seperti Istanbul, Bursa, Ephesus, Hierapolis/Pamukkale, dan Cappadocia.
Visa Turki untuk Paspor Indonesia
Nah, ini salah satu informasi lama yang perlu diperbarui.
Untuk pemegang paspor biasa Indonesia, saat ini perjalanan wisata ke Türkiye mendapatkan bebas visa hingga 30 hari untuk setiap kunjungan, selama total masa tinggal tidak melebihi 90 hari dalam periode 180 hari.
Aturan imigrasi bisa berubah, jadi sebelum keberangkatan tetap cek kembali situs resmi Kementerian Luar Negeri Türkiye.
Jangan mengandalkan artikel blog lama untuk urusan visa.
Termasuk artikel saya sendiri.
Kapan Waktu yang Enak untuk Itinerary Seperti Ini?
Saya pergi bulan Juni, awal musim panas.
Menurut saya saat itu cukup nyaman.
Hari panjang.
Cuaca relatif cerah.
Tapi Ephesus sudah lumayan panas.
Sementara Cappadocia pagi-pagi tetap terasa dingin.
Kalau boleh memilih untuk rute lintas kota seperti ini, saya juga akan mempertimbangkan:
April–Mei untuk spring.
Atau:
September–Oktober untuk autumn.
Suhunya biasanya lebih nyaman untuk itinerary yang banyak jalan kaki.
Saya sudah membahas lebih detail soal cuaca di artikel Musim di Turki, karena jangan menganggap seluruh Turki punya suhu yang sama pada satu waktu.
Antalya, Istanbul, dan Cappadocia bisa beda jauh.
Tips Menyusun Itinerary Turki 9 Hari
Dari perjalanan ini, ada beberapa hal yang sekarang akan saya perhatikan kalau menyusun itinerary lagi.
Jangan terlalu banyak kota hanya karena terlihat dekat di peta.
Turki luas. Beberapa perpindahan kota makan waktu berjam-jam.
Sisakan minimal dua malam untuk Cappadocia.
Terutama kalau hot air balloon jadi prioritas.
Pisahkan tempat yang benar-benar ingin dilihat dari stop belanja.
Kalau jalan mandiri, waktu di leather shop atau outlet bisa dialihkan ke Ephesus atau kota lain.
Jangan membuat Istanbul hanya jadi kota transit.
Menurut saya Istanbul sendiri layak minimal tiga hari penuh.
Gunakan itinerary sebagai kerangka, bukan aturan mati.
Kalau suka sejarah, tambah waktu Ephesus.
Kalau suka kuliner, tambah Istanbul.
Kalau ingin lebih santai, kurangi satu kota.
Traveling kan bukan lomba siapa paling banyak pin Google Maps-nya.
Apakah 9 Hari Cukup untuk Turki?
Cukup untuk perjalanan pertama.
Tapi jelas belum cukup untuk melihat seluruh Türkiye.
Dengan sembilan hari, rute seperti yang saya jalani sudah memberi gambaran cukup luas:
Istanbul dengan sejarah dan Bosphorus.
Bursa dengan jejak Ottoman.
Ephesus dengan reruntuhan kota kuno.
Pamukkale dengan travertine putih.
Cappadocia yang rasanya seperti dunia lain.
Ankara sebagai ibu kota.
Dan setelah semuanya selesai, kemungkinan besar efek sampingnya justru:
ingin balik lagi.
Itu yang terjadi pada saya.
Dulu saya berpikir sembilan hari sudah panjang.
Setelah pulang, saya malah mulai melihat peta lagi.
Antalya belum.
Mardin belum.
Gaziantep belum.
Black Sea belum.
Bodrum belum.
Ternyata masalahnya bukan itinerary Turki 9 hari kurang bagus.
Masalahnya…
Turkinya kebesaran.
Hahaha.
Tulisan ini berdasarkan perjalanan pribadi saya ke Turki bersama PSA Tour pada 19–27 Juni 2019. Rute, hotel, restoran, dan tempat yang saya ceritakan adalah yang benar-benar saya kunjungi. Informasi praktis seperti visa, status tempat wisata, jam kunjungan, harga tiket, dan aturan masuk telah atau dapat berubah, jadi cek sumber resmi sebelum berangkat.
