Negara Vietnam
Negara Vietnam: Mengenal Negeri Berbentuk S di Asia Tenggara
Sebelum pergi ke Vietnam, saya merasa negara ini cukup familiar.
Sama-sama Asia Tenggara.
Tidak terlalu jauh dari Indonesia.
Makanannya juga sering terdengar akrab: pho, banh mi, spring rolls, kopi Vietnam.
Lalu setelah benar-benar datang, ternyata Vietnam jauh lebih beragam daripada yang saya bayangkan.
Hanoi terasa ramai dan sedikit chaotic.
Sapa dingin dan dikelilingi pegunungan.
Fansipan punya suasana yang sama sekali berbeda lagi.
Lalu beberapa hari kemudian saya berada di atas kapal, melihat formasi batu kapur Halong Bay muncul satu per satu dari air.
Semuanya masih berada di Vietnam Utara.
Belum sampai Hoi An.
Belum Hue.
Belum Da Nang.
Belum Ho Chi Minh City.
Dari perjalanan itu saya baru benar-benar sadar: Vietnam kelihatannya ramping di peta, tapi negaranya panjang sekali.
Dan kalau ingin memahami perjalanan ke sana, menurut saya enak kalau kita mengenal negaranya dulu.
Tidak perlu seperti belajar geografi untuk ujian.
Cukup tahu kenapa cuaca Sapa bisa berbeda dari Ho Chi Minh City, kenapa Hanoi dan Saigon punya karakter yang berbeda, serta bagaimana sejarah panjang Vietnam membentuk negara yang kita lihat sekarang.
Sekilas tentang Negara Vietnam
Vietnam adalah negara di Asia Tenggara yang berada di sisi timur Semenanjung Indochina. Ibu kotanya Hanoi, kota terbesarnya Ho Chi Minh City, bahasa resminya bahasa Vietnam, dan mata uangnya Vietnamese Dong atau VND.
Nama resmi negara ini adalah Socialist Republic of Viet Nam atau Republik Sosialis Vietnam. Vietnam berbatasan dengan China di utara serta Laos dan Kamboja di barat. Di sebelah timur dan selatan terbentang garis pantai yang sangat panjang menghadap Laut Timur atau Biển Đông. Kementerian Luar Negeri Vietnam mencatat luas wilayahnya sekitar 331 ribu km² dengan garis pantai sekitar 3.260 km. Vietnam Embassy in Jakarta
Kalau ingin gambaran cepat:
| Tentang Vietnam | Keterangan |
|---|---|
| Nama resmi | Republik Sosialis Vietnam |
| Ibu kota | Hanoi |
| Kota terbesar | Ho Chi Minh City |
| Kawasan | Asia Tenggara |
| Bahasa resmi | Bahasa Vietnam |
| Mata uang | Vietnamese Dong (VND) |
| Bentuk negara | Memanjang seperti huruf S |
| Negara tetangga | China, Laos, Kamboja |
| Zona waktu | UTC+7 |
| Kode telepon | +84 |
Jumlah penduduk Vietnam sekarang sudah menembus 100 juta jiwa. Data World Bank mencatat populasi sekitar 101,6 juta pada 2025, sedangkan sumber diplomatik Vietnam memperkirakan sekitar 102 juta pada 2026. World Bank Open Data
Menariknya, zona waktunya sama dengan WIB.
Jadi terbang dari Jakarta ke Hanoi tidak disertai drama menghitung jam.
Lumayan mengurangi satu pekerjaan kecil saat traveling.
Vietnam Berada di Mana?
Vietnam berada di Asia Tenggara, tepatnya di bagian timur Semenanjung Indochina.
Kalau melihat peta, bentuk negaranya panjang dan ramping seperti huruf S.
Dari utara ke selatan panjangnya sekitar 1.650 kilometer. Bagian paling sempit bahkan hanya sekitar 50 kilometer. Ministry of Foreign Affairs Vietnam
Dan bentuk geografis seperti ini ternyata sangat berpengaruh pada perjalanan.
Kita tidak bisa memperlakukan Vietnam seperti satu kawasan kecil dengan cuaca yang sama.
Vietnam Utara punya pegunungan.
Bagian tengah punya kota-kota pesisir dan rangkaian pegunungan.
Vietnam Selatan lebih dekat dengan iklim tropis serta Mekong Delta.
Makanya perjalanan Hanoi-Sapa-Halong Bay yang saya jalani terasa seperti berpindah suasana terus-menerus, padahal masih berada di bagian utara saja.
Vietnam Dibagi Menjadi Utara, Tengah, dan Selatan
Untuk traveler, menurut saya cara paling mudah memahami Vietnam adalah membaginya menjadi tiga kawasan besar.
Situs resmi Vietnam Tourism juga menggunakan pembagian Northern Vietnam, Central Vietnam, dan Southern Vietnam untuk menjelaskan destinasi utama negara tersebut. Vietnam Tourism
Vietnam Utara
Di sinilah ada:
Hanoi,
Sapa,
Ha Giang,
Halong Bay,
Ninh Binh,
dan Mai Chau.
Karakternya banyak diisi gunung, rice terraces, karst limestone, serta budaya kelompok etnis yang sangat beragam. Vietnam Tourism menggambarkan wilayah utara dengan pegunungan besar, sawah berteras, dan komunitas etnis yang khas. Vietnam Tourism
Ini bagian Vietnam yang sudah saya lihat sendiri.
Dan mungkin karena itu pula sampai sekarang kalau mendengar Vietnam, yang langsung muncul di kepala saya adalah Hanoi, udara dingin Sapa, dan landscape Halong Bay.
Vietnam Tengah
Kawasan ini mencakup banyak destinasi terkenal seperti:
Da Nang,
Hoi An,
Hue,
Nha Trang,
Phong Nha.
Bagian tengah terkenal dengan kombinasi kota bersejarah, pantai, gua, dan peninggalan kerajaan. Vietnam Tourism
Kalau suatu hari kembali ke Vietnam, kawasan ini termasuk yang paling ingin saya jelajahi.
Terutama Hue dan Hoi An.
Sejarah dan kota tua memang selalu gampang membuat itinerary saya bertambah panjang.
Vietnam Selatan
Bagian selatan punya karakter berbeda lagi.
Ada:
Ho Chi Minh City,
Can Tho,
Mekong Delta,
Con Dao,
Phu Quoc.
Vietnam Tourism menggambarkan selatan sebagai kombinasi energi kota besar dengan desa, sungai, pulau, dan kehidupan di kawasan Mekong. Vietnam Tourism
Jadi kalau orang bertanya, “Vietnam itu seperti apa?”
Menurut saya agak susah dijawab dalam satu gambaran.
Tergantung Vietnam yang mana.
Hanoi adalah Ibu Kota Vietnam, Bukan Ho Chi Minh City
Ini mungkin terasa obvious untuk sebagian orang, tapi memang masih sering tertukar.
Ibu kota Vietnam adalah Hanoi.
Bukan Ho Chi Minh City.
Hanoi berada di bagian utara dan merupakan pusat pemerintahan negara.
Sementara Ho Chi Minh City adalah kota terbesar dan menjadi pusat ekonomi utama di Vietnam Selatan.
Kalau pernah mendengar nama Saigon, itu adalah nama lama yang masih sangat sering digunakan untuk menyebut Ho Chi Minh City, terutama dalam konteks sejarah dan percakapan sehari-hari.
Dua kota ini juga punya sejarah dan suasana yang sangat berbeda.
Hanoi terasa lebih tua dan banyak menyimpan jejak kolonial serta sejarah politik negara.
Ho Chi Minh City lebih cepat, lebih modern, dan secara historis punya hubungan erat dengan Vietnam Selatan sebelum reunifikasi.
Sedikit Sejarah Vietnam Sebelum Traveling
Saya tidak akan membuat bagian ini menjadi pelajaran sejarah panjang.
Tapi sedikit konteks memang membuat perjalanan jauh lebih menarik.
Vietnam punya sejarah ribuan tahun dan berkali-kali berada di bawah kekuasaan atau pengaruh luar.
China punya pengaruh sangat panjang di wilayah Vietnam.
Kemudian muncul berbagai dinasti Vietnam yang membangun kerajaan sendiri.
Berabad-abad kemudian, Prancis masuk dan menjadikan Vietnam bagian dari French Indochina bersama Laos dan Kamboja.
Jejak kolonial Prancis masih bisa terlihat di beberapa kota sampai sekarang.
Di Hanoi misalnya, kita menemukan bangunan kolonial, boulevard, café culture, sampai roti baguette yang kemudian bertransformasi menjadi banh mi.
Buat saya hal-hal seperti ini menarik karena sejarah tidak hanya tinggal di museum.
Kadang ia muncul dalam makanan yang kita makan.
Kemerdekaan Vietnam dan Perang yang Membentuk Negara Modern
Pada 2 September 1945, Ho Chi Minh membacakan Declaration of Independence di Ba Dinh Square, Hanoi. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai National Day Vietnam. Vietnam Embassy in Jakarta
Tetapi sejarah setelah deklarasi itu tidak langsung menjadi sederhana.
Vietnam kemudian mengalami konflik panjang melawan Prancis.
Setelah kekuasaan kolonial berakhir, negara ini terbagi menjadi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan.
Lalu terjadi perang yang di Vietnam lebih sering disebut Resistance War Against America, sementara secara internasional lebih dikenal sebagai Vietnam War.
Perang berakhir pada 1975.
Setahun setelahnya, Vietnam secara resmi dipersatukan menjadi Socialist Republic of Vietnam.
Nama Saigon kemudian diubah menjadi Ho Chi Minh City.
Kalau suatu hari berkunjung ke Ho Chi Minh City atau Cu Chi Tunnels, konteks sejarah ini tentu akan terasa jauh lebih dekat.
Bahasa Vietnam dan Tulisan yang Kelihatannya Familiar
Bahasa resmi negara ini adalah bahasa Vietnam atau Tiếng Việt. Vietnam Embassy in Jakarta
Yang menarik, Vietnam sekarang menggunakan alfabet berbasis Latin.
Jadi ketika melihat tulisan:
Hà Nội
atau
Việt Nam
hurufnya terasa familiar.
Hanya saja ada banyak tanda di atas dan bawah huruf.
Dan tanda-tanda tersebut sangat penting karena bahasa Vietnam merupakan bahasa tonal.
Salah nada, artinya bisa berubah.
Inilah titik di mana saya biasanya memilih menerima keterbatasan.
Membaca mungkin masih bisa dicoba.
Mengucapkan dengan benar urusan lain.
Beberapa kata dasar yang berguna:
Xin chào = halo
Cảm ơn = terima kasih
Vâng = ya
Không = tidak
Walaupun pada praktiknya, senyum, menunjuk menu, dan Google Translate juga cukup berjasa.
Mata Uang Vietnam dan Pengalaman Jadi “Jutawan”
Mata uang Vietnam adalah Vietnamese Dong, dengan kode VND. Vietnam Embassy in Jakarta
Dan ini salah satu hal yang pertama terasa ketika traveling ke sana.
Nominalnya besar.
Sangat besar.
100.000 dong.
200.000 dong.
500.000 dong.
Tiba-tiba kita punya jutaan uang di dompet.
Rasanya kaya.
Sampai kemudian sadar angka nolnya memang banyak.
Saya justru menyarankan sedikit hati-hati ketika baru sampai.
Beberapa pecahan uang punya tampilan yang cukup mirip kalau kita belum terbiasa.
Jadi sebelum menyerahkan uang, lihat nolnya lagi.
Pengalaman menjadi jutawan di Vietnam memang menyenangkan, tapi hanya sebentar.
Kenapa Kopi Vietnam Begitu Terkenal?
Kalau ada satu kebiasaan yang sangat cepat saya sadari di Vietnam, itu adalah:
orang Vietnam serius soal kopi.
Café ada di mana-mana.
Dari café modern sampai tempat kecil yang masuknya melalui gang sempit.
Vietnam juga merupakan salah satu produsen kopi terbesar dunia, dan kopi robusta punya peran besar dalam budaya minumnya.
Cara tradisional menggunakan phin filter menghasilkan kopi yang kuat.
Lalu ada condensed milk.
Es.
Coconut coffee.
Sampai egg coffee.
Di Hanoi saya mencoba egg coffee di Cafe Giang, tempat yang sering dikaitkan dengan awal popularitas minuman tersebut.
Teksturnya creamy sekali.
Buat saya lebih terasa seperti dessert kopi daripada secangkir kopi biasa.
Dan tentu setelah itu pertanyaan yang sulit adalah:
berapa kali ngopi sehari masih bisa dianggap bagian dari riset perjalanan?
Makanan Vietnam Tidak Berhenti di Pho
Sebelum datang, makanan Vietnam yang paling dikenal mungkin pho.
Padahal setelah mulai melihat menu, ternyata pilihannya jauh lebih banyak.
Ada:
banh mi,
bun cha,
goi cuon,
bun bo Hue,
cao lau,
banh xeo,
com tam,
dan berbagai jenis noodle serta rice dish.
Dan seperti Indonesia, makanan juga berubah menurut wilayah.
Makanan Vietnam Utara tidak persis sama dengan Vietnam Tengah atau Selatan.
Vietnam Tourism bahkan punya panduan kuliner berdasarkan region karena perbedaan tersebut memang cukup terasa. Vietnam Tourism
Saya suka bagian seperti ini.
Pergi dari satu kota ke kota lain bukan cuma mengganti tempat wisata.
Menu makan siangnya ikut berubah.
Budaya Vietnam Terasa dari Kehidupan Sehari-hari
Vietnam punya sejarah panjang dengan pengaruh lokal, China, Prancis, serta berbagai kelompok etnis.
Dan hasilnya tidak selalu terlihat dalam bentuk “atraksi budaya”.
Kadang kita merasakannya ketika jalan.
Keluarga makan bersama.
Orang duduk di kursi kecil di trotoar.
Pasar.
Kuil.
Penghormatan kepada leluhur.
Kehidupan café.
Pakaian tradisional ao dai.
Perayaan Tet.
Atau lalu lintas motor yang rasanya punya aturan tidak tertulis sendiri.
Hanoi membuat saya menyadari satu hal:
menyeberang jalan bisa menjadi bagian dari cultural immersion.
Awalnya menunggu semua motor berhenti.
Tidak akan terjadi.
Lama-lama baru belajar berjalan pelan dan konsisten.
Sedikit deg-degan tetap ada.
Agama di Vietnam Cukup Beragam
Vietnam tidak bisa dijelaskan dengan satu agama saja.
Di negara ini terdapat pengaruh dan penganut Buddhism, folk beliefs, ancestor worship, Christianity, Cao Dai, Hoa Hao, serta berbagai praktik kepercayaan lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, penghormatan terhadap leluhur juga punya tempat yang cukup kuat.
Bahkan pada rumah, toko, dan restoran kita bisa melihat altar kecil.
Buat traveler, ini mengingatkan bahwa “agama” dan praktik budaya di Vietnam tidak selalu mudah dipisahkan dalam kotak-kotak sederhana.
Vietnam Punya 9 Situs UNESCO World Heritage
Saat ini Vietnam mempunyai 9 properti dalam UNESCO World Heritage List: enam situs budaya, dua alam, dan satu campuran. UNESCO World Heritage Centre
Di antaranya:
- Complex of Hué Monuments
- Hoi An Ancient Town
- My Son Sanctuary
- Imperial Citadel of Thang Long di Hanoi
- Trang An Landscape Complex
- Ha Long Bay-Cat Ba Archipelago
- Phong Nha-Ke Bang dan Hin Nam No
- Citadel of the Ho Dynasty
- Yen Tu-Vinh Nghiem-Con Son, Kiep Bac Complex
Yang terakhir baru masuk daftar UNESCO pada 2025. UNESCO World Heritage Centre
Buat saya, Halong Bay tentu paling terasa personal karena sudah datang sendiri.
Begitu kapal mulai bergerak dan gugusan karst bermunculan, baru saya mengerti kenapa landscape itu begitu identik dengan Vietnam.
Foto bagus.
Tapi melihat skalanya langsung tetap beda.
Vietnam Tidak Selalu Panas
Ini salah satu asumsi yang gampang muncul karena sama-sama Asia Tenggara.
Vietnam memang punya iklim tropis monsun secara umum, tetapi bentuk negaranya yang sangat panjang dan perbedaan elevasi membuat cuacanya jauh lebih bervariasi. Ministry of Foreign Affairs Vietnam
Saya merasakannya sendiri di Sapa.
Vietnam?
Dingin.
Dan bukan “dingin karena AC”.
Benar-benar udara pegunungan.
Vietnam Utara
Hanoi dan kawasan utara punya perubahan musim yang cukup terasa.
Sapa yang berada di dataran tinggi tentu bisa jauh lebih dingin.
Halong Bay antara Desember hingga Maret juga cenderung sejuk hingga dingin, berkabut, dan berawan menurut Vietnam Tourism. Vietnam Tourism
Vietnam Tengah
Wilayah tengah memiliki pola hujan dan musim yang berbeda dari utara.
Karena itu waktu terbaik untuk Da Nang belum tentu sama dengan Hanoi.
Vietnam Selatan
Wilayah selatan cenderung lebih tropis dengan pembagian musim hujan dan musim kering yang lebih jelas.
Jadi saya kurang suka kalau membaca:
“Waktu terbaik ke Vietnam adalah bulan X.”
Vietnam terlalu panjang untuk jawaban sesederhana itu.
Lebih baik tentukan kota yang ingin dikunjungi dulu.
Baru cek cuacanya.
Hanoi, Ho Chi Minh City, dan Kota-Kota Penting Lainnya
Kalau baru mengenal Vietnam, ada beberapa kota dan kawasan yang namanya akan sering muncul.
Hanoi
Ibu kota Vietnam.
Untuk traveler, Hanoi terkenal dengan Old Quarter, Hoan Kiem Lake, makanan, kopi, bangunan bersejarah, dan suasana kotanya yang sangat khas.
Saya juga suka karena Hanoi menjadi base yang praktis untuk pergi ke Sapa, Halong Bay, dan Ninh Binh.
Ho Chi Minh City
Kota terbesar dan pusat ekonomi utama Vietnam.
Dulu dikenal sebagai Saigon.
Kalau Hanoi banyak membawa cerita Vietnam Utara, Ho Chi Minh City punya sejarah serta karakter Vietnam Selatan yang berbeda.
Da Nang
Kota pesisir modern di Vietnam Tengah dan salah satu gateway terbaik untuk menjelajah Hoi An, Hue, serta kawasan sekitarnya.
Hue
Bekas ibu kota kekaisaran Dinasti Nguyen.
Kalau suka sejarah, ini salah satu tempat yang paling membuat saya penasaran.
Hoi An
Kota pelabuhan tua dengan bangunan berwarna kuning, lantern, dan suasana historis yang membuatnya sangat mudah dikenali dari foto.
Sapa
Bukan kota besar, tapi salah satu destinasi pegunungan paling terkenal di Vietnam.
Buat saya, suasananya sangat berbeda dari Hanoi.
Da Lat
Kota dataran tinggi dengan udara lebih sejuk, café, bunga, dan landscape pegunungan.
Kalau ingin pembahasan lebih panjang, bagian ini nantinya lebih cocok diteruskan ke artikel Kota di Vietnam.
Kenapa Bentang Alam Vietnam Begitu Beragam?
Sekitar tiga perempat wilayah Vietnam berupa pegunungan dan perbukitan. Ministry of Foreign Affairs Vietnam
Ini mungkin mengejutkan kalau kita hanya membayangkan Vietnam sebagai kota, sawah, dan pantai.
Di utara ada Hoàng Liên Son dan Fansipan.
Di bagian tengah terdapat kawasan karst dan sistem gua besar seperti Phong Nha.
Di selatan terdapat Mekong Delta.
Sepanjang garis pantai ada teluk, pantai, dan pulau.
Situs resmi pariwisata Vietnam bahkan menggambarkan landscape negara ini mulai dari mountain terraces di barat laut sampai gua besar di tengah serta sungai dan kebun di selatan. Vietnam Tourism
Fansipan yang saya kunjungi merupakan contoh paling jelas.
Dari Hanoi yang relatif datar dan ramai, beberapa jam kemudian sudah melihat punggung gunung dan kabut.
Negaranya berubah cepat.
Transportasi Juga Menjadi Bagian Menarik dari Vietnam
Vietnam punya jaringan transportasi yang cukup beragam.
Ada pesawat domestik.
Kereta.
Sleeper bus.
Limousine van.
Private car.
Motor.
Boat.
Kalau perjalanannya cukup panjang, moda transportasi bahkan bisa menjadi bagian cerita tersendiri.
Saya misalnya pergi dari Hanoi ke Sapa dengan sleeper train.
Kemudian kembali menggunakan sleeper bus.
Secara fungsi sama-sama mengantar dari satu daerah ke daerah lain.
Pengalamannya tidak sama.
Dan justru detail seperti inilah yang nanti lebih cocok saya ceritakan terpisah di artikel transportasi.
Orang Indonesia Perlu Visa ke Vietnam?
Untuk perjalanan wisata singkat, kabarnya cukup menyenangkan.
Pemegang paspor biasa Indonesia saat ini mendapat bebas visa hingga 30 hari untuk masuk Vietnam. Informasi resmi Kedutaan Vietnam mencantumkan Indonesia dalam daftar bilateral visa exemption dengan masa tinggal 30 hari untuk ordinary passport. Vietnam Embassy in Jakarta
Kalau ingin tinggal lebih lama, Vietnam saat ini juga menyediakan e-visa hingga 90 hari untuk semua kewarganegaraan melalui sistem resminya. Vietnam Tourism
Tetapi aturan imigrasi termasuk informasi yang bisa berubah.
Jadi sebelum membeli tiket atau berangkat, saya tetap menyarankan mengecek lagi sumber resmi.
Untuk urusan seperti ini, lima menit mengecek website imigrasi lebih murah daripada drama di bandara.
Vietnam dan Indonesia Ternyata Punya Beberapa Kemiripan
Setelah datang, ada beberapa hal yang membuat Vietnam terasa tidak sepenuhnya asing.
Sama-sama punya banyak motor.
Sama-sama suka nasi.
Makanan jalanan hidup.
Cuaca di beberapa wilayah juga familiar.
Ada kultur duduk makan yang santai.
Kota bisa ramai sekali.
Tetapi persamaannya berhenti cukup cepat.
Bahasa berbeda.
Sejarah berbeda.
Kopi berbeda.
Arsitektur berbeda.
Dan bahkan cara menyeberang jalan rasanya punya filosofi tersendiri.
Jadi ada rasa familiar, tapi tetap cukup berbeda untuk membuat perjalanan terasa menarik.
Mungkin itu salah satu alasan Vietnam enak untuk traveler Indonesia yang baru mulai jalan-jalan ke luar negeri.
Tidak terlalu jauh.
Tetapi tetap terasa benar-benar bepergian.
Apa yang Membuat Vietnam Menarik untuk Traveler?
Kalau harus menjawab dari pengalaman saya sendiri, variasinya.
Dalam perjalanan hanya beberapa hari saya mendapat:
Hanoi yang ramai.
Sleeper train malam.
Pegunungan Sapa.
Fansipan.
Cat Cat Village.
Sleeper bus.
Lalu Halong Bay.
Setiap dua hari suasananya berubah.
Dan semuanya masih Vietnam Utara.
Belum bicara pantai di Da Nang.
Kota tua Hoi An.
Imperial City Hue.
Ho Chi Minh City.
Mekong.
Atau Phu Quoc.
Jadi Vietnam cocok untuk banyak gaya perjalanan.
Food trip bisa.
History bisa.
City break bisa.
Gunung bisa.
Pantai bisa.
Cruise bisa.
Backpacking juga masuk.
Sedikit berbahaya untuk orang yang hobinya membuat itinerary.
Karena satu itinerary selesai, langsung muncul tiga itinerary berikutnya.
Negara Vietnam Lebih Mudah Dipahami Setelah Perjalanan Dimulai
Sebelum datang, Vietnam buat saya mungkin hanya kumpulan nama.
Hanoi.
Sapa.
Halong.
Pho.
Kopi.
Perang Vietnam.
Kemudian setelah perjalanan, nama-nama itu mulai punya suasana.
Hanoi sekarang mengingatkan saya pada jalan yang penuh motor dan café kecil.
Sapa pada udara dingin dan pegunungan.
Fansipan pada cable car yang ternyata belum berarti kaki bisa sepenuhnya istirahat.
Halong Bay pada kapal dan limestone yang terus muncul di kejauhan.
Mungkin memang begitu enaknya traveling.
Negara yang sebelumnya hanya terlihat sebagai bentuk di peta perlahan punya warna, suara, rasa, dan cerita sendiri.
Dan Vietnam, menurut saya, punya banyak sekali lapisan untuk diceritakan.
Perjalanan pertama saya baru membuka bagian utara.
Masih banyak sekali yang belum.
Justru itu yang menyenangkan.
Karena sekarang kalau melihat peta Vietnam, saya tidak lagi berpikir:
“Sudah pernah.”
Saya malah berpikir:
“Lain kali bagian mana lagi?”
